ONESHOT – Final Destiny in Our Love

101

Tittle : Final Destiny in Our Love
Length : Oneshoot
Rated : PG 17
Genre : Romance, family, friendship
Main cast : Sooyoung, Kyuhyun, Seohyun, Cho Joo Young
Author : Fatminho

Disclaimer :

This Plot is Main. Just feedback or give some comments without bashing, and NOT FOR PLAGIATORS!

Note :

This story is inspired from a Indian’s film.

Yaps, ide cerita ini aku dapat setelah menonton film india minggu sore kemarin. Film india legendaris sepanjang hidupku. “Kuch-Kuch Hotahei”

Pasti tahu dong film india satu itu, secara yang main adalah pamanku sendiri#Ngaco!#

Shahrukh Khan!!!

Dan jadilah ff oneshote yang terpanjang yang pernah kubuat.

Karena aku membuatnya dalam waktu satu hari kurang, maka mianh jika banyak ada typo yg berkacakan di dalamnya.

Semoga ff ini bisa jadi obat penyabar untuk menunggu ff tagihan yang seharusnya aku dahulukan.

Oke, kkajja chek this story out!!

Prolog

Aku mencintaimu, tapi aku juga mencintainya. Benar, aku mencintai kalian berdua. Andai diijinkan, aku ingin memiliki kalian berdua.

Namun, takdir tak mengijinkanku melakukannya. Takdir juga yang membuatku memilihnya. Dan aku tersadar jika takdir diantara kita bisa tercipta jua.

Sesungguhnya, Tuhan telah mempersiapkan jalan hidup kita menuju sesuatu yang indah penuh cinta.

Prolog End

– Happy Reading – 

***

Love does not should have.

Cinta tidak harus memiliki.

Mungkin empat kata itu yang masih dijadikan pegangan hidup oleh seorang Choi Sooyoung. Ia sangat percaya dengan hal itu. Memang akan membahagiakan jika cinta itu dimiliki oleh kedua insan yang saling mencintai, tapi tidak dengan salah satu pihak mencintai yang lain, tidak juga dengan memaksa orang tersebut mencintai kita.

Namun, saat Sooyoung berpikir kembali, ia tersenyum lega karena kini ia cukup membuatnya bahagia. Ya, ia bahagia hanya dengan cinta hangat yang ia miliki untuk seorang namja. Satu yang ia sesali: Say nothing about her feeling to that one.

Namja jail yang sangat menghibur kesehariannya sejak kecil, sahabat sekaligus kakak tingkat yang selalu membuatnya merasa ada saingan terbaik saat di lapangan basket, partner hidupnya sejak ia berusia lima tahun, seorang namja yang bernama Cho Kyuhyun.

Dan kini, di depan sebuah gereja ia berdiri. Bukan, bukan bersama namja yang diam-diam ia cintai itu, tetapi bersama seorang yeoja manis, cantik, dan feminine, yeoja berkulit bening dan berparas noncent, yeoja bermata indah dan pemilik senyum yang menurutnya sangat manis, yeoja yang beberapa tahun belakangan ini menjadi sahabat baiknya. Ya, yeoja bernama Seohyun, adik tingkat yang sangat ia kagumi itu adalah calon istri Cho Kyuhyun, namja yang sangat ia cintai.

Sedih?

Entahlah, Sooyoung juga bingung ia harus merasakan apa karena sesungguhnya ia bahagia. Bagaimana tidak, Kyuhyun sebagai namja yang ia cintai, telah menemukan sosok yeoja yang dicintai dan mencintainya. Bersyukur karena yeoja tersebut adalah Seohyun, sahabat terbaik yang pernah ia kenal sepanjang umurnya.

Sooyoung dan Seohyun tengah menatap bangunan megah yang dua hari lagi akan digunakan sebagai tempat peresmian kedua mempelai, Kyuhyun dan Seohyun. Sayang, pikirannya tidak kearah bayangan susunan acara yang kelak dilaksanakan, melainkan kearah masa lalu, masa kuliah, masa disaat Kyuhyun dan Sooyoung bertemu Seohyun sebagai anak pendiri Future Seoul University, masa-masa indah yang mereka bertiga lalui bersama, masa dimana seorang Sooyoung mengenal beberapa alat make up dan dress yang selalu menampilkan sisi feminine Seohyun yang tidak ada didirinya, dan yah… masa itu juga yang membuat ia mengetahui bagaimana perasaan cinta yang bertebaran di antara Seohyun dan Kyuhyun.

Saat Seohyun menoleh kearah Sooyoung yang masih menatap lurus bangunan megah di depan mereka, ia tercengang bukan main. Kenapa Sooyoung menangis? Sejak kapan yeoja berwujud namja yang selalu happy di setiap hari-harinya itu menangis seperti saat ini?

“Aku tidak menyangka kedua orang yang aku sayangi akan bersatu di dalam sana dan tanpa diriku.” Lirih Sooyoung karena ia merasakan Seohyun tengah menatapnya walau ia tak melirik Seohyun sama sekali.

Seohyun tersenym dan langsung memeluk Sooyoung dari samping. Benar, selama ia bersosial di semua lingkungan yang ia jajaki, baru kali ini ia menemukan seorang sahabat yang sangat mengerti perasaannya dan sangat menerima keadaannya secara utuh tanpa memikirkan kedudukan maupun kekayaan. Sungguh, ia patut bersyukur karena telah dipertemukan oleh dua orang yang menurutnya sangat setia. Kyuhyun adalah sosok yang ia cintai dan ia percaya untuk menjadi suaminya kelak. Sedangkan Sooyoung adalah sosok yeoja tomboy berhati malaikat yang sampai kapanpun akan tetap ia ingat, ia sayang, dan sangat ia percaya sebagai sahabatnya.
“Ya, aku juga tidak menyangka memiliki sahabat sebaik dirimu, eon. Sungguh, aku sangat menyayangimu. Saranghae Choi Sooyoung, nae eonni.” Ucap Seohyun yang masih memeluk pinggang ramping Sooyoung yang berbalut jaket tebal, secara erat.

Sooyoung terseyum dan sebisa mungkin menghapus air matanya tadi dan segera membalas pelukan Seohyun, yeoja yang secara tidak langsung ia anggap sebagai adiknya sendiri. “Na do Saranghae Seo Joo Hyun, nae saengie.” Balasnya.

***

“Siang halmonie…” suara Kyuhyun sangat renyah dan penuh keakraban, membuat yeoja berkepala tujuh yang ia sapa halmonie, neneknya Sooyoung, tersebut berpaling kearahnya dan tersenyum melihat Kyuhyun yang tengah membawa bola basket itu berjalan kearahnya.

#Chup, #chup

Seperti biasa, Kyuhyun selalu memberi kecupan hangat di kedua pipi sang halmonie. Tentu saja ia tetap menebar senym lebar dibibirnya. “Apa Youngie-ku ada di sini?” tanyanya yang senam membuat sang nenek memudarkan senym sumringah di wajah sekilas.

“Ya, kau cari saja ia di kamarnya. Ia sedang berkemas.” Jawab halmonie dengan nada setenang mungkin.

“Berkemas? Apa ia akan pergi ke suatu tempat?”

“Hmm, tentu. Dan lebih baik kau menemuinya untuk menanyakan hal yang lebih jelas karena kau tahu sendiri aku ini selalu lupa ingatan mendadak?” halmonie mencoba berhumor agar kekhawatiran yang ia pikirkan tidak akan terjadi.

Kyuhyun mengangguk dan segera berlari menaiki beberapa anak tangga menuju kamar Sooyoung. Benar kata nenek, yeoja itu memang sedang berkemas. Kyuhyun mengerem langkah larinya setelah tiba di ambang pintu kamar Soo yang saat ini di buka lebar. Dari sana ia bisa melihat sosok yeoja tomboy dengan baju kaos dan celana pendek agak diatas lutut, juga rambut pendek yang poninya sedang di tahan oleh bandana hitam, sedang berjalan bolak-balik dari lemari baju ke koper yang ada di atas ranjang. Kyuhyun terpaku melihat hal itu.

