[NEW SEQUEL NC] LOVE MEETING – “Our Story Begin, here”

Love Meeting - 1

😀 Love Meeting😀

Author: Fatminho

Genre: Romance, NC17+

NO CHILDREN UNDER 18+

Kyuhyun | Sooyoung

 

Disclaimer: 

THIS PLOT IS MAIN!!! DON’T BASH OR COPAS WITHOUT PERMISSION. THE CAST HERE IS NOT SAME WITH THE TRUTH PERSONS WHO HAVE THAT NAME. IT IS JUST CAST IN MY IMAGINATION!!!

 Note:

 

Haloo…. I’m back…. but, I’m sooooo sorry kalau ternyata aku datang tidak dengan ff tagihanku sebelumnya seperti IBTLU, STBHM, atau SEXY LOVEY MARRY, dan atau tagihan lainnya. Harap maklum. Dengan adanya ‘berita itu’ inspirasi tiba-tiba anjlok. But, dengan segala usaha aku menyelesaikan sebuah sequel dari inspirasi dadakan yang ternyata mengembanginya cukup sulit juga. -_-

 

Aku harap, kalian tetap suka dengan cerita-cerita yang kubuat. Juga masih setia dan bersedia menunggu kelanjutan ff lainnya yang hendak aku selesaikan dijangka waktu yang belum bisa aku tentukan. Gomawoo untuk smeua chingu_deul yang sudah bergabung bersama blog-ku untuk megikuti perkembangan tulisanku. Jongmal gamshamida. Terutama untuk yang setia m=membubuhi komentarnya mengenai tulisanku.

 

Well, kajja, read this story….

 

_HAPPY READING_

 

***

 

Weekend. Huh… apa artinya jika hanya dirumah seorang diri? Sedari pagi kerjaanku hanya mengutak atik PSP kesayanganku tanpa ingat jam makan apalagi jam mandi. Entahlah, setiap berhubungan dengan PSP, aku akan lupa dengan segalanya. Kekasihku sekali pun. Bukan bagaimana, dari SMA, setiap menjalin hubungan dengan seorang wanita, aku tak pernah merasakan keseriusan sedikit pun. Meminta menjadi kekasih pun aku tak pernah. Justru merekalah yang selalu mengejar dan memohon padaku agar menjadi kekasih mereka.

 

Tapi itu dulu.

 

Sekarang?

 

Jangankan kekasih, teman dekat wanita pun aku tak punya.

 

Setamat SMA dulu, aku diutus pindah ke Jepang oleh orang tuaku. Bukan sekadar pindah rumah saja, aku juga di tuntut pindah latar belakang. Kata abeoji sih semua ini bertujuan agar aku bisa hidup lebih mandiri dan bisa mendapatkan kekasih yang baik hati-melihatku secara benar tanpa melirik kekayaan dan status social. Dan benar saja, banyak yang tak mengenaliku. Aku benar-benar memulai segalanya dari ‘nol’. Masa-masa kuliahku jadi benar-benar berjalan dengan baik tanpa gangguan nafsu wanita-wanita di luar sana. Lagian, siapa mau dengan pria cupu berkacamata minus sepertiku ini? namun, aku tak menyangkal lagi, kehidupan yang seperti ini memang sudah kuharapkan sejak lama. Alhasil, selama masa pendidikan perguruan tinggi aku bisa menikmatinya dengan tenang tanpa harus menerima atau pun menolak tawaran kencan dari para wanita yang mendatangiku.

 

Jadilah sekarang aku memiliki kepribadian yang sopan layaknya orang asli jepang. Dingin, pendiam, dan penuh kesantunan. Ckckck.

 

Kini usiaku genap 30tahun. Itu artinya, aku sudah tinggal di Jepang selama dua belas tahun. Selama ini, hanya beberapa kali saja aku balik ke Seoul untuk melepas rinduku pada eommani dan abeoji serta saudara satu-satunya yang aku punya, Ahra noona. Sebenarnya, ada satu orang lagi yang ingin aku kunjungi bila aku balik ke Seoul: Choi Sooyoung, mantan kekasihku.

 

Dari sekian banyaknya wanita yang menjadi kekasihku, hanya dia seorang yang tak mau-tak sudi-menyentuhku. Bayangkan, kami berpacaran, tapi tak pernah sekalipun berciuman. Arrg… jangankan berciuman, berpegangan tangan pun dia tak mau. Saat kutanya alasan mengapa dia tak mau kusentuh, jawabannya selalu sama: “karena aku tak mau menyakiti wanitamu yang lain.

 

What the F*ck!

 

Karena keanehannya tersebut, aku jadi selalu memikirkannya. Dan sejak pindah ke Jepang, aku sama sekali tak pernah menghubunginya. Sama dengannya. Tak pernah menghubungiku. Wajar saja dia tak menghubungiku, selain karena tidak tahu nomor ponsel baruku, dia juga tidak memiliki minat melakukannya. itulah Choi Sooyoung yang aku kenal.

