[SERIES] MY HURTNESS – 3

my hurt 3a

Tittle : My Hurtness
Author : Fatminho
Genre : Married Life, Sad, Romance, NC18+.
Length : Series


Warning the Rateded : NC18+

Main cast : Cho Kyuhyun – Choi Sooyoung

Disclaimer : This plot is main.

Note:

Hello knight_deul!
Maaf kelamaan nge-post ff yang satu ini.

Dan perlu kalian tahu, aku tidak memberi PW di ff NC seperti ini. Itu semua karena hari ini aku ada acara dan tidak memungkinkan untuk online full guna menebar PW buat kalian.

Maka dari itu, aku mohon, yang belum berusia 18 tahun keatas agar tidak membacanya. Kalau tetap membacanya, resiko tetap di tangan kalian. Arraseo???!! 

:p

Well, have a nice time by this story…😀

Focus Point of View : Choi Sooyoung

“If I can remember all of our Love”

My Hurtness 1 | My Hurtness 2


***

Aku terbangun tepat pukul enam pagi. Kutolehkan pandangan ke sisi kanan dan kudapatkan kaca jendela yang berembun. Ternyata musim dingin di Seoul tidak ada apa-apanya dibandingkan musim dingin di Busan. Eerrrr…. dinginnya terasa sampai tulang. Padahal aku sudah tidur dengan berbalut jaket tebal.

Baru saja hendak menuruni ranjang, sebuah tangan kekar melingkari dadaku. Astaga, kenapa aku bisa lupa kalau sekarang aku tidak lagi tidur sendiri, melainkan tidur berdua bersama suamiku. Kikiki… malu juga mengatakan hal itu. Hahh… sungguh, aku tak mengira jika Cho Kyuhyun telah menjadi suamiku selama sebelas bulan. Dan nanti, tepat pada hari natal, umur pernikahan kami genap satu tahun.

Kuangkat tangan yang melingkari dadaku tersebut. Perlahan aku mencoba mendudukkan diri. Aarggh… perut bawahku terkadang terasa ngilu pasca operasi satu setengah bulan yang lalu. Terlebih saat Kyuhyun memutuskan pindah ke Busan, rasa ngilu itu semakin sering timbul karena suhu yang terlalu rendah. Namun, bagaimana pun sakit yang kurasa, benar-benar tak berarti jika dibandingkan dengan perhatian dan kasih sayang yang ‘suamiku’ berikan. Oh Cho Kyuhyun, aku sungguh jatuh hati padamu.

Tetap duduk di atas ranjang tanpa rasa kantuk sama sekali bukanlah hal buruk selama ada yang membuatku nyaman. Wajahnya. Yah, wajahnya yang membuatku nyaman duduk diam sambil memandangnya. ‘Cho Kyuhyun, terimakasih telah menjadi nampyeon yang baik untukku. Maaf jika aku tidak menjaga calon baby kita. Aku janji, suatu hari nanti, jika Tuhan mengijinkan perutku berisi malaikat cilik kita, akan kujaga semampuku. Kan kujaga sebaik mungkin, sekali pun harus mempertaruhkan nyawaku. Semua kulakukan karena aku begitu mencintaimu.’

Kuelus rambutnya pelan-pelan. Benar, wajahnya begitu tampan dan polos. Wajah malaikat pemikat. Kuharap, selamanya, hanya aku yang bisa melihat wajah tampan ini. Sadar tidak, wajahmu begitu menarik perhatianku?

Perlahan, kuturunkan wajahku hingga sejajar dengan wajahnya. Kukecup hangat dahinya. Wangi. Walau bukan wangi bunga atau buah, yang jelas hidungku selalu menghirup aroma wangi yang menenangkan. Benar, ini sungguh membuatku tenang. CHUP*

Setelah mengakhiri kecupan dengan nada kecup itu, kuangkat kembali kepalaku. Aku tersenyum menyadari wajahnya yang sedikit bersemu merah. Aku baru tahu, seorang yang masih terlelap bisa bereaksi saat keningnya dicium. Atau… rona merah ini karena suhu yang terlalu-

“Chagie~ bangunkan aku dengan ini!”

