[TWOSHOT] (Req ff) LOVE AFTER AUTUMN – 1

love after autumn

Tittle : Love After Autumn – 1
Author : Fatminho
Idea of this story : Widya Pangestu
Genre : Married Life, Sad, Romance.
Length : Twoshot
Rated : PG 17
Main cast : Cho Kyuhyun – Choi Sooyoung – Choi Jin Hyuk (OC)

Disclaimer : This plot is main.

Note :

FF satu ini, aku buat berdasarkan request seorang chingu bernama ‘Widya’

Dia meminta sebuah cerita cinta segitiga di dalam kehidupan pernikahan. Uniknya, kali ini cinta segitiga diantara dua namja. Biasanya kan satu namja dua yeoja. Maka dari itu, aku tertarik untuk membantu mengembangkan ide ceritanya dalam suatu alur yang berkelebat di otakku.

Maka, jadilah ff rada gaje satu ini. HeHe😀

Geuraesso… kajja, read this Story !


***

Kecupan hangat tengah dirasakan tepat di dahinya. Baru saja acara pemberkatan yang meresmikannya menjadi seorang istri, selesai.

“Aku akan menjagamu sebaik mungkin,” ucap sang mempelai pria. Kini mereka berpelukan dengan perasaan bahagia, tapi tidak untuk mempelai wanitanya. Mempelai wanita itu tampak datar, tak berekspresi. “Aku akan menjagamu, sampai dia kembali.” Kini mata sang mempelai wanita sukses membulat dengan bisikan yang didengarnya.

Perlahan ditarik tubuh yang memeluknya secara halus. Ditatap dalam-dalam manik coklat di depannya. Pemilik kedua manik itu tetap tersenyum tenang dan cerah. Hal itu benar-benar membuatnya merasa bersalah. “Jin Hyuk-ssi…” tak sadar wanita itu menggumamkan nama pria yang beberapa menit lalu resmi menjadi suaminya.

Yang diberi tatapan haru itu pun segera tertawa kecil, seolah acara sacral yang mereka jalani hanyalah sebuah permainan penuh lelucon. Dengan pelan diacaknya puncak kepala wanita yang dia sayangi itu, “Ayo sambut para tamu undangan yang hendak memberi kita selamat Soo-ah. Anggap saja kita benar-benar merasakan kebahagiaan acara ini, bisa?” tanyanya lembut.

Istri yang bernama Choi Sooyoung itu pun mengangguk pelan ditengah senyumnya. Dia sangat bersyukur ada seorang malaikat penolong di tengah keguncangan hidupnya.

_*****_

Suasana rumah itu sangat sunyi. Hanya ada satu orang wanita muda yang sedang duduk malas di sofa ruang tamu sambil membolak-balikkan majalahnya. Ini sudah jam enam sore, tapi suaminya belum datang juga. Biasanya, jam empat atau jam lima pasti sudah ada di rumah. Kalau pun ada meeting atau urusan lainnya, pasti dia akan menerima kabar dari pria yang sangat di cintainya itu tentang hal keterlambatan.

Kebosanan pun menghujam jiwanya. Ditutup lembaran majalah yang dia pegang dalam satu hentakan kedua tangannya. Dia berdiri dan entah siapa yang mengitrupsi, kedua matanya kini menyusuri setiap titik rumah mewah yang ditempatinya. Setelah itu kepalanya mendongak dan kedua matanya menjalar ke setiap sudut plafon berukir diatas. Dia mendesah sedikit frustasi sebelum akhirnya memilih untuk menjatuhkan diri kembali ke sofa empuk yang dia tempati tadi. Punggungnya bersandar ke sandaran sofa. Pikirannya melayang jauh. Di saat kesepian begini, barulah dia berpikir bahwa rumah yang ditempatinya ini terlalu besar. Sepertinya, orang tua dan mertuanya terlalu berlebihan hingga memberikan hadiah rumah semewah itu untuk pernikahannya.

“Aku pulang, sayang…” terdengar suara teriakan seorang pria dari pintu masuk, membuahkan sebuah senyum jahil di wajahnya. Sepertinya dia akan berulah sedikit dengan suaminya yang baru datang tersebut.