 

Membicarakan masalah hubungan, aku dan Sooyoung tidak pernah mengucapkan kata ‘putus’ atau pun ‘pisah’. Padahal, dengan yang lainnya, sudah kulakukan hal itu. Entahlah, apa yang aku pikirkan saat itu, yang jelas hanya Sooyoung tidak kutemui tuk ucapkan salah satu dari kata tersebut. Bukankah secara tidak langsung aku dan dia masih…

 

Segera tanganku meraih ponsel yang ada di atas meja. Tanpa memikirkan hal lainnya, langsung kucari nomor ponsel Sooyoung yang sempat kusimpan dulu. Aku tersenyum kala kutemui nama kontak yang kumaksud. “4th Love – Youngie” nama kontaknya mengartikan bahwa dia adalah kekasihku yang keempat.

 

Hihihi, aneh juga jika mengingat keberaniannya yang ingin menjadi pacarku yang ke empat. Biasanya, pernyataan dari wanita cantik nan menggoda yang kuterima, tapi pengecualian untuk Sooyoung yang notabene tidak menggoda seperti yang lainnya. Beda dengan semua wanitaku lainnya yang sok polos, Jaim, serius, dan suka dibelai –Youngie adalah wanita yang santai, cerewet, lucu, dan paling benci disentuh olehku. Alasannya selalu sama. dan sudah kusebutkan diawal tadi.

 

Kutekan tombol ‘calling’ di layar ponselku. Kemudian kuletakkan ponsel itu tepat ditelingaku. Jujur, jantungku berdegub keras menunggu kenyataan yang akan kudapati. Ada dua hal yang melayang di otakku: masih aktif atau tidak.

 

Beberapa detik kemudian,

 

Tuuuuuuuutt…………. Tuuuuttttttt……….

 

Aku tersenyum lebar kala mendengar nada sambung dibalik ponselku tersebut. Ya Tuhan, inikah pertanda bahwa kami berjodoh?

 

Karena tidak diterima oleh pemiliknya, segera kumatikan panggilan tersebut. Kuketik pesan untuknya.

 

‘Hy… are you Choi Sooyoung?’

 

Send.

 

1 Jam berlalu….

 

2 jam berlalu….

 

3 Jam, 4,5,6,7,8 jam pun berlalu.

 

Sial! Kenapa tak ada balasan dari tadi? aku jadi ragu, apa benar nomornya masih dia yang pegang.

 

Gila! Choi Sooyoung, kau benar-benar..-

 

 

 Bip bip bip

 

Suara pesan masuk pada ponselku baru saja kudengar. Tubuhku sontak tegang dan detak jantung yang sempat tenang kini berontak kembali. Oh Tuhan, ini sudah pukul satu malam di Korea, apa yang dia lakukan semalam ini?

 

Kulihat baik-baik si pengirim pesan.

 

CK! Ternyata aku hanya bermimpi mendapat balasan dari Sooyoung. Lihatlah, bukannya nomor ponsel Sooyoung yang membalas, malah nomor berbeda yang benar-benar membuatku kesal. Namun, tetap kubuka pesan tersebut. Siapa tahu itu dari bosku. Bisa mendapat ratusan masalah jika aku mengabaikannya.

 

read the new text’

 

Dengan malas aku menunggu pesan itu terbuka.

 

‘Maaf, ini siapa? Ya, benar saya Sooyoung Choi.-’

 

Ah? Apa aku tak salah baca? Jadi ini…

Kulanjutkan membacanya..

 

‘- anda menghubungi saya di nomor ponsel saya yang lama yang saya tinggalkan di tangan kakak saya di Korea. Karena melihat nomor ponsel anda berkode ‘Jepang’, maka saya hubungi anda langsung lewat nomor yang saya pakai saat ini. ada yang bisa saya bantu?’

 

Aahhh…. benar-benar kau Choi!

 

Kau benar-benar membuatku gila!

 

Tunggu, tadi dia bilang ini nomor yang dia pakai saat ini. Berkode Jepang. Apakah itu artinya…

 

calling

 

Segera saja kutekan tombol memanggilnya.

 

Tidak lama kemudian…

 

Moshi-moshi…” suara disebrang sana.

 

Oh Tuhan, Oh Tuhan, tolong tangkap tubuhku jika aku jatuh dari pelayanganku saat ini. Ini benar-benar suara nyaring gadis itu.

 

“Bogoshippeo Sooyoung-ah…” ujarku tak sadar.

 

Senyuman di wajahku tak sirna sedikit pun. Bahkan semakin mengembang. Sungguh, baru kali ini aku merasa sangat teramat bahagia. apakah kali ini aku benar-benar menyukainya? Apakah aku telah jatuh pada seorang Choi Sooyoung?

 

“…” tidak ada jawaban sama sekali. Ini cukup memudarkan senyuman bahagiaku. Kenapa dia diam?

