[SERIES] MY HURTNESS – 4END

my hurttn

Tittle : My Hurtness
Author : Fatminho
Genre : Married Life, Sad, Romance.
Length : Series
Rated : PG 17+
Main cast : Cho Kyuhyun – Choi Sooyoung

Disclaimer : This plot is main.

Note:

Hello knight_deul!

Akhirnya… selesai juga part terakhir ini.

huufftt -_-
Maaf ya jd kelamaan nge-post ff yang satu ini.

Well, have a nice time by this story…

😀

My Hurtness 1 | My Hurtness 2 | My Hurtness 3

***

“Just Two Choice: Make you smile with happiness Or Death”

***


Kejadian yang dialami Sooyoung kemarin sore membuat Kyuhyun cukup frustasi. Bagaimana tidak, saat hatinya di penuhi bunga mawar, tiba-tiba bunga itu hanyut terbawa arus. Seorang tetangga datang kepadanya dan mengabarkan bahwa Sooyoung, istri yang sangat dicintainya, terjatuh di jurang dengan ketinggian satu meter. Memang, ukuran itu tidaklah tinggi, tapi tetap saja berbahaya karena banyaknya batu-batuan cukup besar yang bertebaran. Saat mendengar kabar tersebut, Kyuhyun langsung meraih kunci mobil dan segera pergi menuju rumah sakit tempat Sooyoung dirawat saat ini.

Flashback

Setelah memastikan keadaan Sooyoung, Kyuhyun kembali pergi dan mengunjungi tempat kejadian. Ternyata tempat itu sudah kosong dan tak ada lagi keramaian seperti layaknya terjadi kecelakaan. Namun, saat dia hendak pergi, sorang polisi menyapanya.

“Chogyo! Apakah anda menyaksikan kecelakaan tadi?” tanyanya.

“Tidak. Saya tidak menyaksikan kecelakaan yang menimpa istri saya.” Jawab Kyu yang membuat sang polisi sedikit terperanjat.

“Nona itu istri anda?” Kyuhyun mengangguk. “Lalu, bagaimana keadaannya? Apakah terjadi luka yang parah?” Kyuhyun menggeleng.

“Tidak. Hanya saja terjadi benturan di bagian kepalanya.”

“Saya mengerti. Mungkin suatu waktu, kami akan memerlukan keterangan anda lebih lanjut. Maaf jika saya mengganggu waktu anda. Tadi saya bertugas untuk membawa pelaku pembunuhan berencana yang dilakukan oleh saudari Victoria Song. Setelah diperiksa, ternyata pelaku tersebut positif mengalami gangguan jiwa.-“

“APA?” cetus Kyuhyun tiba-tiba karena kaget menndengar pernyataan tersebut.

“Ya, Nona Victoria mengalami gangguan jiwa. Maka dari itu, hukuman akan berjalan setelah adanya pemulihan kesadaran darinya.”

Kyuhyun mengangguk, “Ya, Terima kasih, pak, atas kerjasamanya. Mohon kasus ini di tuntaskan segera!”

“Shhiitt!!! Bagaimana mungkin yeoja gila itu menggangguku lagi?!” umpat geram Kyuhyun.

Flashback End

Saat ini Kyuhyun sedang duduk di ruang tunggu. Sooyoung sudah terbaring lemah di dalam ICU. Setelah kejadian itu, Kyuhyun segera mengabarkan keluarga di Seoul. Dan benar, mereka semua datang. Keluarga Choi dan keluarganya datang bersamaan dengan segala rasa khawatirnya.

“Kyuhyun-ah, kita tidak bisa membiarkan keadaan Sooyoung seperti ini terus. Kami ingin membawanya kembali ke Seoul. Biarkan dia dirawat di pavilion keluarga. Tolong ijinkan kami membawanya…” pinta Ny.Choi, masih dengan tangisannya.

Kyuhyun memandang wajah sedih mertuanya tersebut. Dia bingung harus memutuskan apa. Di satu sisi, dia ingin Sooyoung mendapat perawatan yang lebih menjamin yang didapat di Seoul. Namun, disisi lain dia takut jika kembali ke Seoul, bayangan pahit masa lalu akan mengitari pikiran Sooyoung. Yah… walau dia tahu jika selama di busan ingatan Sooyoung dalam keadaan ngambang, tapi kembali ke Seoul lebih bisa membuatnya khawatir akan ingatan masa lalu. Jujur, Kyuhyun hanya khawatir jika Sooyoung akan menolaknya dan memintanya pergi.

“Cho Kyuhyun, kau harus memikirkan yang terbaik dan jangan hanya memikirkan perasaanmu. Ingat itu! Sadarlah, kau adalah putraku!” tegas Tuan Cho, ayah Kyuhyun.

“Abeoji…” suara Kyuhyun bergetar. Benar kata beliau, Kyuhyun tidak boleh egois. “Baiklah, aku mengijinkannya. Ayo bawa Sooyoung kembali ke Seoul. Aku tak masalah dengan tugas kantorku disini. Aku rela pulang-pergi Busan ke Seoul asalkan istriku mendapat penanganan yang memadai.” Putus Kyuhyun yang bisa membuat keluarganya lega.

Malam itu juga Sooyoung dibawa kembali ke Seoul dan mendapat penanganan lebih intensif disana. Kyuhyun tak akan sanggup meninggalkan istrinya sendiri. Walau dalam keadaan istrinya yang tak sadar sekali pun. Sepanjang malam dia menatap wajah lelah Sooyoung. Tangannya pun tetap menggenggam erat telapak tangan Sooyoung. Sesekali dia hirup aroma kulit tangan yang digenggamnya tersebut.