Pikiranku terhenti karena suara serak yang tiba-tiba terdengar oleh telingaku. Aku sedikit terperanjat saat menyadari siapa pemilik suara tersebut. Ternyata suara Kyuhyun. Dia berkata dengan suara seraknya. Jujur, walau dia berkata dengan mata yang tertutup sempurna, tapi aku tetap malu. Dia berkata sambil menunjuk bibirnya di akhir kalimat. ‘bangunkan aku dengan ini’, katanya? Oh Tuhan, wajahku panas. Kenapa aku tidak sadar ternyata sedari tadi dia sudah bangun? Pantas rona merah tadi terlihat di wajahnya. Kini, kuyakin rona itu terlihat jelas di wajahku. Syukur saja dia masih menutup mata.

“Aku tidak akan bangun jika kau belum menyentuhku disini!” ucapnya lagi dengan mata yang masih terpejam sambil menunjuk-nunjuk bibirnya sendiri.

Aarrgghhh…. kenapa dia mengerjaiku sepagi ini?

“Disitu? Haruskah?” tanyaku ragu. Jujur, aku tak biasa mencium bibirnya duluan. Jika kita berciuman, itu semua dia yang memulai.

“YA!” tegasnya diiringin dengan kekehan anehnya. Ck! Ternyata dia benar-benar mengerjaiku.

“T…tap-pi…”

“No acceptable Reason, Ny.Cho!” potongnya. Belum aku menyanggah, dia berkata lagi, “Aku tak akan bangun sebelum kau membangunkanku. Kau tahu kisah ‘Sleeping Beauty’? Nah, anggap saja yang jadi putrinya saat ini adalah A-K-U!” jelasnya.

“Ya! tidak bisa begitu dong. Seorang putri adalah seorang ‘yeoja’ bukan ‘namja’!” protesku.

“Sudah kukatakan, ‘Anggap Saja’!”

“Tetap saja itu-“

“Arra!” rajuknya.

Suaranya tegas dan sarat akan kekecewaan. Dia sudah membuka mata dan menatapku kecewa. Aku yakin dia sedang kesal. Buktinya saja dia langsung bangun dan duduk di tepi ranjang. Dia memunggungiku. Bahkan dia tak mengecup keningku. Apa dia benar-benar marah? Andwe! Aku tidak mau membuatnya marah padaku.

Saat hendak bangkit, langsung saja kutarik tangannya kuat hingga dia kini terbaring lagi. Dia memandangku heran. Saat dia hendak buka protes, pelan-pelan aku naiki tubuhnya. Aku duduk tepat di perut buncitnya. Kupandnag sendu wajahnya. “Mianhae…” lirihku. Aku ingin dia tahu aku menyesal. Ya, saat ini aku sedang menyesal karena telah membuatnya marah.

“Na do mianhae Chagie~” jawabnya beberapa lama kemudian. Kedua jempolnya kini menari disekitar wajahku, menghapus air mataku.

“Pejamkan matamu lagi!” ucapku kemudian. Dia masih memandangku bingung. Tangannya mematung di pipiku. Ck! Masak dia tidak mengerti apa maksudku?

Kutangkup kedua tangannya yang ada di wajahku. Kemudian kubawa tangannya tuk melingkari pinggangku. Perlahan, kubunggukkan badanku dan kusejajarkan wajahku dengan wajahnya. Errhh… kenapa dia semakin menggoda?

Detik berikutnya, bibirku sudah jatuh tepat di bibirnya. Hah, jujur posisi ini membuat perut bawahku sedikit sakit, tapi aku bisa menahannya. Aku ingin menunjukkan bahwa aku pun bisa menciumnya. Walau belum bisa melakukan ciuman semacam ‘french kiss’ seperti yang biasanya dia berikan. Aku hanya menempelkan bibir kami dan pelan-pelan menghisap bibir atas dan bawahnya bergantian. Aku tidak tahu, sejak kapan hal seperti ini membuatku tenang.

Lama kujamah bibirnya dan belum sampai kedalam. Dia tidak membalas dan membiarkan bekerja sendiri. cih! Dia berhasil membuatku geram dan dengan sekali emosi, kugigit keras bibir bawahnya. Saat itu juga dia mengerang dan mulai merengkuh tubuhku secara benar. Kini dia membalas, bahkan memimpin ‘morning deep kiss’ yang kami lakukan ini.