 

“Hallo… Soo-ah, apa kau mengingatku?” tanyaku dalam Bahasa Jepang.

 

“Eoh…” jawaban apa itu?

 

“Apakah aku mengganggu istirahatmu?

 

“…” tidak ada jawaban darinya. Padahal sambungan masih aktiv.

 

Kuhela nafas berat penuh kecewa. Apa dia benar-benar sednag istirahat?

 

“Baiklah, sepertinya aku mengganggumu. Maaf ya. Aku akan mengakhirinya. Bye Soo-“

 

“Kyuhyun-oppa~” kudengar suaranya. Serak dan bergetar. Hal ini cukup membuatku tegang. Dia menjawabku?

 

Perlahan aku tersenyum. “Aku senang kau masih mengingatku.”

 

“Aku tak percaya kau menghubungiku, oppa~” demi Tuhan, suara manjanya benar-benar aku rindukan.

 

“Aku juga tak percaya kau menanggapi panggilanku.”

 

“Cih! Michin!” umpatnya. Aku tertawa garing menanggapi hal itu.

 

“Jadi kau ada di Jepang?”

 

“Apa kau memakai nomor temanmu?” tanyanya balik. Asshh… ternyata kebiasaanya mengalihkan masalah tidak pernah berubah.

 

“Hei, kau belum menjawabku!”

 

“Kau pun sama denganku!” balasnya. Keterlaluan.

 

“Bodoh! Sejak kapan seorang Cho Kyuhyun suka meminjam barang orang?” jawabku akhirnya.

 

“Jadi-“

 

“Aku memang tinggal di Tokyo sejak tamat SMA, babo!” jawabku dengan nada ketus.

 

“J-jadi selama ini kau menghilang itu…. kau….”

 

“Ya, aku ke Jepang.”

 

“Oppa~” sapanya dengan suara manja.

 

“Nde?”

 

“Aku bekerja di Hokaido sejak tamat kuliah.”

 

“Ya?” pekikku. Aku tak menyangka kalau dia… “Apa kau sedang mengerjaiku?”

 

“… – Hahahaha…. kenapa kau sangat hebat menebak, oppa?”

 

Cukup bosan aku menunggu jawabannya. Hingga akhirnya kudengar gelak tawanya. Apa dia sedang menertawaiku?

 

“Jadi benar kau mengerjaiku?!” aku mulai kesal.

 

“Hahahaha…. menerutmu?” balasnya di tengah tawanya.

 

“CK! Baiklah. aku tidak ingin lagi kau mengerjaiku. Sekarang katakan padaku, dimana keberadaanmu saat ini!” titahku.

 

“Kenapa oppa-“

 

“Ya! Choi Sooyoung! Kenapa kau suka berbasa-basi, eoh?! Sekarang katakan, dimana posisimu saat ini? lihat saja, aku akan menciummu saat kita bertemu nanti!” ancamku.

 

“Wah… jongmal! Dan aku pastikan kau tak akan menemukanku, oppa!”

 

“YAK! Kau benar-benar-“

 

“Hahaha…. oppa~ aku rindu sekali dengan suara umpatan kesalmu yang seperti itu. Hahaha….” balasnya.

 

“…” aku terdiam. Ah, lebih tepatnya tertegun. Ck! Gadis ini benar-benar membuat jantungku berkejaran! Ingin rasanya kupeluk tubuh kurusnya itu erat-erat. “Gojitmal! Katakan keberadaanmu, Sooyoung sayang!” pintaku agak geram.

 

“Hahaha… Shirreo!” mataku membulat mendengar jawabannya.

 

Oh Choi Sooyoung, kau benar-benar cari mati rupanya!

 

“Kau tahu, hanya kau satu-satunya yeoja yang kuhubungi? kau tahu, aku sudah memutuskan semua yeojaku, selain dirimu? Dan apa kau tahu, aku sangat merindukanmu?” ucapku seakan bercanda, tapi jujur, kali ini aku sungguh-sungguh.

 

“…. oppa~”

 

“Kumohon, aku sangat merindukanmu Soo-“

 

“Hikzz… nado~”

 

Aku bungkam.

 

“Nado Bogoshippeo Oppa~” ucapnya lagi. Air mataku nyaris menetes karena getaran jiwaku.

 

“Katakan padaku dimana keberadaanmu saat ini, Soo”

 

“aku di daerah xxx Tokyo bagian timur”

 

 

Setelah mengetahui keberadaan Sooyoung saat ini, aku pun segera berkemas dan hendak beranjak mencarinya di daerah yang dia sebutkan. Malam harinya, aku baru sampai di daerah Tokyo bagian timur.

 

Aku memilih untuk menginap di salah satu penginapan sederhana. Memilih untuk beristirahat sejenak sebelum akhirnya kuhubungi kembali nomornya.

 

“Ne, Moshi-“

 

“Aku ada di penginapan ‘HOZee’. Kurasa, akan lebih baik jika kau temui aku di kafe ‘KOZITA’ didekat pantai Timur. Bagaimana?” potongku dengan mencecarinya sebuah ajakan.