“Sayang… cepatlah sadar…” lirihnya. “Maafkan aku… maafkan aku…” kini dia mengecup punggung tangan istrinya. “Maaf telah membuatmu celaka lagi…” tangisan Kyuhyun semakin pecah. “Maafkan aku Soo-ah…” ucapnya lagi. “Percayalah… aku sangat mencintaimu. Jangan siksa aku seperti ini sayang…” Kyuhyun mengecupi punggung tangan istrinya terus-menerus. Bahkan air matanya pun menetes ke kulit tangan istrinya.

Lama Kyuhyun berkeluh-kesah tanpa tanggapan. Sampai akhirnya, saat pagi tiba, Sojin dan Ny.Choi menemukan Kyuhyun tertidur di kursi sebelah ranjang Sooyoung dengan kepala bersandar di ranjang tersebut.

“Kyu-ah… bangunlah. Kyu…” suara Ny.Choi terdengar lembut ditelinga Kyuhyun. Sedikit demi sedikit, matanya mulai terbuka dan akhirnya dia terbangun. Keadaannya sangat mengenaskan. Kemeja yang sudah lusuh itu masih bertengger di badannya. Wajah pucatnya kini terlihat semakin pucat, bahkan terkesan mengkhawatirkan. Itu semua membuat Ny.Choi dan Sojin cukup terenyuh melihat kenelangsaan suami Sooyoung saat ini.

“Kau harus istirahat Kyu. Pulang dan berbenahlah terlebih dahulu. Biarkan eomma dan Sojin yang menjaga Sooyoung pagi ini.” saran Ny.Choi membuat Kyuhyun menegang dan menumpahkan air mata kembali. Meninggalkan seorang yang dicintai dalam keadaan yang masih mengkhawatirkan seperti ini? bodohkah dia?

Kyuhyun menggeleng. “Gwenchana eommanim… aku akan tetap disini sampai Sooyoung tersadar. Aku tak bisa meninggalkannya. Eomma mengerti perasaanku saat ini, kan?” ucapnya setengah terisak.

“Tapi Kyu, kau pun harus menjaga kondisi badanmu. Dua hari tidak mandi, apakah masih pantas dikatakan sehat? Kalau kau sakit, siapa yang akan menjadi kekuatan untuk adikku, eoh?!” protes Sojin.

“Noona, aku-“

“Pulanglah Kyu! Berbenah diri tidak memerlukan waktu lama, bukan? Setelah itu kau bisa kembali lagi kemari. Bukankah itu lebih baik?” potong Ny. Choi.

Kyuhyun terdiam sejenak, seakan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan dia temui. Namun akhirnya dia mendesah berat dan mengangguk pelan. “Baiklah, aku akan kembali sebentar lagi. Aku mohon, jagalah Sooyoung-ku baik-baik.” Ucapnya, membuat Sojin terkekeh kecil.

“Aigoo… Adik iparku sudah memonopoli adikku rupanya. Mckmckmck… aku tak sangka kau mencintai Sooyoungie sampai sebegininya. Jujur, aku bangga padamu.” Ucap Sojin sambil menepuk-nepuk bahu Kyuhyun. “Geurae, percayalah pada kami. ‘Sooyoung-mu’ akan baik-baik saja. Jadi, cepatlah bereskan dirimu dulu!” titahnya.

Kyuhyun mengangguk ditengah senyum kakunya. “Ya, gamshamidha noona-ya… eomma-ya…” dua orang itu mengangguk, “Aku akan segera kembali”

Kyuhyun pun pulang dan memberesi dirinya. Dia mandi secepat yang dia bisa. Memakai pakaian yang dia rasa paling simple dan tidak perlu waktu lama untuk menata penampilannya.

Dengan Polo T-Shirt warna biru bermotif angka 10 di lengan kirinya, dia mempercepat langkah kakinya untuk segera ke rumah sakit kembali. Kedua orang tuanya sedang ada tugas di luar kota, membuat Ahra, sang kakak, mengikuti adiknya tersebut. Bahkan dia yang mengendalikan setir mobil saat ini. Jika Kyuhyun dibiarkan membawa mobil, bisa kacau jalanan di pusat kota nanti. Situasi hatinya saja sudah berantakan begitu, pastilah otaknya pun tak dapat fokus.

Di rumah sakit, Sooyoung masih tak sadarkan diri. Kyuhyun dan Ahra masuk ke pavilion Sooyoung dan mendapati Ny.Choi sedang mengelap punggung tangan putrinya yang tak berdaya itu. Seketika pemandangan itu membuat Kyuhyun jengah. Bukan bagaimana, ekor matanya menyadari adanya pergerakan kecil dari beberapa jemari Sooyoung.

“Eommanim…” ujar Kyuhyun yang langsung berjalan mendekati Sooyoung, membuat mertuanya terkesiap. Begitu juga dengan Sojin yang sudah terbangun dari pebaringannya di atas sofa.

Ny.Choi memandang menantunya bingung. Dia memilih mengikuti arah pandangan mata Kyuhyun. Seketika matanya membulat. Benar, apa yang mereka lihat adalah nyata adanya. Jemari Sooyoung sebelah kiri, yang tidak sedang dipegang oleh Ny.Cho, bergerak perlahan. Bukankah itu tanda-tanda adanya harapan yang sangat baik?

Sojin langsung menekan tombol gawat-darurat yang ada di dinding dekat selang infuse.

Tidak lama kemudian, pasukan berjubah putih memasuki ruang rawat Sooyoung. Seorang dokter langsung maju dan memeriksa keadaan Sooyoung. Jemarinya, urat nadi di sisi lehernya, detakan jantungnya, sampai akhirnya mereka dapati kedua mata Sooyoung bergerak perlahan.

“Nona Choi, apa anda bisa mendengar suara saya?” tanya dokter, merangsang kepekaan jiwa dan otak pasiennya. Walau terdengar samar, Sooyoung tetap berusaha memberikan respon. Dia mengangguk pelan sambil tetap menggerakkan kedua bola matanya. “Apakah anda mendapati apa yang anda lihat saat ini?” Sooyoung mengangguk pelan dan air matanya menetes perlahan.

