ONESHOT – That Man

tm2

Tittle : That Man
Author : Fatminho
Main cast : Kyuhyun, Sooyoung
Length : Oneshot
Rated : PG 18+
Genre : Romance, Married Life, hurt, sad, friendship

Disclaimer :

This Plot is Main. Just feedback or give some comments without bashing, and NOT FOR PLAGIATORS!

Note:

Halo, aku datang lagi.
Geundae, mianhae bukan membawa kelanjutan ff.
Aku bawa ff oneshot yang idenya hadir begitu saja setelah mandet memikirkan kelanjutan kisah KyuYoung di Story in Marry.

Oke, maaf jika banyak typo… :0

Focus Point Of View : Kyuhyun Only

Selanjutnya akan kuusahakan utk publish ff series-ku.😀

– Happy Reading – 

Kupandangi punggung yeoja berbalut gaun pengantin yang sedang duduk di depan meja rias. Kesepuluh jari tangannya tengah menari di setiap sisi perhiasan yang terpasang di helaian hitamnya tersebut. Yeoja yang anggun dan cantik, Choi Sooyoung.

Hmmm… seperti mimpi aku menikah denganmu, satu hal yang membuatku sangat bahagia menjadi seorang namja di dunia ini. Aku tidak menyangka Sooyoung akan menerima pernyataan cintaku dua bulan lalu. Dan betapa kagetnya aku saat Sooyoung menyetujui ajakanku untuk menikahinya. Dia selalu cuek dan biasa saja terhadapku, tapi dia bisa menyeimbangi apapun yang aku inginkan. Namun, siapa sangka dia juga akan menerima pernikahan ini?

Kulihat dia kesusahan melepaskan kalungnya. Aku tersenyum dan bangkit untuk berjalan mendekatinya. Kulihat wajahnya yang menatapku dari cermin didepannya. Seperti biasa, wajah yang datar dan terkesan tegang. Hei, bisakah kau tidak tegang seperti itu? Kita sudah menikah, apa kau sadar hal itu?

“Biar aku membantumu melepasnya.” Ucapku sambil mengambil alih posisi tangannya yang ada di belakang leher jenjangnya. Sepertinya dia benar-benar tegang. Oh, ayolah, apakah setegang itu jika berada bersamaku?

Kutatap terus wajahnya, menunggu responnya. Dia mulai mengerjapkan mata dan mengangguk sekali sambil berkata, “Nn…ne” suaranya penuh getaran pelambang rasa ragu di hatinya. Namun, aku tetap tersenyum dan mulai mencoba melepas kalungnya. Setelah terlepas, kuletakkan kalung itu di meja depan Sooyoung sehingga secara tidak langsung, aku berani memeluknya. Ya, kenapa aku berkata seperti itu, karena saat ini kedua lenganku mengapit kepalanya.

Kulihat wajahnya dari cermin. Dia tertunduk. Ada hal yang membuat hatiku sedikit panas, tapi aku mencoba berpikir positif dan tersenyum tipis. Setelah meletakkan kalung tadi, kedua tanganku menangkup kedua lengan atasnya. Lagi-lagi kurasakan ketegangan di tubuhnya. Dia memandangku dari cermin dengan pandangan yang… oh, benarkah apa yang aku pikirkan, pandangannya penuh dengan luka dan derita.

Sabar Kyu-ah, kau harus sabar. Perlahan semua ini akan indah dan manis. Kuulas senyum tipisku lagi dan kutundukkan kepalaku hingga aku bisa menghirup wangi rambutnya. Kukecup puncak kepalanya sambil memejamkan mataku.

“Hiks…hiks…”

Mataku terbuka ketika kudengan suara isakan kecilnya. Langsung kuangkat kepalaku dan menatap sosoknya dari cermin. Benar, dia menangis. “Soo, kenapa kau menangis?” tanyaku. Tidak ada respon darinya. Mungkin tangisnya terlalu pecah sehingga tak sanggup berkata-kata.

Aku tersentak saat dia berdiri. Dia berbalik menghadapku dan sebelum aku sempat menatap wajah basanya, dia sudah memelukku. Dia menangis hingga air matanya membasahi kemeja putihku tepat di bagian bahu. Kedua tangannya melingkar di leherku.

Butuh waktu beberapa detik untukku membalas pelukannya. Kupeluk tubuhnya lembut dan posesif. Aku ingin dia merasakan hangatnya dekapanku. Aku ingin dia merasa terlindungi dan tenang berada di dalam pelukanku. Kuhusap pelan rambut dan punggungnya. Apakah begini terpaksanya dia menikah denganku? Kenapa saat itu dia menerima lamaranku?

“Kyuhyun-ssi… maaf, maaf, maafkan aku…” ucap Sooyoung di tengah tangisnya.

Kutarik tubuhnya agak sedikit menjauh, “Untuk apa?” tanyaku pelan.

“Aku… aku…” dia meragu, “Perasaanku…” tambahnya. Dia memang terlihat sangat berat melanjutkan kalimatnya. Oke, cukup. Aku sudah mengerti Sooyoung-ah.

Kunaikkan kedua tanganku yang ada di pinggangnya ke wajahnya. Jempol kananku kugunakan untuk menghusap lembut bibirnya, bermaksud melarangnya berkata lagi. Dia menatapku, maka aku hanya bisa tersenyum sambil menggeleng kecil. Pandanganku semakin buram, kurasa air yang menggenang disana tak dapat kutahan lagi. Langsung kutarik tubuhnya kedekapanku sehingga dengan leluasa aku bisa meluncurkan genangan di mataku.

“Tenanglah… kau aman bersamaku,” ucapku ditengah suara isakan yang kutahan.

Detik selanjutnya kurasakan Sooyoung memeluk tubuhku semakin erat. Tangisannya pun kian pecah. Menangislah sesuka hatimu Sooyoung-ah. Aku rela memberikan segala sesuatu yang kumiliki agar kau bisa tenang. Gunakanlah dadaku sebagai tempatmu bersandar dan ambillah semua sisa waktu hidupku sampai kau bisa kembali tenang.

Sungguh, aku bahagia dengan keadaan seperti ini. Bukan, aku bukan bahagia karena perasaan Sooyoung yang begitu rapuh. Aku hanya bahagia karena Sooyoung menumpukan segala sakitnya padaku. Setidaknya, menjadi orang yang dibutuhkan oleh Sooyoung itu cukup membuatku bahagia.

“Baiklah, ini sudah malam. Kau, istirahatlah disini. Aku akan tidur di kamar lain,” kataku setelah melepaskan pelukan di antara kami. Kulihat wajahnya mengernyit, “Jangan khawatir…” ku acak pelan rambutnya yang sedikit berantakan lantaran banyaknya perekat rambut yang baru dia lepas tadi. Aku tersenyum, “Aku akan tetap menjagamu. Kau aman bersamaku. Percayalah.” Tegasku.

Sooyoung tersenyum lega dan mengangguk. “Terimakasih, Kyuhyun-ssi…” ucapnya. Kubalas dengan anggukan kepala dan mulai beranjak keluar.

‘Lega rasanya setelah melihat Sooyoung berwajah tenang kembali. Dia sudah tidak setegang saat pertama kami masuk ke dalam kamar ini.’ pikirku di tengah langkahan kakiku menuju pintu keluar kamar. Setelah kuputar knop pintu, aku berbalik menghadapnya dan tersenyum melihatnya, “Jaljayeo Sooyoung-ah…” ucapku.

“Jaljayeo Kyuhyun-ssi…” balasnya dengan senym sumringah.

Apa pernikahanku ini sangat aneh? Ah, tentu saja ini sangat aneh. Tidak ada malam pertama, tidak ada kebahagiaan penuh rasa, dan yang paling penting pernikahan ini tidak ada cinta. Mungkin lebih tepatnya hanya cinta sepihak, hanya aku. Aku sudah memperhatikannya sejak lama, tapi hatinya tetap pada satu Namja, Shim Changmin.

Shim Changmin. Hmm… entah bagaimana rupa namja itu, aku tidak tahu. Choi Minho, adik Sooyoung, menceritakan semuanya padaku bagaimana hubungan antara Sooyoung dan Changmin. Manis. Ya, kisah Sooyoung dengan namja itu sangat manis. Berpacaran sejak di bangku Kuliah dan kandas tiga hari sebelum acara pernikahan mereka berlangsung. Minho bilang, Changmin kecelakaan saat melakukan olahraga panjat tebing dengan ketinggian dinding mencapai dua puluh meter. Menurut Minho, Changmin adalah jagoan anak-anak penggemar dinding menjulang itu. Namun, apa boleh buat, jika Tuhan berkehendak, adakah satu manusia yang bisa menentang takdirNya? Entah apa yang salah saat itu, tiba-tiba saja penyangga badan Changmin terputus saat dia hendak meluncur kembali kebawah setelah mencapai puncak. Helm dan pengaman lainnya pecah. Tulang punggung dan tulang pangkal pahanya patah, tulang lengan dan kakinya retak parah, dan yang membuatnya tewas adalah pembuluh darah di kepalanya pecah bersamaan dengan otak kecil dan tengkoraknya.

