[SERIESE] – MY HURTNESS – 2

my hurt

Tittle : My Hurtness (real)
Author : Fatminho
Genre : Married Life, Sad, Romance, a little Comady.
Length : SERIES
Rated : PG 17+
Main cast : Cho Kyuhyun – Choi Sooyoung

Disclaimer : This plot is main.

Note:

Hello knight_deul!
Maaf kelamaan nge-post ff yang satu ini.

Well, have a nice time by this story…

Focus Poin of View : Cho Kyuhyun

My Hurtness 1


“Sudah terlanjur, tak bisa aku hentikan!” tegasku.

Keadaanku memang sedang mabuk, tapi aku masih sadar apa yang sedang aku lakukan saat ini. Ya, untuk kali pertamanya, dalam pernikahan kami, kujamah semua bagian tubuh istriku. Kusentuh setiap inci lekuk tubuhnya hikmat. Walau tidak terlalu menonjol dan terasa datar, tapi entah mengapa aku tak bisa lagi menahan hasrat tuk dapat memilikinya.

Bukan hanya diriku saja yang menjamahnya, dia pun ikut andil membalas perlakuanku. Jujur, aku terhanyut dalam sentuhannya. Jemarinya, kulitnya, bibirnya, dan segala sesuatu pada dirinya benar-benar membuatku menggila.

Lembut dan wangi.

Begitulah menurutku. Belum lagi ketika aku bergerak cepat, membuat suara desahannya semakin keras. Disusul dengan deruan nafas berat tercekat yang terasa hangat menerpa leher dan dadaku. Choi Sooyoung, kau benar-benar menjerumuskanku dalam ragamu.

“Ahh…ahhh…haahh…..” desahan nafas kami tengah beradu bersama setelah pertahanan kami pecah dan melebur menjadi satu. Cairannya terasa begitu hangat. Sungguh, demi apapun, baru kali ini kurasakan nikmat yang begitu membakar relung, hingga seluk-beluk jiwaku.

Ku akui, ini memang bukan yang pertama aku melakukannya. Namun, jika ditanya kepuasan total, maka jawabannya adalah ini. Aku juga tak mengerti bagaimana bisa kurasakan kenikmatan yang teramat dalam seperti ini saat melakukannya bersama Sooyoung. Apa mungkin hanya karena ‘dia adalah istri sahku’ ? hum, Entahlah.

Kami melakukan hal yang sama dengan tempo yang berbeda, kira-kira sudah yang ke lima kalinya. Kalau sudah seperti ini, adakah hal lain yang bisa kunilai lebih nikmat daripada ini? sungguh, kali ini aku sangat memujanya. Bagaimana tidak, dia memberikanku hal baru yang sama sekali belum terkena sentuhan lain selain sentuhanku saat ini.

Bayangkan, sudah berapa kali kuulang kata-kata yang memiliki makna sama ini? ‘sama-sama mencurahkan ketakjubanku tentangnya’

Kami baru saja menyelesaikan ronde yang ke-sekian. Dan samar-samar terdengar, “Kyuhhhhk-yunnhhhhhsshih….perigghhh….” desahan merintih darinya. Seketika kuangkat wajahku yang masih kutenggelamkan diantara dua gundukan dadanya yang berukuran sedang tersebut.

Kulihat matanya terpejam kuat dan keringat bercucuran deras. Dia juga menggigit bibir bawahnya. Apa sangat sakit? Apa aku terlalu kasar?

Bodoh! Bagaimana tidak perih dan sakit, ini pengalaman pertamanya, Cho!

Terpaksa kuangkat tubuhku dari tubuh kurusnya. Otomatis pautan senikmat surga dibawah sana pun terlepas. Mau bagaimana lagi, keadaannya tidak mendukung. Dia kesakitan, aku pun tak dapat mengelak karena aku mengkhawatirkannya.

Dengan sedikit gemetar, lantaran khawatir, kuusap semua keringat di bagian wajah dan lehernya. Sesekali kutiup sisi kepalanya, mencoba memberikannya ketenangan.

“Periigh, Kyuggghhh….”

Kuhela nafas berat sarat frustasi saat mendengar rintihannya, lagi. “Sabarlah, aku akan mengambil sesuatu dulu” ucapku yang dibalas dengan anggukannya.