Tangan Sooyoung menyentuh perutnya. Tangisannya tambah keras. Semua ingatannya kembali pulih. Satu yang dia sesalkan: ternyata yang terjadi beberapa bulan kemarin bukan sekadar mimpi. Dia ingat bagaimana dan apa yang terjadi pada dirinya kala itu.

Mengerti akan kondisi Sooyoung, Kyuhyun semakin takut mendekat. Namun dia juga ingin untuk mendekat. Dengan penuh keberanian, dia melangkah mendekati Sooyoung. Secara refleks orang-orang yang menghalangi jalannya mundur beberapa langkah agar dia bisa berhadapan degan istrinya. tangannya bergetar dan hendak menyentuh tangan Sooyoung. Sontak kedua mata Sooyoung menghadap padanya. Tatapan Sooyoung sangat dingin dan tajam. Bahkan bibirnya sudah mengatup geram menahan emosi yang meluap di dadanya.

“Soo-ah…” sapa Kyuhyun yang sudah mulai terisak.

“JANGAN MENDEKAT!!” teriak Sooyoung. Suaranya seperti orang kesurupan, membuat pasukan perawat dan dokternya meju menuju setiap sisi sudut ranjangnya. Kyuhyun menangis dan tetap berusaha menggapai tangan istrinya.

“JANGAN SENTUH!!” cegah histerisnya lagi saat Kyuhyun tetap berusaha menggapai dirinya. “JANGAN… JANGAN MUNCUL DI HADAPANKU!!!” tambahnya. “PERGI!!!” kali ini hati Kyuhyun benar-benar terhujam ribuan bilah tajam.

Puluhan, bahkan ratusan buliran air mata terjun dengan mudahnya di wajah Kyuhyun. Dia tak berani bergerak mendekat lagi. Dia takut Sooyoung akan semakin menderita.

“Hiks… dia hilang… hiks… dia hilang…” racau Soo di tengah isakannya. Kedua tangannya sudah menekan perutnya yang baru dia sadari telah kembali datar. Bukankah sebelumnya perut itu berisi malaikat muda?

“Mianhae… mianhae…mian-” gumam Kyuhyun masih dengan isak tangisan sesalnya.

Sontak kepala Sooyoung mendongak kearahnya. Tatapan kedua mata Soo sangatlah tajam dan menusuk. Kemudian dia mengangkat kedua tangannya untuk menutupi telinganya. “STOP!!! JANGAN KATAKAN LAGI, TAK AKAN ADA YANG BERUBAH! LEBIH BAIK KAU PERGI!!” histerisnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“…” Kyuhyun bungkam. Oh tuhan… bahkan bergerak pun dia sangat berat. Apa itu semua karena dosanya?

Keluarga di sekeliling mereka pun hanya bisa tercengang dan ternganga dengan apa yang mereka saksikan. Ada apa sebenarnya? Harus dengan siapa mereka menanyakan apa yang terjadi dengan mereka berdua? Tidakkah semuanya baik-baik saja?

“AKU BILANG PERGI!!!” teriak Sooyoung lagi, membuat Ahra dan Sojin meraih tangan Kyuhyun satu-satu. Dari genggaman tangan itu mereka berdua meminta Kyuhyun pasrah sementara waktu.

Kyuhyun melepas kedua tangan yang menahan tangannya. “YA, AKU AKAN PERGI, KAU PUAS???!!!” Emosi Kyuhyun mencuat. Dia berjalan gusar kearah pintu dan keluar.

DBUUMM!!

Pintu tertutup keras hingga suara debumannya terdengar. Ahra mengikuti Kyuhyun. Sedangkan Ny.Choi dan Sojin masih ada di tempat.

“Hiks…hikss…hikss… nappeun namja! Nappeun nampyeon!! Nappeun… nappeun… nappeun..! Nappeun Sarangh!!!”

Tangisan Sooyoung semakin menjadi. Kejiwaannya menjadi kacau dan hancur. Perawat yang sudah siap di dekatnya pun langsung menyiapkan suntikan obat penenang dan dialirkan melalui selang infuse.

Tidak lama kemudian, pandnagan Sooyoung semakin buram dan lama kelamaan menggelap. Kini dia sudah terlelap dibawah naungan obat penengan yang diberikan oleh pihak rumah sakit.

Tiga hari setelah itu, Sooyoung diperbolehkan pulang ke rumah. Dia di jemput oleh Sojin dan kedua orang tuanya. Walau belum mengerti latar belakang hubungan Kyuyoung di balik pandangan mata keluarga, tapi pihak keluarga Kyuyoung tetap menyelidikinya secara perlahan.

Sikap Sooyoung berubah drastic. Dia menjadi pendiam dan hanya menyahut dengan dua kata saja. Ya dan Tidak. Bahkan lebih sering mengangguk atau menggeleng. Jika dia sedang tak ingin bicara, dia hanya tersenyum hambar.

Kini Sooyoung sedang duduk di kursi santai dekat kolam renang belakang rumahnya. Kedua matanya tertuju lurus pada air gelap disana. Lampu penerangan saat ini berwarna kuning. Pun hanya lampu taman yang terdapat didalam gubuk buatan berukuran kecil di setiap sudut taman belakang. Jadi mala mini, Soo hanya ditemani dengan cahaya rembulan yang tampak separuh lingkaran di atas sana. Bahkan bintang-bintang pun kali ini setuju dengan situasi hatinya. Hampa. Tak ada satu pun yang muncul mengelilingi sang rembulan.

“Soo, kenapa kau diam saja? Yuk makan malam dulu…” ajak Ny.Choi.