Sooyoung kaget saat mendengar dencitan sepatu Kyuhyun yang terdengar nyaring saat namja itu tiba-tiba mengerem aksi lari tadi. Dengan membawa beberapa lipatan jins di tangannya, yang hendak ia masukkan ke koper, Sooyoung langsung memalingkan pandangan ke ambang pintu dan menemukan sosok Kyuhyun yang tengah mematung menatapnya, disana. Sooyoung masih berdiri di ujung ranjang, dekat kopernya, sambil mengernyit dan bertanya, “Kau mengagetkanku Cho!” lalu ia melanjutkan pengemasannya.

Kyuhyun yang mulai sadar akan aksi Sooyoung tersebut pun langsung berjalan masuk mendekati Sooyoung. “Untuk apa kau berkemas seperti ini?”

Tangan Sooyoung berhenti memilah pakaian yang ada di lemarinya dan berbalik melihat wajah tegang Kyu. Ia tersenyum melihat ekspresi sahabatnya tersebut dan memilih untuk melanjutkan kegiatannya. “Jam sebelas malam, pesawat menuju Tokyo akan take off, bodoh jika aku telat.” Jawan Sooyoung sesantai mungkin sambil berjalan kembali kea rah koper dan meletakkan baju yang tadi ia pilah.

“Tokyo? Maksudmu?”

Sooyoung memutarkan bola matanya dan berdecih kecil, “Tentu saja aku akan ke Tokyo, Tuan Cho! Memang kau pikir apa lagi arti dari beberapa penggalan kalimatku tadi?”

“Kenapa pergi kesana? Untuk apa?” tanya Kyu yang semakin tidak mengerti dengan rencana dadakan Sooyoung itu.

“Kenapa? Untuk apa?” Soo mengulang pertanyaan Kyu yang menurutnya sangat aneh itu dengan nada meremehkan. Oh ayolah, bagaimana bisa seorang Cho Kyuhyun yang dikenal sebagai siswa teladan selama masa pendidikannya, ini, berubah menjadi seorang yang pendek jangkauan pemikiran. “Tentu saja untuk menyusul keluargaku, Kyu! Kau pikir untuk apa lagi? Hah… cukup sudah delapan tahun aku pisah dengan mereka sejak mereka semua harus pindah ke Jepang saat aku masih ingin bersekolah di sini bersamamu. Sekarang, kuliahku sudah selesai, tentu saja mereka menyuruhku kesana.” Jelas Soo.
Kyuhyun terdiam sejenak sambil tetap menatap Sooyoung yang tengah bersibuk ria di depannya itu. Ia tengah menelisik raut wajah Sooyoung saat ini. Datar. Bagaimana mungkin seorang Choi Sooyoung yang selalu ceria dan heboh, penuh ekspresi, kini tak memiliki kesemuanya itu?

“Tidak bisakah kau tunda kepergianmu, Youngie? Setidaknya setelah aku resmi menikah dengan Seo…” tanya Kyuhyun akhirnya yang berhasil memecahkan kesunyian yang sempat menghinggap diantara mereka. Kyuhyun mulai mengikuti pergerakan Sooyoung yang tengah bolak-balik menuju lemari dan ranjang guna mengemas satu per satu pakaian ke dalam koper besar yang sudah terbuka lebar di atas ranjanganya.

Sooyoung terkekeh dan berdecak heran sambil tetap melakukan kegiatannya setelah mendengar rengekan sahabat hidupnya tersebut. “Tidak Kyu, jelas aku akan di pecat sebagai anak dari keluarga Choi jika besok aku belum berdiri didepan rumah besar keluargaku. Kau tahu sifat appa-ku, bukan?”

“Bagaimana kalau aku yang bicara dengan appa-mu?” tawar Kyu yang membuat Sooyoung menghentikan pekerjaannya dan mendesah berat dihadapan sahabat hidupnya satu itu.

“Hei Tuan Cho, ada apa denganmu? Kau tenang saja menghadapi masa-masa pernikahanmu dengan Seo. Aku yakin kau bisa tanpa hadirnya diriku ini.” jelas Soo. ‘Tapi tidak untukku, ini akan sangat sulit. Hariku tanpamu, Kyu, akan terasa hambar’ lirih batinnya.

Sooyoung dan Kyuhyun jadi saling pandang lebih dalam. Tidak salah jika perlahan buliran air dari mata mereka pun terjun satu persatu. Tanpa berpikir lagi, Kyuhyun langsung memeluk erat tubuh Sooyoung, yeoja yang ia sayangi tersebut.

Benarkah apa yang dikatakan Sooyoung, bahwa ia bisa menghadapi semuanya hanya bersama Seohyun? Lalu, bagaimana dengan kebiasaannya yang selalu bersama kemana pun dengan sahabat tersayangnya itu sejak dua puluh tahun yang lalu? Bisakah ia merelakan Sooyoung menghilang setelah mengukir ribuan kenangan manis super seru yang mereka berdua bangun sejak lama itu?

Sooyoung mengelus punggung Kyuhyun lembut, sedangkan yang di elus punggungnya itu semakin mengeratkan pelukannya dan memecahkan tangisannya. Ya, tangisan Kyuhyun lebih lancar dibanding Sooyoung. Tentu saja, itu semua karena Sooyoung sudah menyiapkan segalanya untuk hari ini. termasuk hatinya. Ia sudah bertekat akan merelakan seutuhnya namja yang ia cintai ini menghadapi setiap hidup hingga tua nanti bersama seorang sahabat cantik yang ia sayangi, Seohyun.

Perlahan Sooyoung mendorong tubuh Kyuhyun sedikit hingga akhirnya dekapan erat Kyuhyun terlepas. Ia tangkup lengan kekar di depannya dan wajahnya menatap lurus namja itu. “Ada satu hal yang ingin kukatakan padamu sebelum aku pergi. Namun, aku mohon, setelah aku mengatakannya, kau tidak perlu memikirkan ucapanku. Kau cukup mendengarkan dan mengetahuinya. Itu akan membuatku lega.” Kedua tangan Soo mulai turun dan meraih kesepuluh jemari Kyuhyun. Ia genggam telapak tangan itu dan tersenyum menatap pemiliki tangan tersebut. “Cho Kyuhyun, aku sangat mencintaimu. Jongmal saranghae.” Ucapnya setulus yang ia bisa. Jujur, hal ini yang tidak bisa ia lakukan selama ini dan kali ini ia mengutarakannya.

Mata Kyuhyun sedikit melebar menandakan kekagetannya atas apa yang ia dengar barusan. Tangisannya semakin pecah. Perlahan ia ambil alih jemari yang menggenggam jemarinya. Ia ingin angkat bicara, tapi Sooyoung lebih dulu menggelengkan kepala, bermaksud melarangnya berbicara. Sooyoung tersenyum dan berjinjit sedikit guna mengecup kening Kyuhyun yang berlanjut mengecupi kedua mata Kyuhyun sebelum akhirnya kembali menatap wajah yang menurutnya sangat tampan itu.

“Berbahagialah bersama Seohyunie. Percayalah, ia adalah yeoja yang tepat untukmu. Kelak, saat aku sudah menemukan tembatan hati yang baru, pasti akan kukabari langsung ke kalian berdua. Cho Kyuhyun, aku sangat menyayangimu, lebih dari apapun. Tentu saja, aku juga sangat menyayangi Seohyun. Kalian berdua harus bahagia jika ingin membalas rasa cintaku pada kalian ini. kau mengerti?”

Bagaimana bisa seorang Kyuhyun yang terkenal evil itu saat ini tengah menjadi namja tercengeng yang pernah Sooyoung lihat. Setidaknya ia mengijinkan Kyuhyun memeluknya lebih erat lagi saat ini sebelum nantinya ia menghilang dan tak bertemu kembali. Tidak, mereka pasti akan bertemu kembali, tapi entah kapan takdir itu terjadi dan bagaimana keadaan saat nanti. Apa mereka sama-sama membawa anak-anak mereka, hasil buah cinta di antara mereka dengan orang yang menjadi pendamping hidup mereka kelak? Atau hanya Kyuhyun yang melakukan hal itu, sedangkan Sooyoung hanya datang sendiri tanpa seorang disampingnya? Sungguh, memikirkan akan hidup bersama namja lain seperti itu tidak pernah terukir sedikit pun di benak Sooyoung, selain bersama namja yang kini masih erat memeluknya, namja yang sudah dua puluh tahun menghabiskan waktu bersamanya, namja yang sebentar lagi akan menjadi kenangan indahnya.

Good bye Kyuhyun-ah…
May I say ‘See you letter’?
could I do that?