 

“… Bertemu? Semalam ini?”

 

Semalam ini? ah… kurasa pukul delapan belumlah terlalu malam. “Ini masih pukul delapan Soo… kau tega membiarkanku merana didalam penginapan seorang diri?”

 

“Geuraesso, aku akan minta ijin dulu sama Oji-san. Kirimkan saja alamat dan posisimu saat ini, oppa. Phy!”

 

Click!

 

Dia langsung memutuskan sambungan telephone tanpa menunggu tanggapan dariku. Ck! Yeoja ini benar-benar! Arrgh! Aku jadi tidak sabar menemuinya.

 

 

Pukul setengah Sembilan malam. Aku sudah menunggu kedatangan yeoja yang selama ini membuatku penasaran. Kalau saja saat berpacaran dulu dia menerima jamahanku, pasti semuanya terkesan biasa dan bahkan basi. Namun nyatanya, dia benar-benar tak mau disentuh olehku. Sudah kukatakan bukan, jangankan disentuh, jalan berhimpitan pun dia enggan melakukannya. sampai-sampai aku merasa kalau dia hanya membutuhkan suatu status dengan label ‘berpacaran’. Padahal aku yakin sekali dan tak akan pernah terlupakan saat dulu dia meminta untuk menjadi pacarku. Sempat aku menolaknya, namun dia langsung tertunduk sedih mendengar penolakanku. Hingga akhirnya aku pun menerima tawarannya untuk menjalin hubungan berpacaran. Dalam hubungan kami, tak sekali pun aku mengajaknya kencan atau sekedar jalan berdua. Sama halnya dengan dia yang tidak pernah memperlakukanku sebagai kekasihnya.

 

Hubungan aneh itu berjalan hampir satu bulan, sampai takdir mempertemukan kita di suatu pesta yang diadakan oleh Siwon, temanku, yang ternyata sepupunya. Disana dia tampil sangat cantik dan manis. Padahal tak memakai make up berlebihan seperti kebanyakan wanita lainnya. Aku bungkam seribu bahasa kala dia menyapaku. Bukan apa, hanya saja saat itu aku sedang menggandeng salah satu teman kencan baruku. Bayangkan saja bagaimana perasaannya???           

 

Disana dia menyapaku dan tersenyum manis padaku. Bahkan dia menyapa teman kencanku juga. Aku gelagapan. Namun teringat lagi akan perjanjian kami dulu saat dia ingin aku menjadikannya pacar. Dia tidak melarangku bersikap bagaimana saja, menduakannya sekalipun. Asalkan aku mau menganggapnya kekasih, buatnya itu jauh lebih baik daripada harus berkencan dan lain sebagainya.

 

Flashback

 

“Sooyoung-ssi, bisakah kita bicara berdua?” pintaku ketika teman kencan yang sepanjang pesta berlangsung selalu menggandengku tengah ijin berbincang dengan temannya. Sooyoung tersenyum ramah dan mengangguk. “Tentu saja…” ucapnya.

 

Aku tersneyum dan hendak menggandengnya ke tempat yang lebih tenang. Entah perasaanku saja atau bagaimana, Sooyoung langsung bergegas meraih dua gelas anggur yang sedang dijajakan oleh seorang pelayan. Bukannya berbalik mencariku, dia malah menoleh dan berkata, “Kajja oppa, ikuti aku. Kita ke belakang saja” kemudian dia berjalan duluan dan aku pun mengikutinya.

 

Sesampainya di halaman belakang, aku melihatnya duduk di kursi santai pinggir kolam. Disana ada dua kursi seperti itu yang jaraknya cukup jauh. Sekitar satu sampai dua meteran. Otomatis, aku duduk di kursi kosong tersebut yang membuat jarak kami tak akan bisa dekat. Jujur, walau belum memiliki perasaan apapun dengannya, aku cukup kecewa dibuatnya.

 

“Igeo!” ucapnya sembari menyodorkanku segelas anggur dari tangannya. “Akan lebih santai jika kita berbincang sambil minum, bukan?” jelasnya lagi yang kubalas dengan senyuman.

 

Sesaat kemudian, suasana jadi hening. Dia hanya melihat warna minuman anggur yang ada di gelasnya. Sedangkan aku? Aku hanya bisa gelagapan lantaran gugup karena topic yang ingin kuutarakan tadi seketika hilang entah kemana. Alhasil, aku hanya memandanginya.

 

Aku tersenyum menyadari daya tarik yeoja aneh didepanku ini. “Eoh, oppa, kenapa kau tersenyum seperti itu?” tanyanya yang membuatku panic. Ketahuan memandnaginya sambil tersneyum, apa tidak membuatku kaget? Tentu saja kan kalau akau kaget. “Maaf, aku jadi membangun suasana hening.” Sesalnya. Dengan cepat aku mengibaskan tanganku. “Anio… nan gwenchana…”

 

“Oh iya, apa yang ingin kau bicarakan? Bukan maksud mengusir, hanya saja aku takut kalau teman kencanmu, Seul Gi, merasa kebingungan kehilanganmu…” sontak aku tertawa mendnegar ucapannya.