Segera aku berlari menuju toilet yang ada di kamar ini setelah mengambil handuk kecil dan besar terlebih dahulu. Yang besar kugunakan menutupi bagian bawah tubuhku. Sedangkan yang kecil langsung kubilas dengan air hangat dari bathup lalu meremasnya.

Aku kembali menghampiri Sooyoung yang masih tergeletak di ranjang. Tanpa berpikir atau menimbangkan sesuatu lagi, langsung saja aku duduk di dekat kaki jenjangnya. Kutundukkan wajahku hingga kini aku bertatapan dengan ‘miliknya’.

Oh, Tuhan, darahnya lumayan banyak. Berbeda dengan beberapa wanita sebelumnya yang pernah kuajak ‘bermain’. Mereka tidak pernah mengeluarkan cairan seperti ini. Bahkan ada yang sudah biasa digunakan. Choi Sooyoung, kau memang sangat special.

Aashh… ini semua karena aku yang terlalu kasar saat dibagian inti. Maafkan aku Soo…

Kumulai aksiku di daerah ‘itu’. Pelan-pelan dan sedikit takut. Ya, baru kali ini aku takut menyentuhnya. “Sayang, apa masih sangat sakit?” tanyaku disela kegiatanku mengusap sambil memijat lembut permukaan kewanitaannya tersebut.

Tak ada tanggapan darinya, membuatku mengangkat pandang padanya.

Dia sudah tertidur.

Aku tertegun sejenak melihat wajahnya saat ini.

Choi Sooyoung, kau sangat sexy.

Melihatmu seperti ini saja, wajahku sudah bersemu merah. Kau mampu menarik birahi siapapun. Apa kau tahu tentang itu, huh?

Kau benar-benar sempurna.

Ck! Bodohnya aku yang baru menyadari hal itu.

Kukecup permukaan ‘miliknya’ yang sudah terlihat bersih, lalu beranjak mengecup bibirnya. Aku tersenyum saat memandang wajahnya. Beberapa lama kemudian, kurengkuh tubuhnya tuk masuk dalam dekapanku. Kupejamkan mataku dan tak berapa lama kemudian aku ikut terlelap sepertinya.

Satu bulan berlalu setelah kejadian manis penuh kenikmatan malam itu. Kini kami hanya bisa bertemu sesekali. Entah apa yang aku pikirkan saat ini. Sempat berpikir bahwa aku mulai mencintainya, tapi ketika hari itu aku terbangun dan tak menemukan sosoknya disebelahku, jujur, aku sangat kecewa padanya. Hanya satu yang berkelebat di otakku: menyesalkah dia?

Dia tetap melakukan tugas seperti biasanya. Aku pun begitu. Yang berbeda saat ini hanyalah situasi dan kondisi yang terbangun di antara kami. Aku tak pernah memerintah seenaknya, bahkan lebih jarang membuka pembicaraan dengannya. Dia pun begitu. Perasaanku berkata saat ini, sejak kejadian waktu itu, sikapnya berubah dingin. Tidak, sepertinya bukan hanya itu saja. Ya, bukan hanya sikapnya, tapi nada bicara dan tatapan matanya pun menjadi dingin. Dan aku membenci hal itu.

Sesekali dia menegurku hanya untuk menanyakan ‘apakah kau sudah makan?’ dan selalu kujawab, ‘sudah tadi, bersama Qianni’ selalu kujawab seperti itu hingga hari-hari berikutnya jarang kudapatkan dia memasak makanan kesukaanku. Paling hanya memasak makanan untuknya.

Song Qian, ya. Cish! Mungkin inilah keadilan Tuhan. Ketika aku mulai menaruh hati pada istriku, sejak kejadian itu, selang beberapa hari berikutnya kudapatkan Victoria beselingkuh. Saat itu juga kuputuskan hubungan kami. Lagian aku tidak terlalu menaruh hati padanya jika saja dia tak meminta hatiku, dulu. Wajar kan, jika aku bisa dengan mudah melepasnya?

Aku bersyukur karena sejak saat itu juga aku tak pernah bertemu dengannya. Alhasil, selama aku tak bersamanya, tak ada sedikit pun hasrat untuk meminum alkohol yang selalu membuatku berakhir mabuk dan pasti akan menyakiti Sooyoung setelahnya.