Seven years letter…

Kyuhyun tengah berdiri, bersandar di mobil hitam miliknya, didepan sebuah sekolah dasar di pusat kota Seoul. Ia tersenyum cerah menunggu seseorang yang ia rindukan selama beberapa minggu ini. Menjadi seorang penerus di keluarga Cho memang senam membuatnya jengkel lantaran waktu untuk bergabung bersama anaknya sangat minim. Belum lagi tugas-tugas tambahan yang harus ia tuntaskan di waktu sengganggnya.

Seorang gadis kecil berusia enam tahun tengah berjalan lunglai dengan kepala yang tertunduk menatap setiap tanah yang hendak ia pijakkan, selangkah demi selangkah. Ransel pink bercorak Barbie menghiasi punggungnya dengan kedua tangan mungil yang memegang kedua sisi ransel di bahunya. Memang lebih baik jika ia tertunduk memandang jajahan kakinya dari pada harus melihat teman-temannya yang sedang bersorak saat melihat sosok orang yang menjemput mereka. kapan Joo Young bisa merasakan kegembiraan ketika di jemput eomma atau appa seperti teman-teman? Pikir sedihnya.

Kulit putih dengan mata sedikit sipit, pipi bulat, rambut pendek, lengkap dengan poni tirai yang sedikit menyamping di dahinya, membuat Kyuhyun yang masih berdiri ditempatnya mengalihkan pandang kearah anak imut itu. Mulanya, Kyuhyun ingin tersenyum, tapi langsung di urungkannya setelah mengetahui ekspresi anak yang ia pandang tersebut. Ia melihat anak itu mengangkat kepala dan berjalan lesu tanpa menyadari kehadirannya. Anak itu terus memanyunkan bibir mungilnya setiap melihat teman-temannya di sambut dan di gendong oleh eomma atau appa mereka. Kyuhyun mengerti maksud pandangan mata anaknya tersebut. Dengan sedikit menyeringai jail, ia langkahkan kaki mendekati anaknya.

“Hai anak manis, apa kau ingin di gendong seperti yang lainnya?” ucap Kyu yang sudah berdiri di jarak lebih dekat dari posisi Joo Young berjalan.

Demi apapun, Joo Young tidak suka jika ada yang menawarkan hal tersebut kalau memang itu untuk mengejeknya. Ia mendesah dan menengadahkan kepalanya untuk melihat orang menyebalkan yang menawarkan hal itu. “Aku tid-“ diam. Joo Young terdiam saat mengenali wajah rupawan didepannya. Wajah murungnya seketika menciptakan lengkungan manis di bibir mungilnya, “Appa!” pekik senangnya.

Kyuhyun tersenyum dan merentangkan tangannya. “I’m home baby…” seru Kyu yang membuat anak kecil itu lebih sumringah dan akhirnya berlari kearahnya. Dengan sigap Kyuhyun menangkap tubuh mungil itu dan mengangkatnya agar sejajar dengan wajahnya. Ya, Kyuhyun sangat bahagia saat ia bisa memenuhi keinginan putri tercintanya satu ini, ada di gendongan seorang appa.

“Bogoshipeo appa-ya…” ucap manja anak itu dengan kedua tangan mungil yang sudah melingkar di leher Kyuhyun.

“Appa-do chagie-ya…” balas Kyu dengan lebih mengeratkan dekapannya.

#Chup*

Kyuhyun tersenyum setelah mendapatkan satu kecupan dari putrinya. “Appa, ayo kita ketempat eomma. Aku merindukannya.” ajak sang putri, membuat Kyuhyun tersenyum datar dan mengecup pipi bulat putrinya. “Ne, kajja kita temui eomma!”

***

“Soo, apa kau merindukanku?” tanya Changmin yang sedang terduduk di meja kerjanya dengan tangan yang memegang ponsel ditelinganya.

“Aigoo, bahkan ini baru enam hari, oppa. Bukankah aku berencana untuk dua minggu disini?” jawab orang diseberang sana.

“Kau ingat siapa aku?”

Sooyoung mengernyit saat mendengar pertanyaan aneh itu dari seberang ponselnya. “Aish… tentu saja aku ingat siapa kau. Kau adalah Shim Changmin, anak bungsu keluarga Shim yang tengah bersibuk ria didepan meja kerjanya, dan tentu saja kau adalah seseorang yang saat ini tengah berbincang dengan orang yang kau rindukan ini, bukan?”

Changmin terkekeh mendengar jawaban Sooyoung, tapi mendung kembali karena sadar ada yang kurang, “Lalu?” tanyanya. “Lalu, apa lagi yang kau ingat tentangku?” tambahnya.

Sooyoung yang tengah melihat anak-anak panti asuhan bermain, tertawa, dan berlari bersama, dari pintu gedung utama itu tiba-tiba tertegun mendengar bujukan dari penelepon. Ia terdiam sesaat, memikirkan sesuatu, dan akhirnya menjawab, “Kau adalah tunanganku.”

“Bisa lebih jelas?”

“Ya! kenapa kau begini usil, oppa? Siapa yang mengajarimu, eoh?”

“Tentu saja evil Sooyoung-ku. Geurae, jaga kesehatan dan dirimu baik-baik. Oppa menunggumu. ingat, kurang dari satu bulan lagi kita akan menikah. Na-do Saranghae…”

Sooyoung tertegun mendengar penjelasan Changmin diseberang sana. Cepat-cepat ia menyadarkan diri lagi dan berkata biasa, “Ya! kalimat apa itu? Menggelikan sekali.”

“Hahaha… saranghae chagie~”

#Bip!

Sambungan telepon terputus tanpa menunggu jawaban Sooyoung lagi.

“Shim Changmin…” lirih Soo sambil memandang jari manisnya yang berhias cincin perak, cincin pertunangannya.

***

“Eomma… nan jongmal bogoshipeo. Appa do. Uri ga bogoshiphoyo eomma…” lirih Joo Young ditengah tangisnya. Ia tahu bahwa eomma-nya sudah hidup bahagia di surga. Ia juga tahu yang membuatnya tidak bisa memiliki eomma adalah dirinya sendiri. Benar, eomma-nya meninggal setelah melahirkannya, enam tahun yang lalu. Seohyun meninggalkan Kyuhyun dan putri mereka disaat yang seharusnya terasa sangat membahagiakan.

Kyuhyun ikut menangis dan memeluk tubuh mungil putrinya didepan makam dengan batu nisan yang memampang nama istrinya, Seo Joo Hyun.

***

“Nenek… aku pulang…” teriak gembira Cho Joo Young setelah memasuki rumah besar keluarga Seo. Memang, selama Kyuhyun disibukkan oleh tugas kantor, Joo Young akan tinggal di rumah orang tua eomma-nya. Namun, tidak memungkirkan jika ia juga ingin sesekali tinggal di keluarga besar Cho. Joo Young benar-benar anak yang penuh pengertian.

“Aiigoo… uri Youngie waeso…?” balas Nyonya Seo yang langsung menggendong cucunya. “Bagaimana sekolahmu hari ini, sayang?”

“Menyenangkan, nek. Appa menjemputku!” jawab Joo Young semangat, membuat Kyuhyun tersenyum.

“Eoh, jinja?” kini Nyonya Seo tersenyum melihat menantunya itu, “Kyu, kau baru datang dari Hongkong langsung menjemput Youngie?” Kyuhyun mengangguk.

“Ne, eommanim…”

“Ah, kalau begitu kau istirahatlah. Biar eomma yang mengurus Youngie, ne?”

Kyuhyun mengangguk ditengah senyumnya. Ia sangat bersykur telah menikah dengan yeoja sebaik Seohyun karena keluarga baik pun ia miliki pula. Kyuhyun mengacak poni putrinya dan mengecup dahi disana sekilas, “Kau temani nenek dulu ya?” suruhnya manis. Youngie mengangguk nurut dan akhirnya Kyuhyun pergi menuju kamar yang biasa ia gunakan.

“Nenek, bagiku appa sangat tampan. Bagaimana denganmu?” tanya Joo Young yang kini tengah berbaring di kamarnya bersama Nyonya Seo.

“Ne, nenek setuju dengan penilaianmu. Eomma-mu tidak akan jatuh cinta jika appa-mu tidak tampan.”

“Lalu, apakah nenek setuju jika aku meminta eomma baru dengan appa?”