“Euuggghhhh…. euhhmm….” desahku lolos kala kurasakan lidahku dikulum olehnya. Belum lagi kedua tangannya aktif mengusap lembut punggungku. Entah sejak kapan tangan itu memasuki piyamaku. Aku hanya ingin menikmati saat seperti ini.

Dia membalikkan posisi kami hingga membuatku kini berada di bawahnya. Tubuhnya tidak menindih tubuhku karena dia selalu ingat bekas operasi di perut bawahku belum sembuh total. Ini juga yang membuatku semakin mencintainya.

Sesaat ciuman manis kami terhenti dan deruan nafas pun saling menerpa wajah kami. Dia tersenyum padaku. Chup*. Dia kecup keningku. “Gomawo…” ujarnya yang berhasil membuatku mengembangkan senyumku.

Kedua tanganku tergantung di lehernya. “Na do Saranghae…” balasku, sengaja menggodanya. Kikiki, dia kaget. Matanya melotot. Lucu sekali…

“Ya! jawaban apa itu? Kau ini membuatku senang saja! Mau menggodaku, euhm?!” protesnya.

Aku hanya bisa tertawa mendapati reaksinya. Hahahahahahaha…. perutku sampai sakit tidak tertahan menertawainya. Saat tawaku bisa kubendung, tak sengaja kudapati wajah senyumnya diatasku. Tersenyum tipis, namun tetap manis. Tidak, ini bukan sekadar manis biasa, tapi ini senyumannya yang termanis dan membuat wajahnya semakin tampan. Lantas aku terdiam memandang senyuman itu dengan tatapan takjub. Bahkan kedua mataku berkedip sesekali.

“I like your laugh. I’m melt when you show that laugh. Trying your Laugh, please…”

Oh My God… aku baru tahu kalau Cho Kyuhyun hebat berbahasa Inggris. Semuanya membuatku semakin jauh mencintainya. Sangat sangat mencintainya. “I’ll show my laugh as long as you need me to do that. I Love You, Mr.Cho” ujarku.

Senyumannya semakin lebar, “Love You to, honey… more than your though”. Chu~

Dia menciumku lembut setelah mengatakan sesuatu yang bennar-benar membuatku bahagia. Tuhan, mungkin aku tak dapat mengatakannya, tapi aku yakin kau tahu betapa besar kebahagiaan yang saat ini kudapatkan. Jongmal gomawo God…

Aku sedang menyiapkan sarapan untuk kami. Sedangkan Kyuhyun masih didalam kamar, menyiapkan diri untuk pergi ke kantor. Dia mendapat tugas cukup berat dari abeonim. Membangun kejayaan cabang perusahaan yang hampir punah di Busan ini, kembali. Selama satu setengah bulan ini dia sudah bekerja keras guna membuktikan siapa dirinya yang sebenarnya. Yang aku ingat, abeonim dan eommanim berpesan padanya agar tetap peduli padaku meskipun tugas di kantor juga harus dia pedulikan. Entahlah, walau memang tak ada satu pun yang ku ingat, tapi aku merasa saat mertuaku itu mengucapkan pesan pada Kyuhyun-oppa, mereka sangat tegas, seakan ada nada marah didalamnya.

Marah? Yah, mungkin benar mereka marah. Marah karena penyebab keguguran yang kualami adalah kesalahan oppa. Padahal semuanya jelas-jelas kesalahanku. Aku tahu oppa sudah berbuat salah padaku sebelum kecelakaan itu terjadi, tapi bukankah oppa bilang kalau saat itu dia sedang tidak sadar? Dari semua yang dia jelaskan padaku, tak sedikit pun kesalahan yang dia buat. Ini semua karena salah paham yang menggerogoti kami.

Chup*

Aku terkesiap saat seseorang mengecup pipiku cepat. Benar saja, kini suamiku sudah berdiri sambil tersenyum di belakangku. Kulihat dasinya masih menggantung lepas, belum terpasang dengan baik. Aku tersenyum dan sigap meraih dua sisi dasinya. Sementara aku berkutat membuat dasinya terikat indah, kurasakan dia meraih pinggangku dan menarik tubuhku hingga merapat pada tubuhnya. Kemudian kurasakan dia mengecup dahiku. Lantas aku mendongak dan memandangnya. “Aku belum selesai memasang dasimu, oppa!” ujarku mengingatkannya dengan tegas. Kemudian kulanjutkan lagi pekerjaanku. Dan kudengar dia terkekeh.

