[TWOSHOT] (req ff) Love After Autumn – 2END

love after autumn

Tittle : Love After Autumn – 2(END)
Author : Fatminho
Idea of this story : Widya Pangestu
Genre : Married Life, Sad, Romance.
Length : Twoshot
Rated : PG 17
Main cast : Cho Kyuhyun – Choi Sooyoung – Choi Siwon as Choi Jin Hyuk (OC)

Disclaimer : This plot is main.

Note :

Hallo… Mianh aq baru bisa kembali …

Seminggu ini, hatiku sedang kacau,
Makanya urusan blog ff ini agak sedikit terabaikan oleh q.
Mumpung ini yg sudah q selesaikan, makanya q post.
Jadi harap maklum jika bahasanya agak kacau juga… >,< hikxxs…

Geuraesso… kajja, read this Story !

***

Sebelumnya…

“Ekhm…”

Mereka mendengarnya. Pelukan antara mereka perlahan meregang dan akhirnya lepas. Kini yang kulihat adalah wajah Sooyoung yang basah itu sudah memunculkan ribuan ketegangan. Kedua matanya membulat dan bibir ranum yang kurindukan itu agak terbuka sedikit.

Ada apa dengan mereka berdua, kenapa hanya memandangku? Apa mereka tak percaya akan kehadiranku ini?

Tanpa basa-basi lagi, aku berjalan cepat menghampiri istriku dan meraih pinggangnya. Bukan hanya itu, aku juga melanjutkan dengan membungkam bibirnya yang setengah terbuka tadi. Sungguh, aku sangat teramat merindukannya. aku sangat merindukanmu, sayang.

Kyuhyun’s POV end

_***_

Jin Hyuk hanya bisa menatap pemandangan yang ada di depannya. Istrinya sedang dicium suami pertamanya. Sooyoung pun terlihat sangat meresapi kecupan dibibirnya. Oh Tuhan, haruskah dia melerai kemesraan itu?

Tidak lama kemudian Kyuhyun melepas tautan bibirnya dari bibir Sooyoung. Mereka berdua masih mengatur nafas masing-masing. Mata pun masih terpejam. Dahi mereka masih melekat dengan kedua tangan Kyuhyun yang tetap berada di kedua pipi Sooyoung. Perlahan Kyuhyun membuat jarak dan mata mereka pun terbuka.

Sooyoung semakin deras mengalirkan air matanya. Tangan kanannya tengah mengatup bibirnya. Dia tak percaya dengan apa yang telah dia dapat barusan. Bahkan apa yang sekarang dia lihat pun sangat susah untuk dipercaya. “Oppa…” gumamnya.

Kyuhyun mengangguk cepat, “Ya, ini aku, sayang. Aku kembali. Tugasku sudah selesai.”

Sooyoung terpaku sebentar dan kemudian mengalihkan pandangannya pada suami kedua, “Jin hyuk-ssi…” suaranya seperti sedang menginginkan pendapat dari Jin Hyuk. Kyuhyun ikut menatap Jin Hyuk.

Melihat pandangan dua orang didepannya, Jin Hyuk sempat menegang. Namun, sesaat kemudian dia tersenyum tipis dan berjalan mendekati keduanya. Dia mengulurkan tangan kanan kepada Kyuhyun. “Choi Jin Hyuk. Selamat datang kembali di keluarga ini.” ucapnya, mengenalkan diri.

Kyuhyun menerima jabatan tangan Jin Hyuk dengan senyuman. “Terima kasih sudah menjaga istri-“ suaranya agak menggantung dan meragu, tapi akhirnya dia tersenyum pasrah dan melanjutkan, “-kita.” Lanjutnya.

Sooyoung menatap Kyuhyun heran. Sejak kapan Kyuhyun mengetahui tentang pernikahannya dengan Jin Hyuk ini? kenapa Kyuhyun tidak marah atau protes akan hal ini? bagaimana Kyuhyun bisa berwajah setenang itu mengetahui semuanya?

“Sayang, kenapa melihatku seperti itu?” tanya Kyuhyun.

“Dia sangat merindukanmu Kyuhyun-ssi!” cetus Jin Hyuk.

“Eoh, benarkah? Aku ju-“

“Oppa mengetahui pernikahanku dengan Jin Hyuk-ssi? Sejak kapan?” lontar Sooyoung tiba-tiba, memotong kalimat yang hendak disampaikan oleh Kyuhyun.

Kyuhyun tertegun mendengar pertanyaan istrinya. Dia menoleh kearah Jin Hyuk yang juga tengah menatap kearahnya. Ya Tuhan, apa yang harus dia katakan saat ini? sepertinya tidak ada pilihan lain. Kyuhyun menoleh kearah Sooyoung lagi dan menatap lekat kedua manik mata istrinya. Dengan sedikit ragu, dia mengangguk pelan, “Ya, aku tahu.”

DAMN!

“Apa oppa tahu jika saat ini aku sedang mengandung anakmu?”

Kyuhyun mengangguk. “Ya, aku tahu.”

“Oppa tahu aku sedang mengandung, oppa juga tahu aku menikah dengan orang lain, dan… apakah oppa tahu kapan aku menikah dengan Jin Hyuk-ssi?” gencar Sooyoung.

“Ya, aku tahu semuanya!”

“AAAAKKKKHHHHHH!!!!!!!!!!!!”

BRAKKK!!

Sooyoung menjerit histeris ditengah tangisnya sambil mendorong tubuh Kyuhyun sekuat tenaga. Dia tidak habis pikir dengan suaminya itu. Kalau memang dia mengetahui semuanya, kenapa tidak kembali dan menghentikan semuanya?!

“KENAPA OPPA TIDAK PULANG DAN MENCEGAH PERNIKAHANKU, HAH?!” jerit Soo.

Kyuhyun masih mengatur limbung tubuhnya. Dia mencoba berdiri. Sedangkan Jin Hyuk tengah mengawasi Sooyoung dibelakang tubuh wanita itu. Dia takut jika tiba-tiba istrinya itu ikut jatuh dan bisa membahayakan bagi janin yang ada dalam kandungannya.

“Maafkan oppa, sayang…” ucap Kyuhyun saat dia sudah berhasil menegakkan tubuhnya. Dia berjalan mendekati Sooyoung.

“KENAPA??? KENAPA OPPA HANYA BISA BERKATA MAAF?? APA, APA ALASAN OPPA TIDAK DATANG DAN MENDEKAPKU, KENAPA??” tangisan Sooyoung semakin pecah dan jeritannya semakin keras. Dia benar-benar emosi jika memikirkan segala kejadian konyol yang didapatkannya.

Kyuhyun tidak bisa menjawab. Dia benar-benar merasakan tamparan tepat di lubuk hatinya. Seperti inikah sakit yang Sooyoung rasakan kala dia tak ada didekatnya?

Sooyoung sudah tak kuat berkata-kata. Tubuhnya nyaris limbung kebelakang, tapi syukur saja ada Jin Hyuk yang menangkapnya. “Sudah Soo, jangan emosi seperti ini. Lebih baik kau istirahat saja. Kita bisa membicarakan hal ini dengan baik-baik, bukan?” jelas Jin Hyuk yang sedang mendekap Sooyoung.

Sesaat terjadi keheningan. Yang terdengar hanya suara tangisan Sooyoung dan deru nafas Kyuhyun yang terdengar mulai sesak.