Aku sengaja menyebut nama Victoria untuk kujadikan alasan karena hanya yeoja itu kekasihku yang Sooyoung tahu. Aku hanya berharap dia marah dan protes atas kencanku tersebut. Namun sayang, dia tetap bertampang datar dan hanya berujar, ‘oh’ Tidakkah itu sangat menjengkelkan?

Weekend Sore hari ini, aku hanya bermalas-malasan di atas sofa dengan PSP kesayanganku. Hangeng dan Kangin, teman saat aku ingin berbuat ‘liar’, sudah tak pernah kulihat sejak hubunganku dengan Vict berakhir. Sedangkan Sungmin dan Changmin, teman dekatku saat ini, sedang berkencan dengan istri masing-masing. Sempat mereka mengajakku dan istriku, Sooyoung, untuk bergabung, tapi aku menolak.

Jangankan mengajaknya kencan, ngobrol ringan dengannya pun aku takut. Bukan takut apa, aku hanya takut ‘sakit hati’.

Bagaimana tidak, setiap hari, saat aku bertatap muka dengannya, dia selalu saja berekspresi datar, bahkan dingin. Ingin aku menegurnya tentang hal itu, tapi hatiku melarangnya. Lagi-lagi aku takut. Takut nantinya dia akan semakin membenciku.

Aaarrggghhh……..!!! bisa-bisa aku gila kalau seperti ini terus!!!

“Kyuhyun-ssi…”

Aku sedikit kaget mendengar sapaannya. Namun aku tetap pada PSP-ku dan tidak menoleh kearahnya sedikit pun. “Hmm…” yah, aku hanya bergumam malas. Lebih baik begini daripada menoleh, tapi melihat tatapan dinginnya? Aiish… shireo!!

Setelah beberapa menit, dia tak membuka suara lagi. Hal itu membuatku geram dan dengan terpaksa aku menoleh kearahnya. “APA?!” tak sengaja kutinggikan nada suaraku.

“Satu bulan. Anak dari benih yang kau tanam.”

“…” aku bungkam seribu bahasa setelah pernyataannya barusan. Bahkan aku tak bisa memalingkan pandanganku kearahnya lagi. Ini berita yang sangat mencengangkan. Satu bulan? Benih yang kutanam? Berarti… saat ini Sooyoung……..

“Jangan khawatir tentang hubunganmu dengan kekasih tercintamu. Cukup mengakuinya sebagai anakmu. Hanya itu.” Selanya saat aku hendak berkata.

Lagi-lagi aku tercengang. Kali ini karena kalimatnya barusan. Oh Tuhan… apa aku sejahat itu dimatamu, Soo????

Kulihat matanya berkaca-kaca. Detik berikutnya dia hendak berbalik melenggang pergi meninggalkanku. Namun kutahan pergelangan tangannya. “Jangan berkata seperti itu. Tentu aku akan mengakuinya. Terimakasih.” Ucapku lembut dengan senyum tipisku.

Benar saja, kini dia yang mematung mendengar ucapanku tersebut.

Ck!

Apa sebegitu buruknya aku dimatamu hingga ucapan lembut tadi tak juga kau percaya?

Kini umur kandungannya memasuki usia ke tiga bulan. Perhatian yang kuberikan pun semakin menjadi lagi. Persetan dengan wajah dinginnya. Aku ingin memberi perhatianku padanya dan calon anakku.

Tidak jarang aku meminta eomma atau noona untuk mengajariku memasak. Teserah apa tanggapannya, yang jelas aku harus mengambil tugas yang selalu dia kerjakan. Setidaknya bisa mengurangi rasa lelahnya. Bukankah keadaan saat hamil muda cukup mengkhawatirkan?

Aku baru sadar, memberi perhatian lebih padanya menjadikan suatu kebahagiaan tersendiri untukku. Dan kemudian, aku menyempatkan waktu untuk mengantar-jemputnya ke kantor. Bodoh jika kubiarkan istriku yang sedang hamil itu berlelah diri pulang-pergi dengan bus. Bisa-bisa nyawaku melayang di tangan orangtuaku dan orangtuanya.

“Soo, apa kau menginginkan sesuatu?”