Sang suami berjalan menghampiri istrinya yang sedang bersila di atas sofa. Sejak kapan wanita itu enggan menyambut kedatangan suami tercintanya?

Wajah tampan itu penuh dengan senyuman bahagia. Sampai akhirnya senyuman itu luntur ketika berdiri tepat di depan wanitanya. Dia tak berani melangkah mendekat lagi dan lebih memilih diam di tempat sambil berkata, “Sayang, kenapa tidak menyambut kepulanganku?” suaranya sedikit serak. Tentu saja. Saat ini dia takut istrinya marah dan akan mendiamkannya. Tidak boleh! Bisa-bisa dia gila jika wanita yang di cintainya itu tak bersua dengannya lagi. “Hei, Cho Sooyoung, Jawablah pertanyaanku! Kenapa kau tidak menyambutku?” tanyanya sekali lagi dan kini dengan suara tegas.

Wanita yang disapa Cho Sooyoung itu langsung menatap tajam suaminya. Dia berdiri dan menampakkan wajah geramnya. Kedua tangannya pun sudah terkepal kuat. “Kau tak mengabariku tentang keterlambatanmu ini, Tuan Cho!” jawabnya sinis. Yah, untuk saat ini dia memang ingin mengeluarkan sesak yang dia rasakan sejak satu setengah jam yang lalu. Kedua tangannya kini terlipat di bawah dadanya. “Kutelepon, kau tak menjawab. Kuhubungi kantor, sekertarismu bilang kau tak ada di tempat. Apa kau tak tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu, Cho Kyuhyun!” akhirnya terungkap sudah kekesalan yang menyesakkan dadanya itu.

Orang yang sedang dikesalin tersebut kini tengah tersenyum. Ada satu kelegaan yang dirasakannya. Oh bukan, itu bukan sekadar kelegaan, melainkan suatu kebahagiaan kecil. Jujur, dia senang mengetahui istrinya yang bernama Sooyoung itu telah mengkhawatirkannya. Padahal, selama satu minggu pernikahan mereka, Sooyoung tetap bersikap acuh padanya.

Kyuhyun tersenyum dan meletakkan tas kerja beserta jas yang tersampir dilengan kirinya itu ke sisi meja. Setelah itu, segera dihampiri istrinya yang tengah merajuk. Dia putar sedikit badan kurus istrinya hingga kini matanya bisa bertatapan intens dengan mata didepannya. Kedua tangannya dilayangkan ke kedua sisi pipi tembem yang sangat disukainya itu. Senyumannya masih tetap menghiasi wajah tampannya. Perlahan wajahnya mendekati wajah berpipi tembem di depannya. Dikecupnya bibir tipis yang tepat ada di depan bibirnya. “Maafkan aku karena terlambat datang,” ucapnya dan dikecupnya lagi bibir istrinya, “Maafkan aku yang sudah membuatmu khawatir,” kini dia tersenyum, “Tadi, aku ditelepon oleh Jungsoo-hyeong untuk mengambil titipan dari Taeyon-ssi untukmu. Dan masalah aku tak mengangkat telepon darimu, kurasa kau menelepon saat aku ada di rumah Jungsoo-hyeong karena ponselku kutinggalkan di dashboard mobil.” Jelasnya. “Apa kau mempercayai penjelasanku?” tanyanya dan kini dia melihat istrinya itu mulai tersenyum padanya sambil mengangguk. “Apa kau bisa memaafkan aku?”

Grebb!!

“Ya, aku memaafkanmu, sayang. Dan, maaf karena aku tidak menyambut kedatanganmu,” ucap Sooyoung setelah berhambur memeluk suaminya. “Maafkan aku.” Ulangnya.

Kyuhyun tersenyum senang dan mengeratkan pelukan yang dia dapatkan. Dielusnya punggung Sooyoung penuh kasih. Namun, tanpa di ketahui oleh Sooyoung, aliran air tengah menghiasi wajah Kyuhyun yang tampak sudah memerah. Entahlah, dia merasa seperti ada jutaan krikil yang tengah menghantam hatinya. Dia terlambat datang satu setengah jam dari jadwal sebenarnya dan dia mendapatkan kekhawatiran, kegelisahan, kekesalan, pada diri istrinya. Bagaimana jika dia terlambat lebih lama atau bahkan tak kembali untuk beberapa lama, apakah istrinya akan lebih mengkhawatirkan dan mengesali dirinya? Apakah istrinya akan lebih mengacuhkannya? Atau mungkinkah istri yang sangat dia cintai itu akan tega melupakannya?