“Memangnya kenapa kalau kau belum selesai?” tanyanya, tepat saat aku menyelesaikan tugas pemasangan dasinya. Aku mundur satu langkah dan tangannya yang masih melingkar di pinggangku mengikuti pergerakanku.

Aku mendengus padanya. “Mungkin akan lebih cepat selesai jika kau tak jahil seperti tadi!” jawabku.

“Hhehehe, ya~ya~ kapan lagi aku bisa bermanja-manja denganmu?” aishh… pertanyaan apa itu? Kurasakan dia menarikku lebih mendekat lagi. Aku sedikit melawan, tapi tetap dia yang berhasil. “Kau tahu kenapa Tuhan mengambil baby Cho dari kita?” tanyanya. Aku menggeleng tak mengerti, membuatnya tersenyum. Senyumannya kali ini bukan lagi senyuman manis, melainkan seringaian evil khasnya. Kalau sudah begini, aku yakin, ada yang dia inginkan. “Karena…” bisiknya yang semakin memajukan wajahnya padaku. Kedua mata kami masih berpandangan dalam. “Tuhan memberikankuh kesemhhpathan berhhmanjahh denganhh muhhh, sayanghh…” bisiknya, diiringi dengan desahan-desahan aneh yang dia buat-buat sendiri. Aku merinding dibuatnya. Aku yakin wajahku sudah horny, bak orang yang terangsang. Aargghhh….

Sontak aku menunduk. Aku malu dia melihat wajahku.

“Hei, angkat wajahmu!” pintanya. Aku menggeleng. “Angkat sayang!” tegasnya sambil meraih daguku dan menariknya ke atas. Tepat. Kini kedua mataku tepat lepas pandang di kedua matanya. Terpenjara dalam manik matanya. Detik kemudian sapuan lembut sudah kurasakan dibibirku. Aaahh… aku selalu suka dengan caranya menciumku. Bukan caranya, yang membuatku suka adalah karena ‘dia’ yang melakukannya.

“Yak! Batraiku sudah full kembali. Aku siap bekerja dengan semangat. Yey!” racaunya yang sudah berlalu kearah meja makan, meninggalkanku yang masih terpaku karena meresapi apa yang baru saja dia berikan. Ciuman yang sangat dalam dan terkesan ringan. Entah harus kujabarkan seperti apa. Yang jelas, aku menyukainya!

“Chagie-ya… aku tidak suka sarapan sendiri lho…” ujarnya dari meja makan yang ada lima meter dari tempatku berdiri. Aku tersenyum dan menghampirinya.

Friday. Kalian tahu, arti satu kata itu bagiku? Friday = Jumat. Jika di jabarkan dengan sedikit menyimpang, aku menjabarkannya menjadi Friday = Free day = Hari Libur. Yuhuuu… aku sangat suka hari jumat. Jumat adalah hari singkat di seluruh dunia. Oppa akan pulang sebelum jam makan siang. Dan saat itu juga, acara weekend kita dimulai. Wahh… aku sangat senang setiap berhadapan dengan hari ini. Sepertinya aku tak pernah merasa jumat adalah hari istimewa. Dulu, hari istimewaku adalah hari Rabu. Aneh memang, tapi semua itu karena saat sekolah dulu, tepat hari rabu, aku akan bertatap muka dengan pelajaran seni interior. Makanya aku suka. Hari sabtu dan minggu juga menjadi hari yang aku suka lantaran libur masal. Semua akan suka dnegan hari itu. Aku juga pernah menyukai hari senin dan selasa lantaran saat itu selama satu tahun aku menjalani pembelaran di luar kelas. Berekspresi sepuasnya, sebebasnya, dan semaunya. Itu sangat menyenangkan. Namun, baru kali ini hari Jumat masuk dalam daftar ‘hari istimewaku’.

Selama ‘suamiku’ bersibuk ria dengan kewajibannya di kantor, aku selalu menunggu waktu luangnya. Dan tiada waktu lain yang bisa kugapai selain hari jumat. Setelah itu, weekend menyambut. Jadi, selama satu minggu, waktu kami bersama dengan waktu lama adalah 3 hari. Jumat-Sabtu-Minggu. Ah… tidak, sepertinya hari minggu kami tidak bisa berlama-lama karena suamiku harus mulai menyiapkan diri back to office.