“Maafkan oppa. Tolong, jangan histeris seperti tadi. Ini semua memang salah oppa, jadi kau berhak membenci oppa. Tenangkanlah dirimu. Oppa menyayangimu, Youngi-ah… sangat mencintaimu.” Ucap Kyuhyun dengan penuh rasa sesal yang melanda jiwanya. Susah payah dia tahan air matanya, tapi akhirnya air itu mengalir juga. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, mencoba mencari ketenangan. “Oppa akan kembali setelah kau tenang. Istirahatlah, sayang…” ucap Kyuhyun lagi sebelum akhirnya dia berbalik dan melenggang pergi meninggalkan Sooyoung yang masih terisak di dalam dekapan Jin Hyuk.




Setelah kejadian semalam, Kyuhyun tidak tahu harus pergi kemana. Jika dia mendatangi rumah orangtuanya, tentu saja akan membuat ibunya sedih. Dulu, saat dia hendak menjalankan rencana ini, dia meyakinkan sang ibu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sooyoung akan tetap menjadi istrinya. Namun, apa yang terjadi saat ini sungguh di luar dugaannya. Sooyoung marah kepadanya dan dia pun belum tahu akan status dirinya kini. Maka dari itu, dia memutuskan untuk mendatangi rumah kakak kandungnya yang sudah berkeluarga itu.

“Lalu, apa yang ingin kau lakukan setelah ini? apa kau akan menyerahkan Sooyoung kepada Jin Hyuk?” tanya Ahra, kakak Kyuhyun.

Kyuhyun menoleh kearah kakak perempuannya itu dan tersenyum kecut. Dia berbalik ke pandangan semula, kemudian terdiam sejenak. Dia memejamkan mata sambil mengepalkan tangannya erat dan menarik nafas dalam-dalam. “Aku akan menceraikannya.” Jawab Kyuhyun lemas. Kini kedua matanya sudah berkaca-kaca.

Ahra terperanjat mendengar ucapan adiknya. Dia berdiri dan menatap Kyuhyun gusar, “Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa kau membohongi dirimu seperti ini? apa kau ingat, siapa yang memulai permainan ini?” geram Ahra. Dia tidak habis pikir dengan cara berpikir adik semata wayangnya itu.

Kyuhyun menghembus nafas berat dan berdiri dengan kedua tangan yang sudah dia selukka di kedua saku celananya. “Aku yang memulai. Aku juga yang harus mengakhiri,” ucap Kyuhyun yang sudah berjalan kearah jendela. Inilah kebiasaannya, memalingkan pandangan saat membicarakan hal penting dari lawan bicaranya. Dia berbalik dan menatap kakaknya sejenak sebelum berpaling pandang lagi. “Menceraikannya adalah pilihan terbaik.” Tambahnya yang sudah memandang keluar jendela.

“Kau benar-benar sudah tidak waras, Cho Kyuhyun! Pikirkanlah baik-baik!” Ahra semakin geram.

Lagi-lagi Kyuhyun berbalik dan menyunggingkan senyum masam kepada kakaknya. Dia berbalik dan melanjutkan jawabannya tadi, “Kelak, anakku akan hidup bahagia dengan Sooyoung sebagai ibunya dan Jin Hyuk sebagai ayahnya. Anak itu akan tumbuh besar tanpa harus menahan malu memiliki ayah yang buta nantinya.”

“YA! Cho Kyuhyun! Kemana sebenarnya kau bawa otak jeniusmu itu, eoh?!” Emosi Ahra benar-benar meledak. “Siapa bilang kau buta nantinya?!”

“Dokter tidak mengatakan aku baik-baik saja. Dokter juga tidak mengatakan bahwa tumor di kornea mataku sembuh total. Aku rasa, cepat atau lambat, tumor itu akan menyerang mataku. Apalagi yang akan terjadi selanjutnya kalau bukan buta, noona?!” jelas Kyuhyun yang sudah memecahkan emosi bersama dengan air matanya. “Setelah itu, aku tinggal menunggu waktu untuk meninggalkan dunia ini.” tambahnya dengan nada sok tegarnya.

PLAKK!!

Mendengar tamparan yang Ahra berikan tepat di pipi kiri Kyuhyun, sontak suami dan adik iparnya yang sedang berdiskusi di ruang tamu, berlari menuju ruang keluarga yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sana.

“Noona tidak percaya mendapatkan seorang Cho Kyuhyun yang bodoh seperti dirimu! Ini semua salahmu! Kau menyakitinya, menyakiti orang yang sayang dengan kalian, dan yang paling penting, kau menyakiti dirimu sendiri! Apa kau mengerti maksud ucapanku, eoh?!” jerit Ahra ditengah deraian air matanya. Sungguh, dia benci dengan cara berpikir adiknya satu itu. Bagaimana bisa adiknya itu melepas istri yang sangat disayanginya? Bagaimana tega adiknya itu melepas kebahagian diri sendiri?

“Noona,” “Sayang!” panggil Minho dan suami Ahra bersamaan. Mereka sudah menyaksikan cuplikan yang terjadi antara Kyuhyun yang kini membuang wajah kearah jendela luar dan Ahra yang berkacak pinggang di depan Kyuhyun.

“Sayang, jangan emosi seperti itu! Sebenarnya apa yang membuatmu sekasar tadi, hun?” tanya sang suami yang sudah merangkul lembut bahu Ahra.

“Antar aku ke kamar. Aku muak melihat adik bodoh seperti dia!”

Hyun Jong, suami Ahra, beradu pandang sesaat dengan Minho, adik iparnya. Mereka berdua mengerti dan paham, maka tanpa menjawab ucapan Ahra, Hyun Jong langsung memapah istrinya meninggalkan ruangan tersebut. Begitulah Cho Ahra jika dia mengetahui adik tersayangnya menyakiti diri sendiri.

Minho berdiri di jarak dua meter dari tempat Kyuhyun duduk. Dia tatap keadaan kakak iparnya itu. Perlahan dia melangkah mendekati Kyuhyun. “Kau menyerah?” tanyanya. Kyuhyun mendongak melihatnya dan saat itu juga Minho memutuskan untuk duduk di sebelah Kyuhyun.

“Aku juga tidak rela jika kau menyerah begitu saja.” Ucap Minho dengan pandangan lurus kedepan. “Kau tahu, noona-ku sangat bahagia ketika menikah denganmu?” Kyhyun menoleh melihat wajah Minho yang terkesan menenangkan. “Tidak ada yang membuatnya lebih bahagia selain cinta yang kau berikan padanya.” Minho menghela nafas dan menoleh kearah samping. Dia mendapatkan sosok Kyuhyun yang juga sedang menatapnya. Tatapan yang sangat sendu, penuh dengan keperihan di lubuk hatinya.

Minho tersenyum tipis dan kembali ke posisi pandangan awal, lurus kedepan. “Walau noona terlihat cuek dan tiba-tiba manja, tapi aku berani jamin, sejak dulu, sampai sekarang, dia sangat mencintaimu, hyeong.” Ucap Minho. “Kau sangat dicintai oleh si cuek jangkung itu, walau kalian menikah karena sebuah perjodohan konyol. Dia mencintaimu sejak mengenalmu.”

Habis sudah air mata Kyuhyun meluncur deras membasahi wajah pucatnya. Dia tahu Sooyoung sangat mencintainya, tapi baru kali ini dia tahu bahwa perasaan Sooyoung bisa dibaca oleh orang lain. Walau Minho adik kandung Sooyoung, yang pasti mengerti perasaan kakaknya, tapi tetap saja pengetahuan Minho tentang Sooyoung telah membuktikan betapa besar cinta Sooyoung padanya.