Lamunannya seakan buyar saat mendengar pertanyaanku yang kini sudah berdiri tegap dengan penampilan rapi setelah tadinya bersantai mengerjakan laporan-laporan perusahaan.

“Kau mau kemana?” tanyanya.

“Ada sedikit urusan diluar.” Jawabku ringan.

Dia hanya mengangguk kecil sambil bergumam ‘oh’

Hanya itu?

“Apa kau tidak ingin sesuatu?” tanyanku lagi.

“Ah… aku?” tanyanya balik dengan suara paraunya. Dia terlihat sangat ragu menerima sikap baik yang kuberikan.

Kuhela nafas beratku ketika tak mendengar jawaban lengkap darinya. Dengan segenap keberanian, aku mendekatinya dan berjongkok didepannya. Kedua tanganku bertumpu pada paha kecilnya. Bisa kurasakan tubuhnya sedikit bergetar dan tegang. Sebegitunyakah?

Baiklah Choi Sooyoung, akan kubuat kau semakin tercengang dan menegang.

Ku mulai dengan mendekatkan wajahku ke perutnya yang mulai membuncit tersebut. “Sayang, apa kau nyaman didalam sana? Apa ada sesuatu yang kau inginkan? Bisikkanlah eomma-mu apa yang kau inginkan agar appa tidak menunda acara appa, kau mengerti?” ucapku pada malaikat didalam sana. Ck! Aku merasa seperti anak-anak yang sedang bermain dengan bonekanya. Ini benar-benar memberikan satu sensasi dahsyat bagi hatiku.

Chu~

Kali ini, dengan keadaan sadarnya, aku berani mengecup hangat perut buncitnya. Biasanya, aku mengecup perutnya saat dia sudah tertidur. Namun kini… Sooyoung-ah, kau harus percaya dengan kasih sayang yang aku berikan.

“Ayo cepat katakan yang kau inginkan, sayang…” tanyaku lagi pada malaikat di dalam perutnya. Ya, aku sadar sih kalau malaikat didalam sana itu tak akan menjawabku, tapi ada sesuatu yang membuatku bahagia saat kupandangi keberadaannya dari perut istriku ini.

Saat aku masih terpaku memandangi perut buncitnya yang belum terlalu besar itu, kurasakan belaian halus di kepala belakangku. Benarkah jika Sooyoung yang melakukannya?

“Aku ingin appa cepat pulang dan menemaniku lagi…” kudengar suaranya menjawab pertanyaan yang kuberikan pada malaikat didalam perutnya, tadi. Tubuhku agak menegang dan jantungku bekerja tidak karuan. Ternyata usapan itu memang dari Sooyoung. Dan apa tadi yang dia katakan? ‘Aku ingin appa cepat pulang dan menemaniku lagi’ ? Benarkah kalau Sooyoung menginginkannya? Apa dia sudah tak membenciku lagi?

Dengan berani, aku mendongak menatap wajahnya yang sudah becek dengan air mata. Kemudian aku tersenyum. Anehnya, senyumanku ini membuatnya semakin menatapku dengan sendu. Choi Sooyoung, kau tahu, saat ini kau membuatku grogi!

Kuputuskan untuk berdiri dan dengan lembut menarik kepalanya tuk kukecup hangat dan agak lama, kukuasai dahi indah miliknya. Ini kali pertamanya aku seberani ini dan rasanya benar-benar menyenangkan.

Kupandangi wajahnya lekat-lekat. Kenapa dia terlihat lebih cantik? kekeke

“Appa akan pulang cepat. Jadi appa minta, jagalah eomma-mu selama appa tak ada. Kau dengar itu?” ucapku sambil menatap lembut kedua matanya dengan tangan kananku yang masih berada di kepalanya. Aku tetap tersenyum menatapnya sambil menunggunya menjawab perkataannku.

“Ya, appa, aku mendengarnya.” Jawabnya. Aku terkekeh kecil dan mengacak rambutnya pelan.

Aku beranjak untuk keluar. Namun, saat sudah di depan pintu, kuhentikan langkah dan dengan sedikit ragu aku menoleh kebelakang, kearahnya. Dengan senyuman jahil aku berkata, “Soo, anak kita sangat pintar dan penurut.” Kemudian dengan cepat aku berlari setelah menutup pintu apartment.