Saat itu juga Sooyoung tak sadarkan diri selama beberapa hari. Dia di rawat di ICU. Sempat koma, tapi hanya satu hari karena esoknya dia sadar. Dalam sadarnya, dia menangis dan memeluk siapapun yang datang mendekat padanya. Kami semua bermaksud menenangkannya, tapi dia hanya bisa tertawa di tengah tangisnya. Kejiwaan dan tekanan batin yang dia rasakan sangat dalam. Bagaimana tidak, namja yang dia cintai, yang nyaris menjadi suaminya, meninggal dengan cara setragis itu. Andai aku ada di posisi Sooyoung saat itu, maka aku pasti akan gila duluan.

Itu adalah masa lalu Sooyoung lima tahun yang lalu, saat dia masih duduk di bangku kuliah semester tiga. Pantas saja aku selalu penasaran dengannya sejak pertama aku melihatnya. Saat itu aku sedang mempersiapkan skripsi akhir yang mengharuskan aku berkutat di dalam perpustakaan kampus sampai pukul Sembilan malam,

Flashback…

Perpustakaan sudah sangat sepi. Hanya tersisa satu dua orang yang tengah mengerjakan tugas dan dua orang petugas perpus. Ku hela nafas sebaik mungkin agar aku bisa merasakan kelegaan yang cukup membuat rasa lelahku sedikit menguap.

Setelah tubuhku relex, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja mataku tertuju pada sosok yeoja yang sedang tertidur di ujung ruangan, lima batas bangku dari tempatku. Yeoja yang imut dan menggemaskan. Lihatlah, pipinya sangat chubby dan bibirnya berwarna merah muda mengkilap. Rambutnya warna kecoklatan dan diikat secara sembarang. Dia terlelap dengan pipi kanannya tertumpu pada kamus bahasa korea paling tebal di perpustakaan ini. yang aku tahu, kamus itu adalah kamus Korea terlengkap, tentu saja tebal.

Aku tak pernah puas memandang wajahnya, sampai-sampai aku berdoa agar tidak ada yang melihat wajahnya seperti itu, selain aku.

Satu jam kemudian, perpustakaan akan segera ditutup. Lee Sungmin, salah satu petugas malam ini, menghampiriku dan menepuk bahuku, “Waktu belajar memandang seorang yeoja yang sedang tertidur telah habis…” ujarnya. Aku tahu dia menyindirku. Aku balas dengan kekehan.

Belum sempat membalas perkataan Lee Sungmin, mataku sudah jatuh pada petugas yang satunya, Kim Heechul. Dia berjalan mendekati yeoja yang sedang tertidur pula situ. Tanpa berpikir lagi, aku beranjak dan menarik tangan Heechul untuk kembali menjauh dari posisi yeoja itu.

“Hey! Apa-apaan si jenius ini, kenapa menarik tanganku, eoh?!” keluhnya. Kim Heechul ini memang biasa memanggilku ‘si jenius’ lantaran aku mendahuluinya lompat semester dan terlebih dulu skripsi daripada dia yang notabene senior dua tingkat diatasku.

“Ehn… bisakah kalian tidak mengganggu yeoja itu? Apa kalian tidak bisa melihat betapa lelapnya dia?” tanyaku.

“Pabo! Kau ini jenius, tapi bodoh! Jadi kau lebih memilih membiarkannya tidur disini sampai besok pagi, begitu?” kesal Heechul.

“Hei, Kim Heechul, bisakah kau tenang sedikit saja?” protes Sungmin yang sedang mengatur buku di rak buku yang ada di dekat kami bicara. Dan Heechul ini hanya bisa mendengus.

“Bukan begitu maksudku, sunbae-nim…”

“Aku bukan Sunbae-mu!” cetusnya. Tuh kan, dia pasti merasa sangat tidak suka denganku karena berhasil mendahuluinya. Cih!

“Oh, baiklah. siapa pun kau, aku mohon, biarkan aku yang mengawasi yeoja itu. Mungkin sebentar lagi dia akan bangun.” Kataku, masih berusaha merayu.

“Tapi kami harus segera pulang!” Heechul tak mau menglah rupanya. Baiklah…

“Oke, kalau begitu, bisakah kau tinggalkan aku disini? Kau bisa mempercayaiku. Aku akan mengunci perpus ini saat aku sudah menyelesaikan tugasku. Satu halaman lagi, bagaimana?” tawarku.

Kulihat mata Heechul melirikku, ah bukan, lebih tepatnya dia sedang menerawang kedua mataku. Apa dia sedang meragukanku?

“Kau…” bisiknya sambil menunjuk wajahku dengan telunjuk kanannya. “Yeoja itu…” kini dia menunjuk yeoja yang masih terlelap, “YAK! Kau jangan…” suaranya semakin tinggi sehingga terpaksa aku membekapnya dengan telapak tanganku. Syukur saja yeoja itu tidak terbangun.

“Tidak! Aku tidak merencanakan hal bodoh yang kau pikirkan sunbae!” tukasku, lalu kulepas bungkaman tanganku di mulutnya.

“Sudah kukatakan, Don’t tell I’am by that word!” ucapnya yang berhasil membuat perutku geli.

“Don’t tell me hyeong, bukan Don’t tell I’m!” aku mengoreksi kesalahan grammer englishnya. Padahal aku sudah parah di English, ternyata ada juga yang lebih parah.

“Kenapa? Kau bangga sudah menyalahkan kalimatku? Hei dengar ya, mau berkata apa pun, itu terserah padaku. Kenapa kamu ikut mengatur cara bicaraku, eoh?”

Aish… kenapa ini jadi semakin ribet dan kacau? Bisa-bisa yeoja manis itu terbangun jika si cerewet ini terus bercuap keras.

“Baiklah… aku minta maaf. Jadi, aku masih ingin disini. Apa boleh aku meminta kuncinya? Sungguh, aku akan bertanggung jawab.”

Setelah beberapa menit perdebatan terjadi antara aku dan si cerewet Heechul itu, Sungmin datang dan menunjukkan kunci perpus padaku.

“Aku percaya padamu. Kau mahasiswa berprestasi yang sangat disayangi oleh ketua yayasan. Jadi, ambillah…” jelasnya sambil menyerahkan kunci padaku. Aku tersenyum dan berkata “Terimakasih…”
Dia mengangguk dan tersenyum sebelum menoleh kearah Heechul yang sedang mencibir di belakangnya, “Sudahlah hyeong, kau lupa pesan Direktur Choi? Lupakanlah. Ayo pulang. Kalau tidak, aku akan tinggalkan kau…” serunya sembari berlalu, membuat Heechul terbelalak dan terburu-buru mengejar Sungmin.

Jam menunjukkan pukul sebelas kurang lima menit. Tugasku sudah completed semua. Baiklah, kuputuskan untuk berkemas dan mendatangi yeoja yang masih terlelap juga.

“Hei… hei… bangunlah, ini sudah larut malam. Hei nona… apa kau bisa mendengarku? Bangunlah…” ucapku selembut mungkin sambil menggoyangkan lengan tangannya.

Kulihat dia mulai menggeliat dan menegakkan tubuh kembali. Melakukan gerakan senam pinggang sedikit, mungkin karena terlalu lama membungkuk. Dia sangat cantik. Wajahnya yang agak memerah pun terlihat sangat indah. Aku tersenyum saat dia benar-benar membuka matanya. Dia menatapku heran.

“Oh, maaf, aku adalah penanggung jawab perpus hari ini. aku juga baru selesai membuat tugasku. Aku melihat kau masih tertidur, jadi aku bangunkan karena ini sudah snagat malam. Perpus harus segera di tutup.” Jelasku.

Dia mengerjapkan mata sekilas sebelum akhirnya menggangguk, “Ne, maaf telah menunggu lama.” Ucapnya di tengah kesibukannya memasuki buku-bukunya ke dalam tas tangannya. Saat dia hendak meraih kamus tebal yang dia jadikan bantal tadi, dengan sigap aku mendahuluinya.

“Tunggulah diluar, biar aku yang merapikannya.”

Flashback end…

Sejak kejadian itu, aku berusaha mengenalnya lebih dekat. Saat kelulusanku, dia memberiku hadiah. Dasi. Dia memberiku dasi yang akan menjadi dasi favoritku. Padahal kita baru berteman dekat satu bulan. Dan betapa kagetnya aku saat mengetahui bahwa pemilik kampus itu adalah ayah Sooyoung. Direktur yayasan yang selalu menyemangatiku dan bangga terhadapku adalah ayah Sooyoung, Choi Jungnam. Aku masih berharap dengan kalimat indah yang pernah Direktur Choi bisikkan padaku, ‘Jagalah baik-baik hubunganmu dengan putriku. Aku percayakan dia padamu.’