Mendengar hal tersebut, Nyonya Seo terdiam sejenak. Ia memandang wajah cucunya untuk mengingat sesuatu. “Tunggu disini, nenek akan mengambilkan sesuatu.”

Tidak lama kemudian, Nyonya Seo kembali bergabung dengan sang cucu sambil membawa satu album milik anaknya, Seohyun. Ia mulai membuka satu halaman album itu, “Eomma-mu sangat cantik, bukan?” Joo Young mengangguk setuju dan matanya berbinar-binar melihat wajah ibunya di halaman pertama. “Ini adalah album kenangan orang tuamu. Kau lihat ini, appa-mu juga sangat tampan saat itu, bahkan sampai sekarang.” Jelas Nyonya Seo yang memamerkan photo Kyuhyun dan Seohyun yang sedang berkencan.

“Siapa ahjumma ini?” tanya Joo Young saat Nyonya Seo membalikkan halaman berikutnya dan memampangkan photo tiga bersahabat, Kyuhyun-Sooyoung-Seohyun.

“Ini adalah sahabat terbaik yang sangat disayangi oleh appa-mu, juga eomma-mu. Namanya Choi Sooyoung. Nenek bisa pastikan ia gadis yang sangat baik hingga eomma-mu sangat mengagumi dan juga menyayanginya layaknya saudara.” Jelas sang nenek, “Kau tahu asal mula namamu, Cho Joo Young?” tanyanya, Joo Young menggeleng, sang nenek tersenyum dan menjawab, “Cho berasal dari marga appa-mu. Joo berasal dari nama eomma-mu, Seo Joo Hyun. Dan kau harus percaya, orang tuamu begitu mencintai gadis bernama Choi Sooyoung ini hingga nama terakhir yang kau junjung itu berasal dari nama gadis tersebut. Young, Choi Soo Young.”

“Aku percaya dengan itu semua. Aku juga tahu seberapa dalam rasa sayang eomma dan appa terhadap ahjumma ini. Melihat photonya saja aku juga ikut jatuh cinta. Geundae, dimana sekarang Sooyoung ahjumma itu?”

Nyonya Seo mencomot amplop putih berisi surat yang dulu ia tahu dari Seohyun satu jam sebelum putrinya tersebut meninggal.

“Kau bisa membaca?” Joo Young mengangguk. “Geurae, bacalah ini!” Joo Young mengambil amplop itu. “Sudah enam tahun, tapi nenek tahu ini saat yang tepat untuk kau membacanya. Eomma-mu ingin kau yang membaca surat yang ia buat untukmu.”

Dengan tidak sabar, Joo Young merobek amplop putih yang warnanya mengusam lalu meraih cepat kertas didalamnya. Ia baca kata demi kata yang terlukis disana.

To: My beloved daughter (Cho Joo Young)

Hallo Joo Young-ah. Apa kabar? Eomma harap kau sedang bahagia.
Kau sudah bisa membaca ya? wah… eomma senang mengetahuinya.
Eomma yakin appa-mu akan selalu menjagamu dan mengajarimu berbagai hal.

Kau harus jadi anak yang pintar seperti appa-mu ya.
Hmm, andai eomma kuat, pasti eomma akan menemanimu sampai kau dewasa dan dilamar seorang namja. Geundae, setiap orang hanya bisa berharap dan berencana, termasuk eomma. Kau tahu, segala sesuatu hanya Tuhan yang dapat menentukannya.

Maafkan eomma yang meninggalkanmu. Bukan, bukan karena eomma tidak sayang padamu, tapi jantung eomma sudah tidak tertolong lagi. Jangan salahkan kelahiranmu atas kematian eomma karena eomma-lah yang salah. Eomma bersikeras melahirkanmu secara normal, padahal eomma tahu jantung eomma sangat lemah saat itu.

Joo Young-ah, apa kau menyukai namamu itu? Ah, eomma harap nenek sudah menjelaskan semuanya. Benar Young-ah, eomma menitipkan surat ini pada nenek untuk diserahkan padamu saat kau sudah bisa membaca. Joo Young-ah, putri eomma tercinta, bolehkah eomma meminta permohonan pertama dan terakhir padamu?

Eomma mohon, jangan biarkan appa menikah dengan yeoja lain. Eomma tidak akan rela jika kau merestuinya. Kecuali satu yeoja yang seumur hidup eomma percaya. Yeoja itu sahabat eomma dan appa. Yeoja baik hati, manis, walau tingkahnya sedikit seperti namja. Young-ah, eomma mohon, carilah yeoja itu dan bawa ke hadapan appa-mu. Kau harus pastikan yang menjadi ibumu adalah yeoja itu, bukan yang lain. Kau mau melakukannya demi kelegaan eomma, bukan?
Geuraesso, carilah yeoja bernama Choi Sooyoung. Nenek pasti sudah memberi tahumu siapa dan bagaimana yeoja itu.

Cho Joo Young, kau harus memiliki ibu baru dan eomma ingin kau berhasil meraih Sooyoung sebagai pengganti eomma. Jujur, eomma bukan merasa simpati pada sahabat eomma itu, tapi eomma tahu, hanya yeoja itu yang memiliki cinta tulus untuk appa-mu. Kau harus tahu, yeoja itu juga sangat dicintai oleh appa-mu, hanya saja saat itu eomma hadir di antara mereka dan merubah segalanya dan bodohnya appa-mu itu yang baru menyadari jika ia juga mencintai sahabat kami disaat eomma telah mengandungmu satu bulan. Bagusnya, eomma tidak terkaget karena sesungguhnya eomma bisa memahami perasaan mereka berdua dan eomma juga tahu bahwa appa-mu dan Sooyoung sangat menyayangi eomma. Maka dari itu, pastikan appa-mu menikah dengan Choi Sooyoung.

Baiklah, jika kau berhasil, eomma akan menjamin kebahagiaanmu dimasa mendatang setelah kau memiliki eomma Sooyoung. Kau sayang dengan eomma, bukan? Jadi, bersemangatlah. Hwaaiiiting chagie-ya!!! \(^,*)/

Love you always,

Eomma

“Eomma…” tangis Joo Young setelah selesai membaca surat dari eomma yang melahirkannya.

***

“Hei, anak appa mau kemana?”

“Maaf appa, aku harus ikut bertamasya bersama teman-teman. Appa tidak perlu khawatir, nenek akan menjagaku.”

“Iya Kyu, kau fokus saja pada pekerjaanmu. Nanti kalau sudah senggang, kau bisa menyusul kami. Bagaimana?”

Kyuhyun tersenyum, “Baiklah.selamat bersenang-senang sayang…”
***

Sooyoung sedang membagikan loli pop kepada anak-anak pantai yang bergantian menghampirinya. Ia tersenyum sangat manis dan cantik. Terlebih postur tubuhnya yang bagaikan model itu telah dihiasi oleh rambut sepinggang yang indah. Tubuhnya dibalut oleh dress putih selutut dan kakinya berhiaskan sepatu high hils lima centi yang sangat cantik. Sungguh, ia merubah penampilannya menjadi seperti sekarang ini sangat teamat susah dan mati-matian. Semua berawal ketika ia di posisikan sebagai manager utama perusahaan keluarganya dimana Siwon, kakaknya, tengah menjabat sebagai direktur utamanya. Ia sempat membenci sang kakak karena namja itulah yang membuat peraturan menjijikkan di kantornya. “Memakai dress kantor, high hilss, dan ber-make up” Namun, tentu saja Sooyoung tidak telalu menghiraukan syarat ketiga. Syarat pertama dan kedua saja sudah cukup membuatnya gila selama hampir dua tahun kala itu. Sampai saat ini, empat tahun setelah usaha perubahan penampilannya, ia mulai terbiasa dengan penampilan sewajarnya seorang yeoja. Bahkan, di dalam lemari pakaiannya pun tidak ada lagi celana pendek jins kedodoran yang dulu sangat ia sukai. Yang ada hanya model-model pakaian feminine koleksian Siwon-oppa. Benar, semua yang dipakai Sooyoung sebagian besar adalah pemberian Siwon. Sampai-sampai, istri Siwon, kakak iparnya, pernah ngambek lantaran barang-barang yang dibeli Siwon hanya untuk Sooyoung, bukan untuknya.

“Wah, kau mendapatkan rasa vanilla,coklatnya sudah habis. Apa kau mau?” tawar Soo yang sedang berjongkok mensejajarkan anak didepannya sambil menyodorkan loli pop vanilla.