Hahahaha…. kenapa aku jadi seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta? Aishh… memalukan sekali kau Cho Kyuhyun!

Kini aku sedang berjalan menuju lapangan parkir bawah. Ingin rasanya aku cepat-cepat pulang untuk menemani calon anakku. Oh, ehm… maksudku sih jaga eomma-nya. Kekeke. Baiklah Cho Kyuhyun, siapkan dirimu baik-baik untuk menjadi ayah dan suami yang hebat.

Baru saja hendak membuka pintu mobil, tubuhku menegang hebat karena merasakan ada sesuatu yang menatapku di belakang. Segera kutolehkan pandanganku ke belakang dan kesamping kiri-kanan. Tidak ada apa-apa. Aneh sekali.

Dengan sedikit ragu, kupilih untuk mengabaikannya saja. Aku tersenyum seketika karena tiba-tiba bayangan wajah kaget dan malu dari Sooyoung melintasi benakku.

Greb!!

“Ehmmk… ehhmkk!! Aasshk!!” aku meronta karena ada seorang yang menahanku dan seorang lagi membekam mulut dan hidungku. Gila, ini benar-benar menyiksa. Nafasku jadi tersengal dan…

Nafasku tertahan, pita suaraku pun tercekat.

Mendadak jadi kelu.

Tubuhku pun tak berdaya.

Matikah aku di detik selanjutnya?

Astaga, pandanganku sudah berkunang-kunang tak karuan.

Tuhan, aku ingin bersama istriku. Jangan ambil nyawaku saat ini.

……………………………………………………………..

Pyyyarrrrrrrrrr

Aku terbangun tiba-tiba saat kurasakan tumpahan air secara kasar di wajahku. Dengan gusar kuusap wajahku dari air tersebut. Dan detik selanjutnya, kudapatkan sosok Sooyoung yang menggeram marah didepanku. Hei, bukankah seharusnya aku yang marah? Lagian, untuk apa dia menyiramku?!

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN?! KENAPA MENYIRAM WAJAHKU, EOH?!” teriakku tiba-tiba karena marah melihat wajah dinginnya. Demi apapun, aku benci tatapannya itu.

“Harusnya aku yang bertanya padamu.” Balasnya dengan suara gumaman geram. Hei ada apa dengannya…??

“APA YANG KAU LAKUKAN?! KENAPA KAU MENYAKITI HATIKU LAGI, EOH?!” kini dia meneriakiku. Apa yang aku lakukan? Menyakiti hatinya lagi? Apa maksudnya?

Prrrnggg!!!

Kini aku di kagetkan dengan aksinya yang tiba-tiba membanting gelas yang tadi dipakainya untuk menyiramku.

“Ouhgg oppa~”

Tubuhku menegang saat kudengar suara itu dari sampingku. Detik berikutnya mataku terbelalak karena merasakan sesuatu sedang bergelayut manja pada lenganku. Ragu-ragu aku menoleh kesamping dan….

DAMN!!

Kenapa Qian disini?

Shiiit!!

Aku menoleh lagi kearah Sooyoung, tapi dia sudah tidak ada. Sial! Kenapa nasib mempermainkanku seperti ini??? apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya percaya??? Tidak boleh! Sooyoung tidak boleh salah paham.

“BRENGSEK!!!” bentakku pada Qian yang saat ini bertelanjang dada. Kuhentakkan tangannya kasar dari lenganku dan segera aku beranjak memakai bajuku. “Apa yang kau lakukan, eoh?! Kenapa masih menggangguku ?!” omelku gusar sambil memakai bajuku. Soo, lihat, aku hanya tak memakai baju. Lihatlah, pakaian dibawahku masih lengkap. Jangan sampai kau salah paham, sayang….

“Apa maksudmu?” tanya wanita yang masih duduk diatas ranjang.

Aku sudah siap untuk pergi. Kuhentikan langkah sejenak dan kutatap garang seseorang yang masih ada disana. “JANGAN MUNCUL DIDEPANKU LAGI!!” jeritku di wajahnya. Kenudian aku berlari pergi untuk mengejar Sooyoung.

Soo-ah, jangan pergi dulu. Tunggulah aku. Aku tak melakukan apapun. Kau salah paham, sayang. Sungguh, aku tak melakukan apapun pada yeoja itu. Sungguh.