Kini Kyuhyun tertunduk menangkup wajah dengan kedua telapak tangannya. Dia menangis didalam wajah yang dia sembunyikan itu. Sama, perasaan yang dia rasakan sama seperti perasaan Sooyoung, istrinya. Bahkan lebih besar rasa yang dia punya. Siapa sangka, Sooyoung yang begitu cuek dengannya akan menerima lamarannya saat itu. Siapa sangka Sooyoung yang selalu menganggapnya pengganggu ternyata sangat mencintainya. Bahkan lebih dari yang dia bayangkan.

“Sekarang, kau pikirkan baik-baik semuanya, hyeong. Jangan gegabah apalagi egois. Mungkin dari luar kau akan rela noona-ku terus bersanding dengan pria lain, tapi bagaimana dengan perasaanmu yang sesungguhnya? Bagaimana perasaan noona-ku yang notabene membawa duplikatmu di dalam rahimnya?”

***

Dua hari setelah itu, tepat hari sabtu, hari libur, Jin Hyuk terbangun dan langsung keluar kamar. Ya, sejak menikah, Jin Hyuk memang tidak ingin tidur sekamar dengan Sooyoung. Dia mengerti akan perasaan wanitanya itu. Kecuali jika Sooyoung yang menginginkannya.

Baru saja hendak melangkah untuk mengambil air minum di dapur, kedua kaki Jin Hyuk menghentikan langkah dan menatap sesuatu didalam dapurnya. Hei, sejak kapan Sooyoung berani terjun ke dapur? Apa wanita itu bisa memasak? Bukankah selama ini mereka selalu dimasakin oleh koki yang dikirim keluarga?

“Soo, kau memasak?” tanyanya seraya berjalan pelan mendekati Sooyoung. Istrinya itu hanya menganggu tenang. “Kau bisa memasak?” lagi-lagi di balas dengan anggukan. “Sejak kapan?”

“Aku memang bisa memasak Hyuk-ah… hanya saja belakangan ini aku sedang malas memasak. Entahlah, pagi ini rasanya aku memang ingin memasak.” Jelas Soo. Jin Hyuk masih memikirkan sesuatu yang lebih realistis tentang alasan yang sebenarnya. “Apa kau mau sarapan Jin Hyuk-ah? Nasi goreng semur dagingnya sudah jadi.” Tawar Sooyoung dengan senyum manisnya, membuat Jin Hyuk berpikir, apa sebahagia itu perasaannya ketika memasak nasi goreng daging?

“Ah, baiklah. Aku akan mencicipi masakan istriku kali ini.”

Sooyoung tersenyum dan segera mengambilkan seporsi masakannya untuk Jin Hyuk. Pria itu sudah duduk manis di meja makan. Tidak alam kemudian Sooyoung datang dan membawakan sarapan pagi untuknya.

Dengan hayat, Sooyoung memperhatikan kunyahan Jin Hyuk. Dia takut jika rasanya aneh. “Gimana? Enak?” tanyanya kemudian setelah yakin Jin Hyuk telah menelan kunyahannya.

Jin Hyuk memandang Sooyoung dan mengira-ngira akan sesuatu. Kemudian dia mengangguk. “Enak. Hanya saja…” Jin Hyuk terlihat ragu akan mengucapkan alasan buruknya.

“Apa? Hanya saja kenapa Jin Hyuk-ah?” tanya Sooyoung tak sabar.

“Aku sedikit mual jika makan tanpa sayur. Terlebih lagi nasi goreng ini penuh dengan daging. Apa kau memang sengaja membuat nasi goreng penuh daging seperti ini?” tanyanya.

Sooyoung akan tertegun dengan pertanyaan Jin Hyuk. Dengan ragu dia menjawab, “Maaf, aku terbiasa membuat masakan tanpa sayur.”

Jin Hyuk mengerutkan kening, “Kau tidak suka sayur?” Sooyoung menggeleng lemah, “Lalu?” tanya Jin Hyuk lagi.

“Aku terbiasa membuatnya seperti itu. Aku tidak pernah memakai sayuran karena Kyuh-“ sontak Sooyoung terdiam. Dia baru sadar, semua keanehannya pagi ini karena Kyuhyun. Benar, dia sangat merindukan pria yang dicintainya itu.

Jin Hyuk melihat Sooyoung sudah mulai menangis. Dia mengerti apa yang dirasakan istrinya tersebut. Dia bangkit dan menghampiri Sooyoung untuk memberi pelukannya. Seketika tangisan Sooyoung pecah. “Kau merindukannya Soo. Kau juga menyesal telah memarahinya waktu itu. Jangan berbohong lagi. Jangan membohongi perasaanmu.” Ujar Jin Hyuk seraya mengusap rambut Sooyoung. “Setelah sarapan, ayo kita pergi mencarinya.”

_
_

Sooyoung’s POV

Jin Hyuk mengantarku kerumah mertuaku, orangtua Kyuhyun-oppa. Kini aku sudah berdiri didepan rumah mewah keluarga Cho. Kutatap sesaat rumah itu. Aku ingat sekali, aku pernah bercanda tawa dengan Kyuhyun, eonni, abeonim, eommanim, didalam sana. Aku tak menyangka akan jadi seperti ini. Jauh dari keluarga yang sangat aku cintai, jauh dari pria yang sangat aku cintai, aku sayangi, dan sampai sekarang sangat merindukannya.

Aku melangkah kedepan pintu bercorak romawi kuno itu. Baru saja hendak memencet bel, seseorang telah membukanya.

“Ommona! Soo-ah…” gumam eomma yang sangat terkejut melihat kehadiranku. Tentu saja, sejak aku menikah dengan Jin Hyuk, aku sudah tak pernah berkunjung kesini. Sesekali merekalah yang mengunjungiku ke rumah untuk memastikan keadaan cucu mereka yang ada di dalam kandunganku.

Aku tak habis pikir, kenapa orangtua Kyuhyun-oppa juga ikut merestui pernikahanku saat itu. Padahal mereka tahu bahwa aku masih berstatus sebagai istri sah putra bungsu mereka. itu yang membuatku kecewa. Bukankah Kyuhyun-oppa hanya menyelesaikan tugasnya saja dalam waktu yang cukup lama?

Grebb!!

Aku tersentak saat eomma memelukku. Air mata yang tadi sempat tertampung di pelupuk mataku kini sudah terjun bebas membasahi setiap sisi wajahku. Sama seperti keadaan eomma saat ini. beliau menangis memelukku. Eomma-nya Kyuhyun-oppa sangat menyayangiku. Dipeluk seperti ini, aku merasakan pelukan suamiku yang dulu. Tuhan, aku sangat merindukannya.

“Soo-ah, kau datang?” kini kudengar suara abeonim. Benar, beliau ada didepanku.

Eomma melepas pelukannya dariku hingga aku langsung berhambur memeluk abeonim. Tangisanku semakin pecah ketika beliau menepuk-nepuk bahuku.

“Apa yang membawa kalian datang kesini?” tanya abeonim padaku dan Jin Hyuk yang tengah berdiri didekat eommanim.

“Kami ingin bertemu dengan Kyuhyun.” Jawab Jin Hyuk. Eomma dan abeonim saling lempar pandang. Ada apa dengan mereka?