Sooyoung menoleh dan tersenyum. Perlahan dia menggeleng. Ny.Choi paham akan perasaan putrinya satu ini. “Sayang, kau harus makan. Nanti kondisi badanmu semakin memburuk.” Ucap Ny.Choi yang masih berusaha membujuk putrinya. Lagi-lagi Sooyoung menoleh, tapi kini dia tak tersenyum. Dia terdiam datar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Eomma-ya…” serunya dengan suara bergetar, membuat Ny.Choi terenyuh dan langsung duduk didekatnya, merangkul bahunya. Saat itu juga dia langsung berhambur memeluk ibunya tersebut.

“Kenapa Soo? Ceritakan semua yang terjadi sama eomma… kau tahu, kami semua tak mengerti apapun dengan situasi pernikahan kalian?” tanya Ny.Choi pelan sambil membelai rambut putrinya.

“Aku dan Oppa….”

Sooyoung menceritakan semuanya. Seketika wajah Ny.Choi menjadi buram dan hujan. Dia tak menyangka cobaan batin yang dihadapi putrinya sangatlah berat. Namun saat ini, setelah mendengar cerita menyesakkan tersebut, beliau baru bisa menyimpulkan yang terjadi selama ini dengan putrinya. Memang hubungan masa lalu itu sangatlah pahit, tapi bukankah penjelasan Kyuhyun saat Sooyoung lupa ingatan kemarin sudah cukup jelas? Tidakkah Sooyoung berpikir bahwa Kyuhyun sudah bisa mencintainya?

“Sayang… eomma yakin, suamimu sangat mencintaimu saat ini.”

Mendengar hal tersebut, Sooyoung melepas pelukannya dan mendongak melihat wajah ibunya. Dia memandang sosok yang dipercaya olehnya selama ini. “Aku sudah mengusirnya…” suara Soo semakin bergetar dan kini dia menangis lagi.

Benar, mengapa begini pahit kisah pernikahan yang dia lalui…???

Keluarga Cho dan keluarga Choi sedang berkumpul di salah satu resto keluarga langganan mereka. tampak kedua orang tua dua keluarga tersebut. Kali ini hanya mereka berempat, tanpa anak mereka satu pun. Mereka ingin membicarakan segalanya yang terjadi di dalam pernikahan muda anak mereka tersebut.

“Ini sangat mengejutkan. Mau marah, tapi mau bagaimana lagi?” cetus Tuan Cho setelah mendengar semua penjelasan dari Ny.Choi mengenai rumah tangga anak mereka. “Atas nama Kyuhyun, kami meminta maaf pada kalian, selaku orang tua Sooyoung. Sungguh, kami tak pernah mendidik putra kami sebejat itu. Namun, kami masih ingin hubungan mereka di pertahankan.” Tambah Tuan Cho yang mendapat anggukan kepala dari istrinya, Ny.Cho.

“Benar. Lagi pula, bukankah saat ini mereka berdua sudah saling mencintai?” ucap Ny.Cho

Orangtua Sooyoung tampak saling adu pandang, menyamakan pendapat mereka lewat tatapan tersebut. “Kami juga menginginkan anak kita bersama…” lirih Ny.Choi.

“Hanya mereka berdua yang tahu mana yang terbaik.” Tambah Tuan Cho.

“Masalahnya saat ini, kami belum menemukan sosok Kyuhyun. Sejak hari itu, kami langsung kembali ke sini dan sudah mendapat kabar hilangnya Kyuhyun.” Kata Ny.Cho, membuat paras orangtua Sooyoung menjadi tegang kembali. Berita apa ini?

“Kami sudah menggerakkan orang kepercayaan kami untuk mencarinya.” Tambah Tuan.Cho.

Sooyoung terduduk diatas ranjangnya, bersandar pada dashboard empuk disana. Pandangan matanya kosong dan pikirannya pun tak menentu. Terkadang cairan bening menetes lancar ke pipinya. Yang dia rasakan saat ini adalah rasa sesal.

Flashback

“Bisakah kau jelaskan semuanya?” pinta Sooyoung dengan nada memohon.

“Kau akan membenciku jika kau-“

Sooyoung menangkup pipi kiri suaminya dan tersenyum. “Anniya oppa. Bagaimana pun kejadian yang sebenarnya, terselip pengkhianatan pun tak masalah bagiku. Karena saat ini, sorot matamu selalu memancarkan ribuan kasih sayangmu kepadaku. Aku percaya dengan suamiku…” ucap Soo yang membuat Kyuhyun sedikit merinding saking bahagianya.

Kyuhyun menangkap tangan Sooyoung dan mengecupnya. Dia menggeleng pelan sambil menatap mata Soo, “Aku tidak mengkhianatimu, sayang. Saat itu, ketika aku hendak bertemu teman bisnis dan menyelesaikan pekerjaanku, aku teringat akan dirimu dan calon anakku.” Kedua mata Kyuhyun mulai memerah. Mengingat masa-masa itu sungguh membuatnya sesak. “Walau awalnya aku tak menyukaimu, tapi aku merasa jatuh cinta saat kau mengandung anakku. Aku begitu mencintai kalian. Sungguh…” melihat Kyuhyun mulai menangis, Sooyoung ikut bergetar dengan mata yang memerah. “Saat aku ingin membelikan sesuatu untuk kalian, tiba-tiba seseorang mendekapku dari belakang. Aku susah bernafas dan akhirnya belajaanku terjatuh karena aku meronta-ronta untuk dilepas. Tidak lama setelah itu, aku tak sadarkan diri lagi. Dan…” tangisan Kyuhyun semakin menjadi, Sooyoung menangkup kedua bahunya dan membimbing untuk bersandar di dada Sooyoung. Dibelainya rambut Kyuhyun dengan lembut. Sooyoung ingin memberi ketenangan untuk suaminya. Bukankah dia sudah berjanji, bagaimanapun latar belakangnya, dia akan tetap mempercayai Kyuhyun?

“Lanjutkan oppa…” pintanya.