Aku mematung melihat sesuatu yang mampu membuat nyawaku seakan tak berguna. Saat orang-orang membopongnya, barulah aku sadar dan segera aku berlari mengejarnya. Istriku… anakku…

Tiiiiiiiiiiiiiiiinnn……

Brrakk!!

Ada suara mengerikan di belakangku, tapi tak kuhiraukan lagi. Semoga orang yang kecelakaan itu ada yang menolongnya. Aku tak bisa menolong orang lain disaat istriku sendiri sedang memerlukan pertolonganku.

Sekuat tenaga aku mengejar masa yang membopong tubuh istriku hingga sampai di rumah sakit terdekat daerah sekitar.

Mungkin karena terlalu memaksa diri berlari, tubuh dan tulangku seakan runtuh. nafas… apakah masih aku masih bisa bernafas?

Adakah nyawa cadangan yang bisa menolongku jika sesuatu hal buruk menimpaku?

“Chogiyeo… kau butuh pertolongan juga. Mari ikut kami!”

Seorang perawat pria membimbingku ke ruang gawat darurat. Benar, aku memang sedang membutuhkan pertolongan. Terutama pada nafasku. Baiklah, tolong bantu aku.

Satu jam setelah aku membaringkan diri di ruang gawat darurat, kini aku sudah duduk di ruang tunggu. Keadaanku cukup membaik karena rongga pernafasanku terasa lebih longgar dari sebelumnya. Sekarang, keadaan Sooyoung-lah yang menjadi pikiranku.

Aku duduk di salah satu tempat pada deretan kursi besi mengkilap yang malam ini terasa begitu dingin. Tertunduk hingga membuat posisi wajahku tenggelam dalam dua telapak tanganku. Menunggu sesuatu yang sudah menjadi nyawa dalam jiwaku. Jika saja sesuatu yang kutunggu ini tak berkabar baik, maka jiwaku kan mati. Walau raga bisa bernafas, jiwa tetap tak bersua. Tidakkah itu lebih mengerikan daripada penderita coroner yang kapan pun bisa mendadak mati?

Sudah lima jam lamanya pintu ruangan bersirene di bagian atas pintu masuknya tersebut tertutup rapat layaknya tak ada kehidupan di dalamnya. Padahal seseorang yang aku cintai tengah mempertaruhkan nyawanya di balik pintu bersirene itu.

Kejadian siang tadi benar-benar membuatku sesak. Sooyoung, istriku, melihatku sedang ada dalam satu ranjang dengan mantan kekasihku. Bodoh! Bisa-bisanya aku terjebak dalam situasi memalukan seperti itu. Walau hanya sebuah harapan, aku ingin menangkap tubuh istriku yang sudah berlari keluar meninggalkanku saat setelah ia menyadarkanku. Namun, apa yang aku temukan? Istriku tergeletak ditengah darah yang ia keluarkan. Sungguh, betapapun menyesalnya aku, tak akan merubah segalanya yang terjadi. Dalam keadaan setengah sadar, orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut langsung mengangkat tubuh istriku yang sudah tak berdaya. Sedangkan aku? Sangat memalukan! Disaat genting seperti itu aku masih tetap mematung dengan deraian air mata membasahi wajahku.

Dan sekarang, di rumah sakit ini, saat kesadaranku kembali, benak dan jiwaku berkecamuk mengkhawatirkan keadaan istriku di dalam ruang operasi. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya pasca kecelakaan di lantai dasar itu, tapi saat dokter mengatakan ‘harus’ melakukan operasi, dengan tanpa berpikir lagi, kutanda tangani surat pernyataan persediaan melakukan operasi yang mereka ajukan. Aku yakin, itu pilihan yang terbaik. Choi Sooyoung, kau harus kuat didalam sana. Aku tak akan memaafkan diriku bila terjadi suatu hal padamu.

Iiiiuuuuunnnnggg….

Aku tersentak saat kudengar suara sirene dari ruangan itu. Kulihat sinar sirene itu sudah berwarna merah, bertanda kegiatan operasi telah selesai. Dengan sedikit panik, aku berjalan mendekati pintu ruangan yang mulai terbuka disana. Tidak lama kemudian, seorang pemuda paruh baya dengan jubbah biru pudar dan masker yang baru saja di buka daru mulut dan hidungnya, kini sudah berdiri mendekatiku.