 

“Hei Sooyoung-ssi, apa kau sedang cemburu, saat ini?” tanyaku langsung. Bermaksud menggodanya.

 

Dia sontak menunduk dan memandangku sedih, “Aneh jika aku tidak cemburu, oppa…” ucapnya yang berhasil menghentikan tawaku. “Bukankah mencintai seseorang itu harus tulus tanpa harus mengharapkan balasannya? Tapi baru kali ini aku merasakan rasanya sakit hati karena seseorang yang aku cintai menggandeng yeoja-yeoja lain yang menyukainya tanpa sedikit pun menoleh padaku.” Ucapnya. Kini aku bungkam dan tegang. Merasa bersalah? Tentu saja. Aku merasa menjadi orang terjahat sedunia setiap ada didepannya.

 

“Sooyoung-ah…” sapaku beberapa saat kemudian yang membuatnya menatapku manis. “Kau benar menyukaiku?” tanyaku takut-takut.

 

Dia menggeleng. “Annio… aku tidak menyukaimu, oppa…” aku merasa sedikit tertampar. Apa maksudnya?? “Lebih dari sekedar suka, aku mencintaimu, oppa…” lanjutnya yang lagi-lagi berhasil membuatku bungkam.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              

 

“Lalu, kenapa kau membiarkanku berkencan dengan yang lain?”

 

Dia tersenyum getir, “Haruskah aku memberimu pelarangan di hubungan kita yang masih sebesar biji jagung ini? bagiku, itu sama halnya dengan aku memberimu beban. Jika aku melakukannya, maka sama saja aku menjadikanmu budak cintaku yang harus melayaniku saja setiap saat. Padahal kita masih berstatus ‘pacaran’ bukan ‘menikah’.”

 

“Kalau memang kau mencintaiku, kenapa kau tidak ingin aku sentuh?” sontak dia menoleh kearahku. Lagi-lagi dia tersenyum. Namun kali ini tersenyum dengan menatapku serius. “Karena aku mencintaimu, mencintai dirimu, dan mencintai hatimu. Bukan mencintai sentuhanmu.” Ujarnya. Kemudian dia beralih lagi menatap lurus kedepan dan bukan menatapku. “Aku takut saat kau menyentuhku, hatimu belum menyentuh hatiku. Kau tahu oppa,” dia menoleh menatapku sekilas, “segala sesuatu bisa terjadi melalui sentuhan? Maka dari itu, aku takut jika kau menyentuhku ternyata perasaan dan pikiranmu bukan kepadaku. Intinya, aku tak perlu apa-apa darimu. Cukup memiliki status hubungan denganmu dan berdo’a agar suatu saat nanti kau melihatku. Hanya aku…”

 

Flashback end

 

‘Excusme…’

 

Sebuah suara menyapaku dan berhasil membawa pikiranku kealam sadar yang saat ini kuhadapi. Gila! Bisa-bisanya aku jatuh dalam bayang-bayang masa lalu.

 

Aku mengerjapkan mata dan segera menoleh kebelakang, tempat asal suara tadi. kini kedua mataku terpaku pada sosok yang menyapaku. Apa aku sedang bermimpi?

 

“Awalnya aku ragu, tapi ternyata kau benar-benar Kyuhyun-ssi… benar-benar oppa…” ucapnya malu-malu. Awalnya aku masih diam tak percaya. Bagaimana mungkin yeoja tomboy dan cuek seperti Sooyoung menjelma menjadi seorang putri di sebuah kerajaan? Dia semakin cantik. Aku tersenyum simpul dan berdiri menyambutnya. “Mianhae… aku sedikit terkejut saja melihat kau ada di belakangku. Aku kira kau tak akan datang.”

 

“Tidak mungkin aku tidak datang…” ucapnya sambil mengitariku untuk mengambil posisi duduk didepanku. “Kalau sudah janji, maka aku akan menepatinya.”

 

Benar, itulah salah satu kebiasaannya yang sangat positive dan berkebalikan denganku. Ketika aku berjanji, kalau bukan menepati, pasti terlambat. Kalau Sooyoung, selalu menepati dan jarang memolorkan waktu perjanjian.

 

“Bagaimana keadaanmu saat ini, oppa? Apa kau sudah menikah?” tanyanya yang berhasil meredupkan senyuman di bibirku. Pertanyaan macam apa itu?

 

“Menikah? Ahaha… jika memang begitu, untuk apa aku menghubungimu?”

 

“Jadi?”