Kyuhyun merasa tak sanggup dan dia memelih memeluk istrinya dan menenggelamkan wajahnya di leher Sooyoung. “Tiba-tiba kau menyiramku dan aku terbangun. Namun, kau meninggalkanku karena kau melihat seseorang tanpa busana disebelahku.” Ucapnya sambil mengeratkan pelukan di tubuh Soo. Dia takut Sooyoung kaget dengan ceritanya dan melepasnya seperti saat itu. “Sungguh, aku tak tahu apa yang terjadi. Yang jelas, aku dijebak Soo… aku dijebak agar kau-“

“Sudah oppa… jangan dilanjutkan jika kau tak sanggup. Aku bisa membayangkannya sendiri…” putus Soo yang sudah mendekap suaminya yang merasa bersalah itu. Sooyoung tak ingin membuat tangisan Kyuhyun semakin menjadi karena harus menceritakan hal yang sangat menyakitkan tersebut. Disinilah dia berpikir bahwa kejadian itu membuatnya lebih mengetahui perasaan Kyuhyun kepadanya.

“Kau harus percaya dengan perasaanku Soo… sungguh, aku sangat-“

Ucapan Kyuhyun terputus karena merasakan kepala Sooyoung mengangguk cepat dan mantap. Disamping itu, dekapan Soo pun terlepas perlahan. Tangannya menangkup wajah Soo untuk membersihkan air mata yang ada disana.

Sooyoung terharu melihat wajah suaminya saat ini. dengan tangan gemetar, dihapusnya air mata Kyuhyun dengan tangan kanannya. “Aku percaya dengan perasaanmu oppa… aku juga merasakan kenyamanan memeluk dan dipeluk olehmu. Aku tahu, sangat tahu bahwa kau mencintaiku. Sama seperti aku yang sangat mencintaimu.”

Sontak Kyuhyun mendekap erat tubuh Sooyoung. Dia berucap, “Gomawo… jongmal… kau sudah percaya dengan perasaanku dan aku juga berterima kasih karena kau mencintaiku.”

Sore hari di taman kota:

Kedua pasang kaki milik Kyuhyun dan Sooyoung terlihat melangkah bersamaan dan seirama mengelilingi taman kota. Sepatu kets yang mereka pakai sama. Training putih panjang pasangan dengan atasan Biru dan Pink, membuat Kyuhyun dan Sooyoung semakin semangat. Bahkan rasa semangat mereka bisa dilihat secara langsung dari ekspresi bahagia di wajah mereka. benar, mereka terlihat seperti remaja belasan tahun yang baru menjali kencan pertamanya.

Kyuhyun menggenggam erat tangan Sooyoung.merasa tangannya digenggam erat, seperti sedang di remas, Sooyoung pun menoleh kearah Kyuhyun dan menatap heran suaminya tersebut. “Sakit, oppa!” bukannya melepas, Kyuhyun malah semakin meremasnya dan tertawa.

“Aku mencintai istriku….” teriak Kyuhyun tiba-tiba, membuat Sooyoung terdiam kaget.

“Oppa!” serunya.

“Wae?” tanya Kyuhyun dengan seringaiannya. Chup*

Kali ini wajah Sooyoung memanas. Bibirnya mendapat kiss dadakan yang dilakukan sang suami. Yang membuatnya heran adalah tempatnya. ‘taman yang sangat ramai’

“Ya~ aku tak mau pulang tanpa istriku. Mau sampai kapan kau berdiri disana sayang??” tanya Kyuhyun dari jarak sekian meter didepan Sooyoung.

Lagi-lagi wajah Sooyoung memerah karena aksi gila suaminya. Hei, ini taman kota. Apa dia lupa lokasi atau tidak mengerti sikon latar? Oh My… lihatlah lirikan-lirikan aneh orang-orang itu…

Pagi hari di dapur:

Grebb!

Tiba-tiba Kyuhyun memeluk tubuh Sooyoung dari belakang. Membuat pemilik tubuh itu tegang. “Oppa! Kau mengagetkanku saja!” omel Soo tanpa memberontak untuk dilepas. Jujur, dia juga suka saat Kyuhyun memeluknya. Persetan dengan cara dan arah seperti apa. Yang jelas, selama yang memeluknya adalah seorang Cho Kyuhyun, dia tak akan sanggup menolak.

Dengan mata terpejam dan pipi kiri bersandar pada leher Sooyoung, Kyuhyun berkata, “Siapa yang mengijinkanmu meninggalkanku, euhm? Bukankah aku pernah bilang bahwa saat aku membuka mata, kau harus ada di jarak pandangku?” Sooyoung tersenyum.

“Mianhae… aku hanya ingin membuatkanmu sarapan, oppa!”

“Aku ingin sarapan special darimu sekarang juga!” pinta Kyuhyun yang sudah menegakkan kepalanya dan membuka kedua matanya.

Sooyoungmenoleh dan menatapnya, “Maka dari itu, lepas pelukanmu! Aku akan mempercepat-“

“Shireo! Bukan itu maksudku yeobo~”

“Eoh? Jadi apa maksudmu?”

“Kissue!” jawab Kyuhyun dengan mantab.

Tanpa basa-basi lagi, Sooyoung berbalik dan mengecup singkat bibir Kyuhyun. Kemudian dia tersenyum malu. “Kenapa diam?” tanyanya heran.

“Sarapannya kurang enak. One more baby…” pinta Kyu dnegan aegyonya.

Kini, dengan terkekeh, Sooyoung mendaratkan bibirnya dibibir itu lagi. Dengan cepat, kedua tangan Kyuhyun beralih ke bahu Soo dan mendekapnya, sehingga ciuman mereka kali ini menjadi semakin dalam.

“Saranghae Ny.Cho!” ucap Kyuhyun setelah melepas long kiss time-nya. Kemudian dia berbalik dan meninggalkan Sooyoung yang mematung didapur sambil bersorak, “YA! Fighting for today!”Sooyoung terkekeh geli mendengarnya.