“Aku sangat mengkhawatirkanmu, oppa. Aku takut ada apa-apa denganmu. Aku tidak mau kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu, oppa.” Ucap Sooyoung di tengah dekapan erat yang diberikan Kyuhyun.

Benar, Sooyoung sangat mencintainya dan dia percaya akan hal itu. Tidak, tidak mungkin Sooyoung akan tega melupakannyajika suatu hari dia terlambat datang dalam jangka waktu cukup lama. Mendengar setiap kalimat dari Sooyoung seperti tadi, Kyuhyun merasa mendapat suatu kekuatan penuh di dalam dirinya. “Iya. Ya, sayang. Aku tahu kau sangat mencintaiku. Terimakasih,” ujarnya parau kerana menahan suara isakan tersembunyinya, “Kau harus tahu, aku juga sangat mencintaimu. Bahkan dalamnya samudera di jagat raya pun tak mengalahkan dalamnya cintaku padamu, sayang.” Tambahnya, berhasil membuahkan kekehan pada bibir Sooyoung.

“Sifat playboymu akan terlihat kalau kau gombal seperti itu, oppa!” ejek Sooyoung. Kepala Sooyoung bersandar di pundak Kyuhyun, membuat wajahnya berhimpit dengan leher Kyuhyun. Kedua tangannya melingkar ringan di dada Kyuhyun.

Pelukan Kyuhyun di pinggang Sooyoung pun sudah terasa ringan dan tak seerat sebelumnya. Tangannya masih aktif mengelus lembut punggung datar Sooyoung. Betapa pun jahil istrinya, tetaplah menjadi satu-satunya wanita yang sangat dia cintai setelah ibu kandungnya. “Begitukah?” pancingnya dan kemudian dia merasakan Sooyoung mengangguk di bahunya. Dia tersenyum dan berkata lagi, “Kau tahu, aku akan menjadi playboy jika ada ratusan Choi Sooyoung di dunia ini. Betapa beruntungnya dirimu yang sudah menjadi satu kesatuan dari ratusan Choi Sooyoung tersebut. Jadi, aku akan selalu mengumbar ratusan rasa cintaku hanya padamu seorang. Hanya pada Choi Sooyoung yang seminggu ini sudah menjadi Nyonya Cho, Cho Sooyoung!”

Entah sejak kapan wajah Sooyoung sudah tegap, lurus mengamati gerakan bibir tebal suaminya yang mengatakan untaian kalimat terindah yang pernah dia dengar. Mengamati sosok rupawan yang selalu membuatnya jatuh cinta setiap detik saat bersamanya. Sooyoung pun tak sadar lagi sejak kapan air matanya mengairi sisi wajahnya, membuat mata yang tengah memandang sendu wajah tampan nan rupawan itu menjadi basah dan sedikit perih.

Tidak perlu lagi dia pikirkan apa yang seharusnya dia balas atas semua keindahan kalimat tulus dari suaminya, Cho Kyuhyun. Dalam satu hentakan kaki, kedua tangannya tergantung erat di leher Kyuhyun, dan tentu saja ciuman hangat dia berikan pada Kyuhyun.

Mengetahui cara penjamahan yang dirasakan pada lidahnya, Kyuhyun pun kian menuntut aksi yang diberikan Sooyoung tersebut. Mereka berciuman intens selama beberapa detik, sebelum akhirnya memulai pelumatan, hisapan, dan gigitan kecil yang membawa mereka kedalam kenikmatan duniawi. Perlahan, sudah tak mereka hiraukan sadar atau tidaknya diri mereka karena kini yang mereka rasakan hanyalah sebuah rasa manis ditengah ruang dansa dalam irama gerakan tubuh yang ternyaman bagi mereka.

Brukk!!

Keduanya jatuh di atas ranjang yang setiap malam mereka tiduri. Mereka berdua terengah, mengatur deruan nafas mereka. Kyuhyun ada di atas Sooyoung. Matanya menatap lembut manik dibawahnya. “Kita lakukan malam kedua kita, sekarang?” tanyanya.