“Kau ingin apa hari ini? aku akan mengabulkan apapun yang kau mau!” ujarnya penuh semangat, membuatku berbinar-binar. Ini tawaran yang menggiurkan, bukan?

“Benarkah?” dia mengangguk. “Apapun yang aku mau?” dia mengangguk lagi. “Kalau aku mau jalan-jalan keluar, boleh?” dia terdiam sejenak untuk memandangku. Tidak lama kemudian dia tersenyum.

“Kencan maksudmu? Baiklah Nyonya Cho, hari ini kita akan berkencan……” soraknya bahagia.

Memangnya aku minta kencan? “Hanya jalan-jalan Tuan Cho! Bukan kencan!” tegasku.

“Hei, Jalan-jalan romantis itu adalah Kencan Honey…” jelasnya yang sudah merangkulku.

“Aku tidak bilang kita akan jalan-jalan romantis,” balasku.

Dia mendengus. “Terserahlah! Yang jelas, ayo kita kencan~”

Ckckck, kenapa dia jadi seperti anak-anak usia lima-enam-tujuh- tahun yang akan berjalan-jalan ke taman bermain? Aishhh… lucu sekali.

Benar saja, kencan yang dia maksud pun benar-benar terlaksana dnegan baik. Berkencan di taman bermain. Tepat seperti yang kuduga tentang anak usia lima tahunan itu. Namun, disini Kyuhyun benar-benar bersikap sewajarnya pria dewasa. Dia selalu membuatku bahagia. dari bermain kuda putar bersama, bermain cawan putar-dimana aku dan dia duduk sangat rapat pada wadah besar berbentuk cawan jepang, lalu kami merasakan debaran jantung dan berhisteria bersama saat bermain hysteria, tidak hanya itu, kami juga mencoba meraih boneka teddy berwarna coklat-pink yang jarang aku temui dan aku sangat menginginkannya-dan dia dengan sekuat tenaga meraih boneka itu untukku.

“Huaaahhh….Tuhan, kalau bukan karena yeoja yang aku cintai ini, aku tidak akan mau berdiri di depan game-doll dengan dikelilingi anak-anak cewek yang cerewet seperti tadi. Hahh…” keluhnya dengan suara lantang, membuatku tertawa mendengarnya.

Kalau diingat gimana ribetnya dia saat beberapa kali tak berhasil dan mendapat sorakan rebut dari segerombolan anak cewek usia enam tahunan yang memang mengantri ingin bermain setelahnya. Namun, karena belum berhasil, anak-anak itu semakin mengganggu Kyuhyun untuk mendapatkan boneka yang aku mau. Sampai saat dia berhasil, anak-anak itu langsung bertepuk tangan dan malah menyuruhnya mengambilkan boneka yang anak-anak itu inginkan. Kalau saja dia tidak menarikku kabur, mungkin kini dia sudah mabuk karena memancing delapan boneka sesuai keinginan anak-anak tadi. Hahaha… kasihan juga dia.

Dan kini, kita beristirahat didalam bianglala. Dia masih berkeluh tak karuan. Kepalanya sudah berpangku di pahaku. Kaki panjangnya dia tekuk dan membujur di sisi bangku yang ada di hadapan kami. Sedangkan aku duduk sambil mengusap-usap rambutnya yang sedikit berpeluh. Melihat peluh itu, aku berinisiatif meniup-niupnya.

“Hahh… ya, seperti itu, sayang. Aku suka. Rasanya sangat sejuk…”

“Baiklah…” balasku dan kemudian meneruskan kegiatanku.

Enam jam. Benr kata orang-orang, saat kita berada di taman bermain, waktu pun tak terasa ludes disana. Bayangin, kami baru masuk rumah tepat pukul Sembilan malam. Padahal kami berangkat kesana pas pukul tiga sore. Hah…

“Yah! Hati-hati, sayang…” kata Kyuhyun-oppa saat aku tersandung pada anak tangga kecil di perbatasan ruang tengah dan ruang depan.

Kami berpandangan takjub satu sama lain. Entah apa yang sedang kami pikirkan. Dia menahan tubuhku yang hampir limbung tadi. Posisi seperti ini membuatku bisa menatapnya. Benarkah dia suamiku? Andai aku tak lupa ingatan, pasti banyak hal manis lagi yang bisa kusimpan di otakku. Tapi… aku tetap bersyukur yang menjadi suamiku adalah Cho Kyuhyun.