Malam hari saat Kyuhyun pulang kerja:

“I’m Home Yeobo~” serunya dari ruang depan, berharap ada sambutan langsung dari istrinya setelah itu. Namun sayang, jangankan sambutan, sahutan salam pun tidak terdengar adanya.

“Soo-ah… kau dimana?” cuap Kyu sambil melangkahkan kakinya yang sudah berasalkan sandal rumah itu menuju dapur dan meminum segelas air. Beberapa detik kemudian, tidak terdengar jawaban juga dari orang yang diharapkannya.

Tanpa berpikir panjang lagi, Kyuhyun langsung berlari menuju kamar. Dan benar saja, Sooyoung sudah terlelap. Saat itu juga Kyuhyun menghela nafas lega dan tersenyum sambil berjalan mendekati istrinya tersebut. Dia duduk disamping istrinya. jarak pandnag yang dekat dengan wajah lembut yang tengah terlelap itu sangat dekat. Membuat Kyuhyun menarik senyumnya lagi. “Maafkan aku yangmembuatmu lelah, Sayang. Sabarlah, jika proyekku berhasil nanti, aku akan mengangkatsatu asisten rumah tangga untuk membantumu. Bogoshippeo yeobo~ neumu saranghae…” Chu~

Tanpa Kyuhyun sadari, kini Sooyoung tersneyum menikmati kecupan hangat didahinya.

Flashback end

Air mata Sooyoung menetes satu per satu secara perlahan. Keadaan hatinya saat ini bagaikan cucian baju yang sedang diperas. Dia baru sadar kalau dia benar-benar bodoh, bahkan gila. Kenapa saat itu dia menjadi kasar dan marah pada suaminya tersebut? Tidakkah dia sudah berjanji apapun yang terjadi dia akan selalu percaya pada Kyuhyun?

Sooyoung’s POV

30 Desember 2013

Kupandangi kalender meja yang ada di atas nakas dekat ranjangku. Tanggal 25 Desember, hari natal, sudah berlalu lima hari yang lalu. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Hari istimewa itu berlalu dengan cepatnya. Namun, masihkah hari istimewa itu berlaku?

Peringatan satu tahun pernikahan kami, tapi…

Kenapa aku baru sadar sekarang? Neumu baboya kau Soo!

Setelah merasakan sesak karena mengingat kebodohanku tersebut, mataku langsung tertuju pada jaket wol berwarna pink yang sering kugunakan saat remaja dulu. Tanpa berpikir lagi, aku berjalan cepat dan merampas jaketku itu untuk kupakai. Setelah itu aku keluar kamar dan entah apa yang sedang aku pikirkan, yang jelas aku ingin segera kembali ke Busan. Aku ingin bertemu suamiku. Aku sangat merindukannya.

“Soo-ah, malam-malam begini kau mau kemana?”

Aku terpaksa menghentikan langkahku kala suara eomma mengintrupsiku. “Aku mau ke Busan sekarang juga, eomma…” jawabku. Kudapatkan wajah eomma menegang.

“Yah~ ini sudah malam, nak…” ucapnya. Jelas sekali paras khawatir di wajahnya.

“Tapi eomma, Kyuhyun-oppa-“

“Kau sudah memikirkannya?” potong eomma lagi. Aku mengangguk.

“Aku yang salah. Aku harus minta maaf dan menemaninya lagi eomma. Aku sangat merindukan suamiku. Sangat…” lirihku.

Eomma terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum. “Baiklah, eomma mendukungmu.” Ucapnya dan itu sangat membuatku bahagia. setidaknya ijin dari eomma adalah awal kemudahan yang diberikan Tuhan untukku. “Tunggulah sebentar lagi sayang. Sojin akan datang bersama suaminya untuk mengantarmu, ya?” lagi-lagi aku tersenyum lega. Bukankah ini kemudahan berikutnya yang Tuhan berikan?”

“Ya, eomma… terima kasih banyak eomma…” ucapku seraya memeluk eomma.

‘oppa… tunggulah aku…’

Setelah memakan waktu hampir dua jam, akhirnya kami sampai didepan rumahku. Ya Tuhan, sudah berapa lama aku tak melihat rumahku ini?

“Soo, selesaikanlah masalahmu dengan suamimu. Aku dan Hyang-oppa akan menginap di hotel saja. Jika ada apa-apa segeralah menghubungiku. Arra?” tegas Sojin-eonni.

Aku mengangguk sambil tersenyum. “Ya, eonni. Gomawo sudah mengantarku, eonni-ya, oppa-ya…”

“Nde Soo. Cheonma… salam sama Kyuhyun, ya.” ujar Hyang-oppa. Aku mengangguk.

Eonni dan Hyang-oppa sudah berlalu. Kini aku berbalik dan menatap lekat setiap sudut bangunan sederhana yang menyimpan ribuan kenangan manisku bersama Kyuhyun. Dengan langkah cepat dan jantung berdebar kencang, aku memasuki rumahku. Aku tersentak kala menyadari satu keanehan pertama yang kudapat. Pintu ini tidak terkunci, bahkan tidak tertutup rapat. Hei, apa Kyuhyun lupa menutupnya? Bukankah ini sudah pukul sebelas malam?

Dengan debaran hati yang tak menentu, kugerakkan gagang pintu dan membukanya secara perlahan. Benar, pasti telah terjadi sesuatu. Kenapa sangat berantakan?

Aku melangkah kearah ruang tamu. Didepan TV ada sepasang sofa putih yang biasa kami gunakan untuk bersantai kala Kyuhyun mendapat libur atau pun saat akhir pekan. Kulihat PSP yang biasa dia bawa kemana-mana itu tergeletak begitu saja disana. Ini adalah keanehan kedua. Apa dia tidak khawatir PSP-nya akan hilang jika digeletakkan begitu saja?

Kuraih benda kesayangan suamiku tersebut dan kembali melangkah menuju dapur. Lagi-lagi keanehan merambati benakku. Kenapa posisi gelas dan semua barang yang sempat kami gunakan masih tergeletak diatas meja? Dan lagi, kenapa rumah ini tidak dia bersihkan?