 

“Ya~ kau ini bukannya semakin pintar, kok jadi semakin bodoh saja? Benar, aku benar-benar belum menikah.” Jawabku dan dia hanya mengangguk. “Lalu, Sooyoung-ssi, bagaimana denganmu, apa kau sudah-“

 

“Sudah.” Aku terdiam. Dia menunduk. Oh Tuhan, apa ini saatnya aku patah hati? “Sudah menikah jika saja saat itu eomma tidak kecelakaan dan meninggalkanku. Aku sudah menjadi istri namja asing yang orangtuaku jodohkan jika saja eomma tetap mendampingiku.” Aku mengernyit tak yakin dnegan alasannya.

 

“Maksudmu?”

 

“Eomma meninggal di persiapan awal aku menikah dnegan namja pilihannya. Ketika itu calon suamiku ingin membawaku ke Amerika dan hidup bersamanya. Namun akhirnya appa tidak megijinkanku pergi karena tidak akan ada lagi yang meneruskan usaha eomma. Alhasil, di usiaku yang ke 26 ini aku masih sendiri dengan kesibukan mengurus butik milik eomma yang cukup bercabang di beberapa Negara. Sedangkan appa sibuk dengan perusahaan pertambangan dan pertaniannya. Alhasil, kami berdua hidup bersama dengan aku yang mengurus appa. Beginilah nasib tak memiliki saudara.” Curhatnya. Dari semua sisi yang aku tahu tentangnya, baru kali ini aku paham benar bagaimana keadaan keluarganya.

 

“Kalau begitu, menikahlah denganku.” Cetusku langsung. Dia meatapku lekat dan beberapa lama kemudian tawanya meledak.

 

Grebb!

 

Tanpa berpikir dua kali, kuberanikan diriku menarik tangannya hingga wajahnya terdorong maju kearahku dan akhirnya bibir kami bertemu. Aku memejamkan kedua mataku sambil menahan tangan kananya yang tadi kutarik. Lama bibirku menekan bibirnya yang ternyata sangat manis, berbeda dnegan bibir-bibir lain yang pernah kujamah. Bibirnya terasa kenyal seperti baru kali pertamanya melkaukan kiss ini. bolehkah aku berharap menjadi yang pertamama?

 

Kurasakan tangan bebasnya mendorong bahuku pelan. Aku pun terpaksa melepas pautan bibir kami. Dia menunduk. Aaarrg! Cho Kyuhyun babo! Bagaimana bisa kau mencium bibirnya???!!!

 

Dia mendongak lagi, “Apakah oppa mencintaiku?” tanyanya dengan wajah sendu.

 

“Sejak berpisah dengan semua teman kencanku, sejak beranjak meninggalkan Seoul, sejak saat itu aku ingin melihatmu dan mengatakan bahwa aku sangat mencintaimu.” Jelasku jujur, walau aku merasa malu.

 

“…” dia terdiam. Aku jadi salah tingkah dibuatnya. Aku tak tahu harus melakukan apa. Aku tertunduk sambil berucap, “Mianhe… aku sudah lancang mencium bibirmu. Aku masih ingat kau tak mau di sentuh olehku. Geundae… saat ini aku-“

 

Greb!

 

Aku tercengang menyadari tanganku kedua tanganku di genggam olehnya. Kutatap tak percaya kearah kedua tanganku yang di genggamnya sesaat sebelum akhirnya aku mendongak menatap wajahnya. Dia memandangku datar. “Soo-“

 

“Oppa, berikan aku waktu.” Dia tersenyum. Aku masih bungkam memikirkan maksud perkataannya. “Makasih atas first kiss yang kau berikan padaku.” Ucapnya lagi. “Aku ingin, kita mengulang semuanya dari awal. Dimana hanya ada aku dan kau. Tidak lagi ada yeoja lain di antara kita. Aku tidak ingin menyakiti hati siapapun. Bagaimana menurutmu, oppa?”

 

Tanpa menjawab ucapannya, langsung kutarik kedua tangannya yang sednag menggenggamku. Kupeluk tubuh kurusnya. Kupeluk erat. Ya, aku yakin, inilah yeoja yang seharusnya berlabuh di hatiku. Seorang yeoja berhatimalaikat yang selalu memikirkan perasaan orang lain.

 

“Gomawo chagie-ya… gomawoyo… aku senang kau memberikanku kesempatan…” bisikku.

 

Dia tak menjawab. Namun perlahan, kurasakan tangannya mengusap lembut punggungku. Aku tersenyum bahagia. saking bahagianya, aku ingin menangis saat ini juga.

 

 

Sudah satu bulan hubunganku dengannya berjalan lancar. Kami sama-sama sibuk oleh pekerjaan yang sudah menjadi tanggung jawab masing-masing. Hingga akhirnya kami jarang bisa mendapatkan waktu luang yang sama. terlebih lagi dia bekerja di butik fashion yang jadwal designernya tak menentu. Bayangkan saja, kami hanya bisa bertemu di hari libur. Pun hanya beberapa jam saja. Namun, kami rasa ini akan lebih baik daripada bertemu setiap detiknya. Oh bukan, kurasa itu hanya pemikirannya saja. Karena sampai kapanpun, jantungku ini ingin melonjak riang ketika bersamanya, yang dengan kata lain, aku akan lebih baik jika hanya dengan Sooyoungie-ku.