Anak itu tersenyum, “Ne, gwenchana shensei…” ucap anak tersebut sembari meraih jatahnya dan pergi meninggalkan Soo.

Ya, setelah kembali dari Jepang dan sesekali mengajar di panti asuhan milik keluarga Choi, Sooyoung selalu disapa dengan sebutan ‘Shensei’ mengingat ia memang datang dari Jepang. Yah, itu sangat manis menurutnya.

“Shensei, bolehkah aku bergabung?” ujar seorang anak yang membuat Sooyoung berpaling kearah anak tersebut.

“Eoh, kau anak baru disini?” tanya Soo yang memang merasa tidak pernah melihat anak didepannya. Anak itu hanya tersenym sambil mengangguk, “Kau datang dengan siapa?”

“Sendiri”

“Benarkah? Oh, baiklah, ayo bergabung bersama kami. Nah, ini loli pop strawberry untukmu, apa kau suka rasanya?” tanya Sooyoung agak ragu.

Anak itu tersenyum, “Tentu. Neumu jhoa…”

“Wah… jinja? Baguslah, kalau begitu kita sama. aku juga snagat suka rasa strawberry. Ini” Soo menyodorkan lollipop itu dan segera diraih oleh anak tersebut.

“Gomawo Shensei…”

“Ne, Cheonma.” Soo berdiri dan hendak mengajak anak itu, tapi langkahnya terhenti ketika mengingat sesuatu, “Hei anak manis, namamu siapa?”

“Joo Young, Cho Joo Young!” jawab anak itu.

Sooyoung agak kaget mendengar nama marga anak didepannya, tapi ia tahu nama marga seperti itu sangat banyak yang menggunakannya. “Ah… baiklah Joo Young-ah, kajja kita bermain bersama!”

Joo Young mengikuti Sooyoung berjalan, tapi tanpa diketahui Sooyoung, anak itu menoleh kearah belakang dan tersenyum sambil mengacungkan jempol pada Ny.Seo yang masih berdiri didepan mobil, memantau kemajuan usaha pdkt yang dilakukan sang cucu.

***

Sudah satu minggu Joo Young memperhatikan sifat, kelakuan, kebiasaan, dan kepribadian Sooyoung secara intens. Ia juga selalu mengabari neneknya tentang perkembangan yang ia dapat. Benar, Sooyoung adalah yeoja yang baik hati, seperti apa yang dikatakan eomma-nya di dalam surat yang ia baca saat itu.

Geundae… bukankah eomma-nya bilang kalau Sooyoung adalah seorang yeoja tomboy? Lalu, apa ia harus percaya bahwa kali ini ia benar-benar menemukan Sooyoung yang eomma-nya maksud? Mengapa ciri-ciri tomboy tidak terlihat, malah menurutnya Sooyoung yang ini sangat cantik layaknya seorang model. Namun, keraguan itu menghilang ketika seorang temannya disana yang ternyata keponakan Sooyoung, anak Siwon, menceritakan bagaimana sosok Soyoung yang akrab di sapa ‘Sensei’ oleh anak-anak disana. Dengan itu semua, Joo Young semakin mengagumi sosok Sooyoung seperti yang dirasakan eomma-nya semasa hidup.

***

Sore hari, setelah mengajak anak panti itu bermain, Sooyoung berjalan mendekati Joo Young yang sedang duduk di teras. Wajah anak itu terlalu sayu, membuat Sooyoung ingin mendekatinya.

“Hai Youngie-ah. Kenapa melamun, apa yang sedang kau pikirkan?”

“Eomma…” gumam Joo Young tiba-tiba, membuat senyman diwajah Soo menghilang dan berubah menjadi khawatir. Ia melihat Joo Young tengah memeluk pigura kecil, dugaan Soo itu adalah foto eomma Joo Young.

“Kau merindukan eomma-mu?” Joo Young mengangguk dan perlahan ia menampakkan wajah sendunya kearah Sooyoung. “Dimana eomma-mu?”

Joo Young mulai menangis, “Eomma meninggal setelah melahirkanku. Jantungnya lemah dan tidak kuat menahannya lagi. Aku membuatnya pergi.” Tangis Joo Young pecah dan membuat Sooyoung lekas memeluknya.

“Tidak sayang, eomma-mu pergi karena di panggil oleh Tuhan untuk duduk di kursi surga. Kau tidak boleh menyalahkan dirimu.” Jelas Soo sembari mengelus lembut punggung anak kecil itu. Ia ikut sedih merasakan apa yang dirasakan anak kecil ini.

“Sensei, bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan eomma?” pinta Joo Young.

Kini air mata Sooyoung benar-benar mengalir runtuh ditengah senyumnya. Ia mengangguk mengijinkan permohonan Joo Young, “Boleh sayang, boleh. Kau boleh menyebutku seperti itu selama kau merasa nyaman.”

“Eomma… eomma…” tangis Joo Young di pelukan Soo.

Pandangan Sooyoung jatuh pada pigura yang didekap Joo Young. Dengan berani dan pelan, ia sentuh puncak pigura itu dan perlahan membalikkannya hingga setengah bagian gambar disana terlihat. Matanya membulat. Seohyun? Benarkah apa yang ia lihat?

Tiba-tiba…

“Cho Joo Young!” pekik seorang namja usia tiga puluhan yang baru saja hadir di antara mereka. namja itu masih mengenakan pakaian kerja lengkapnya.

Joo Young dan Sooyoung langsung terperanjat kaget dan seketika berdiri melihat Namja itu. Sooyoung semakin melebarkan pandangan yang ia dapatkan kali ini. Benarkah ia melihat namja yang telah membawa separuh hatinya sejak lama itu?

Joo Young tersenyum mengenali sosok appa-nya, “Appa…” serunya, membuat Sooyoung semakin tercengang. Benar, ini benar-benar nyata. Benaknya.

“Kyu-ah…” gumam Soo dengan suara bergetar.

Kyuhyun belum bisa mengedipkan kedua matanya.
Apa benar yang kali ini ia lihat?
Choi Sooyoung, yeoja itu sedang bediri berdampingan dengan putrinya?

“Appa…” sorak Joo Young yang kini berlari kecil menghampiri Kyuhyun, membuat namja itu tersadar kembali. Joo Young langsung memeluk pinggul Kyuhyun erat dan Kyuhyun segera berjongkok mensejajari pandangannya.

“Youngie-ah, kenapa kau berbohong pada appa? Bukankah kau bilang kau sedang mengikuti tamasya bersama teman-temanmu dengan ditemani nenek? Lalu, apa yang kau perbuat selama tiga hari ini sampai membuat appa khawatir, eoh?” tanya Kyhyn dengan suara serius walau nadanya tetap lembut.

“Appa, aku minta maaf. Sungguh, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir.”

“Lalu, apa yang kau lakukan disini?” tanya Kyu.

“Aku mencari eomma baru sebagai pengganti eomma Seo-ku. Aku sedih melihat teman-teman yang memiliki eomma. Dan eomma Seo-ku telah memberiku petunjuk siapa yang pantas mengambil posisinya.” ujar Joo Young.

Kyuhyun masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan putrinya tersebut. Joo Young berpaling senyum kearah Sooyoung yang masih berdiri didepan teras. Segera diraihnya tangan kekar sang appa dan menariknya kearah Sooyoung.

Kini tatapan Kyu tidak bisa beralih lagi. Yeoja cantik nan anggun didepannya kini memang benar-benar Choi Sooyoung, yeoja yang tujuh tahun lalu pergi meninggalkannya dan tak memberi kabar apapun padanya sampai membuatnya merasakan kerinduan mendalam. Mereka berdua benar-benar terjebak dalam pandangan tak menentu, yang jelas mata mereka belum bisa berpaling kearah lain. Mereka sama-sama merasakan rindu yang sangat menyesakkan dada mereka masing-masing.

“Seo Eomma bilang, hanya Choi Sooyoung yang boleh menggantikan posisinya, tidak dengan yang lain.” Kata Joo Young, memecah keheningan, sambil menautkan tangan Soo dan Kyu.

“Sooyoung-eomma, bersediakah kau menjadi istri appa-ku dan eomma baru-ku?” tanya Joo Young dengan mata indah yang sedang menatap lekat mata Sooyoung.