Saking penasaran dengan segala sesuatu yang kudapati disini, segera aku melangkah menuju kamar utama, kamar yang biasa kami gunakan. Aku sedikit tersentak melihat kondisi kamar ini. sama, benar-benar sama dan tak berubah sedikit pun. Selimut putih yang sudah berubah kelabu dan kotor. Aroma sex yang sama dengan malam itu. Apa boleh aku menduganya? Tidak mungkin oppa pergi dan tak kembali ke rumah ini. Jika iya, kemana dia pergi sebenarnya???

“Oppa… neo eodigayeo…” aku mulai menangis.

Kusambar lemari pakaiannya dan meraih piyamanya. Kuciumi benda berkain satin itu dan bisa kujamin siapa pemilik wangi ini. ini benar-benar wangi Kyuhyun.

Tuhan, kenapa jalan menuju kebahagiaan begitu sulit untuk kugapai?

Sooyoung’s POV end

Dua hari sudah Sojin dan Ahra menemani Sooyoung di rumahnya. Selama satu minggu terakhir, keluarga sudah dibuat khawatir oleh keberadaan Kyuhyun sebenarnya. Setelah kejadian di rumah sakit dulu, Kyuhyun sudah tak pernah meninggalkan jejaknya lagi. Satu pertanyaan besar yang membelit dibenak mereka semua: kemana sebenarnya Kyuhyun pergi?

Bip bip bipp

Ponsel Ahra bergetar, tanda pesan masuk. Segera diraihnya ponsel lima inch tersebut dan membuka pesan masuknya.

‘Noona, bisakah sore ini kau ke Mokpow? Aku sudah menemukan Kyuhyun dan kami berjanji bertemu dirumahku dua jam lagi’

Mata Ahra membulat setelah membaca pesan teks dari Donghae, teman dekat Kyuhyun. Tanpa mempedulikan tatapan heran Sojin dan Sooyoung, segera jari lentiknya mencari nomor pemesanan tiket.

“Hallo, selamat siang. Saya pesan 3 Tiket ke Mokpow untuk keberangkatan siang ini. apa masih ada?”

“…”

“Ya, atas nama Cho Ahra, Choi Sooyoung, dan Choi Sojin. Terimakasih”

Bip!

“Ayo kebandara sekarang!” titah Ahra.

“Ahra-ya… sebenarnya untuk apa kita ke Mokpow?” tanya Ahra saat pesawat sudah landing di daratan Mokpow.

“Sojin-ah… apa kau ingat teman Kyuhyun yang sering di sapa Aiden oleh appaku?” Sojin berpikir sejenak dan kemudian mengangguk cepat. “Ya, aku ingat. Memangnya kenapa? Apa ada kabar mengenai Kyuh-“

“Nde! Kita bisa bertemu Kyuhyun di rumah Donghae!” seru Ahra dnegan semangat.

“Eonni, apa itu sungguhan?” tanya Sooyoung.

Ahra mengangguk mantab. “Nde, Soo. Ayo kita pergi sekarang!”

Di rumah Donghae, Kyuhyun sudah duduk di sofa ruang tengah. Wajahnya terlihat kucal dan mendung. Sejak datang tadi, Kyuhyun belum bercerita apapun. Bahkan membuka suara pun jarang. Cukup saat dia berkata ‘hai, apa kabar’ di awal pertemuan tadi. Sungguh, hal ini snagat membuat Donghae heran dengan temannya satu ini.

“Ya~ Kyuhyun-ah! Kenapa kau jadi pendiam begini? Sejak kapan seorang Cho Kyuhyun tak punya ide berbicara?” tanya Donghae sakartis.

Kyuhyun meliriknya sekilas dan berdecak. “Bukankah kau yang memaksaku datang? Jadi jangan paksa aku untuk bercerita.”

“Ada masalah?” pancing Donghae yang sebenarnya sudah mengetahui permasalahan Kyuhyun dari Ahra.

Kyuhyun menatapnya kesal. “Sudah kubilang, jangan paksa aku bercerita!”

“Apa masalah Choi Sooyoung-mu?” potong Donghae. Kali ini mata Kyuhyun membulat besar dan tubuhnya menegang. Dia menatap Donghae tajam. “KAU!” umpatnya.

“Kemana saja kau selama ini? kau tahu, keluargamu mencarimu kemana-mana?”

“Hei Tuan ikan! Sudah kukatakan, jangan memancingku untuk bercerita!”

“Tidak bisa! Aku sudah terlanjur mengetahui permasalahanmu!” balas Donghae dengan santainya yang membuat Kyuhyun tambah kesal.

“Ya sudah, kalau kau sudah tahu, untuk apa kau memaksaku bercer-“

“Untuk memastikan! Kau tahu, aku penasaran, sejak kapan seorang playboy sepertimu, mesum sepertimu menjadi labil karena cinta?” pancing Donghae untuk kesekian kalinya.

“Sejak aku dibuat gila oleh Choi Sooyoung!”

“Ceritakan detailnya!” paksa Donghae.

Kyuhyun menyerah. Dia menghela nafas berat dan pasrah. Sepertinya dia harus menceritakan semuanya kali ini. lagian, sdia sudah tak tehan memendamnya sendiri.

“Dia membenciku.” Awalnya. Benar, kenapa ini snagat menyakitkan?

“Aku snagat mencintainya.” Lanjutnya.

“Aku dan dia, berbeda rasa.”

Dia terdiam sejenak menahan emosi jiwanya.

“Kami memang tak pantas tuk bersama.”

Kyuhyun mengatur nafasnya agar dia bisa kuat menjelaskan dengan lebih rinci lagi.