“Hm” Sooyoung mengangguk pasti.

Dengan satu senyuman bahagia, Kyuhyun mengikuti hasratnya dan juga hasrat yang diinginkan istri tercintanya.


Sudah pukul tiga pagi, tapi Kyuhyun tak bisa menutup matanya. Kedua penglihatannya itu tetap fokus pada rupa malaikat polos didekapannya. Tangan kirinya dijadikan tumpuan kepala Sooyoung dan tangan kanannya tetap aktif membelai setiap inci wajah istrinya tersebut.

Setelah melakukan hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya, memiliki keseluruhan diri Sooyoung, beberapa jam lalu, Kyuhyun tetap tak merasakan lelah. Padahal, permainan yang dia lakukan cukup melelahkan karena sangat berbeda dari permainan sebelumnya.

Malam ini akan menjadi malam kedua dan mungkin malam terakhir di musim gugur ini. Jika Tuhan mengijinkanku membahagiakanmu, maka aku akan segera kembali dan tidak akan terlambat untuk pulang hingga membuatmu khawatir, Sayang. Batin Kyuhyun.

Air mata Kyuhyun terus mengalir di wajahnya. Dia kecup setiap inci wajah istrinya secara hangat dan dalam. Dia harus kuat, harus. Ini semua demi kebaikan mereka. Biarlah untuk sementara rasa sesak tak kentara di dadanya terasa lebih pekat karena dia yakin, cepat atau lambat dia akan menggapai kebahagiaan bersama Sooyoung, istrinya. Pasti. Ya, Pasti akan ada kebahagiaan suatu saat nanti. Itulah tekatnya.


Pagi tiba. Sunrise pun mulai menampakkan sisi kuning dedaunan pohon rindang disana. Kyuhyun berdiri sambil menggenggam tangan Sooyoung. Ransel hitam besar sudah dia gantung di kedua pundaknya. Koper ukuran sedang pun sudah siap di sebelah kanannya. Dia bisa saja langsung berangkat jika Sooyoung tak menangis seperti saat ini.

“Sayang, aku akan kembali. Pasti kembali. Janganlah menangis, kau membuatku berat untuk pergi, sayang…” jujur Kyuhyun yang memang merasa snagat berat meninggalkan Sooyoung, wanita yang baru sepuluh hari ini menjadi istrinya, menangis lemah didepannya.

“Memang seharusnya kau tak usah pergi, oppa. Hanya demi urusan pekerjaan itu kau tega meninggalkanku dalam waktu tak tertentu? Apa kau sudah bodoh, hah?” kini emosi yang sejak bangun tidur tadi tersulut mulai meluap.

Bayangkan saja, bagaimana perasaan seorang wanita muda, yang baru menjadi istri selama sepuluh hari, saat bangun tidur dengan rasa bahagia, tiba-tiba dikejutkan oleh suara suami tercinta yang mengatakan, ‘aku harus mengurus proyek di Amerika. Maka dari itu, aku minta kau percaya dan aku pasti akan kembali,’ saat dia tanya sampai berapa hari kepergian itu, suaminya memandangnya sendu dan berlirih, ‘aku juga belum tahu. Kau tak perlu menunggu kepulanganku. Kau cukup percaya padaku bahwa aku pasti akan kembali.’

Kyuhyun merengkuh erat tubuh kurus istrinya. Dia menggelengkan kepala, “Tidak sayang, aku tidak memilih jalan yang salah. Mungkin ini menyakitkan, tapi percayalah, suamimu ini akan segera kembali. Namun, aku minta padamu, jangan menunggu,”

Dihempasnya tubuh Kyuhyun, “Kenapa tidak? apa kau akan menetap disana?” belum sempat Kyuhyun menjawab, Sooyoung kembali berkata, “Kenapa kau tidak mengajakku jika memang kau susah untuk kembali?”

Kini Kyuhyun menangis layaknya seorang pria cengeng yang sebenarnya sangat dia benci sifat cengeng seperti itu. Namun, masihkah dia perhitungkan hal tersebut disaat seperti ini?