Sempat di bulan berikutnya, aku putus kontak dengannya. nomor ponselnya tak bisa di hubungi. Aku sudah bekerja di salah satu perusahaan Asing, di Jepang. Sedangkan Sooyoung harus menempuh dua semester lagi untuk kelulusannya. Jadi, aku sedikit khawatir bila putus kontak dengannya.

Mungkin Tuhan menakdirkan jalan hidupku untuk tersambung kembali dengan Sooyoung. Choi Minho, adik laki-laki Sooyoung menghubungiku dan memintaku untuk hadir di acara ulang tahunnya yang ke dua puluh dua.

Saat itulah, aku terisak mendengar cerita Minho. Dia menceritakan segala kepahitan yang di alami Sooyoung. Aku baru tahu, ternyata saat aku temui dia di perpus itu, dia sedang kalut karena merindukan namjanya yang telah meninggal dua tahun sebelumnya.

Direktur Choi dan Minho mendukung kedekatanku dengan Sooyoung. Selama tiga tahun mereka mempercayakan Sooyoung padaku. Mereka berdua juga yang menyuruhku menjadikan Sooyoung pacar. Padahal aku memang berniat seperti itu, tapi aku takut melihat keadaan hatinya yang saat itu masih di penuhi oleh namjanya di masa lalu.

Pada akhirnya, aku merasa bahagia karena Sooyoung mau menerima lamaranku. Sebenarnya aku hanya saja menanyakan hal itu, tapi respon yang di berikan Sooyoung sangat jauh dari bayanganku. Aku kira dia akan menunduk dan berkata maaf, tapi ternyata dia menitikkan air mata sambil mengangguk dan selanjutnya memelukku seerat yang dia bisa. “Bantu aku… bantu aku Kyuhyun-ssi…” itulah kata-kata yang kudengar saat dia memelukku.

Dan malam ini, setelah acar pernikahan selesai, disaat malam yang aku tunggu, dia menangis dan berkata maaf. Aku mengerti tentang hal yang dia katakan. Mau apa lagi, aku sangat menyayanginya, menjadi suami untuk statusnya pun aku merasa tak apa.

Sempat aku menyesali pikiran yang melintas di benakku, ‘kenapa tidak sejak saat lalu saja kau berkata maaf sambil menunduk, kenapa harus di saat kita sudah resmi menikah?’ namun, cepat-cepat kubuang pikiran buruk itu dan memantapkan hatiku dengan kalimat yang ku junjung, ‘Suatu hari, cepat atau lambat, aku akan meraih hatimu seutuhnya. Walau kelak nama dan bayangan namja itu masih ada, tapi aku yakin, saat itu dia hanya mencintaiku seorang’

***

Hari demi hari aku lalui secara normal dan wajar, layaknya masa-masa persahabatan kita seperti biasanya. Yang beda hanyalah suasana hidup kita saat ini. Tidak seperti saat bersahabat dulu, kini aku dan Sooyoung bisa selalu bertatap muka setiap hari. Bahkan tidak jarang aku mengantarnya ke kantor.

Sooyoung bekerja di kantor penerbit buku terbesar di pusat Seoul. Dia menjadi seorang novelis sekaligus editor tetap disana. Dia juga pandai membuat sket grafis untuk cover novel. Sungguh, betapa beruntungnya perusahaan penerbit itu telah merekrut seorang seniman seperti Sooyoung.

Aku suka baca novel, tapi Sooyoung jauh lebih menyukainya dari pada aku. Jadi, kegiatan kita saat liburan adalah berkutat di hobi masing-masing. Sooyoung di novelnya, aku di PSP kesayanganku.

Aku lebih suka novel sejarah dari pada romance. Itu sebabnya aku jarang ikut gabung bersama Sooyoung untuk menikmati waktu dengan novel koleksiannya. Kecuali saat ada novel baru yang pengarangnya adalah Choi Sooyoung, aku wajib membacanya.

Sudah sekitar sebelas novel karangannya yang terbit secara berkala. Aku sudah membaca semuanya dan tentu saja semuanya bergenre romance. Satu alasan yang membuatku menikmati tulisannya, apa lagi alasannya yang lebih tepat selain karena Choi Sooyoung?

Aku berdiri mematung di pintu masuk dapur. Jadi ini alasan kenapa sedari tadi aku panggil dan berkata ‘aku pulang’ tak ada satu pun sahutan darinya?

Hey, sejak kapan novelis satu ini jadi gemar memasak? Selama dua bulan lebih tiga minggu kami menikah, baru kali ini aku melihat Sooyoung memasak.

Aish… lucu sekali. Celana pendek diatas lutut, T-shirt biru yang terlihat pas di tubuhnya, dan sandal rumah berkepala teddy, sungguh membuatnya imut dan menggemaskan. Tubuh tinggi nan kurusnya itu sudah terbalut apron di depannya. Aku hanya bisa melihat tali apron di punggungnya. Punggung itu… ingin rasanya aku melangkah dan memeluknya dari belakang. Aku juga ingin mengecup tengkuk cantiknya itu sambil berbisik, ‘I’m Home yeobo’. Ahh… sudahlah Kyuhyun-ah… lupakan!

“Ekhm…!” aku berdeham untuk menyadarkannya atas kehadiranku.

Dia berbalik dan melihatku. Dia tersenyum manis dengan sendok kuah yang masih ada di dekat mulutnya, mungkin dia bermaksud mencicipi hasil masakannya.

“Eoh, oppa, kau sudah datang?” ujarnya yang kemudian meletakkan sendok yang dia bawa dan mematika kompornya. Dia berjalan mendekatiku, “Kenapa kau tidak mengucapkan salam?” tanyanya yang sedang meletakkan tas kerja dan jas, yang tadinya tersampir di lenganku, setelah dia ambil dariku.

Dua minggu setelah kita menikah, orang tua Sooyoung memaksanya untuk memanggilku ‘oppa’ bukan ‘Kyuhyun-ssi’ aku sempat menggodanya saat orang tuanya tak ada. Namun, akhirnya dia jadi terbiasa dan sampai sekarang menyapaku dengan sebutan itu.

Aku tersenyum dan mendengus canda saat dia sudah berdiri lagi di depanku. Seperti biasa, dia melepaskan dasiku. “Kau saja yang terlalu berkonsentrasi dengan masakanmu sampai-sampai tidak mendengar salamku, cih!” aku berpura-pura kesal. Dia tertawa kecil. Kenapa dia jadi semakin cantik?

“Maaf oppa, aku sedang mencoba sup ikan yang pernah di buat oleh eomma-ku.”

Aku tak merespon ucapannya. Aku terlalu terpaku memandangi kecantikannya. Semakin hari dia semakin cantik. Entah sampai kapan aku bisa menahan hasratku untuk memilikinya secara utuh. Sampai sekarang pun kami hanya berlakon layaknya sahabat. Sekadar berpelukan dan bergandengan tangan. Cium pipi mungkin menjadi suatu hal istimewa untukku. Selebihnya, aku masih harus menahan. Aku ingin, di saat dia siap, aku akan mendapatkan hati dan jiwanya yang akan membelenggu di dalam raganya untuk aku terima dan aku simpan di jiwaku.

“Oppa… kenapa melamun?”

Aku tersadar dari lamunanku dan segera mengembalikan suasana, aku tersenyum melihatnya yang masih ada di depanku. Padahal dasiku sudah dia lepaskan. “Biasanya, saat seorang istri sedang berada sedekat ini dengan suaminya, maka sang suami tersebut akan menarik pingganggnya dan mengecupi istrinya itu. Hehehe” candaku.

Bug bug!

Sooyoung langsung memukul-mukul dada dan lenganku bergantian di tengah tawanya. “Au… argh… yak! Ini sakit!” rintihku.

Dia masih tertawa, “Hahaha… maaf,maaf… hahaha….” apakah sesenang itu? “Oppa, hayalanmu sudah terpengaruh oleh novel romance, hahaha…” gelaknya lagi.

Kubiarkan dia tertawa seperti itu. Memang aku sering melihatnya tertawa, tapi sampai kapan pun aku tidak akan pernah bosan. “Kau ini, selalu saja menyindirku. Sudahlah, kapan mulai makan malamnya?”

Tawanya tiba-tiba hilang. Dia terdiam dan melihatku. “Oppa…” wajahnya semakin mendekat kearahku. Bisa kurasakan jantungku berdetak sepuluh kali lebih kencang. Tidak pernah dia seberani ini. apa dia akan menciumku? Nafasnya bisa kurasakan menerpa pipiku, dan lanjut ketelingaku. “Kau mau segera makan malam? Oh Tuhan, bahkan keadaanmu masih bau.” Bisiknya yang sontak membuat mataku membulat.

“Yak!”

***

Setelah makan malam, aku dan Sooyoung duduk di depan TV. Kami mengobrol seperti biasanya. Sampai tanpa sengaja kami terhanyut menyaksikan drama keluarga yang bertokoh pasangan muda sekitar umur 27-an sampai 32-an. Ah, itu sih bayanganmu saja Cho Kyuhyun! Kau hanya berharap bahwa cerita kehidupan rumah tanggamu semanis di drama itu, iya kan?