“Dia malaikat cantik yang baik hati. Dan aku? Aku hanyalah seorang-“

“Seorang yang Bajingan! Seorang yang tak berperasaan! Seorang yang tak bertanggung jawab! Seorang yang gila dan seorang suami yang bodoh!”

Kyuhyun tercengang mendapati siapa pemilik suara tersebut, suara yang memotong kalimatnya.

Sooyoung.

Dia berdiri diambang perbatasan ruang tengah dengan mata basah yang menatap tajam mata Kyuhyun.

“Seorang namja tak berhati. Seorang yang pesimistis! Seorang yang selalu membuatku sakit! Seorang yang jahat yang pernah kukenal-“

“Soo-ah…” lirih Kyu dengan suara bergetar. Apa dia sedang bermimpi?

Sooyoung langsung berlari dan memeluk tubuh Kyuhyun sebisa yang dia bisa. Sedangkan Kyuhyun masih tercengang dan tegang dengan segala keajaiban terindah yang Tuhan berikan padanya kali ini.

“Mianhae… Mianhae…” isak Soo yang masih mendekap tubuh Kyuhyun.

“Kau kembali mencariku?” tanya Kyu ragu. Sooyoung mengangguk. Seketika Kyuhyun membalas dekapannya dnegan cara yang lebih erat lagi. “Gomawo… Gomawo… jongmal Gomawo Sooyoung-ah…” racau Kyuhyun.

31 Desember 2013 – malam pergantian tahun.

Malam ini udara di Busan sangat dingin. Membuat Kyuhyun dan Sooyoung berdiam diri di dalam rumah tanpa ada keinginan keluar. Duduk didepan perapian yang memang tersedia di sudut ruang tengah memang lebih menyamankan keduanya. Tampak kepala Sooyoung bersandar di dada Kyuhyun dengan kedua tangannya yang melingkar di pinggang dan perut Kyuhyun. Kedua matanya memandang lurus bara api yang memang diatur menjadi cantik diantara tumpukan bata disana. Bibirnya tak henti-hentinya melengkungkan senyum.

Sama halnya dengan Kyuhyun yang juga tak dapat menghentikan senyumannya. Senyuman bahagia. dengan memeluk Sooyoung secara erat seperti saat ini, benar-benar membuatnya lega dan tenang. Dia sangat bahagia. betapapun bayangan keindahan suatu kebahagiaan tersebut, hatinya merasakan lebih dari itu. Benar, akhir tahun ini seperti mimpi baginya. Jika memang hanya mimpi, dia rela tidak dibangunkan kembali. Asalkan tetap dalam posisi seperti ini. posisi dimana dia sangat dibutuhkan oleh istrinya, Choi Sooyoung.

“Oppa… apakah ada tujuan baru yang ingin kau raih di tahun yang baru?” tanya Sooyoung, memecah kesunyian yang tercipta.

Kyuhyun tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dia mengecup dahi Sooyoung dan menatapnya intens. “Tujuan hidupku saat ini hanya ada satu dari dua pilihan: Membahagiakanmu atau mati” jawabnya serius.

“Oppa~ah” lirih Sooyoung yang sudah terharu mendengar ucapan Kyuhyun. Dia bisa menjamin, kalimat tadi adalah kalimat terindah yang pernah dia dengar.

Lagi-lagi Kyuhyun tersenyum. Perlahan jemarinya tangan kanannya menyusuri pipi bulat Sooyoung. “Aku sangat mencintaimu, Soo-ah… Jangan pernah lagi kau meragukanku.” Pintanya dengan suara pelan.

Tanpa berpikir, Sooyoung mengangguk cepat dan kemudian mendaratkan kecupan di bibir Kyuhyun.

Demi apapun, ketika Sooyoung yang menciumnya duluan, saat itu juga debaran yang Kyuhyun rasakan ribuan kali lebih cepat. wajar jika Kyuhyun sedikit tersentak atas perlakuan yang didapatnya.

“Saranghae Tuan Cho…” ucap Sooyoung dengan suara rendah.

Dan untuk kesekian kalinya Kyuhyun jatuh hati lebih dalam lagi. Tanpa ijin terlebih dahulu, dia menarik tengkuk istrinya lembut. Sebelum mendaratkan kecupannya, Kyuhyun berbisik, “Happy Aniversary yeobo-ah…”

CHU~

Dan malam pergantian tahun kali ini mereka lewati dengan cara yang sangat indah dan berharap dengan mala mini, malaikat mungil yang sempat hilang bisa kembali lagi.

‘Bahagia bersama atau mati’

‘Together to be Happiness’

That’s the end of ‘My Hurtness’






All of Part is END

😀

HY HY HY HY

\(^,*)/ \(^,*)/

***Terimakasih buat kalian yang sudah mengikuti ff series ‘My Hurtness’ ini. Khususnya buat yang selalu memberikan tanggapan tentang FF ini. Bagi yang selalu ‘silent’, Please di tahun yang baru nanti kalian ubah sikap kalian itu. Dosa lhoo kalau jd sider. -_-

😦

Geurae, Keep stand on follow My Blog and Get the New Post in other time.

~ See You Letter and HAPPY NEW YEAR!!! ~

😀

:*

😀

************************************

129 thoughts on “[SERIES] MY HURTNESS – 4END

  1. Akhirnya happy ending jg. Aku kira dr awal judulnya kan my hurtness tuh jd bakalan sedih mulu sampai sad ending kekeke…
    Keren ff nya…
    Gumawo ya

  2. Wuah akhir.a happy ending juga. Aku pikir bkal sad ending alx dari judul ff.a aja my hurtness.
    Aku terharu dgn ketegaran dan kesabaran kyu slama ini mskpn awal2 cerita sempat sebel ma kyuppa.
    Daebak ff.a thor.
    Akhir.a setelah berbagai mcm rintangan dan badai yang melanda rumah tangga mrk akhir.a happy ending juga. Kkk

Gomawo^^ You are the best Visitor, So Give Comments After You Read It.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s