“Baru saja kami ingin mendatangi Kyunie…” ujar eomma. Mendatangi? Jadi selama ini Kyuhyun-oppa tidak pulang kerumah besar keluarga Cho?

“Memangnya Kyuhyun ada dimana?” tanya Jin Hyuk.

“Lima hari ini, Kyunie tinggal di rumah Ahra, tapi baru saja kami di kabarkan bahwa Kyuhyun sudah ada di rumah sakit.” Jelas abeonim.

“Apa? Rumah sakit?” tanyaku tak percaya. Kenapa harus rumah sakit? Apa oppa mengalami kecelakaan? Sungguh, aku benar-benar khawatir kali ini.

“Soo-ah, Hyukie, lebih baik kalian ikut kami kesana. Diperjalanan, akan eomma jelaskan.”

Aku menatap curiga wajah eomma sesaat dan tetap mengikuti arah kaki beliau melangkah. Aku di bimbing masuk mobil mereka dan duduk bersama eomma di kursi penumpang. Sedangkan Jin Hyuk ada di samping abeonim yang sedang menyetir.

“Eomma, sebenarnya ada apa dengan oppa?” tanyaku tak sabar. Benar, sedari dulu aku sudah curiga dnegan segala hal yang di lakukan suamiku itu.

Eomma menggenggam tanganku dan menundukkan wajahnya. Kurasakan genggaman tangannya agak erat dan terasa ada hal yang mengkhawatirkan di dalam genggamannya. Tidak lama kemudian, eomma menatapku lagi. Sepertinya dia sudah mulai menjelaskan sesuatu tentang oppa.

Sooyoung’s POV end

Sambil menggenggam tangan menantu kesayangannya itu, Ny.Cho dengan tegar dan hati-hati mencoba menjelaskan semua hal pada Sooyoung. “Selama tiga bulan kepergian Kyunie, dia selalu memantaumu, Soo. Dia sangat menyayangimu. Waktu itu dia sedang menjalani kemotherapy di pavilion keluarga.”

Mendengar hal itu, kedua mata Sooyoung membulat. Buliran air mata kian menghiasi wajahnya. Apa, apa yang barusan dia dengar?

“Kemo? Pavilion keluarga?” gumam tanya Soo dan mendapat anggukan kepala dari eomma. “Maksud eomma, selama ini Kyuhyun-oppa ada di Seoul?” yang ditanya mengangguk lagi dan tentu saja tangisan mereka kian luntur. “Kenapa harus disembunyikan dari aku? Apa yang terjadi pada suamiku? Kenapa harus menjalani kemotherapy? Kenapa?” desak Sooyoung ditengah sesenggukannya.

Eomma langsung memeluk Sooyoung. Dia tak ingin wanita yang tengah mengandung cucunya itu menjadi stress.



“Oppa, ayo dimakan. Buka mulutmu! Aaaa…”

Sudah lima hari ini Sooyoung menemani Kyuhyun di pavilion rumah sakit. Awal dia mengetahui semua yang terjadi, hatinya benar-benar remuk. Namun, setelah mendengar nasihat Ahra, tempo hari, Sooyoung semakin membuka pikirannya untuk memahami segala sesuatu yang dia hadapi sekarang.

“Soo, kenapa setiap hari kau ada disini?” tanya Kyuhyun setelah menelan suapan terakhirnya.

Sooyoung yang sibuk merapikan bekal buatannya itu pun tiba-tiba menghentikan aktifitas dan menatap tajam Kyuhyun, “Kenapa pertanyaanmu sangat mengganggu pendengaranku?” tanyanya sinis dan melanjutkan pengepakan yang sempat dia tunda tadi.

Kyuhyun tersenyum, mengerti apa yang ada di benak istrinya. Segera dia tarik tangan istrinya itu duduk disampingnya. Dia merangkul bahu Sooyoung yang sudah duduk sejajar dengannya. “Sayang, aku merindukanmu…” bisiknya.

Mendnegar bisikan menggoda itu membuat kedua mata besar Sooyoung menjadi semakin besar. “Ya! aku sedang hamil tiga bulan! Aku tidak mood melakukannya selama aku hamil.” Jawabnya yang sontak membuat Kyuhyun memandangnya tak percaya dan beberapa detik kemudian dia tertawa ngakak. Bagaimana bisa istrinya itu berpikir ke hal yang mesum seperti tadi?

“Oppa, hentikan tawamu!” bentak Sooyoung.

Seketika tawa Kyuhyun terhenti. Bukan karena bentakan Sooyoung, melainkan karena sesuatu yang baru dia ingat. Segera dia menoleh kearah Sooyoung, “Tiga bulan ini kau tidak ingin melakukan hubungan intim?” tanyanya, dibalas dengan tatapan aneh dari Sooyoung yang mengangguk pelan. “Maksudmu, Choi Jin Hyuk belum menyentuhmu?!”

Deg!

Jinhyuk’s POV

Siang ini aku tidak memiliki jadwal padat. Alhasil, aku bisa makan siang diluar dengan bebas tanpa harus menemui clien. Makan siang di rumah? Hem… kenapa pikiran itu baru melintas? Aku yakin, Sooyoung sudah memasak. Tapi… bagaimana jika dia sedang toidak ada di rumah?

‘Tidak, aku sedang di rumah sakit.’

Rumah sakit ya… hm, baiklah. mungkin aka nada makanan yang bisa aku makan disana. Daripada pulang kerumah, tapi tidak menemui apapun?


“Ya! aku sedang hamil tiga bulan! Aku tidak mood melakukannya selama aku hamil.”

Baru saja tanganku hendak menyibakkan tirai setelah masuk ruangan Kyuhyun, kudengar suara rajukan itu. Kuintip dari celah tirai biru itu dan kuperhatikan kebersamaan mereka.

“Oppa, hentikan tawamu!” bentak Sooyoung. Wajah itu, wajah malunya, bahkan baru kali ini aku lihat.

Seketika tawa Kyuhyun terhenti. “Tiga bulan ini kau tidak ingin melakukan hubungan intim?” eh, kenapa dia bertanya seperti itu? Kulihat Sooyoung mengangguk pelan. “Maksudmu, Choi Jin Hyuk belum menyentuhmu?!” kudengar lagi pertanyaan yag berhasil membuat otak dan jiwaku berhenti melakukan tugasnya di dalam diriku.

Mendengar percakapan mereka membuatku sadar akan hal tersebut. Benar, ini sudah satu bulan kami mennikah, tapi aku tak pernah menyentuh istriku sendiri.

Kulihat Sooyoung menggeleng, “aku, selama bersamanya, perasaanku tetap menganggap bahwa dia adalah oppa-ku. Aku sudah terbiasa menganggapnya seorang oppa. Bagaimana mungkin pikiran melakukannya muncul di otakku?” jelasnya.

Tanpa sadar, aku tersenyum sambil menangis. Disatu sisi, aku membenarkan ucapannya.Namun, disisi lain, aku merasa tidak dianggap oleh Sooyoung. Oh Tuhan, kenapa selama ini aku mengabaikan perasaanku sendiri? aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya aku rasakan. Benar, sepertinya aku sama dengan Soo. Yah, aku menyayanginya sebagai adikku sendiri.

Kembali kuperhatikan baik-baik kebersamaan di sana. Bisa kulihat tangan Kyuhyun mulai mengelus lembut perut Sooyoung. Kemudian dia menggeliat sedikit hingga akhinya di letakkan wajahnya hingga berhadapan dengan perut berisi janin usia tiga bulan itu. Dia kecup dengan hangat perut buncit Sooyoung. Mengapa aku tahu bahwa itu hangat? Karena saat iini Kyuhyun mengecup perut itu dengan tangan yang masih aktif mengelusnya.