Ck! Benar. Aku ingin semanis itu. Walau awalnya mereka tak sama-sama cinta, pada akhirnya sang suami sadar apa yang harus dia perbuat untuk istrinya. Begitu juga sebaliknya. Sang istri menyadari sesuatu hal terpenting yang harus dia laksanakan sesuai hasrat yang dimiliki suaminya.

“Oppa…”

“Hmmm…?”

Dia menatap sendu kedua mataku. Apa dia terpikirkan sesuatu yang membuatnya sedih? Kenapa wajahnya semakin buram?

“Apa aku harus melakukan apa yang-“

Aku tahu kemana arah pembicaraannya. Segera kupotong kalimatnya dengan senyuman dan gelengan kepala. Kuhusap lembut puncak kepalanya, “Tidak. Kau tidak harus melakukannya. Aku ingin, tapi aku juga akan menunggu sampai kau siap. Bukankah aku sudah bilang, aku akan menjagamu dan akan berusaha membuatmu nyaman disampingku, eoh?”

Air matanya semakin membelenggu, menutupi manik matanya. Sooyoung menangis?

Dia berhambur memelukku. “Gomawoyo oppa… jongmal gomawo…” lirihnya. Aku hanya bisa tersenyum dan mengelus punggungnya.

***

Akhir-akhir ini aku sering makan diluar karena ajakan seorang teman. Teman lama, cantik, manis, dan polos. Namanya Seohyun. Dia… yah, kuakui, dia adalah mantan kekasihku. Selama tiga tahun di masa SMA aku menjalin cinta dengannya di tahun terakhir. Hubungan itu tumbuh indah selama satu tahun. Namun, saat hendak masuk universitas yang sama, hubungan kami di ketahui oleh keluarganya. Tentu saja banyak pihak dari keluarganya yang terkenal mapan dan tergolong konglomerat, melarang hubungan kami. Tentu saja, itu semua karena keekonomian keluargaku hanya tergolong kelas menengah, datar, dan berjarak sangat jauh darinya. Sempat kami mengacuhkan hal tersebut dan mencoba memperjuangkannya selama beberapa bulan, tapi Tuhan berkehendak lain. Keluarga Seohyun menjodohkannya pada seorang namja kaya raya dan mereka menetap di Singapoor.

Selama masa kuliah, aku hanya fokus pada pelajaran. Hanya itu yang aku bisa lakukan untuk tetap berkuliah. Kalau tidak, mungkin beasiswa yang kudapat akan dicabut. Syukurlah, selama itu aku bisa fokus dan mempertahankannya. Tak pernah ada hasrat untuk membuka hati. Bahkan berkenalan dengan teman sekitar pun sangat jarang. Temanku hanya ada beberapa orang, termasuk kakak kelas cerewet, Kim Heechul tersebut. Sebelum akhirnya aku melihat sosok Sooyoung yang menarik perhatianku. Baru kali itu aku sadar bahwa perasaanku pada Seohyun perlahan meredup dan beralih ke Sooyoung.

Sudah tiga kali kami makan siang bersama. Dia menceritakan segala sesuatu yang dia hadapi di sana. Sesak memang mendengar ceritanya. Rumah tangga yang berantakan. Suaminya jarang ada di rumah dan sekalinya ada suaminya itu hanya bisa marah kepadanya. Aku tak tega melihat yeoja yang sempat memeluk hatiku itu menangis dan tersiksa seperti sekarang.

Entahlah, aku bingung. Apa yang sebaiknya aku lakukan? Aku sudah mulai mencintai Sooyoung sejak tiga tahun lalu. Walau sampai sekarang Sooyoung belum bisa mencintaiku. Di lain sisi, sejak aku bertemu dan bercengkrama kembali dengan Seohyun, merasakan perhatian dan sikap yang dia berikan seperti dulu, seakan yang berubah hanya status kami, membuatku sedikit guncang di hatiku. Aku takut jika perasaan ini datang lagi. Perasaan yang dulu sempat tercipta di antara kami perlahan terukir kembali, membentuk deretan album cinta masa lalu.

“Oppa, bolehkah aku beramain ke apartment-mu? Sekalian ingin berkenalan dengan istrimu.”

“Eoh, tentu saja. Kau bisa datang kapan pun.” Jawabku sebiasa mungkin.

***

Hari ini aku pulang agak larut, sekitar pukul setengah dua belas malam. Ini semua karena acara dadakan yang kudapat dari Seohyun.

Seperti biasa, tanpa aku ketahui, Seohyun sudah menungguku di depan mobilku saat aku baru keluar kantor. Akhirnya aku tak bisa menolak ajakannya makan malam.

Kami makan malam bersama sambil berbincang. Sempat kami bernostalgia dengan masa-masa dulu, tapi bayangan Sooyoung muncul di benakku hingga aku mengajaknya kembali pulang. Tidak, aku tidak boleh mengalihkan hati lagi. Aku harus bisa memantapkan segalanya.

Akhirnya aku pulang dan baru masuk apartmen sekitar pukul setengah dua belas malam. Keadaan ruangannya masih terang benderang. Apakah Sooyoung belum tidur?

Kulangkahkan kakiku perlahan. “Aku pulang…” ucapku dengan suara agak pelan. Aku takut kalau ternyata Sooyoung sudah tertidur. Baru saja ingin membuka pintu kamar Sooyoung, kakiku terhenti saat melihatnya tertidur di meja kerjanya. Pintunya tidak tertutup rapat, jadi pelan-pelan kulangkahkan kakiku mendekatinya dan melihatnya terlelap.

Hmm… wajah yang cantik dan indah. Soo, bantu aku menetapkan hatiku. Aku takut aka nada hati yang sakit jika hatiku ini melakukan hal yang salah. Batinku.

Pelan-pelan kuangkat tubuh kurusnya yang tertidur dengan kepala di atas meja itu. Saat kuangkat, baru aku bisa melihat wajahnya yang basah dan sedikit merah. Apa dia habis menangis? Mataku melirik kearah meja.

‘Bogoshippo Changmin-oppa…’

Tulisan itu yang kubaca. Seketika itu pula tubuhku memanas. Pening dikepalaku lagi-lagi menyeruak. Hingga kurasakan mataku mulai berkristal. Sabar, ya, aku memang harus sabar.

Kuletakkan tubuhnya di atas ranjangnya. Kutarik selimut yang ada di ujung kakinya. “Soo, sabar ya. Aku tahu tidak ada obat rindu selain bertemu. Kau merindukannya,eoh? Andai aku bisa, aku akan bawa Changmin kehadapanmu. Namun, aku bukanlah Tuhan yang bisa melakukan segalanya. Aku hanya seorang manusia biasa yang ingin melihatmu bahagia. Sabarlah…”

Kukecup keningnya cukup lama. Setelah itu aku berdiri dan eninggalkannya yang sudah tertidur pulas.

***

Aku terbangun karena aroma daging panggang. Benar saja, ternyata Sooyoung sudah berperang di dapur. Setidaknya, aku senang melihatnya memasak. Terlebih dia memasak untukku. Ini jam tujuh pagi, hari sabtu, weekend time. Baiklah, aku ingin seharian ini berdua denganmu Soo…

Perlahan aku melangkah mendekatinya dan memelukbahunya dari belakang. Sudah sering aku melakukannya. dan aku tahu dia akan,

“Yak! Kau bau!”

Aku tertawa sambil melepas pelukanku. Belum selesai berkata, dia sudah menjerit duluan. Suaranya sangat nyaring. Dan seperti biasa, saat ini dia sedang menggeram dihadapanku. Sedangkan aku masih tertawa senang karena berhasil mengerjainya pagi ini. Dengan sigap kutangkup wajahnya dan kudaratkan bibirku di dahinya. “Selamat pagi, Koki Choi…” ucapku sambil berlalu meninggalkannya. Sambil berlari aku tersenyum senang karena melihat ekspresinya yang imut. Wajah goguma. Kekeke.

“YA! Cho Kyuhyun! Kau benar-benar menyebalkan!” jeritnya, tapi tetap kuabaikan.

***

Hari sabtu ini aku benar-benar menghabiskan waktu seharian di apartment bersama Sooyoung. Seperti yang biasa kami lakukan. Bersantai dengan hobi kami masing-masing. Aku tiduran di pahanya dan memainkan PSP-ku. Sedangkan dia terpaku pada novel terjemahan yang harus dia edit. Walau tanpa obrolan, dengan posisi seperti ini saja, cukup membuatku bahagia dan bersyukur. Setidaknya, selain Shim Changmin, namja yang dicintai Sooyoung sampai sekarang, pernah berposisi badan seperti ini, hanya aku yang merasakan kenyamanannya. Tidak untuk namja lain. Saat ini, hanya aku yang diperbolehkannya. Itu semua membuatku sangat merasa diterima dan disayangi olehnya. Gomowo Soo, Saranghae…

“Soo, boleh aku bercerita padamu?” tanyaku setelah menyesap coklat hangat yang baru diberikan Sooyoung.