Diam adalah pilihan yang lebih baik bagi Sooyoung.

Tanpa disadari mereka bertiga, seorang namja lain baru saja hadir dan tersenyum saat melangkah mendekati mereka. Namja itu sudah berada di belakang Sooyoung dan mendengar semua perkataan anak kecil disana. Saat Sooyoung terdiam, ia segera melingkarkan kedua tangannya di perut Sooyoung. Hal itu membuat Sooyoung terkesiap dan sontak melepas tangannya yang tertaut dengan tangan Kyuhyun.

Changmin, namja yang kini sudah menadahkan dagunya di bahu Sooyoung. “Adik manis, maaf sensei ini tidak bisa menerima permintaanmu tadi. Sensei ini tunanganku dan seminggu lagi kami akan menikah. Kau paham kan maksud ucapanku?” jelas Changmin pada gadis cilik yang tengah menengadah menatapnya dengan pandangan kaget.

“Tidak paman, kau tidak boleh menikah dengan Sooyoung-eomma. Dia mencintai appa-ku, bukan mencintai paman.” Tegas Joo Young yang merasa tak terima jika Sooyoung diambil oleh namja lain. Ia harus berjuang mempertahankan cinta yang dimiliki appa-nya.

Changmin terdiam dan mulai melepas tautannya di tubuh Sooyoung yang sedang tertunduk. Perlahan ia berpaling menatap namja didepannya. Ia sedikit memicingkan mata seperti sedang memikirkan atau mencoba mengingat sesuatu. “Kau yang bernama Cho Kyuhyun, bukan?” tanyanya santai. Bahkan ia tak merasakan adanya tegangan dilingkaran yang ia pijak itu.

Kyuhyun yang tegang pun langsung tersenym tipis dan mengangguk. “Nde.”

“Wah… betapa beruntungnya aku bisa datang dan bertemu dengan pengusaha sukses sepertimu. Bukankah kau yang memenangkan tender besar tempo lalu?” lagi-lagi Kyuhyun tersenym sambil mengangguk. Changmin langsung menjabatkan tangannya dengan Kyu dan memeluk sekilas namja yang secara tidak langsung telah menjadi idolanya.

“Apa gadis cilik ini anakmu?”

“Ya, dia anakku. Youngie, beri salam pada paman…” Kyuhyun menggantungkan kalimat tanyanya karena tidak tahu nama orang yang ingin ia sebut.

“Changmin. Shim Changmin.” Cetus Changmin yang mengerti maksud Kyuhyun.

“Ayo Youngie, beri salam pada paman Shim!” suruh Kyu dan terpaksa Joo Young menurutinya.

“Paman, aku sangat menginginkan Sooyoung-eomma sebagai eomma-ku.”

Kini Changmin benar-benar terdiam. Ia pikir yang tadi itu hanya sebuah permintaan kamuflase belaka, tapi ternyata gadis cilik dihadapannya itu membisikkan hal yang sama dengan nada serius. Changmin memandang sendu manik hitam di kedua mata Joo Young.

“Ah, Youngie-ah, kajja kita pulang. Kau harus bertanggung jawab karena telah berbohong pada appa. Bukan hanya itu, kau juga harus tanggung semua rasa rindu yang appa rasakan.” Cloteh Kyuhyun sembari mengangkat tubuh cilik anaknya.

“Appa, aku hanya-“

“Ne, chagie~ appa mengerti. Ayo sekarang kita kembali dan menikmati ice cream strawberry kesukaanmu, arra?” potong Kyu yang tak ingin memperkeruh suasana diantara Changmin dan Sooyoung. Joo Young tetunduk pasrah dengan sikap appa-nya. Ia langsung merebahkan kepalanya dibahu sang appa. “Maaf telah membuat kalian terganggu dengan permintaan anakku. Changmin-ssi, terimakasih karena sudah memberiku selamat,” kata Kyu yang sudah menatap datar Changmin. Kemudian pandangannya jatuh pada wajah sendu Sooyoung yang masih berdiri dekat, sangat dekat, dengan Changmin. “Sooyoung Sensei, gomawo sudah meladeni kenakalan putriku. Mianh sudah menyusahkanmu. Dan selamat untuk pertunangan kalian, semoga pernikahan kalian nanti berjalan lancar.” Ucap Kyu sekuat tenaga. Jujur, ia tak sanggup mengatakan hal itu. Benar, ia sangat mencintai sahabat hidupnya yang telah lama tak ia temui. “Baiklah, kami pamit pulang dulu.”

***

“Sooyoungie memang cantik, manis, dan selalu ceria. Kau tahu, saat ia tomboy, ia juga terlihat sangat menarik.” Jelas Ny.Choi kepada Changmin sembari menunjukkan foto-foto Sooyoung didalam album yang ia simpan.

“Ne, kau benar eommanim. Sooyoung adalah sosok yang menarik. Aku bisa gila jika benar-benar mencintainya.” Jawab santai Changmin.

“Anni, kau akan bahagia jika mencintainya Ming-ah…”

Changmin tersenyum miris. “Akan lebih bahagia jika ia juga mencintaiku.” Gumamnya.

Tiga hari setelah pertemuannya dengan Kyuhyun, Sooyoung menangis didadanya dan menjelaskan masa lalunya. Entah bagaimana bisa Tuhan mengatur segala jalan takdir di setiap hidup manusia, Cho Joo Young, anak Kyuhyun, gadis berusia enam tahun itu, berani mengejarnya saat berlari sore di taman. Saat ditanya, ternyata gadis itu tengah bermain bersama teman-teman seusianya dan memilih pergi untuk menemui Changmin yang tak sengaja ia lihat. Betapa kalut hatinya saat anak itu menceritakan segalanya. Yang ia rasa, yang appa-nya rasa, perasaan Sooyoung sebenarnya yang anak itu paham, sampai surat yang dibuat oleh almarhumah eomma Joo Young pun telah ia baca. Betapa ngilu hatinya saat ia membaca isi didalamnya. Dan rasa ngilu itu bertambah saat mendengar Joo Young berkata sambil menangis, “Aku menganggap paman sebagai pria terbaik dan tampan yang pernah kutemui. Aku tidak akan menyangka jika paman tetap memisahkan hati yang seharusnya bersatu. Setega itukah paman yang aku kagumi ini?”

***

Hari pernikahan Changmin dan Sooyoung pun tiba. Gereja sudah terhias indah dan tertata sedemikian rupa. Kyuhyun mengandeng tangan Joo Young untuk masuk sebagai tamu di dalam sana. Entahlah, ia sudah bertekat untuk menguathkan hati dan jiwanya sejak semalam untuk datang ke acara pernikahan yeoja yang sangat ia cintai.

Joo Young langsung mencari sosok Changmin yang sempat ia lihat tanpa meminta ijin pada appanya. Ia berlari kecil hingga berhasil menarik tangan Changmin. “Paman tampan!” sapanya. Yah, itu memang sebutan untuk Changmin darinya.

Changmin senyum sumringah mengenali sosok Joo Young, gadis cilik yang akhir-akhir ini membuatnya bisa berpikir lebih dewasa. Sungguh, ia berharap, kelak, suatu hari, entah kapan, ia ingin memiliki sosok anak seperti Cho Joo Young. Anak yang sangat pintar dan baik hati. “Youngie-ah, kau datang juga ke acara pernikahanku. Aku kira kau telah membenciku.” Kata Changmin. Ia sudah biasa ber-aku,kau, dengan Joo Young, karena ia sudah menganggap sosok malaikat cilik itu sebagai sahabtnya.

“Huft, aku memang sempat berencana untuk membenci paman, tapi appa melarangku. Appa bilang, jika kita tidak mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, maka sangat buruk jadinya jika kita berlaku egois. Appa juga bilang, Paman Tampan adalah namja yang baik, Sooyoung-eomma pantas bersanding dengan paman. Maka dari itu, aku tidak akan membenci paman hanya karena paman tidak mengabulkan permintaanku untuk menghentikan pernikahan ini. Aku tidak mau Tuhan membenciku karena aku telah membenci takdir yang Beliau buat. Takdir kebersamaan Paman dan Sooyoung-eomma.” Jelas Joo Young.