“Maafkan aku. Andai ada pilihan yang lebih baik dari semua ini, aku pasti akan memilihmu, sayang. Kali ini saja, aku hanya mohon padamu, percayalah padaku. Aku sangat mencintaimu.”

“Yang aku sesali disini adalah kebodohanku, oppa. Bodoh sekali diriku ini yang bisa-bisanya memberikan cintaku sepenuhnya pada pria gila sepertimu. Hiks…” tangis Sooyoung semakin pecah seraya merebahkan kepalanya di bahu Kyuhyun dan melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya tersebut. “Walau tak pasti kapan kau kembali, aku akan membencimu jika kau tak kembali!” ancamnya.

Ditengah harunya, Kyuhyun tersenyum miris memeluk istri tercintanya itu erat-erat sebelum dia benar-benar pergi. “Aku benar-benar menyayangimu, Soo. Benar-benar mencintaimu. Sampai kapan pun, hanya kau yang ada di hatiku. Percayalah…” lirihnya.

Sooyoung mengangguk ditengah tangisnya dan lebih mengeratkan pelukannya.



Sudah satu bulan setelah kepergian Kyuhyun ke Amerika. Sejak saat itu Sooyoung tinggal bersama orang tuanya. Dia semakin gemuk, tapi wajahnya pucat. Kedua orang tuanya mengerti alasan Kyuhyun pergi, tapi untuk saat ini mereka bertekat melakukan sesuatu yang membuat anaknya lebih bahagia karena sebenarnya, Sooyoung tak mengetahui alasan sebenarnya kepergian Kyuhyun.

Selama beberapa minggu belakangan ini, Sooyoung merasa lebih baik dan lebih ceria. Seorang teman lama tengah menemaninya dan mengunjunginya setiap hari. Choi Jin Hyuk.

Perut Sooyoung terlihat membuncit dan ternyata dia tengah mengandung, satu bulan usia janinnya. Genap dua setengah bulan Kyuhyun pergi meninggalkannya.

“Soo-ah, perutmu semakin berisi. Apa dia mengganggu kenyamananmu?” tanya Jin Hyuk. Ya, sudah satu bulan lebih dia menemani hari-hari yang di lalui Sooyoung. Dia juga paham akan kepergian Kyuhyun, tapi dia tak habis pikir, kemana sebenarnya pria ‘sialan’ itu selama ini? kalau memang urusan pekerjaan, bisakah dia mengabarkan keberadaannya?



Satu bulan kemudian, keluarga Choi Jin Hyuk mendatangi keluarga Sooyoung. Tentu saja keluarga Sooyoung sangat senang dengan kedatangan keluarga satu marganya tersebut. Sudah belasan tahun mereka bersahabat, sangat wajar mereka merasa senang. Namun, beberapa lama kemudian, keluarga Choi Sooyoung tercengang bukan main. Apa yang harus mereka katakan saat mendengar keluarga Choi, sahabatnya, melamar putri sulungnya yang jelas-jelas tengah mengandung janin usia dua bulan milik pria lain, dan terlebih lagi, putrinya itu masih berstatus istri pria lain. Apa keluarga Choi, shabatnya, itu sudah gila?

“Kali ini saja. Kabulkan permintaanku pada kalian. Permohonanku yang pertama dan terakhir.” Ujar Ny.Choi, ibu Jin Hyuk. Keluarga Sooyoung tampak heran memandang mereka.

“Tapi bibi, kau tahu bukan, kakakku ini sedang hamil dua bulan. Dia mengandung buah cinta antara dirinya dan Cho Kyuhyun, suaminya. Benar, bahkan kakakku masih berstatus istri seorang Cho Kyuhyun!” jelas gusar Choi Minho, adik Sooyoung.

“Maafkan kami Minho-ssi. Kami melakukan ini hanya untukku.” Kata Tuan.Choi, ayah Jin Hyuk.

“Apa?” jawab serempak kedua orang tua Sooyoung dan Minho. Sedangkan Sooyoung hanya bisa diam dan merasa sedikit kecewa dengan keinginan konyol keluarga sahabatnya satu itu.