Kini suasana snagat tenang dan sunyi. Kami duduk di balkon apartment. Memandang bintang yang bertaburan. Musim semi… dingin, tapi cukup bisa di tahan jika kami tetap dalam posisi berhimpitan seperti saat ini. Sooyoung tepat berada di sampingku.

“Tentu saja…” ucapnya.

Aku tersenyum dan kuletakkan mock berisi coklat hangat yang tersisa dua pertiga dari isi sebelum kuminum. Aku menoleh kearahnya. Kudapati dia sedang mendongak keatas memandang langit gelap itu. Aku pun memutuskan untuk ikut menatap taburan kerlip di atas sana. “Akhir-akhir ini aku sering bertemu dan berjanjian dengan teman SMA-ku dulu. Senang rasanya, itu semua karena pihak perusahaan bekerjasama dengannya. kebetulan aku yang ditunjuk sebagai perwakilan perusahaan untuk melayaninya. Jadi, sambil bekerja kami bernostalgia. Hmm… kadang, rindu juga dengan masa-masa SMA ya…” ucapku mengawali pembicaraan. Aku tersenyum dan kutoleh wajahnya.

Senyumanku hilang seketika. Kaget. Aku mendapatkan wajah datarnya telah menyambut tatapanku yang baru saja kualihkan dari benda-benda indah di atas sana. Perlahan dia tersneyum tipis dan berpaling ke coklat hangat di tangannya. Sambil mengaduk-aduk minumannya itu, dia berkata, “Benar, masa SMA memang indah. Hmm… siapa namanya?” tanyanya.

“Seohyun, Seo Joo Hyun. Dia satu angkatan denganku.”

Sooyoung melihatku lagi, “Yeoja?” tanyanya, aku mengangguk.

“Mantan kekasihku…” jawabku lebih jelas. Aku memang bermaksud menceritakan semuanya pada Sooyoung. Aku butuh tempat yang bisa kupercaya. Terlebih Sooyoung pernah merasakan cinta walau tidak sedangkal pengalamanku dengan Seohyun.

Lama dia menatapku dan tak merespon ucapanku. Apa dia kaget?

“Pantas saja kalian tampak akrab…”

Aku mengernyit mendengar ucapannya. “Maksudku… dari cerita prolog-mu tadi saja aku bisa merasakan bahwa kalian cukup dekat.” Jelasnya, aku tersenyum dan mengangguk.

“Ya, kau benar. Kami cukup dekat, walau hanya satu tahun menjalin hubungan, karena akhirnya dia di jodohkan oleh namja yang lebih baik untuknya.” Aku mulai bercerita lagi. “Tapi, dia datang setelah tiga belas tahun lamanya dan menceritakan padaku bahwa keadaan rumah tangganya tak pernah utuh dan dia selalu sakit. Aku kasihan dengannya. Rumah tangganya hancur setelah bertahun-tahun menikah.”

“Apa kau masih mencintainya?”

Aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Aku bungkam. Kenapa, kenapa harus menanyakan hal itu? Perlukah kau tau apa yang ada di dalam hatiku?

“Sudahlah, tidak perlu di jawab. Aku mengerti perasaanmu oppa…” lirihnya sambil menatap langit kembali. “Aku tahu rasanya mencintai orang yang sangat kita sayangi…” tambahnya.

Aku tak kuat lagi. Kenapa, kenapa menahan dan mengatur hati itu sangat susah? Aku jadi sesak. Aku jadi bimbang dan kacau. Apa, apa yang sebenarnya hatiku ini rasakan…?

“Soo…” panggilku.

Sooyoung menoleh kearahku dan kulihat wajahnya terkaget. Ya, aku sedang menangis saat ini. Sesak sekali menahan gejolak di dalam hatiku. “Boleh aku memintamu untuk memelukku?” pintaku.

Aku ingin sekali merasakan ada seseorang yang bisa menegakkan dan menguatkan hatiku yang sedang gundah gulana penuh kekacauan dan di rundung ribuan kebimbangan.

Kulihat dia ikut menitikkan air mata dan mengangguk kecil. Detik selanjutnya dia memelukku erat. Kami berpelukan di bawah langit bertabur bintang. Memberi kehangatan di tengah dinginnya malam. Sooyoung benar-benar sahabat yang bisa di andalkan dalam semua sikon yang aku rasakan. Aku selalu tenang bila dia memelukku seerat ini.

***

Keesokan paginya, aku bangun dan langsung masuk ke kamar mandi. Hari minggu ini terasa sangat indah saat aku sudah melihat Sooyoung bersibuk ria di dapur. Maka kupercepat acara bersih-bersih tubuhku dan setelah berpakaian rapi, aku melangkah keluar kamar. Aku berjalan menuju dapur, rasanya sudah tak sabar melihat Sooyoung.

“Oppa!”

Aku menoleh dan terkaget mendapatkan sosok yeoja lain di sofa ruang tamuku. “Seohyun…” gumamku. Dia hanya tersenyum, tapi aku masih terpaku di tempat. Pagi-pagi begini dia sudah berkunjung?

“Oh, Oppa… kau sudah selesai mandi? Ayo temui sahabatmu yang cantik itu!” ucap Sooyoung yang baru keluar dari dapur dengan secangkir teh di atas nampan yang dia bawa. Dengan sedikit ragu, kuikuti langkah Sooyoung dan duduk disebelah Sooyoung.

“Hai oppa… kau terlihat segar setelah mandi…” kata Seohyun.

Aku sedikit tegang mendengar ucapannya, namun cepat-cepat kukembalikan suasana canggungku sebisa mungkin. “Kau ini bisa saja… maaf ya, sudah menungguku.”

“Tidak apa-apa oppa… istrimu sangat ramah, aku ditemani mengobrol banyak hal dengannya. Aku tak tahu jika istrimu ini ternyata adalah novelis hebat.”

Sooyoung tersenyum malu kearah Seohyun, “Kau itu berlebihan Seohyun-ah…”

Mereka berdua tertawa bersama, menikmati obrolan ringan mereka.

“Oh iya, ada apa kau mencariku pagi-pagi begini?” tanyaku saat kurasa tawa mereka mulai bisa meredup.

“Ah… aku… aku hanya…” ucapan Seohyun penuh keraguan, sambil sesekali melirik Sooyoung.

Mungkin sadar dengan lirikan yang dia dapat, Sooyoung langsung berdiri, “Baiklah, sepertinya kalian berdua butuh privacy. Aku mau mandi dulu.” Pamitnya.

Tidak Soo, jangan tinggalkan kami berdua. Ini terlalu rawan. Lindungi aku Soo. Jebaall…

“Oppa, temani tamu istimewa kita ini ya…” ucapnya kemudian berlalu meninggalkan kami berdua.

Oh My God… apa yang harus kulakukan kalau hanya berdua begini?
Walau sempat hilang, ku akui, rasa cinta yang pernah kukubur dengan rasa sakit, perlahan tumbuh kembali setelah bertemu dengan Seohyun lagi.

Ketakutan pun semakin menghantuiku.

“Ah, oppa, apakah hari ini kau memiliki acara?” tanya Seo.

“Oh? Ahn… kurasa tidak. Ya, tidak ada.”

Seohyun tersenyum sumringah, “Kalau begitu, bisakah hari ini aku meminta waktumu untuk menemaniku jalan-jalan keliling kota? Kau tahu kan kalau aku sudah lama tidak berkeliling Seoul?”

Aku berpikir sejenak, “Oh, kalau begitu aku akan membicarakannya pada Sooyoung. Aku akan ikut jika dia bersamaku.” Jawabku sekenanya. Tapi benar, aku akan lebih kacau jika hanya berdua dengan Seohyun.

Kulihat Seohyun terdiam dan tertunduk sejenak, “Kenapa kau diam?”

“Ehn… aku… ehn… bolehkah kalau aku minta hanya berdua denganmu?”

Aku kaget mendengar permintaannya. Oh Tuhan, apa yang harus aku jawab kali ini?

Tiba-tiba saja kurasakan tangan mungil merangkul bahuku, aku menoleh dan mendapatkan senyuman yeoja yang berstatus istriku. “Soo-“

“Tidak apa-apa oppa. Bukankah kalian perlu waktu untuk bernostalgia kembali?” ucapnya lagi.

“Tapi Soo…”

“Lagian hari ini aku sudah ada janji dengan Yuri.”

Kuhela nafas dan berkata, “Baiklah… aku mau. Tunggu, aku ganti baju dulu…”

Chu*

“Gomawo…” kata Sooyoung setelah mengecup pipiku. Agak kaget juga, tapi aku tetap bahagia. aku tersenyum padanya dan mengacak sedikit rambutnya sebelum berlalu meninggalkan mereka berdua.