“Sayang, maaf appa yang tega meninggalkanmu di awal kemunculanmu. Terima kasih sudah menemani eomma selama appa tidak ada. Appa sayang denganmu.” Ucap Kyu didekat perut buncit itu. Bisa kulihat Sooyoung menangis dan tangannya mulai mengelus rambut Kyuhyun. Mereka sangat manis. Kenapa aku baru bisa melihat hal semanis itu?

Kubalikkan lagi pandanganku kearah mereka. Berciuman, itulah yang aku lihat dari mereka. aneh, kenapa aku jadi merasa terabaikan? Kenapa dadaku jadi sesak? Kepalaku pun mendadak jadi panas. Apa-apaan sebenarnya semua ini?

“Ekhm!” aku berdeham saat mereka sudah menyelesaikan kegiatan mereka tadi. Maksudku sih hanya untuk menyadarkan mereka akan keberadaanku disini. Terserah mereka mau berpikir apa, yang jelas aku tidak bermaksud mengganggu, bukan?

Aku hanya tersenyum setelah melihat senyuman Kyuhyun. Dengan santai kuberjalan mendekati mereka. “Jin Hyuk-ssi…” gumam Soo yang kulihat sangat gugup. Apa dia takut aku mengetahui kegiatan mereka tadi?

“Kau datang menjengukku?” tanya Kyu. Cih! Selalu saja pertanyaannya terdengar lucu. Syukurlah aku seorang yang humoris, jadi bisa meladeni tingkah evilnya.

“Tidak! Siapa bilang aku menjengukmu? Jadi orang tidak bagus jika terlalu percaya diri seperti itu, Cho!” cetusku sambil mengambil posisi duduk di kursi kosong sebelah ranjang Kyuhyun. Jelas saja kosong, Sooyoung sedang duduk di ranjang sih. Enak sekali dia. Hahaha, kenapa pikiranku jadi childish begini?

“Sialan kau! Lalu, untuk apa kau kesini?” sungutnya.

“Bertemu dengan istriku dong!” sambarku tanpa berpikir.

Oops… sepertinya mulutku ini terlalu lancang. Aish… benar saja, suasana jadi canggung. Benci sekali aku dengan keadaan seperti ini.

“Yah! Tidak usah terlalu di pikirkan!” cetusku lagi, memecahkan keheningan. Aku beranjang dari kursi dan berjalan menuju kulkas yang memang tersedia di kamar elite ini. “Jadi, bagaimana perkembangan kemo yang kau ikuti, Kyu?” tanyaku sambil memilih beberapa cemilan dan minuman yang ada di dalam kulkas.

“Sejauh ini baik, tapi memang harus selalu waspada.” Jawab Kyu.

Aku sudah selesai memilih makanan dan minuman. Aku berbalik ketempat semula. Baru saja hendak membuka suara, kulihat Sooyoung beranjak turun dari ranjang.

“Sayang, kau mau kemana?” tanya Kyu.

“Hmm… entahlah. Aku ingin keluar saja mencari udara.” Jawab Soo. Aneh sekali.

“Yah! Kenapa? Apa kau tak ingin aku mengganggumu, makanya kau keluar saat aku ada disini?” tanyaku, bermaksud membuat lelucon dengannya yang sepertinya sejak tadi hanya diam saja.

“Bukan! Aku hanya sedang menginginkan sesuatu.”

Sesuatu? Apa dia sedang mengidam?

“Sesuatu seperti apa?” tanyaku dan Kyuhyun bersamaan. Sontak kutolehkan pandanganku kearahnya yang ternyata sedang memandang kearahku juga. Kemudian kami kembali melihat Sooyoung.

“Sesuatu yang aneh dan pasti akan menyakitkan kalian!” ucap Soo yang sudah membelakangi kami, hendak segera keluar.

“Apa?” tanya kami bersamaan lagi, mencegahnya keluar.

“Aku sedang ingin memandang wajah pria diluar sana.”

“APA?!” pekikku dan Kyuhyun. Dia tidak berbalik badan juga, “Apa kau ingin mencari suami ketiga, Soo?” tanyaku ngasal dan berhadiah jitakan dari pria evil di dekatku. “Hyya, ini sakit!” omelku padanya.

“Entahlah, yang jelas saat ini aku sedang mual melihat wajah kalian berdua.” Jawab Soo sembari melenggang pergi keluar kamar rawat ini.

“YAK!” teriakku dan Kyuhyun yang benar-benar tak terima dengan alasan aneh itu.

Jin Hyuk’s POV end

Lima hari berikutnya, karena sudah merasa bosan di rumah sakit, akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk kembali pulang. Selama itu juga hubungannya dengan Sooyoung kembali seperti semula. Begitu pun hubungannya dengan Jinhyuk.

Walau terdengar aneh, tapi hatinya merasakan ada suatu ketenangan dijiwanya. Dia lega karena Sooyoung bisa menunjukkan rasa cinta yang dulu sempat dia rasakan. Bahkan hangatnya lebih terasa lagi. Entah mengapa, Kyuhyun juga jadi semakin menyukai sifat Jinhyuk layaknya seorang saudara. Walau sering berdebat aneh, tetap saja kehadiran pria yang satu tahun lebih muda darinya itu menjadi suatu hiburan tersendiri.

Kyuhyun mengikuti kemotherapy secara rutin, membuatnya tidak bisa bekerja. Dia senang dengan kenyataan yang dia terima saat ini. Setidaknya, di sisa waktu hidupnya, dia bisa menghabiskan waktu bersama istri tercinta selama Jin Hyuk berada di kantor. Jujur, walau Jin Hyuk sempat berkata bahwa dia hanya menganggap Sooyoung sebagai adik, tetap saja Kyuhyun merasa tidak enak hati jika bemanja dengan Sooyoung di depan pria itu.

Sore ini, mereka sedang ada di halaman belakang rumah. Tempat yang sejuk dengan rumput empuk sebagai pijakannya. Kepala Kyuhyun ada di pangkuan Sooyoung dan tentu saja Sooyoung memberikan ketenangan dengan mengusap-usap kepala Kyuhyun seperti yang dulu biasa dilakukannya.

“Oppa, rambutmu semakin tipis…” ucap Sooyoung saat mengelus rambut suaminya.

Mendengar ucapan itu, mata Kyuhyun yang sempat terpejam akhirnya terbuka kembali. Dia mendongak sedikit agar pandangannya tepat pada kedua manik mata istrinya. “Benarkah?” tanyanya. Sooyoung mengangguk ragu dan pelan, seakan ada sesuatu yang salah dari pertanyaannya. Kyuhyun mengalihkan pandangan ke posisi semula. Memandang deretan pohon bunga didepannya. Dia juga masih menikmati belaian lembut tangan Sooyoung di kepalanya. Keheningan terjadi sesaat karena Kyuhyun kembali berkata, “Inilah salah satu alasan kenapa aku tidak mau menjalani kemo itu sejak dulu dan memilih melakukan pengangkatan tumor beberapa kali.”

Tanpa Kyuhyun tahu, Sooyoung sudah mengeluarkan air mata dengan tangan kanan yang menangkup mulutnya, agar suara isakannya tak terdengar. Dalam hati dia merutuki kebodohannya karena sudah mengatakan hal bodoh tadi. “Apakah sangat sakit?” tanyanya dengan suara bergetar, membuat Kyuhyun sontak mendongak kewajahnya.