Sungguh, demi apapun, betapa ajaibnya gadis cilik ini bisa memaparkan suatu sikap kehidupan secara dewas. Wajar saja jika kini Changmin menatapnya kagum dan penuh rasa cinta. Lalu, bisakah ia mengerti segala takdir yang Tuhan telah atur seperti apa yang dikatakan Joo Young? Apakah detik berikutnya takdir itu akan tetap berpihak padanya?

“Joo Young-ah…” gumam Changmin yang masih menatap lembut gadis cilik didepannya. Joo Young hanya tersenyum manis membalas taapannya. “Saranghae…” ucapnya kemudian sebelum akhirnya memeluk tubuh cilik itu.

Joo Young tersenyum dan membalas pelukan dari paman tampannya. “Na do saranghaeyo, Paman Tampan…” ucapnya.

***

Sementara di tempat lain, tampak sosok Kyuhyun yang tengah berjalan cepat kesegala ruang dalam gedung gereja tersebut untuk mencari putrinya, Cho Joo Young, yang tiba-tiba menghilang saat ia bertemu dengan kedua orang tua Sooyoung yang lama tak ia jumpai.

“Youngie-ah… dimana kau…? Youngie-ah…” panggil Kyu dengan suara cukup keras agar ia bisa mendapat jawaban dari putrinya.

“Youngie-ah!” panggilnya lagi setelah membuka pintu terakhir di gedung gereja itu. “Kau dim-“ kalimatnya terhenti saat ia menyadari bahwa ruangan yang ia masuki itu adalah ruang rias pengantin, dimana takdir membawanya melihat sosok Choi Sooyoung yang sudah berbalut baju pengantin putih nan anggun.

Sooyoung tertegun saat nama panggilannya tadi terdengar ditelinganya dan ternyata itu suara Cho Kyuhyun, namja yang sedari dulu membuat dadanya sesak. Benar, kali ini ia terdiam bak patung pajangan saat melihat sosok Kyuhyun yang masih berdiri di ambang pintu. Matanya memerah sedari tadi, dengan cepat ia tundukkan wajahnya, tidak ingin Kyuhyun melihat wajah jeleknya yang sedang menangis.

Menyadari hal tersebut, perlahan Kyuhyun menutup pintu ruangan dan berjalan menghampiri Sooyoung. Kapan lagi ia bisa berhadapan dekat dengan sahabat hidupnya itu jika tidak detik ini juga. Benar, mungkin ini saat yang bisa ia gunakan untuk mengatakan sesuatu yang seharusnya ia katakan sejak lama.

“Youngie-ah…” suara getir Kyu membuat Sooyoung mengangkat sedikit wajahnya untuk melihat sosok namja yang sudah berdiri tepat dihadapannya.

Sambil menangis sesenggukan, Sooyoung mencoba mengangkat tangan kirinya untuk menyentuh wajah Kyuhyun. Namun, dengan sigap Kyuhyun menahan tangan itu dan menggringnya untuk menyentuh bagian jantungnya. Getaran hebat, ya jantung yang Sooyoung sentuh tengah berguncang keras. Jantung seorang Kyuhyun. Apakah boleh Sooyoung berpikir bahwa getaran itu timbul karena…

“Hiks…hiks… Kyu-ah…” tangisan Soo pecah dan langsung membuatnya berhambur memeluk Kyuhyun. Tuhan, kenapa rasa cinta ini begitu dalam dan hingga sampai saat ini tak bisa menghilang atau sekadar tergantikan.

“Gwenchana…” gumam Kyu seraya melepar pelukan diantara mereka. Ia menangkup wajah basa Sooyoung, mengecup kening Sooyoung, dan berkata, “Aku ingin kau bahagia, Youngie-ah” kemudian, perlahan tapi pasti, Kyuhyun berbalik dan meninggalkan Sooyoung.

***

Sooyoung memasuki gereja dengan tangan yang sudah berpaut di siku Tuan Choi. Ia melangkahkan kakinya setapak demi setapak sambil memandang para tamu yang hadir di gereja tempat pernikahannya akan terlaksana sesaat lagi. Namun, kedua kakinya terhenti saat matanya menemukan sosok Kyuhyun yang berdiri di samping eomma-nya dan gadis cilik, Joo Young, tepat di posisi paling depan. Ia menatap dalam dan berusaha menguatkan hati dan dirinya. Benarkah apa yang ia pilih kali ini? benarkah ia sanggup melepas cinta yang sudah lama ia nantikan itu?

“Soo…” bisik Tuan Choi, bermaksud menyadarkan Sooyoung untuk melangkah lagi menuju altar, dimana seorang Shim Changmin menunggunya.

“Appa…” getirnya dan tangisannya pecah. Pandangannya bertemu dengan mata Changmin. Ia ingin membei tahu bahwa ia tak sanggup untuk melanjutkan pernikahannya kali ini. ia terus menangis dan menatap Changmin dengan paras memohon.
Changmin yang paham akan takdirnya kali ini pun segera beranjak menemui calon istrinya yang berhenti melangkah di tengah jalan. Ia tarik tangan Sooyoung secara paksa, “Maaf abeonim, aku akan membahagiakan putrimu.” Ucapnya pada Tuan Choi. Kini ia menatap lekat mata berair Sooyoung, “Kau sudah berjanji untuk menikah hari ini, bukan? Maka dari itu, jangan mengecewakanku, arra?!” tegasnya sembari melangkah mengandenga tangan Sooyoung layaknya seorang wali yang mengantar anaknya ke plaminan.

Ekspresi wajah seorang Changmin yang terkenal humoris, kini terlihat bagaikan setan yang hendak memangsa tumbalnya. Ia mengandeng tangan Sooyoung agak keras dan mendorong Yeoja itu kearah Kyuhyun yang masih berdiri di posisi paling depan. Benar, ia harus merelakan Sooyoung kali ini. Tidak akan membahagiakan jika ia menikahi yeoja yang masih mencintai namja lain.

Semua orang tercengang akan hal itu. Termasuk Kyuhyun yang kini mematung melihat perlakuan Changmin pada Sooyoung. Bagaimana mungkin sang mempelai pria mendorong calon pasangannya kearah namja lain yang ia tahu akan merebutnya?

“Oppa-ah…” getar suara Soo pada Changmin yang sudah tersenyum evil. Soo melangkah maju mendekati Changmin dan hendak meraih tangan namja tersebut. Namun, dengan sigap Changmin menahannya.

Digenggamnya erat tangan calon istrinya tersebut dan perlahan mengecupny lembut. Ia tersenyum memandang yeoja yang setahun belakangan ini mengisi hatinya. Ia sadar, hati yeoja yang ia cintai tidak untuknya dan akan menyakiti yeoja itu jika ia meneruskan segala keegoisannya.

“Aku tahu hatimu ada padanya.” Kata Changmin, membuka penjelasan.

“Maksudmu apa oppa?”

“Sooyoung-ah, aku akan membantumu meraih cinta sejatimu. Berbaliklah, temuilah namja yang kau cintai dan berbahagialah dengannya.”

Deg!

Kyuhyun tercengang hebat mendengar kalimat Changmin barusan. Apa yang sedang terjadi saat ini, apa ini mimpi? Apa seorang Shim Changmin sudah gila kali ini hingga rela melepaskan yeoja yang dicintainya?

“Ming-oppa aku…”

Changmin menggelengkan kepala melarang Sooyoung berkata lagi, “Aku ikhlas Soo. Aku rela kau bahagia bersama namja lain, namja yang kau cintai.” Sooyoung masih tak percaya dengan apa yang ia dengar hingga Changmin melanjutkan lagi, “Tuhan telah memberikan takdir yang berbeda pada semua ciptaannya dan aku sadar, kau dan aku hanya di takdirkan sebagai sepasang teman, tidak lebih. Takdirmu ada di diri Kyuhyun, Cho Kyuhyun.” Kini tangisan Sooyoung semakin runtuh, tapi kali ini adalah tangisan bahagianya. Benarkah, benarkah apa yang ia dengar itu, takdirnya adalah seorang Cho Kyuhyun?

“Tapi oppa..-“

“Kau jangan khawatir, kata seseorang, aku ini tampan, jadi aka nada banyak bidadari yang bisa menghiburku nantinya. Sekarang, aku akan mengantarmu menuju cinta sejatimu.”

Changmin meraih tangan Sooyoung sambil mengerling kearah Joo Young. Gadis cilik itu mengerti akan maksudnya dan segera meraih tangan Kyuhyun sebelum akhirnya membawa appa-nya tersebut berdiri didepan altar. Changmin tersenyum atas kepandaian gadis cilik itu mengartikan maksudnya. Setelah itu ia berbalik menghadap Tuan Choi.