“Oppa-ah…” gumamku tiba-tiba.

“Wae?” jawabnya berbisik. Kami masih belum bisa melepas tatapan ini.

“Aku tidak menyangka kau-“ ucapanku terputus kala dia menarik tubuhku untuk berdiri tegap dan mencium bibirku.

Chu~

Dia melumat setiap inci bibirku dengan hikmat. Dihisap dan dikulumnya lidahku saat dia berhasil meraih benda lunak itu. Aku pun mencoba menyamakan permainannya. Dan aku tak ingat lagi bagaimana cara Kyuhyun membawaku hingga saat ini yang kurasakan adalah kasur empuk berlapis katun lembut dan beraroma bunga yang sudah sering kuhirup. Aku tahu, kami sudah ada di atas ranjang yang biasanya kami pakai.

Kyuhyun mengangkat tubuhku hingga kini aku terduduk didepannya. Dengan cekatan, ditariknya kardingan yang masih kukenakan. Kemudian dia lanjut dengan melepas pakaian atasku hingga berakhir dengan bra yang belum terlepas. Dia kembali merebahkanku dan menciumku. Beberapa lama kam hanyut dalam French kiss yang kami lakukan. Aku pun tak tinggal diam. Kutarik kaos yang masih dia kenakan kearah atas. Mengerti akan apa yang kulakukan, dia pun meloloskan tangannya dari kaos yang kutarik. Lalu dia kembali menyerang bibirku. Rasanya tidak akan pernah bosan jika kami melakukan hal ini berulang kali.

Kurasakan kedua tangannya mengusap lembut permukaan dadaku yang menyembul. Rasanya geli. Ingin aku mendesah, tapi mulutku masih tertutup oleh ciuman panas kami. Aku hanya bisa memejamkan mata, menahan sengatan listrik yang tiba-tiba menjalari tubuhku saat bagian bawah kami bergesekan dan saling menekan.

‘hhmmm… ah… ooppp…aaahh…’ kini desahanku berhasil lolos kala dia menggigit kulit leherku. Aku yakin, akan banyak tanda kemerahan yang akan dia buat disana.

Bekas jahitan di perutku sudah kering, itu membuatnya berani melakukan hal ini padaku. Aku juga sadar, aku menginginkannya. Intinya, saat ini kami sama sama menginginkan.

Aku terhanyut dalam semua sentuhannya. Desahan-desahan aneh pun mulai aku lontarkan tak karuan. Hah… kulumannya di puncak dadaku sangat hangat dan nikmat. Bahkan sesekali dia menggigit regang bagian tersebut. Sedangkan aku? Aku hanya bisa mengerang dan meremas bahunya. Terkadang kujambak pelan rambutnya kala aku menekan kepalanya agar lebih dalam lagi menjamah dadaku.

‘Ahhkkk…!’ aku tersentak hebat saat kurasakan jemarinya meraba naik-turun bagian sensitifku. ‘Ouugghh… oppaaahh… aaaaaaaaaaahhhhhhh….’ kini aku menjerit. Kurasakan deruan nafasnya dibawah sana, beriringan dengan lidahnya yang aktif menyesap titik kecil tersensitif disana. Nikmat, enak, dan benar-benar membuatku menggila.

Aku hanya bisa buka-tutup mata menahan kenikmatan yang sudah diambang puncak. Walau tak kulihat, tapi aku merasakannya dengan jelas. Lidahnya sangat lihai bermain didaerah itu. Kecupan, jilatan, dan sesapan dia laksanakan secara perlahan, namun sangat kuat.

‘Ahhkk… oppaahh akkuh…. ahhkk…’

Aku mengerang menahan segala nikmat yang menjalari tubuhku. Satu jarinya tengah bekerja keluar-masuk dibawah sana. Perlahan jari itu bertambah dan bergerak semakin cepat. sedangkan wajahnya masih terbenam dibawah sana guna mengulum permukaan sekitarnya. Inikah nikmatnya surga yang tak bisa dikalahkan oleh nikmat apapun?

Tak kuat. Aku tak kuat. Ada sesuatu yang mendorongku untuk mengeluarkannya. Namun ada satu kenikmatan besar kala aku menahannya, meresapi pergerakan cepat yang dilakukan suamiku disana. Kutahan sesaat dan detik berikutnya aku tersengal lengah setelah cairan orgasme pertamaku meluncur deras.