 

Kabar gembira kudapatkan ketika pihak kantor memberikanku waktu cuti selama satu minggu di karenakan kinerja sepak terjangku di kantor tersebut semakin hari semakin meningkat. Bahkan aku bisa memenangkan tander besar yang diadakan oleh pihak asing. Dan menyadari akan absen kerjaku yang selalu penuh, maka pihak direktur utama memberikanku kompensasi cuti selama satu minggu. Alasannya sih untuk membuat otakku lebih segar ketika waktu bekerja nanti kembali.

 

Karena kali ini aku mendapat libur panjang, maka aku akan buat kejutan untuk kekasihku tercinta. Cho Sooyoung, wait your man soon!

 

 

“Hah… kenapa pekerjaanku semakin menumpuk? Mana deadline sudah jatuh tempo. Soo-ah… kemana perginya gairahmu….???”

 

Aku terkiki kecil mendnegar ocehan lelahnya yang kini sedang berjalan menuju apartmentnya. Dia tak menyadari kehadiranku yang berjalan dibelakangnya. Ketika dia membuka pintunya dan mulai masuk, segera saja kuberi dirinya kejutan dengan memeluknya erat dari belakang. Kurasakan tubuhnya menegang. Langsung saja kugiring dia masuk ke dalam dan kututup pintu apartment dengan kakiku.

 

Perlahan dia mulai menoleh , tapi dengan cepat kucium pipinya dari belakang.

 

“Oppa!” pekiknya yang kini sudah menoleh kearahku. Aku tersenyum.

 

Dia ikut tersenyum lebar dan dengan cepat membalikkan badannya dan memeluk tubuhku dengan semangat. Aku jadi ikut bahagia merasakan semangatnya. Beda sekali dengan keadaan lesunya beberapa menit yang lalu saat aku mengikutinya dari belakang.

 

“Waeyo chagie…? bogoshippeo eoh?” tanyaku iseng, masih dengan memeluknya.

 

Kurasakan dia mengangguk semangat di daguku. “Nde, jongmal bogoshipda oppa…!”

 

Aishh…. kenapa suaranya sangat menggemaskan!

 

Kutarik tubuhnya dan kukecup keningnya. Kemudian kupandnagi wajahnya. Dia tetap tersenyum manis didepanku. Senyuman bahagia yang bisa membuatku turut merasakan kebahagiaannya. “Kau sesenang ini aku datang?” tanyaku.

 

“Jongmal johayoo…” jawabnya yang lagi-lagi membuatku gemas. “Oppa akan menginap?” aku mengangguk. “Jongmal?”

 

“Nde! Jadi, calon Nyonya Cho, berikan aku hadiah sebagai bayaran jasaku menemanimu selama satu minggu!”

 

“Satu minggu?” herannya dengan matanya yang membulat.

 

“Ya! aku dapat cuti istimewa selama satu minggu!”

 

“Huaaa…. neumu johaaa……”  dia langsung memeluk tubuhku lagi.

 

Oh Tuhan, terimakasih telah memberikanku seoang yeoja yang sangat mencintai dan menyayangiku.

 

“Kajja, kau harus mandi dulu. Ishh…. kau bau sekali….” godaku.

 

Dia tertawa kecut sambil mencubit perutku. “Yak!”

 

 

Malam ini, untuk kali pertamanya aku tidur disebelah yeoja yang sangat mencintaiku. Aku yakin, aku pun mencintainya. Entahlah, masa laluku bersamanya terlalu panjang dan aneh untuk dilupakan. Banyak kenangan yang sangat membekas didalam pikiranku. Bahkan didalam hatiku. Sungguh, walau pun dulu aku memacarinya dengan sebelah hati saja, tapi lambat laun, dialah yang berhasil menarik keseluruhan hatiku. Masih jelas teringat di otakku ketika untuk kali pertamanya aku mengenalkan seorang yeoja kepada eomma. Tidak ada satu pun yeoja yang pernah kuajak menemui orangtuaku kecuali Choi Sooyoung yang saat itu berpenampilan sangat sopan dan terkesan culun. Karena yeoja culun itu jago mendisain baju favorite eomma. Bukan hanya itu, dia juga bisa membantu eomma memasak didapur. Walau pun penampilannya culun, tapi ternyata baru kutahui dia memiliki sejuta pesona yang terpendam.

 

“Soo-ah, kau tahu, eomma selalu menanyakanmu?” ucapku yang sudah memeluk pinggangnya sambil memandangi kedua mata besar yang sednag memandang kedua mataku juga.

 

“Ommona… jongmalyo? Eommanim…?”