“Sebenarnya, sejak lama aku ingin menjadikan Sooyoung sebagai menantuku. Aku sangat menyukai sifat gigihnya sejak aku menontonnya lomba pidato bahasa asing saat di SMA dulu-“

“Tapi Sooyoung sudah menikah, Choi Nam Gil! Kau pikir anakku ini apa?!” emosi ayah Sooyoung.

“Sekali lagi aku minta maaf. Aku juga tidak tahu, tapi aku sangat ingin melihat Jin Hyuk, anakku, menikah dengan Sooyoung, anakmu, sebelum waktuku bernafas habis.” Jawab Tuan Choi tersebut dengan tegas dan suara yang melemah.

Sebelum ada yang menanyakan maksud perkataan itu, dengan cepat ibu Jin Hyuk menyambar, “Kanker kelenjar getah bening, stadium akhir, tidak lebih dari satu bulan masa hidupnya.” Dia menangis. Choi Jin Hyuk yang sedari tadi hanya bisa menunduk, dengan cepat meraih tubuh ringkih ibunya yang kini sudah menangis.

Sedangkan keluarga Choi Sooyoung merasa tercengang dan tegang. Mata membulat, mulut sedikit ternganga, dan punggung yang tak bersandar lagi. Sahabat mereka… bahkan berkata satu patah kata saja mereka tak sanggup lagi. Ini terlalu luar biasa menyakitkan.



Tiga hari sebelum acara pernikahan berlangsung, ayah Jin Hyuk diberitakan telah terbaring lemah di ICU rumah sakit. Beliau sedang mengalami pertengahan masa hidupnya. Antara mati dan hidup. Ya, beliau tengah koma.

Choi Jin Hyuk sempat mengumpat dan marah pada ayahnya yang tak akan pernah meresponnya lagi. Bagaimana mungkin ayahnya seperti itu disaat sesuatu yang dia inginkan akan terkabul? Bukankah pernikahan ini atas keinginannya?

Tepat di malam hari sebelum pemberkataan di esok paginya berlangsung, Jin Hyuk menangis meremas tangan ayahnya. Tuan Choi dinyatakan meninggal lima menit sebelumnya. Dia sngguh tak percaya akan hal itu. Ibu dan kakak perembuannya pun menangis disisi kiri tubuh ayahnya yang tak bernyawa tersebut. Sedangkan Sooyoung hanya terisak di balik punggung Jin Hyuk, calon suaminya.

Dengan penuh emosi, Jin Hyuk mengatakan hendak membatalkan pernikahan itu. Namun, sambil meremas bahunya, ayah Sooyoung berkata tegas, “Kita lanjutkan, Choi Nam Gil akan tersiksa disana jika kau tak mengabulkan harapan terakhirnya.

_***_

Sejak pernikahan antara Choi Jin Hyuk dan Choi Sooyoung diresmikan dua minggu yang lalu, Sooyoung meminta agar mereka tetap tinggal di rumah yang ditempati Sooyoung dan Kyuhyun lalu. Mengerti akan perasaan istrinya, Jin Hyuk pun menyetujui hal tersebut dan selalu membuat keberadaannya menyamankan Sooyoung.

“Aku pulang…” ujar Jin Hyuk yang baru saja memasuki rumahnya. Dia berjalan masuk dan mendekati Sooyoung yang tengah berdiri sendu di perbatasan dinding ruang tamu menatapnya. Ini adalah hari pertama Jin Hyuk bekerja setelah mendapatkan cuti 2 minggu pasca pernikahannya.

Sooyoung tak berkedip melihat suaminya berjalan penuh senyum mendekatinya. Bahkan perlahan pandangannya semakin buram lantaran genangan air mata kian bermunculan. Ia membayangkan sosok namja yang ia rindukan. Ia merindukan suami pertamanya, Cho Kyuhyun.

“Soo… kau menangis?” tanya Jin Hyuk meragu.

Sooyoung tak menjawab pertanyaan Jin Hyuk. Ia tak dapat berkata-kata lagi. Pita suaranya kelu seperti keadaan hatinya saat ini. Jin Hyuk berjalan mendekati Sooyoung. Tanpa di duga-duga, Sooyoung langsung berhambur memeluk suami keduanya tersebut.