Dengan ekspresi wajahku, aku bertanya ‘bagaimana?’ tanpa suara dan kuyakin dia mengerti maksudku.

Orang itu menggeleng pasrah, “Tak ada harapan” ucapnya sembari menghembuskan nafas sambil menggeleng beberapa kali kepalanya. Tatapannya sayu kearahku.

Mataku mulai berkaca-kaca kembali. Mengapa sangat perih?

“Maksud dokter?” tanyaku ragu.

“Bayinya sudah tak dapat di selamatkan. Kecelakaan keras seperti itu sangat mengguncang janin yang masih dalam proses pertumbuhan tersebut.” Jelasnya, entahlah, aku sedih, tapi bagiku, itu sudah wajar terjadi.

“Lalu, bagaimana keadaan istri saya?”

“Nyonya Cho mengalami pendarahan dan gegar pada otaknya. Keadaannya belum bisa kami pastikan. Dia masih ada dalam kondisi kritis. Berdoalah, semoga Nyonya Cho bisa pulih dari ini semua. Namun, jika dalam waktu satu minggu ia tak sadar juga, lantas… maafkan kami. Sesungguhnya, segala sesuatu hanya Tuhan yang dapat memutuskannya.” Jelas dokter panjang-pendek. Berita terburuk yang pernah aku dengar.

Kakiku terasa tak bertulang.

Seketika tubuhku merosot.

Adakah luka yang perihnya melebihi ini?

Jahat sekali aku ini. Dalam sekali tepukan, kuhancurkan dua nyawa sekaligus. Nyawa dari orang yang sangat penting dalam hidupku. Aku masihh bisa terima jika calon anakku saja yang menghilang, tapi kalau Sooyoung juga melakukan hal yang sama, maka aku tak terima sama sekali. Aku membunuh mereka??

Masih pantaskah orang sepertiku diberi kesempatan?

Bukankah lebih baik jika aku saja yang mati ?

Tiga hari setelahnya, aku besyukur kepada Tuhan karena beliau mengembalikan istriku. Dia masih tidur di ranjang biasa yang hanya mengenakan sambunngan infuse dan uap pembantu pernafasan saja. Tidak seperti beberapa hari lalu saat di ICU yang mengharuskan tubuhnya di kendalikan oleh puluhan selang berwarna-warni.

Kupandangi wajahnya dan seketika aku terisak kembali. Aku teringat penjelasan dokter saat pertama Sooyoung sadar.

“Nyonya Cho mengalami amnesia kecil. Dia melupakan segala sesuatu yang terjadi pada dirinya beberapa bulan belakangan ini. namun, kenangan masa lalu akan terseimpan dengan baik layaknya seorang yang normal.”

Saat itu juga aku dapatkan Sooyoung tak mengenaliku.

“Aku Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Aku ini su-“

“Kyuhyun Cho? Astaga, apa kau ini anak dari keluarga Cho yang saat dulu pernah ikut bergabung dnegan keluarga kami untuk berlibur?” tanyanya antusias.

Tercengang. Namun, aku tahu akan begini jadinya. Dia bahkan melupakan pernikahan kami. Apakah aku harus…. “Ya, kau benar.” Aku mengangguk sambil tersenyum senang. walau sebenarnya ini sangatlah menyakitkan.

“Lalu, bagaimana bisa kau bersamaku disini? Apa yang terjadi? Kenapa aku harus dirawat? Dan, mengapa aku tak melihat satu pun keluargaku?” dia menghujaniku dengan semua pertanyaannya. Aku harus bagaimana?? Apakah dia percaya jika aku ini suaminya?

“Kau kecelakaan Soo. Kau kecelakaan ketika melihatku berselingkuh dengan seorang yeoja.” Terserah dia mengerti atau tidak. Aku ingin menjelaskan segalanya.

“Maksudmu?” tanyanya bingung.

“Kita, aku dan kau, sebenarnya sudah menikah.”

“Apa? Menikah katamu? Bagaimana…” kuraih tangannya dan kukecup dalam. Membuatnya menghentikan kalimatnya.