“Sayang, kau menangis?” tanya Kyuhyun sambil menangkup pipi Sooyoung dan menghapus jejak air di wajah lembut istrinya tersebut. Sooyoung tak sanggup menjawab. Kedua tangannya sudah menangkup mulutnya erat, memecahkan tangisnya. Kyuhyun memilih bangkit dan langsung mendekap Sooyoung. “Jangan menangis, sayang. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu dengan canda tawa cinta kita.” Ucap Kyuhyun yang berusaha menegarkan dirinya. Hal tersebut malah membuat tangisan Sooyoung semakin pecah.

“Aku takut kehilanganmu, oppa…”

Kyuhyun menggelengkan kepala sambil mengelus punggung Sooyoung. Dia tidak sanggup melihat tangisan istrinya ini. “Jangan sayang, jangan pernah takut kehilanganku.”

“Aku butuh dirimu, anak kita juga butuh appa sepertimu,”

Air mata Kyuhyun luntur seketika hanya dengan dua hal tersebut. Andai dia boleh memilih, pasti bertahan hidup selamanya bersama wanita yang dicintainya menjadi hal utama yang dia pilih. “Tidak, jika kelak aku pergi, kau tidak boleh lemah, sayang. Kau adalah wanita yang kuat, Nyonya Cho.” Ucapnya dengan mengecup-ngecup puncak kepala Soo. “Ada Jin Hyuk yang aku percaya untuk menggan-“

“Tidak! Aku tidak ingin siapapun. Aku hanya inginkan dirimu, oppa. Tidak yang lain!”

“…” Kyuhyun tak bisa berkata apapun lagi. Jujur, dia juga menginginkan hal itu. Dia inging hanya dia seorang yang menjadi cinta seorang Sooyoung.

Tiba-tiba Sooyoung menarik diri dari dekapan tersebut dan memandangnya, “Apa yang harus kita lakukan agar kau bisa bebas dari penyakit itu, oppa…?”

Kyuhyun menunduk, “Doakan agar ada seorang malaikat yang datang dan memberikan kornea matanya padaku. Jika Tuhan mengijinkan, maka aku akan membahagiakanmu, sayang.”


“Oppa… oppa… bangun….” ucap Sooyoung berkali-kali, bermaksud membangunkan Kyuhyun yang terlelap di sampingnya. Sebenarnya dia tidak ingin membangunkan Kyuhyn yang terlihat sangat lelah itu, tapi bayi yang di kandungnya mengharuskannya melakukan hal itu. “Oppa…” ucapnya lagi dengan suara yang agak keras sambil mengguncangkan lengan tangan Kyuhyun.

“Hmm….” gumam Kyu yang kini mulai terbangun. “Ada apa, sayang…?”

“Maaf sudah membangunkanmu.”

Kyuhyun tersenyum dan dielusnya rambut Sooyoung, “Tidak apa-apa sayang, tidak perlu minta maaf. Memangnya ada apa kau membangunkanku tengah malam begini?” tanya Kyuhyun dengan suara lembut.

“Aku…” sungguh, Sooyoung sangat ragu mengatakan apa yang diinginkannya tengah malam begini, tapi…

“Apa sayang? Katakana saja apa yang kau inginkan!” ucap Kyuhyun.

“Aku… hmm… aku ingin makan Pie keju yang dijual diujung perempatan pertama itu, oppa…” akhirnya, dia berhasil mengatakan apa yang dia inginkan.

Kedua mata Kyuhyun membulat. Dia kaget mendengar permintaan aneh itu. “Bukankah kau tidak suka dengan Pie disana?”

“Entahlah, tapi aku sangat menginginkannya kali ini.” mohonnya, “Please oppa-ya…” kini dia ber-aegyo, membuat Kyuhyun tak bisa menolaknya.

“Baiklah, oppa akan mencarikannya untukmu. Semoga ada suatu keajaiban Tuhan yang membuat kedai penjual Pie itu masih buka di jam dua malam seperti ini.” kata Kyuhyun. Dan dengan polosnya Sooyoung membalas, “Amin. Tuhan, kabulkanlah doa suamiku ini.” sontak Kyuhyun tertawa geli melihat tingkah istrinya yang baru kali ini dia lihat.

Kyuhyun yang sudah memakai jaket pun segera beranjak setelah mengecup kening istrinya. Sooyoung mengikuti Kyuhyun sampai pintu luar.

“Kau mau kemana malam-malam begini, Kyu-ssi?”

Kyuhyun dan Sooyoung yang baru saja keluar kamar itu langsung menoleh kearah suara tadi. Mereka melihat Jin Hyuk tengah meminum air yang baru saja diambil dari dapur, terlihat dari tempat kemunculan pria itu.

“Eoh, ini… aku mau beli Pie di ujung perempatan sana, Sooyoung sangat menginginkannya.”

“Tengah malam begini?” tanya Jin Hyuk heran.

“Ya Tuhan, Jin Hyuk-ssi, kau tega membiarkan anak yang ada di dalam perutku kelaparan?” sungut Sooyoung yang membuat Kyuhyun dan Jin Hyuk tertawa kecil.

“Mungkin memang bawaan bayinya.” Tambah Kyu yang hendak bersiap untuk pergi.

“Kalau begitu, biar aku saja yang membelikannya.” Tawar Jin Hyuk yang membuat senyuman di wajah Kyuhyun bermunculan. Inikah keajaiban Tuhan yang pertama? Dia menurunkan Jin Hyuk untuk menggantikannya membeli Pie?

“Jangan! Aku ingin oppa yang membelikannya…” rajuk Sooyoung. Kyuhyun menghela nafas dalamnya dan akhirnya beranjak keluar. “Oppa…” panggilan Soo membuat langkah Kyuhyun berhenti. Dia menoleh kebelakang saat Sooyoung menghampirinya. Dia tertegun karena Sooyoung kini memeluknya. “Jangan marah ya…” Kyuhyun tersenyum.


Setelah mendapatkan Pie yang diinginkan Sooyoung, Kyuhyun segera kembali ke rumah secepat mungkin. Sesampainya di rumah, dilihatnya suasana ruang tamu sangat sepi dan penerang pun sudah redup. Tanpa berpikir lagi, dia segera melenggang ke kamarnya. “Sayang, aku sudah-“ ucapannya terhenti karena tidak mendapatkan sosok Sooyoung di dalam sana. Dia membuka pintu kamar mandi yang ada di sana, tapi tetap tak menemukan sosok istrinya.

“Sayang… kau dimana?” teriak Kyuhyun memanggil nama Sooyoung ke dapur, ke halaman belakang, ke ruang tengah, dan ke kamar mandi luar, tapi hasilnya tetap nihil. Dia tidak menemukan sosok Sooyoung.

Dia terdiam sambil mengatur nafasnya setelah membuka kacamatanya terlebih dulu. Kedua mata yang ikut berkeringat itu dia husap dengan punggung tangannya. Setelah itu dia mengenakan kembali kacamatanya.

Entah, siapa yang membisikkannya, tiba-tiba kedua matanya langsung menatap pintu sebuah kamar yang di pakai oleh Jin Hyuk. Dengan sedikit ragu, Kyuhyun memberanikan diri mengecek keberadaan Sooyoung didalam sana.

Cklek!