Aku memakai kemeja warna pink pudar bergaris-garis putih. Warna yeoja memang, tapi Sooyoung bilang warna seperti ini sangat cocok dengan kulit putihku. Ini adalah hadiah ulang tahun yang kudapat dari Sooyoung. Aku juga memakai dasi pemberian Sooyoung. Dan tentu saja, aku sudah menyemprotkan perfume yang Sooyoung pilihkan juga. Dia bilang, wangi ini sangat gently dan sangat sesuai dengan kepribadianku.

Kupandang sosokku di depan cermin. Ada rasa tak rela jika hari ini aku tak bersama dengan Sooyoung. Namun, mengingat kejadian malam itu, dia menangis di tengah tidurnya setelah menulis kata bahwa dia tengah merindukan namjanya yang sudah ada di alam yang berbeda dengannya. oke, aku juga perlu waktu untuk menyesuaikan segala rasa yang terpaut di hatiku.

“Sooyoung-ah… yeobo….” panggilku dari dalam kamar. sengaja kupanggil dia dengan suara keras, terlebih dengan kata-kata sayang itu. Kekeke, pasti dia menggerutu jika aku sapa dengan sapaan itu.

Tidak lama kemudian, dia membuka pintu kamar dan menutupnya kembali. “Ada apa sih, oppa? Kenapa berteriak-teriak, terlebih dengan sapaan menggelikan itu.”

Aku ingin tertawa melihat tingkahnya, tapi aku tahan agar wajahku tetap pada paras yang datar agar terkesan lebih serius. “Soo…” lirihku, membuatnya menatapku aneh.

Beberapa detik kami bertatapan, sebelum akhirnya aku tak tahan. Kutatap wajahnya dan keraih tubuh kurusnya. Kudekap dia erat-erat. Entah, apa hanya perasaanku saja atau bagaimana, aku merasa Sooyoung sangat mengerti apa yang sedang bergemuruh dalam diriku. Dia membalas dekapanku dengan sama eratnya. Aku juga merasakan belaian lembut tangannya di punggungku.

“Jangan lama-lama keluarnya. Kau harus istirahat, ya. Tunggu aku kembali…” bisikku. Perlahan kulepas pautan tubuh kami. Kutangkup wajahnya. Kutatap lekat-lekat.

“Oppa…” lirihnya. Dia sama denganku, menangis kecil. Mata kami sama-sama merah. “Selamat bersenang-senang…” tambahnya.

Aku menggeleng dan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Dahi kami sudah bersatu. Mata kami pun masih bertatapan. “Soo, kali ini saja, ijinkan aku-“ kalimatku terhenti karena kaget melihat reaksinya. Dia menutup matanya, mengerti akan sesuatu yang ingin ku lakukan. Dengan sedikit ragu, kumiringkan kepalaku dan bibirku mengarah pada bibirnya.

Ini pertama kalinya bibirku berada di jarak yang sangat dekat dengan bibirnya. Padahal aku sudah janji tidak akan menyentuh hal berharganya, tapi…

Chu*

Aku benar-benar tak berani menyakitinya. Bibirnya terlalu berharga. Walau ingin, tapi aku memilih mengecup ujung hidungnya. Bibirku naik ke dahinya dan setelah itu mataku terbuka perlahan. Ternyata dia sudah tidak terpejam lagi. Matanya benar-benar menatapku. Tangisannya semakin menjadi, walau tak bersuara. Kudekap kembali tubuhnya. Kami berpelukan lagi. Entahlah, aku benar-benar berat meninggalkannya.

“Kau janji tidak akan lama?” tanyanya.

Aku tersenyum dan menjawab, “Ya, aku janji. Aku tidak akan lama. Makanya, kau jangan pergi terlalu lama dengan Yuri, arra?”

Dia melepas pelukanku dan tersenyum sambil mengangguk.

“Bagaimana penampilanku?” tanyaku, memecahkan keharuan yang sempat tercipta. Hari ini aku memakai semua yang kudapat darinya. Sepertinya dia menyadari hal itu. Dia tertawa kecil. “Apa terlalu jelek sehingga kau tertawa?”

Dia menggeleng, “Kau memang sangat tampan dengan kemeja pilihanku, dasi pilihanku, sampai perfume pilihanku. Sempurna…” jelasnya bangga.

“Jadi maksudmu, aku tidak tampan jika tidak memakai pakaian darimu? Aisshh…”

Chup*

Aku menegang saat tiba-tiba dia mengecup pipiku. tanpa kusadari, satu tanganku naik meraba pipiku yang baru saja mendapatkan hadiah manis kedua kalinya di pagi ini.

“Sudahlah, Seohyun kelamaan menunggumu, oppa!” katanya.

Benar, aku sampai melupakan Seohyun gara-gara istriku ini. aissh… aku benar-benar jatuh pada pesonanya.

***

Sudah lima jam aku menemani Seohyun berkeliling kota. Awalnya aku menikmati perjalanan ini sambil menanggapi obrolan ringannya. Namun, arah obrolannya semakin terasa sensitive saat kudengar dia bertanya, “Apa kalian saling mencintai?”

Saat itu juga dia minta diantar ke suatu resto untuk makan siang, walau ini sudah jam setengah tiga sore. Disinilah kami sekarang, di rumah makan yang terkesan sepi. Aku sudah menyangkanya, dia akan mengulang pertanyaannya lagi dan akhirnya aku menceritakan secara umum bagaimana hubunganku dan Sooyoung selama lima bulan pernikahan.

“Jadi, kalian belum pernah berhubungan… ehn… yah aku yakin kau mengerti apa yang aku maksud, oppa.” Ucapnya. Aku tetawa kecil.

“Berdua dengannya setiap detik pun sudah sangat membahagiakan. Kalau ditanya masalah hubungan intim, jujur, aku lebih memilih menunggunya sampai dia siap. Aku ingin memiliki raga juga hattinya. Tidak berdasarkan kepuasan semata.”

Aku menjawab dan menjelaskan segala apa yang ditanya oleh Seohyun sambil membayangkan Sooyoung. Aku hanyut dalam bayangannya yang entah sejak kapan sangat kurindukan. Padahal ini baru setengah hari tak bertemu.

Pluk!

Aku tersadar saat merasakan sentuhan yang terasa dingin di tagan kiriku. Aku terkaget menyadari Seohyun menggenggam tanganku. Kuangkat pandnaganku kearah wajahnya. Ternyata dia sudah menatapku sendu.

“Oppa… jika Sooyoung tidak bisa mencintaimu, bolehkah aku berharap kembali padamu lagi? Masihkah ada kesempatan untukku, oppa? Jujur, aku masih mencintaimu sampai detik ini.” ungkapnya.

Aku tersentak dan langsung menepis tangannya. Tidak boleh! Aku harus yakin, aku sudah sepenuhnya mencintai Sooyoung.

Sejak kejadian pagi tadi, saat aku berniat menciumnya, aku sudah tau bagaimana perasaannya kepadaku. Walau bayangan Changmin masih ada, tapi akulah yang bisa dia lihat.

“Maaf Seo, jangan mengharapkan hal itu lagi. Karena aku mencintai istriku. Kini, perasaanku padamu hanyalah rasa sayang terhadap teman, tidak lebih.” Jelasku. Kulihat dia terisak.

“Benar, kau sudah jadi miliknya, oppa…” lirihnya. Kemudian dia menundukkan kepalanya.

Kuraih kedua tangannya, kugenggam lembut, dan berkata, “Seo, kita, cinta kita, dan semua kisah kita, hanya ada di masa lalu. Saat ini aku milik Sooyoung dan kau milik Luhan. Kembalilah padanya. Bicarakan semuanya baik-baik. Aku yakin, ada sesuatu yang salah yang tidak pernah kalian ungkapkan. Ayo Seo, mulailah hidup tenang dan memperbaiki segala yang berantakan. Kau sudah dewasa, bukan remaja tujuh belas tahun lagi. Aku yakin, Luhan mencintaimu. Kalau memang dia tidak mencintaimu, untuk apa dia mempertahankan pernikahan kalian sejak dulu? Bahkan kalian sudah memiliki malaikat kecil yang cerdas. Apa kau tak kasihan dengan Joo Han yang selalu tumbuh bersama baby siter-nya? Pernahkah terbayang olehmu anak usia delapan tahun itu menginginkan kebersamaan orang tuanya? Lagian, aku merasa Luhan tidak pernah mengkhianatimu. Dia mencintaimu. Hanya saja, caranya menyampaikan padamu kurang tepat. Namun, itulah Luhan, suamimu, pemilik cara khusus menyampaikan perasaan cintanya padamu. Apa kau pernah memikirkan hal itu?” jelasku panjang lebar.

Sebenarnya, selama sebulan Seohyun di Seoul, Xi Luhan, suaminya, menghubungiku lewat e-mail. Awalnya dia meminta alamat e-mail ku dari sekertarisku. Beralasan hendak membangun kerjasama. Tapi itu semua memang benar, dia menghubungiku untuk bekerjasama membantu hubungan pernikahannya yang sudah ada di ujung tanduk. Saat itu pula aku bisa lebih meyakinkan diri untuk tidak terjebak dalam cinta masa laluku. Aku harus berusaha meraih cinta Sooyoung, yeoja yang sudah lima bulan resmi menjadi istriku.