Kulihat kedua manik matanya secara sendu. “Dengarkan saja. Kau kuijinkan berkata setelah aku selesai. Mengerti?” dan dia mengangguk.

Masih dengan mengenggam tangannya lembut dan kuat, kulanjutkan maksud awalku. “Kau sedang amnesia. Ini terjadi karena kau jatuh cukup keras saat melihat aku bersama yeoja lain. Tunggu, kau jangan emosi dulu. Sebenarnya kau hanya salah paham. Aku dan yeoja itu tidak ada hubungan apapun. Aku di-“ aku berhenti karena melihatnya meringis.

“Akkhh…” ia merintih kesakitan. Apakah efek biusnya telah habis?

“Ini sangat sakit, oppa. Seumur hidupku, belum pernah kurasakan sakit seperti ini. apa yang terjadi, oppa?? Aakkhh… sakit…”

“Sayang, sabarlah, aku akan segera panggil susternya…”

Setelah aku berlari penuh kepanikan mengingat sosoknya yang merintih kesakitan, kini aku kembali dengan dua orang suster. Aku hanya bisa memandang wajah Sooyoung yang… akh, tak akan bisa kubayangkan. Yang jelas dia sangat kesakitan.

Salah satu suster langsung membiuskan cairan di dalam kotak infuse yang tersambung dengan tubuh Sooyoung. Beberapa detik kemudian, rintihan Sooyoung memudar dan aku bisa bernafas lega sedikit demi sedikit.

“Maafkan kelalaian kami, Tuan.” Ujar suster tersebut dan segera kuanggukan kepala cepat dan langsung menemui Sooyoung.

Dua orang suster itu sudah pergi dan kini suasana ruang rawat istriku menghening. Gara-gara obat bius itu, kini mata istriku mulai meredup.

“Kau ngantuk?” tanyaku yang kini sedang mengusap pipi kirinya. Jujur, sebenarnya aku ingin melanjutkan penjelasanku tentang…

“Lanjutkan oppa~” lirihnya padaku. Dia tersenyum dan sedikit memejamkan matanya, seakan menikmati usapan jemariku dipipinya.

“Tidak, kita bisa lanjutkan lain-“

“Sekarang saja. Aku akan mendengarkannya.”

Akhirnya kuputuskan untuk melanjutkan penjelasanku.

“Kau suamiku?” tanyanya saat aku sudah menyelesaikan penjelasan. Sambil tersenyum aku mengangguk. “Aku salah paham hingga membuat kita kehilangan-“

“Sssstttt….” kuletakkan jari telunjuk pada bibirnya sambil menggeleng pelan, bermaksud menghentikan ucapannya. Hal itu tidak perlu dibahas. “Jangan sesali itu, sayang. Aku tak apa-apa. Terimakasih karena kau sudah selamat…” ujarku.

Dia terdiam dalam tangisnya. Sungguh, ini sangat menyesakkan bagiku.

“Soo…”

“Sakit oppa! Hiks… ini sangat sakit!” ujarnya yang masih terisak sambil menunjuk dadanya, letak hatinya yang terluka. Segera kurengkuh tuuhnya sebisa mungkin dan kukecupi dahinya yang tidak tertutup perban. “Ya, aku tahu. Aku akan menjagamu. Maka dari itu, ikutlah denganku! kita pergi dari sini!” bisikku yang membuatnya semakin memecahkan tangisannya di dadaku.

Sayang, maafkan aku. Andai bisa, aku rela menggantikanmu merasakan sakit itu, sakit di raga dan hatimu.

-Part 2 END-

Next? Then, pure your mean about this part…
Jusaeyyoo…. ^^

.
.😀

164 thoughts on “[SERIESE] – MY HURTNESS – 2

  1. Jadi kyuhyun kna trap sama tante qian? Aigo… Aku kira young yg ga selamat ternyata bayinya. Tapi syukurlah young selamat, dan dia nerima penjelasan kyuhyun meski dlm keadaan amnesia. Kayanya soo terguncang bng ya smpai gtu.

    Ga disangka kyuhyun pov ternyata gni ya? Jadi kyuhyun mulai jatuh cinta jga? Lega bacanya

Gomawo^^ You are the best Visitor, So Give Comments After You Read It.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s