Pintu telah terbuka. Benar, istrinya itu sedang terlelap di dekapan Jin Hyuk. Keadaan hatinya kini seakan dirundung jutaan jarum. Haruskah dia marah? Oh, ingatlah, pria itu juga suami Sooyoung. Beginikah rasanya ketika hati seorang istri harus di bagi dengan pria lain?


Hari-hari berikutnya, kebersamaan Sooyoung dengan Jin Hyuk semakin menjadi. Setelah malam itu, dia melihat Jin Hyuk yang sedang tidur di pangkuan Sooyoung, kemudian saat Sooyoung menyuapi Kyuhyun makan, Jin Hyuk tiba-tiba datang dari kantor dan langsung bergabung bersama mereka, membuat Sooyoung ikut memperhatikan Jin Hyuk, dan hari ini takdir menyatakan bahwa Jin Hyuk sedang jatuh sakit.

“Oppa, kau belum tidur?” tanya Sooyoung yang baru saja masuk kekamar dan melihat Kyuhyun masih duduk bersandar di dashboard ranjang sambil memainkan PSP-nya.

“Belum,” jawab singkat Kyuhyun yang sudah mem-paus-kan game yang dia mainkan dan mengalihkan pandangan kearah sang istri.

Kyhyun memperhatikan Sooyoung mengambil selimut baru di dalam lemari. Kedua matanya terus mengikuti semua gerakan yang dilakukan istrinya. Setelah selimut itu sudah di tangan Sooyoung dan lemari penyimpan pun sudah di tutup kembali,barulah Sooyoung menghadap ke Kyuhyun. Wanita itu berjalan mendekatinya, “Oppa, berhentilah main game. Kau harus istirahat.” Ucap Soo.

“Aku tidak bisa tidur, sayang…”

Sooyoung mengerutkan kening dan segera duduk disamping Kyuhyun. Dia menerbangkan punggung tangannya ke dahi suaminya, “Badanmu tidak panas. Apa kepalamu pusing?” duganya.

Kyuhyun tersenyum tipis dan meraih tangan Sooyoung yang masih ada di wajahnya. “Tidak… aku tidak pusing.” Ucapnya. Dijalankannya telapak tangan Sooyoung ke setiap inci wajahnya dengan mata yang terpejam. “Kau jangan khawatir.” Tambahnya.

“Bagaimana aku tidak khawatir, ini sudah jam dua belas malam, tapi oppa belum bisa tidur.”

“Lalu, bagaimana denganmu? Kenapa belum tidur?”

Sooyoung terdiam sejenak dan menjawab, “Jin Hyuk sedang demam tinggi.” Suaranya terdengar sedikit ragu. “Jadi, aku harus-“

Chup*

Kalimat Sooyoung tidak berlanjut karena secara tiba-tiba Kyuhyun mengecup bibirnya cepat. kini tangan Kyuhyun membelai rambut Sooyoung sambil tersenyum. “Aku sangat mencintaimu. Sekarang, jagalah suamimu itu. Jangan sampai dia sakit. Dia yang akan aku ijinkan sebagai penggantiku.”

Sooyoung tak bisa menahan air matanya jika Kyuhyun sudah mengungkit masalah itu. Demi apapun, dia tidak ingin kehilangan Kyuhyun. Segera diraihnya tangan Kyuhyun yang masih melekat di kepalanya. Dia mengecup hangat telapak tangan suaminya tersebut, “Oppa, Tuhan pasti akan menurunkan malaikat untukmu. Aku yakin”

Kyuhyun sudah mulai terisak juga. Kepalanya mengangguk dan segera kedua tangannya diturunkan untuk mendekap perut buncit istrinya. kemudian kepalanya yang merunduk kesana. Dikecupnya perut buncit itu dengan seksama. “Sayang, kau harus kuat ya di dalam perut eomma. Doakan appa agar Tuhan menakdirkan kita tetap bersama.”


“Jin Hyuk-ssi…” sapa Sooyoung dengan suara ceria ketika memasuki ruang kerja Jinhyuk. Wanita yang menampung janin berusia empat bulan itu langsung memeluk suaminya dengan penuh keceriaan. Bahkan dia berani mencium pipi Jin Hyuk berkali-kali sampai membuat pria itu menegang tak mengerti.

“Hei, ada apa denganmu, Soo? Kau sedang bahagia, eoh?” Sooyoung mengangguk ditengah senyum cerianya. “Kalau sedang berbahagia, seharusnya kau cium bibirku, bukan pipiku!” ujar Jinhyuk dengan maksud jahil.

Chup*

Kini tubuh dan mata Jin Hyuk menegang. Sooyoung benar-benar mencium bibirnya. “Soo, kau-“

“Kau benar, aku memang sedang bahagia.”

“Alasannya?”

“Ehn… kau tahu, Kyuhyun-oppa sudah mendapatkan donor matanya?”

Jin Hyuk menatap mata Sooyoung, “Benarkah?” tanyanya tak percaya. Sooyoung mengangguk.

“Kau bahagia?” tanya Jinhyuk dengan senyum.

“Sangat” senyuman Sooyoung semakin lebar.

“Kalau begitu, aku ingin-“

Chu~

Mata Sooyoung membulat saat Jinhyuk mencium bibirnya. Semakin lama ciuman itu semakin hangat dan panas. Bahkan kini Sooyoung sudah ditarik dipangkuannya. Entah, Sooyoung memang sudah menikmati ciuman yang sudah diberikan Jin Hyuk untuk kedua kalinya. Setelah yang pertama saat Jin Hyuk tiba-tiba ingin tidur bersama Sooyoung.

“Maaf aku tidak bisa menemani Kau dan Kyuhyun menjalani operasi mata Kyuhyun. Besok, aku harus menyelesaikan proyek baru di Busan selama satu bulan. Kau taka pa, kan?” jelas Jin HYuk.

Sooyoung menatap wajah Jin Hyuk dalam-dalam. Hmm… entahlah, semakin hari, Jin Hyuk semakin terasa berarti baginya. Dia mengagguk dan memeluk erat Jin Hyuk, “Jahat sekali kau ini! cih!” Jin Hyuk tertawa mendengar bisikan Sooyoung.


Perban yang menutupi kedua mata Kyuhyun tengah dibuka oleh seorang perawat. Tiga hari yang lalu operasi berjalan lancar dan kini adalah waktu yang ditentukan untuk membuka perbannya. Setelah ini, Kyuhyun akan bernafas lega dan dapat menjalankan hari-harinya.

bayangkan saja, dengan penuh raa bahagia, dia akan merawat calon anaknya yang tengah di kandung Sooyoung. bukankah itu adalah sebuah keajaiban?

Dia akan hidup bersama anak dan istri tercintanya.
Ah… seprtinya dia akan menghitung kehadiran seorang Choi Jin Hyuk juga kali ini. Pria itu, walau sering mengesalkan, secara tidak langsung menjadi seorang penolong hidup Kyuhyun selama ini. Apa jadinya Sooyoung jika Jin Hyuk tak hadir di hidup mereka saat Kyuhyun tengah terpuruk?

Sungguh, meskipun dianggap sok baik hati, tapi dengan sangat tulus ikhlas Kyuhyun mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas tiga orang utama yang ada didekatnya kini. Sooyoung yang ada di sampingnya, yang sedang tersenyum manis, calon anak yang masih meringkuk dibalik perut buncit istrinya itu, dan… hei, Kenapa Jin Hyuk tak ada? pikir Kyu, tiba-tiba senyumannya luntur seketika.