Jin Hyuk tertegun dengan aksi yang didapatnya dari Sooyoung. “Aku merindukannya…” kata Sooyoung di tengah isakannya. Mendengar hal itu, Jin Hyuk tersenyum dan mengelus lembut punggung istrinya.

“Sabarlah… dia pasti akan kembali” ucap Jin Hyuk, mencoba menenangkan Sooyoung.

***

Udara malam hari akhir musim gugur ini sangat terasa dingin. Wajar saja seperti itu karena musim dingin akan segera menggantikan musim gugur. Kyuhyun ingat sekali, tiga bulan yang lalu, awal musim gugur, dia pergi tanpa alasan yang jelas. Selama tiga bulan pula dia berusaha melawan segala emosi di dirinya. Emosi rindu terhadap wanita yang dicintainya, emosi menahan segala sakit didirinya, dan yang terakhir adalah emosi yang sangat mengguncah jiwanya, merelakan istrinya menikah lagi.

Ya, sebenarnya Kyuhyun tidak pergi ke Amerika. Dia tetap berada di Seoul. Hanya saja, akhir-akhir ini dia menetap di salah satu ruang rawat sebuah rumah sakit Internasional yang ada di pusat kota Seoul. Walau Sooyoung tidak mengetahuinya, dia tetap melihat keadaan istrinya tersebut. Semua keluarga Sooyoung dan keluarganya, mengetahui hal tersebut. Dalam hal satu ini, hanya Sooyoung yang tak mengetahuinya. Kyuhyun tidak mau Sooyoung mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Sudah tiga bulan masa perawatan yang dia jalani. Dia senang, semua pengorbanannya tidak sia-sia. Tumor ganas yang nyaris menghancurkan fungsi korneanya kini sudah dapat berfungsi seperti biasanya. Hanya saja, kali ini dia menggunakan kaca mata bening sebagai pembantu penglihatannya.

Kyuhyun terpaku di ambang pintu apartmentnya ketika melihat Sooyoung sedang menangis dalam pelukan lelaki lain. Sesak memang, tetapi inilah resiko yang harus dia dapatkan. Lagipula, bukankah lebih baik seperti ini, Sooyoung dan calon anak yang ada di dalam kandungan itu akan mendapatkan seorang ‘appa’ jika suatu saat nanti Kyuhyun di takdirkan untuk kembali kepada sang pencipta.

Ya, dia harus ikhlas dan tabah menghadapi sisa waktunya saat ini.

Kyuhyun’s POV

Sudah lima belas menit aku berdiri di depan pintu apartment-ku. Aku masih ingat jelas kode sandi untuk membukanya. Saat aku membukanya, yang aku lihat adalah sesuatu yang sangat menyesakkan untukku. Bagaimana tidak, kini aku sedang melihat Sooyoung, istriku tercinta, sedang mennagis di dalam pelukan pria lain.

Pria lain? Ah, apa aku sudah gila? Bukankah aku sudah bertekat untuk merelakan Sooyoung membagi kasih pada laki-laki lain sejak dua minggu yang lalu?

Aku tahu segala sesuatu yang terjadi pada istriku. Dengan di bantu oleh Minho, adik iparku, aku selalu memantau dan memperhatikan segala gerak-gerik Sooyoung. Sempat, saat satu bulan setelah aku memutuskan pergi darinya, keadaan mataku sudah tak berfungsi.

Minho menjelaskan semuanya. Aku bahagia saat mendengar bahwa Sooyoung sedang mengandung anakku. Namun, hanya sekejap kebahagiaan itu kurasakan karena beberapa hari setelah itu Minho membawa kabar bahwa kakaknya tersebut harus menikah dengan Choi Jin Hyuk, pria kepercayaan keluarganya. Yang aku tahu, mereka menikah bukan berdasarkan cinta, tetapi karena mengikuti permintaan ayah Choi Jin Hyuk yang memang sangat menginginkan anak laki-lakinya tersebut menikahi Choi Sooyoung, anak sahabatnya.

Minho berusaha menjelaskan segala sesuatu yang terjadi dalam pernikahan tersebut, hingga pada akhirnya, dua minggu yang lalu, saat aku melakukan operasi pengangkatan tumor di dalam mataku, aku berusaha menahan dua macam rasa sakit dalam diriku. Pertama, aku sakit karena mataku terasa perih setelah beberapa jam operasi berlalu. Kedua, aku sakit karena aku harus merelakan istriku membagi kasih dengan lelaki lainnya.