“Abeonim, ijinkan aku menjadi wali Sooyoung kali ini.”

Tuan Choi mengijinkannya dengan senang hati. Changmin menggamit tangan Sooyoung dan membawa yeoja tersebut menemui calon suami sesungguhnya.

“Cho, bahagiakanlah yeoja-ku ini.” ujar Changmin yang tengah mengulurkan tangan Sooyoung untuk Kyuhyun raih darinya.

Tanpa diketahui semua orang, kini sosok ruh Seohyun tersenyum dan memberikan ciuman jauh untuk putrinya tercinta. Joo Young yang bisa melihat sosok eomma-nya pun langsung tersenyum dan membalas kecupan jauh yang ia dapat sebelumnya. ‘Saranghae eomma…’ batin Joo Young kala ia menatap sosok cantik eomma-nya. “Na do Saranghae Joo Young-ah. Eomma neumu saranghaeyo…” balas Seohyun yang bisa mendengar ucapan batin putri ciliknya.

Terdengar sorakan dan tepuk tangan meriah dari ratusan undangan yang hadir di acara enikahan itu. Mereka semua merasa seperti sedang menonton drama romantis secara nyata. Dan akhirnya, ending mengatakan bahwa takdir seorang Sooyoung benar-benar ada di tangan seorang Kyuhyun.

***END***



EPILOG

Malam hari setelah acara pernikahan mereka selesai dengan lancar, Kyuhyun berdiri di balkon apartment yang seharusnya menjadi milik Changmin dan Sooyoung, yang pada akhirnya dijadikan sebagai hadiah pernikahan dari Changmin untuknya dan Sooyoung. Kyuhyun menengadap keatas langit dan menghirup udara segar malam hari di kota Seoul yang sangat jarang ia rasakan. Apa kesegaran ini efek dari keadaan hatinya ya?

Kagum, Kyuhyun sangat kagum dengan jalan takdir yang Tuhan tuliskan untuknya. Bagaimana mungkin pada akhirnya ia bisa mendapatkan kembali gadis yang sedari dulu ia cintai dan mencintainya. Bahkan didetik-detik pernikahan yang seharusnya tak terjadi padanya. Sungguh, ia sangat bersyukur atas apa yang ia dapatkan selama ini.

Sooyoung yang sudah mengganti pakaiannya dnegan piyama kimono tampak mendekati suaminya tersebut dan memeluknya dari belakang. Ia sandarkan kepalanya di punggung bidang suaminya.

“Kau mengagetkanku Youngie…” gumam Kyu yang kini menggenggam lembut tautan tangan Sooyoung yang ada di perutnya.

“Terimakasih, Kyu-ah…” kata Sooyoung, “Terimakasih telah mencintaiku. Bahkan kau merasakannya sejak Seohyun masih ada. Aku sangat tidak menyangka kau mencintai dua gadis sekaligus.”

Kyuhyun terdiam, tapi kemudian ia membalikkan badannya menghadap Sooyoung. Ditatapnya lekat kedua mata bening yeoja yang beberapa jam lalu resmi menjadi istrinya. Ia tidak berkata apapu selain terdiam memandang wajah cantik didepannya. Perlahan wajahnya mendekat ke wajah Sooyoung dan berakhir saat bibirnya berhasil bergerak diatas bibir Sooyoung. Kedua tangannya langsung naik kearah wajah Sooyoung yang tengah ia kuasai bibirnya. Begitu pula dengan Sooyoung yang ikut terbawa suasana, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Kyuhyun dan tenggelam di tengah hangatnya ciuman yang baru kali ini berhasil membuatnya bergetar hebat.

Tangan Kyuhyun sudah ada di pinggang dan di bahu Sooyoung. Ia berusaha membuat jarak di antara mereka tak tersisa lagi. Bayangkan, sudah enam tahun lamanya ia tak melakukan hal se-intens ini dengan seorang yeoja setelah Seohyun meninggalkannya pergi untuk selamanya. Bisa saja ia membayar yeoja murahan untuk menghilangkan nafsu birahinya, tapi ia tak bisa melakukannya karena bayangan wajah yeoja yang ia cintai telah mencegah niat busuknya tersebut. Wajah Seohyun, wajah Joo Young, dan paling membuatnya tak ingin melakukan hal itu adalah bayangan wajah Sooyoung, yeoja yang ia anggap masih bisa ia temui dan ia miliki kelak, layaknya saat ini.

Entah siapa yang memulai, kini mereka berdua berjalan pelan memasuki kamar mereka dengan posisi saling melumat bibir satu sama lainnya.

Bruk!

Mereka berdua terjatuh tepat diatas ranjang mereka. Kyuhyun ada di atas tubuh Sooyoung. Ciuman intens diantara mereka perlahan terhenti dan berakhir dengan tatapan antar mata mereka. Kyuhyun menatap wajah Soo penuh ketulusan dan kekaguman. Bolehkah ia meneruskan hal gila yang sejak lama telah ia tahan, mala mini juga?

“Youngie, aku ingin memilikimu seutuhnya. Sudikah kau telah menjadi yang kedua? Ku yakin, kaulah yang terakhir.” Sooyoung hanya tersenyum menatap wajah goguma seorang Kyuhyun yang ia kenal sebagai raja iblis super jail itu. “Apa kau siap menerimaku mala mini juga? Apa kau bisa melayaniku dengan penuh cinta, saat ini juga?”

Sooyoung semakin melebarkan senyumannya. Hei, sejak kapan namja jail di atasnya itu bisa berkata dengan bahasa yang sedikit banyaknya mampu membuat hatinya berdesir seperti saat ini?

“I’m yours Tuan Cho. Seumur hidupku, selama tiga puluh dua tahun ini, aku belum pernah melayani seorang nampyeon atau namja lainnya. Jadi, ajari aku untuk melayanimu secara lembut, mala mini. Hun?” pinta Soo dengan suara yang tedengar sangat hangat dan pelan.

Kyuhyun tersenyum sebelum akhirnya mengecupi setiap titik di wajah Sooyoung. Saat hendak meluncur ke bibir istrinya tersebut, Kyuhyun menatap mata Sooyoung dan berkata, “Cho Sooyoung, saranghae youngwonhi…”

“Na do Saranghae, Yeobo…”

Mendengar jawaban manis Sooyoung, Kyuhyun langsung melumat bibir Sooyoung dan meneruskan kegiatan indah, hangat, dan penuh cinta di kamar pengantin mereka.

Siapa sangka takdir membawa mereka, yang bermimpi untuk bersatu seperti ini pun tak pernah, kini benar-benar bersama menghabiskan sisa umur mereka dengan cinta sejati yang memang di takdirkan oleh Tuhan.

***********END OF EPILOG**********

eotthe?
Apa feel-nya ngena ampe ke hati?
aiish… mianh jika tidak terasa… >,<

Gomawo udah baca ff panjang ini
Aq harap kalian suka🙂

130 thoughts on “ONESHOT – Final Destiny in Our Love

  1. huah eonni crt.a keren bngt, sampe gak rela waktu tau udh ending aja crt.a……
    pengen ada lanjutannya lagi crt.a eonni…..
    saolnya crt.a bgus bngt,
    please bikin AS dong eonni, yaaaaaaaaaa……
    ^O^
    eonni daebak, feelnya dapet bngt…
    pokonya wajib bikin AS atau sequel ya eonni….

  2. Huaaa nyesek baca ny..
    Apa lagi pas bag soo di awal.. kasihan bgt..
    Jadi ikutan sedih… feel ny dpt bgt.. film ny udah berulang2 kali nonton ny gk pernah mpe nangis.. klo baca ini mpe nangis..
    Sedih bgt awal ny.. tapi end ny soo ma kyuppa jg akhirnya..
    AS ny donk..

  3. Aq bayangin kyuyoung diff nie sambil joged” india ditengah hujan dan joged di belakang pohon , hahahaha
    jo young lucu bangett , aq ud kira nama nya gabungan dr nama mereka ber3 ^^
    Berarti kyuhyun lebih sayang ke soyoung dr pada ke seohyun , ehmm seneng deh denger nya ^^

Gomawo^^ You are the best Visitor, So Give Comments After You Read It.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s