‘Ahh… ahh… hhkkh… ooohhhkkpaaaaahhh…. uughhh…’ aku maracaU tak karuan karena daerah bawahku masih dikuasainya. Lidahnya menjilati bagian berlumur cairan tadi.

Aku baru bisa bernafas lega setelah dia kembali mensejajari diri denganku. Tanganku yang ada di dalam selimut perlahan meraba pahanya dan meremas benda pusaka supernya, saat aku menemukan benda itu.

‘Aaaaaakkkkhhh…..!’ erangnya yang kini tengah mendongakkan wajah keatas. Aku menyeringai melihat wajah hornynya. Kau lihat oppa, aku juga bisa melakukannya?

Kuremas dan kukocok benda itu berkali-kali dengan tempo berubah-ubah. Kadang kupercepat lima kali lipat, kadang kupercepat dua kali lipat. Kucubit ujung bendanya. ‘OOuuugghhh…..’ benar saja, dia mendesah histeris.

“Cukuph sayangh… akuh tak kuath…” ujarnya ditengah desahan gilanya. Tak kudengar tegurannya itu hingga dia sendiri yang meraih tanganku dan memisahkannya dari benda tersebut.

Padahal sedikit lagi dia akan mendapatkan nikmat yang tadi kurasakan. Aku tahu benda itu sudah menegang dan membesar kokoh.

Kyuhyun sudah berada di atasku. Kedua tangannya ada di sisi kepalaku, menyangga tubuhnya agar tak menindihku. Keringatnya benar-benar membuatnya sexy. Satu lagi yang kuharapkan: semoga hanya aku yang bisa melihat sosoknya seperti saat ini.

Kutangkup wajahnya sambil memberinya senyum. Kuusap peluh diwajah putihnya itu.

“Saranghae” bisiknya.

“Na do sar-” perkataanku terhenti karena bendanya yang sudah menegang tadi itu mendesak masuk kedalam organ intimku.

“Akkkhhhh….” kini aku menjerit kala dia menghentak-hentakkan benda kokohnya di permukaan dinding rahimku. ‘aahhkk… oouuhhk…. oopppaahhh… iniih nikmathh… oohhh…’ racauku sambil bergerak naik turun-berlawanan dengan gerakannya. Sungguh ini benar-benar hal yang membuat siapapun menggila menikmatinya.

“OOuugghh chagiie—ah… kauu nikmatthh…. aagghh… hhkkhhh… hhaahh haahh…” desahannya selalu membuatku semakin bergairah seiring dengan pergerakan badan kami yang semakin cepat.

BUG!

‘Ahhkkk…’ dia menghantam organ intimku dengan hentakan kuat dan keras hingga aku mendapatkan orgasmeku yang ke dua. Tidak lama kemudian, dia menyusulku. Kami ambruk diposisi yang sama.

“Gomawo chagie~” chup*

Aku tersneyum dengan mata yang masih tertutup kala dia mengecup dahiku.

“Oppa, apa yang kau-aakkhh…”

“Aku sangat menginginkanmu malam ini, sayang…” ujarnya sambil tetap menggerakkan tubuhnya, membuat tubuhku kembali bereaksi.

Oh Tuhan, dia melanjutkannya lagi, lagi, dan lagi. Aahh… aku juga sudah menggila karenanya. Entah sampai kapan lagi kenikmatan ini berlanjut. Kata ‘berakhir’ pun kian menjauh dalam kegiatan ini.

Saranghae Kyuhyun-ah… jongmal saranghae….

Aku terbangun saat merasakan hawa dingin yang menusuk tulang-tulangku. Bergerak sedikit untuk menarik selimutku dan membuat tubuhku semakin masuk. Namun, usahaku terhenti saat kurasakan sepasang tangan bergelayut kuat di tubuhku. Dadaku pun terasa hangat oleh sapuan nafasnya. Seketika aku membuka mata dan mencoba menyadari diri kembali. Oh benar saja, semalam kami…

Dengan sigap kusibakkan selimut ini sedikit. Kulihat wajahnya terlelap nyaman di dadaku. Tak kuasa membuatnya bangun, kurengkuh dan kukecup keningnya. “Saranghae, Cho Kyuhyun…” bisikku, tepat di telinganya. Dia tak menjawab, namun kurasakan pelukannya semakin erat.