Aku berencana untuk menggagalkan pernikahan itu, tapi apa daya, daripada kelak Sooyoung menangis karena melihat aku yang sangat lemah, lebih baik kutahan rasa sakitku sendiri.

Dak kini, aku kembali. Kembali kedalam apartment yang pernah kutempati penuh cinta selama hampir satu tahun bersama Sooyoung. Namun kini, aku harus sabar dan ikhlas karena bukan hanya aku dan Sooyoung yang akan tinggal disini, melainkan Choi Jin Hyuk, suami kedua Sooyoung juga akan bergabung disini.

Aku jadi menyalahkan diriku sendiri. Apa pantas aku menyebut pria yang menjadi suami kedua istriku itu sebagai pengganggu? Bukankah saat ini akulah penggaggu mereka?

“Aku merindukannya…”

Kudengar Sooyoung berucap kata didalam tangisnya. Merindukannya? apakah yang dia maksud itu adalah aku? Sayang, benarkah kau masih merasakan rindu untukku? Apakah aku masih pantas kembali padamu?

“Sabarlah… dia pasti akan kembali.”

Kudengar suara pria itu menanggapi ucapan Sooyoung tadi. Bisakah aku percaya akan kata-kata polosnya itu? Dia mendukung Sooyoung dan mendo’akan aku agar cepat kembali? Betapa mulianya suami istriku itu.

Baiklah, aku akan benar-benar kembali padamu, sayang. Dan kau tuan Choi, bersiaplah akan kembalinya diriku ini.

Aku mengatur nafas sejenak untuk menguatkan niatku. Hal pertama yang aku lakukan adalah berdeham. Ya, mungkin itu cara yang pas untuk mengalihkan perhatian mereka kepadaku.

“Ekhm…”

Mereka mendengarnya. Pelukan antara mereka perlahan meregang dan akhirnya lepas. Kini yang kulihat adalah wajah Sooyoung yang basah itu sudah memunculkan ribuan ketegangan. Kedua matanya membulat dan bibir ranum yang kurindukan itu agak terbuka sedikit.

Ada apa dengan mereka berdua, kenapa hanya memandangku? Apa mereka tak percaya akan kehadiranku ini?

Tanpa basa-basi lagi, aku berjalan cepat menghampiri istriku dan meraih pinggangnya. Bukan hanya itu, aku juga melanjutkan dengan membungkam bibirnya yang setengah terbuka tadi. Sungguh, aku sangat teramat merindukannya. Aku snagat merindukanmu, sayang.

Kyuhyun’s POV end

_To Be Continue_

Special Note for Widya :

Terimakasih sudah berpartisipasi dalam event ‘request ff’ di blog-ku.
Semoga saja kamu suka dengan alur yang aku kembangkan berdasarkan ide ceritamu🙂
Untuk part selanjutnya, ditunggu setelah ff2 request selanjutnya sudah selesai kubuat.
Oh iya, kalau tidak puas, maaf sekali ya. Entah kenapa, alur seperti ini yang ada di otakku setelah membaca ide darimu. Aku harap kamu tidak kecewa berlebih ya. #waswas… Hehe😀

Bagi Reader setia-ku (?) Jongmal Gomawo . . . and tetap memohon tanggapan kalian tentang ff ini. So, keep RCL ne?

108 thoughts on “[TWOSHOT] (Req ff) LOVE AFTER AUTUMN – 1

  1. Udah ku duga sih sejak di awal
    kyu pegi bukan untuk kerja tpi kesehatan
    yaa walopun aku udah tau cerita nya begitu, tetep aja aku mewek kkk ~

  2. sumpah ga nyangka kyu pergi buat berobat tdnya aku pikir beneran kerja eh trnyata bkn
    gileee daebak , ga ketebak alurny (y)
    pertama kali dlm sejarah aku baca ff yg istrinya punya 2 suami kan jrg bgt :v biasa kan suami yg punya 2 cewe gitu istilahnya
    penasaran selanjutnya!

Gomawo^^ You are the best Visitor, So Give Comments After You Read It.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s