“Apa dia menghubungimu, oppa?” tanya Seo dengan suara seraknya.

Aku tersenyum dan mengangguk, “Ya, dia memantau keberadaanmu melalui aku.”

Kini kulihat dia menghapus air matanya dengan tishu. Dia mulai memamerkan senyum. “Gomawoyo, oppa. Berkat kau, aku bisa lebih yakin dengan perasaanku. Oppa, pulanglah, temui Sooyoung. Aku bisa pulang sendiri.”

***

Ini sudah jam tujuh malam. Kemana saja Sooyoung sebenarnya, bukankah aku berpesan untuk tidak lama-lama keluar dengan Yuri? Apa dia tidak tahu aku sangat merindukannya?

Saking rindunya, tanpa sadar, kedua kakiku membawaku kekamar Sooyoung. Kutengkurapkan diriku diranjangnya. Wajahku tenggelam di bantalnya. Benar, ini memang aroma rambut Sooyoung. Bahkan setiap sudut ruangan ini benar-benar aroma tubuhnya. Aku benar-benar merindukannya.

Saat kuangkat kepalaku dan merasapi aroma yang kuhirup tadi, tiba-tiba saja aku teringat tulisan yang pernah kubaca di meja kerjanya. Apa itu buku hariannya?

Dengan sedikit ragu, kuraih buku kecil warna pink. Kuputuskan untuk membacanya satu per satu.

Desember, 25th 2010

Changmin-oppa

Aku merindukanmu, bodoh! Kenapa kau tak hadir di malam natal tadi? Aku kecewa! Apa tidak bisa kau hadir dalam wujud bayangan? Kau tahu, lima bulan setelah kepergianmu, Minho memberikan buku ini untukku. Dia bilang, tulis saja semua yang ku rasakan. Maka aku mulai dengan rasa kesalku padamu.

Kau curang oppa. Kau meninggalkanku disaat kita sampai ambang pernikahan. Apa kau totol, eoh?!

Tapi aku selalu mencintaimu, oppa. Tidak akan tergantikan.

Kubalik lagi setiap lembarnya, semua berisi tentang ingatan-ingatan kebersamaannya bersama Changmin. Tidak heran jika dia begitu kalut dan susah membuka hati. Ternyata Changmin adalah sosok malaikat hidupnya. Dari Changmin dia bisa menjalani setiap getir hidupnya. Nyaris jadi anak brandalan karena orang tua sibuk bekerja, jika saja Changmin tak hadir dan menyapanya.

Semua hal yang dilakukan Changmin untuknya benar-benar menyentuh hati. Aku yakin, jika aku ada di posisi Sooyoung, aku akan jatuh cinta dengan pangeran seperti dirinya.

Dari beberapa halaman yang kubaca, tenyata aku baru tahu, mereka berpacaran selama dua tahun. Namun, mereka sudah dekat sejak SMP kelas 1. Bersahabat di masa sekolah dan berpacaran saat masuk kuliah.

Tergambar jelas semua perasaan keduanya.

Aku asik membaca tulisan Sooyoung sambil berjalan keruang tamu. Aku duduk di sofa dan mulai membaca lagi. Aku tertegun membaca tulisan yang beberapa hari lalu sempat aku baca.

September, 15th 2013

❤ My Lovely Changmin❤

Oppa…
Apa yang harus aku lakukan,
Sepertinya aku sudah mengkhianatimu.
Maaf Oppa… aku…
Aku…
Oh, jinja! Aku sudah mulai mencintai Cho Kyuhyun, oppa!
Maaf… maaf…
Aku terlanjur jatuh didalam cinta yang dia tunjukkan padaku.
Dia baik, sangat baik.
Kalian sama-sama baik, tapi kebaikan kalian berbeda.
Yang kurasakan, aku sudah mencintainya.
Kau merestuiku, kan oppa?
Maafkan perasaan bodohku ini.
Aku mencintaimu. Selalu, selalu, selalu mencintaimu.
Rindu dengan semua kebersamaan kita dulu, sungguh.
Semoga kita bisa bertemu suatu hari nanti.

Bogoshippo Changmin-oppa…

Sungguh, betapa senangnya kubaca kalimat-kalimatnya. Benarkah, benarkah dia mencintaiku? Oh Tuhan… mimpi apa aku semalam??

Kulihat bayangan tinta di halaman selanjutnya, apa masih ada yang lebih akhir? Segera kubalik lembar halaman itu. Seperti yang sebelumnya, hal pertama yang kubaca adalah tanggal tulisnya. Tanggal 18 september 2013.

Sejenak aku terdiam. Bukankah hari ini tanggal 18?

Setelah tanggal, selalu kubaca nama Changmin atau My Lovely Changmin. Namun, kali ini aku tercengang. Di halaman terakhir ini, yang kubaca setelah baris tanggal tulisnya bukanlah nama Changmin. Melainkan namaku.

Segera kubaca isinya.

September 18th 2013

Kyuhyun-oppa,
My Evil Husben 

Kenapa sangat lama?
Bodoh memang aku ini. ini masih pukul Sembilan kurang. Bukankah kau baru pergi beberapa menit yang lalu?

Aku gila sekali. Aku merindukanmu, bodoh!

Kau sedang dimana?
Mengobrolkan apa dengannya?
apa kalian mengenang masa lalu kalian?
Aku takut… takut sekali jika dia mencoba meraih hatimu lagi
Jangan oppa… jangan pergi dariku…
Aku tahu rumah tangganya berantakan,
Tapi aku mohon, jangan merasa kasihan dengannya,
Jangan terhanyut dalam cinta masa lalu kalian..
Ingatlah akan diriku, istrimu

Ah… bodoh! Bodoh! Bodoh!
Aku bisa gila jika kau berlari terus dipikiranku.
Kenapa bayangan tadi bagi sangat pekat di benakku?
Belum lagi dekapan eratmu.

Cih!

Aku tau, aku sering merasakannya.
Tapi, aku merasa yang tadi pagi itu sangat berbeda.

Kyuhyun-oppa, suamiku,
Cepatlah pulang,
Aku ingin mengakui perasaanku padamu.

Aku mencintaimu Cho Kyuhyun…

:* :* :*…Jongmal Saranghae… :* :* :*

Air mata sudah membanjiri wajahku. Aku bahagia, sangat bahagia. kulirik jam dinding di dekat pandangku. Pukul delapan kurang. Kenapa dia belum datang?

Cklek.

Segera kubangkit dan berlari kearah pintu. Dia datang, istriku datang.

“Soo… kau sudah-“

Aku terdiam saat kulihat wajah merahnya. Matanya sembab. Apa dia habis menangis?

“Maaf oppa, aku lelah…” ucapnya yang kemudian berlari kedalam, mengacuhkan aku yang menyambutnya.

Aku melihat sosok Yuri masih berdiri di ambang pintu luar. Dia menatapku khawatir. Ada apa sebenarnya?

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Tadi sore, kami melihat kau menggenggam lembut tangan yeoja, di resto dekat-“

“Kalian salah paham!” geramku. Aku tahu apa yang terjadi saat ini.

“Aku pulang, jagalah temanku itu.”

***

Brak brak brak

Kupukul pintu kamarnya sambil memanggilnya. “Soo… buka pintunya… jeball…” dia tak menjawab.
Kupukul-pukul lagi pintunya dengan lebih keras, “Yeobo-ah… buka pintunya…. kau salah paham!” pukulanku di pintu itu semakin keras hingga akhirnya pintu itu terbuka.

Dia menatapku sengit dengan mata merahnya. “Aku lelah Kyuhyun-ssi! Aku sedang malas bercanda! Bisakah kau diam?” bentaknya.

Dia hendak masuk dan menutup pintu lagi, tapi segera kutahan tangannya. “Dengarkan aku, kejadian di resto tadi sore-”

“Apa? Ah… tenang saja Kyuhyun-ssi. Aku tidak marah padamu. Bukankah dia yang kau cintai? Aku tahu bagaimana rasa cinta itu. Kau tidak perlu menjelaskannya.” Ujarnya dan hendak berpaling lagi.

Kucekal lebih erat pergelangan tangannya. “Dengarkan aku, Soo. Jangan bersikap seperti ini! aku dan Seo-“

“CUKUP!” histerisnya. Membuatku kaget dan perlahan melepas cekalan tanganku. “Kau tidak perlu menjelaskannya! Aku tidak apa-apa!”

“Kau cemburu?”

“Hahahaha…. tidak mungkin! bodoh sekali jika aku cemburu dengan-“

CHU*~

Kubungkam bibirnya. Dia menegang. Segera kuelus punggungnya dan kutarik lebih erat hingga tubuh kami benar-benar menyatu. Perlahan kulumat lembut bibir atas dan bawahnya. Dia tidak membalasku. Tetap kuhusap dan kutekan tengkuknya agar bisa lebih memperdalam ciumanku.