“Kau mau kemana, chagie~” tanyanya yang baru saja berhasil mencegahku melangkah menuju pintu keluar dengan memelukku dari belakang. Dia masih mengenakan piyamanya, sedangkan aku sudah memakai baju rapi karena sebelumnya aku sempat membersihkan diri kala dia masih terlelap.

“Aku mau beli sesuatu untuk kita makan di supermarket depan, oppa.” Jawabku. Bayangkan, saking senangnya bermain, kami lupa belanja kebutuhan pangan, saat kemarin.

Dia melepas pelukannya. Kemudian membalikkan tubuhku dan menangkup bahuku. “Baiklah, ayo aku antar!”ujarnya sambil menarik tangan kiriku.

“Tidak usah oppa. Aku jalan kaki saja. Tokonya dekat, bukan?” dengan halus kulepas tangannya yang mencekalku.

“Tap-“

“Lebih baik oppa mandi dulu, oke?” potongku dan langsung memberi kecupan pada bibirnya sebelum akhirnya aku berhasil melesat keluar.

Aku sudah selesai membeli bahan masakan. Hari ini aku ingin memasak daging panggang barbeque kesukaan suamiku. Aahh… ini adalah weekend yang indah.

“Hai nona, rupanya anda masih hidup yah?, ck!”

Aku berhenti saat mendengar ucapan itu. Kutolehkan pandanganku dan kudapati seorang wanita dengan rupa yang membuatku takut. Padahal dia lebih pendek dariku. Sungguh, dia terlihat layaknya wanita super dewasa dengan lipstick gelap di bibirnya.

Tunggu, apa tadi itu dia berkata padaku? Kenapa dia jalan mendekatiku? Aku berbalik melihat keadaan dibelakangku, memastikan ada atau tidaknya seseorang selain aku.

Sial! Ini sangat sepi.

Berarti yang tadi dia katakana itu…. untukku?

“…” aku tak menjawab dan mulai mengambil langkah mundur. Aku takut. Sungguh.

“Eoh, apa kehadiranku sangat mengejutkan?”

“…” aku terdiam, tak menjawabnya. Pita suaraku kelu saking takutnya. Dia masih berjalan lunglai mendekatiku, sedangkan aku tetap melangkah mundur, perlahan.

“HaHaHa! Yeoja bodoh!” umpatnya.

“…” tetap, aku tetap tak bersua. Tubuhku mulai gemetar. Kyuhyun-ah… oppa… bantu aku…

“CK! KALAU AKU TAK DAPATKAN, KAU JUGA TIDAK AKAN KUBIARKAN! LEBIH BAIK KAU MATI SAJA!!!”

BRUUKK!

Belanjaan yang kubawa sontak terlepas dari tanganku setelah ucapannya itu. Tak dapatkan? Apa maksudnya…

“Aaaaaa…………..”

Tuhan, wanita seram itu mendorongku. Kenapa kau biarkan jurang ini ada dibelakangku?? Dia mendorongku dan aku…

Tuhan, lindungilah aku.

DUG!




-Part 3 END-



Next?
Then, give your comment about this part…
Jusaeyyoo…. ^^
.
😀

😀

***

145 thoughts on “[SERIES] MY HURTNESS – 3

  1. Padahal dari awal sampe hampir ending kyuyoungnya sweet banget..
    Eh.. Ending nya ada yg gangguin soo..
    Smoga soo ga kenapa2..

  2. Pingback: [SERIES] MY HURTNESS – 4END | Fatminho On Fanfiction

  3. masih ganggu aja tuh nenek lampir -___- gue jambak beneran entar lo…

    kesel bacanya liat adegan vict sma soo eon

  4. Waduh!
    Knp hrs ada jurang dibelakang soo, kan didorong jd langsung nyemplung. Pdhl kehidupan mereka yg baru tuh lg happy2nya. Pengantin baruuuu.. Kekeke….
    Lanjut ya ke part 4
    gumawo…

  5. siapa? victoriakah?
    dasar nenek lampir.. hubingan merka sudah mulai harmonis kau muncul nenek lampir.. euhhhh

Gomawo^^ You are the best Visitor, So Give Comments After You Read It.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s