“Sayang, Jin Hyuk dimana?” tanyanya pada Sooyoung.






7 bulan kemudian

Sooyoung yang menggendong bayinya tengah berjalan berdampingan dengan Kyuhyun. Mereka berjalan menuju mobil setelah meninggalkan taman pemakaman keluarga Choi.

Choi Jin Hyuk meninggalkan dunia karena kecelakaan tunggal, sejak enam bulan yang lalu. Seperti tidak percaya, tapi itu benar-benar nyata, setelah surat terakhir yang Jin Hyuk tulis untuk keluarga kecilnya terbaca.

Hai Soo-ah, Kyu-ah,😀


Bagaimana kapar kalian?
Oke, tidak usah dijawab. Kalian harus bahagia!
Hihihi.🙂
Terimakasih telah menerima kehadiranku.
Maaf telah mengganggu ketentraman keluarga kecil kalian sebagai suami cadangan.
Walau pun seperti itu, aku sangat senang karena Soo pernah bilang bahwa dia sangat menyayangiku.
Aku seperti orang bodoh yang mengharapkan cinta tak pasti dari seorang istri yang telah memiliki suami.
Maka dari itu, jangan sesalkan keadaan atau ketiadaanku dalam hidup kalian. Jujur, aku ingin melihat kalian benar-benar bahagia dimasa mendatang setelah aku pergi.
Ky-ah, jagalah kedua mataku itu. Anggap itu adalah hadiah untukmu.
Kau sudah kuanggap seperti adik sekaligus kakak untukku. Aku sangat menyayangimu. :p
Soo-ah, lihatlah terus pada mata Kyuhyun agar aku merasakan selalu kehadiranmu.
Jangan sampai kau meninggalkan Kyuhyun atau sebaliknya, karena itu berarti kau juga meninggalkanku. Jujur, aku snagat mencintaimu :*
Aku benar-benar menyayangi kalian.
Aku pergi bukan karena bunuh diri, tapi karena Tuhan memang menurunkanku untuk menjadi malaikat buat kalian. Bukankah itu doa yang selalu kalian panjatkan?
Maka dari itu, aku ingin minta bayaran dari kalian.
Satu saja. Aku harap kalian menyanggupi permohonan terakhirku.
Aku ingin nama anak kalian nanti adalah Cho Jin Hyuk.
Itu semua sudah cukup.
Terimakasih jika kalian menyanggupi itu semua.

Kyu-ah, Soo-ah, aku sangat mencintai kalian.

Salam cinta,

Choi Jin Hyuk

****

_END_

Gomawo sudah baca. Buat Widya, komentarin dong isi cerita yang aku kembangkan dari idemu. mengecewakankah?😦

Oh, iya, reader… aku masih garap I’m Back to Love You. tidak lama lagi Insyaallah akan aku publice. Sabarr ya…
sudah aku bilang kan, inspirasi lagi kacau?
ckckck.

Eiits… once again, don’t go anywhere before you write comments about this part! Okey, Gomawo… ^^
,
.
.
.
.
.
.

101 thoughts on “[TWOSHOT] (req ff) Love After Autumn – 2END

  1. huaaa.. jinhyuk meninggal..
    gegara apa? kecelakaan dan bukan bunuh diri? tp kok tulis surat wasiat??
    klo sakit,bisa jd..
    tp gpp,yg pnting kyuyoung brsatu *tp kasian jg sih jinhyuk*

    ttep daebak kok..😀😉

    d tunggu IBTLY-nya..🙂 hehe

  2. Baiknya si jin hyuk mau donorin mata buat kyu walaupun jadi suami cadangan/?
    Dikira kyu bakalan meninggal trnyt balik ke soo lagi.
    Nice ff thor

  3. woaaaa
    jin hyuk oppa nya keren
    dr awal gag pernah ef\gois n selalu sayang sama soo
    semoga kyuyoung selalu bersama bahagia
    hiks

  4. ngingetin saya sm sama satu novel korea yg crtanya mirip tp jelas g sama. krakter orang ke 3 mnjdi sgt berarti d sini. orang pling tulus d dunia ni adlh mreka yg berjiwa besar as like jin hyuk. happy ending kyuyoung

  5. ff keren,feelnya dpt sampai bkn alu nangis
    ji hyuk nya baik thor mau donorin kornea buat kyu,gak nygka adaa org sebaik dia

  6. Huaaaaa, kereeeenn..!! Mpe berlinang air mata bacanya. Jin hyuk bner2 jd malaikat penolong disini.. Nice story.. Keren bgd lah pkoknya.. Dtggu ff selanjutnya..

  7. so sweeeet… ya ampun, aku smpai nangis bcanya.. nyesek, bhagia, romance dpt bgd lah pkoknya. aigoo, jin hyuk baik bgd.. kyuyoung moment nya aku suka..

  8. Choi jin hyuk such an angel .
    Akhirnya kyu bisa sembuh dari penyakitnya dan mereka bisa bersatu walau harus ada yg dikorbankan .
    Tapi aku masih bertanya tanya, kenapa jin hyuk bisa mendonorkan mata lalu pas banget dia ke busan kecelakaan dan meninggal . Kalo dia ngga kecelakaan gimana ? Dia mau hidup tanpa mata ?

  9. Bagus banget!
    Feelnya bener2 berasa!😀
    syukur juga, ending nya disini kyu baik2 aja bahkan sampai anak kyuyoung lahir!

  10. Parah gila… q sampe nangis thor… keren banget thor… feelnya uh T_T
    Tapi ada satu yg q bingung… tu jinhyuk meninggalnya gimana?

    Good joblah :’)

  11. Daebak…
    Aku kira kyuppa bakal meninggal..
    Feel ny dpt bgt..
    Tapi jin hyuk meninggal karna kecelakaan atw apa?
    AS ny donk..

  12. jujur q g suka soo nya disini. q jd ragu. di bnrn cinta ma kyu atu g. soalnya diantara mrk feel ny soo yg paling g jelas. pdhl konflkknya hyukie sudah seru bgt

  13. Aku sampe nangis eon bacanya.. Huhuhu😥 jin hyuk oppa baik bgt ngedonorin kornea mata nya buat kyuppa demi kebahagiaan, kyuppa sama youngie eonni… Huaaa ff nya bener2 keren!

  14. nyesek banget jd kyu , liat istri nya deket am namja lain😥
    sabar kyu:/
    tp ji hyuk baik banget rela donor mata buat kyuhyun , bgus deh😀
    happy ending deh🙂

  15. Di part ini, terutama ending
    aku ngga paham
    jadi jin hyuk kasih mata dulu atau meninggal dulu baru kasih mata ? soal nya jin hyuk blg kan ada urusan kerja tpi tetiba di epilog nya malah meninggal
    trus kalo misal ngasih mata dulu, apa dia tau setelah jin hyuk kasih mata trus dia meninggal ?
    dia meninggal itu karena kecelakaan kan ? nah, dia meninggal di tempat atau ngga ? wkwk maaf yaa aku muter-muter komen nya

  16. tuh kan aku ud ngeduga klu jin hyuk bkal donor mata ny buat kyu … seneng tapi sedih juga soalny jinhyuk oppa kan baik :’)
    kykny ini bkn kecelakaan tunggal deh tp jin hyuk sengaja yaa😥 biar bisa mendonorkan matanya buat kyu TT^TT
    btw suka ff nya🙂

Gomawo^^ You are the best Visitor, So Give Comments After You Read It.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s