Saat kurasa sudah cukup, kutarik perlahan tautan bibirku di bibirnya. Kedua tanganku menangkup wajahnya. nafas kami sama-sama memburu. dia menangis.

Kutatap dalam-dalam kedua matanya. “Jangan menolakku lagi Choi!” tegasku dengan suara pelan yang bergetar. Au sudah tak sanggup menahan semuanya. “Aku suamimu, kau istriku” tegasku lagi. Kulihat air matanya semakin deras mengaliri wajahnya. “Kau milikku dan Aku milikmu”

Tatapanku semakin tajam. Aku ingin dia percaya padaku. Aku ingin dia tahu aku benar-benar mencintainya.

“Tidak ada lagi Changmin, lelaki itu. Hanya ada aku. Aku suamimu…” ujarku oenuh penekanan. “Tidak ada dan tak pernah ada Seohyun atau yeoja lain. Hanya ada kau. Kau istriku…”

Tangisannya mulai bersuara seiring semakin pecahnya bendungan air matanya.

“Choi Sooyoung, istriku, jadilah milikku. Ever after…”

Kubungkam lagi bibirnya. Ciuman kami semakin liar. Dia sudah membalas segala perlakuanku. Tangannya sudah tergantung dan menghusap lembut leherku. Tanganku pun sudah menjalar kesemua bagian tubuhnya hingga yang kudengar kali ini hanya decakan bibir kami dan desahannya.

Perlahan kuangkat tubuhnya dan dengan sigap dia lingkarkan kedua kakinya di pinggulku. Aku terpekik saat tak sengaja bagian intimku yang sudah terangsang di bawah sana tergesek oleh miliknya.

Kubawa dia masuk kekamar dan kurebahkan tubuhnya. Dengan cepat dan tak sabar, kulepas baju yang dia pakai. Begitu pun dengannya yang sudah sibuk melepas satu per satu kancing kemejaku. Saat tubuh kami sama-sama topless, kami saling adu pandang.

“Aku ingin memilikimu, boleh?” bisikku.

Dia tersenyum dan menarik tengkukku lagi. Itu berarti dia mengijinkanku.

Saat kami rasakan sesak, kami akhiri pautan dan lumatan antara bibir kami. Mata kami pun beradu pandang. Dia menjalarkan tangannya yang ada di tengkukku ke bagian wajahku. Dia tangkup wajahku dan mengelus kedua pipiku.

Perlahan, aku mulai mendekatkan wajahku lagi ke wajahnya yang ada di bawahku. Tinggal beberapa centi lagi, dia menahannya. Kutatap matanya lagi, bermaksud menanyakan keraguannya.

Entah, perasaanku saja atau apa, mata Sooyoung terlihat bahagia. benarkah perkiraanku itu? Apa kau bahagia menjadi milikku, Soo?

“Oppa…” lirihnya, aku tersenyum. “Kyuhyun-oppa…” suaranya semakin menggodaku, tapi kenapa kedua tangannya masih menahan wajahku???

“Saranghae…”

Untuk beberapa detik aku mematung. Apa yang dia katakana, aku tidak salah dnegar, kan? Dia melumat bibirku sekilas dan menatapku lagi.

“Na do Saranghae, Choi Sooyoung,…” lirihku sebelum akhirnya kukecup dahinya, kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya, dan berujung bibirnya. Kami melakukan ciuman yang sangat intens beberapa menit.

Perlahan pautan itu terlepas lagi dan kupastikan tatapn kedua manik matanya. Bibirku mulai mengarah ke leher jenjangnya. Detik berikutnya, wajahku tenggelam di lekukan itu. Kubuat banyak kiss mark disana. Sedangkan Sooyoung semakin meremas lembut rambutku dan sesekali mengelus tengkuk dan punggungku.

Kujelajahi setiap inci tubuhnya. Kami sama-sama menikmati malam terdahsyat ini. malam pertama di umur pernikahan kami. Hingga akhirnya aku tersadar dan tersenyum padanya. “Gomawo…” ucapku yang di balas senyum olehnya.

Aku tak menyangka, akulah yang pertama kali memilikinya. Akulah orang pertama yang menguasainya. Bukan namja yang sangat dia cintai dulu. Bukan Changmin. Padahal bayanganku sempat berpikir seperti itu. Bukankah banyak yang seperti itu?

Demi apapun, yeoja ini, Choi Sooyoung, hanya milikku. Akulah yang pertama kali memberikannya tanda kepemilikan. Bukan Changmin. Bukan lelaki itu.

Choi Sooyoung, aku sangat mencintaimu.

_END_

***

EPILOG

Sooyoung’s Side :

Aku terbangun dari lelapku. Rasanya tubuhku sedikit kaku dan remuk. Aku ingat saat SMA dulu pernah menghadapi ujian olahraga athletic. Lelah yang kurasakan saat itu tidak seburuk saat ini. perlahan kuedarkan pandanganku dan menemukan suamiku yang terlelap disampingku. Seperti anak kecil, dia memeluk tubuhku dan meletakkan kepalanya di dadaku.

Aku terpaku pada sosoknya dan tak berani bergerak sedikit pun. Kurasakan tangannya yang memegang dada kiriku bergerak sekilas. Kurasa dia terusik. Aku tersenyum dank u husap tangan kanannya itu, memberi kepastian bahwa aku masih ada di sampingnya.

“Saranghae Yeobo…” gumamku. Kekeke, rasanya malu sekali menyebutkan sapaan itu.

Aku tersentak merasakan tubuhnya bergeliat dan sedikit mereganggkan otonya tanpa bangkit dari posisinya. “Na do Saranghae chagie… jongmal saranghae…” ucapnya.

“YA! kau sudah bangun ya?”

Dia tak menjawab. Dia menggeliat dan berguling ke sisi kiri sedikit hingga berakhir dengan dirinya yang ada di atasku. Aku benar-benar malu melihat tatapan jahilnya kali ini. terlebih jika mengingat hal semalam yang kami lakukan. Andwe!!!

“Nyonya Cho, ayo lanjutkan kegiatan kita yang semalam!” dia mulai menggodaku. Kedua mataku mendelik.

“Apa??! Yak! Ini hari senin, kau harus ke kantor. Begitu pun denganku! Cepat beranjak!”

“Lihatlah, ini masih jam setengah enam. Kita ke kantor pukul delapan. Sebentar saja Yeobo… setengah jam saja…” rengeknya.

Aku menunduk malu. “Bukankah semalam kita sudah melakukannya secara gila?” tanyaku ragu.

“Hehehe, baiklah. jika kau mau menghitung seperti itu. Bagaimana dneganku yang sudah menjadi suamimu selama Lima Bulan? Bukankah seharusnya kita melakukan setidaknya dua hari sekali? Bahkan selama ini kita tidak pernah-“

“Aisshh… jangan dilanjutkan penjelasanmu!”

Aku baru tahu, ternyata dia mesum sekali. Dasar yadong!

Ku angkat kepalaku dan ku kecup bibirnya beberapa kali. Chup* Chup* Chup*
Kedua tanganku sudah melingkar di lehernya dan kupandangi wajahnya dengan tatapan menggoda.

“Ya! Wajah mesum!” pekiknya.

“Kau lebih mesum!” balasku.

Dia terkekeh, “Saranghae Cho Sooyoung, nae anae, nae yeoja, nae sarangh.”

“Na do Saranghae Cho Kyuhyun, nae nampyeon, nae namja, nae sarangh.”

Kegiatan kami pun berlanjut. Aku tak tahu bagaimana cara menghentikannya. Mungkin hari ini kami sama-sama ambil cuti dulu. Xixixi…

Terimakasih Tuhan atas jalan hidup yang kau berikan padaku.
Terimakasih Changmin-oppa, kau membuatku merasakan kebahagiaan ini.
Terimakasih Kyu, nae Yeobo, kau sudah bertahan mencintaiku hingga kini aku terhanyut dalam cintamu. Aku sungguh mencintaimu. Cho Kyuhyun.

EPILOG END

***

Gimana? Sudah lelah bacanya?
Kepanjangan ya?
Hehe,

Tapi, aku minta comment kalian…
Satu lagi,
Aku mau kalian Koment dengann isi:
1.Komentar tentang ff ini.
2.Judul FF tagihan (ff belum kelar) Yg kalian tunggu

Nah dengan itu semua, aku bisa memilih yang mana yang harus kuutamakan. Polling terbanyak akan menjawab pilihan ff terminati. Setelah itu, kuusahakan meneruskannya secepat mungkin.😀

GOMAWO \(^,^)/

169 thoughts on “ONESHOT – That Man

  1. syukurlah kyu tetap bertahan ama cintanya ke soo^^ dan juga soo nya udah mau ngebalas cintanya kyu. itu endingnya kok sweet banget><

Gomawo^^ You are the best Visitor, So Give Comments After You Read It.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s