 

“Nde. Apa kau tak percaya ucapanku?” kutunggu jawabannya, dia menggeleng pelan. “Sini, biar aku ceritakan.” Ucapku sambil menarik tubuhnya agar lebih merapat pada tubuhku. Entah mengapa, semakin hari, aku semakin tidak bisa lepas darinya. Aku ingin selal bersamanya. “Setiap aku pulang ke Seoul untuk bertemu eomma, satu pertanyaannya ketika melihatku, ‘Kyunie, apa kau tidak bersama menantuku-Sooyoungie?’ yah aku bilang saja, ‘aku sudah tak pernah bertemu dnegannya’ dank au tahu apa jawabannya? ‘Yak, babo! Kenapa kau melepas yeoja luar biasa seperti dia, eoh? Kau tahu Kyu, eomma tidak akan setuju kau menikah dengan yeoja lain, selain Sooyoungie!’ dia berkata dengan suara yang sangat keras dan bersarat akan kegeramannya padaku. Belum aku menjawabnya, dia sudah berbalik dan pergi meninggalkanku. Aahhss… aku selalu bingung dibuatnya!”

 

Aku tertawa membayangkan ekspresi eomma saat itu. Namun tidak lama itu berlangsung karena setelahnya aku tersentak menyadari wajah Sooyoung yang menatapku datar dengan pipinya yang sudah merona padam. “Soo-ah… waeguraeyo?”

 

Perlahan tangan kanannya terangkat untuk mengitari tiap inci wajahku. Jujur, jantungku berdetak ribuan kali lebih cepat dari semula. Dia tak bersuara, namun kedua matanya yang kini ikut memerah seperti wajahnya itu memaksaku untuk membuka suara dengan ragu, “Waeyo, chagie?”

 

Tangannya berhenti mengitari setiap inci wajahku. Kurasakan telapak tangannya yang lembut itu menangkup pipiku. Hangat. Sungguh membuatku nyaman. Aku tersenyum tipis dan meraih tangannya yang bebas. Kukecup tangannya yang bebas itu.

 

Will you marry me, Choi Sooyoung?” ucapku.

 

Dia tidak menjawabku. Hanya saja kulihat kedua matanya menitikkan air mata. Kemudian berlanjut menganggukkan kepalanya mantab. Kukecup keningnya dan hidungnya. Kupandnagi lagi wajahnya. Tiba-tiba kedua tangannya melingkari leherku. Dia menarik tengkukku dan tidak lama kemudian bibir manisnya berani menjamah bibir tebalku. Demi apapun, aku berani jamin, ini adalah ciuman kedua kami setelah beberapa bulan lalu aku menyosor duluan padanya.

 

Matanya terpejam dan bibirnya menjelajahi bibir atas dan bawahku bergantian. Semakin lama, ciumannya semakin panas dan berhasil mencuatkan libidoku. Mau tak mau, aku memberanikan diri membalas perbuatannya. Kueratkan lagi pelukanku pada tubuhnya samba membelas segala perlakuannya. Kuhisap balik bibir tipisnya yang sedari tadi menguasai rongga mulutku. Sambil kedua tanganku aktif mengelus punggungnya. Bahkan tanganku berhasil masuk ke dalam piyama tidurnya. Oh Tuhan, kulitnya sangat halus dan lembut.

 

Dia pun tak tinggal diam, tangannya aktif eremas-remas bagian depan kemeja tidurku. Kemudian, kurasakan kulitnya mengelus bagian depan dadaku. Sungguh, aku sangat menikmati persembahan terdahsyat yang dia berikan. Soo-ah, please, don’t put your hand back from my arm…

 

Semakin dinikmati, penyatuan rasa yang kami bangun secara hangat ini semakin memanas. Kdua tanganku berani berjalan lebih lancar dan berani. Kini sudah sampai pada gundukan yang sedari tadi merangsnag kulit dadaku. Oh Tuhan, katakana padaku bahwa semua ini nyata. Inikah bedanya nikmat ketika kita bercinta dnegan orang yang serius dan tidak serius? Ketika serius, maka jantung dan tubuh ikut bereaksi searah dnegan hati. Namun jika tidak, segalanya akan dikuasai oleh nafsu birahi yang tinggi. Tapi apa sekarang yang kurasakan?

 

Disetiap sentuhannya, disetiap bagian yang aku sentuh, jantung, tubuh dan hatiku berkata bahwa, “ya, ini adalah yang tepat untuk kupilih.”

 

“Akkhh….” aku mengerang kala lidahnya mulai menjilati leher dan dadaku. Secara refleks, kuremas buah dadanya yang bertengger didepanku, tapi dia langsung menggulingkan badannya keatas tubuhku dengan menahan kedua tanganku yang sebenarnya ingin menguasai dadanya.

 

Tangan kami tertaut erat, begitu juga dengan bibirnya yang kini sudah kembali menindih bibirku. Sungguh, baru kali ini aku menyentuhnya. Sejak dulu, dari sekian banyaknya yeoja yang kumiliki, hanya seorang Choi Sooyoung yang tak ingin mendapatkan sentuhanku hanya karena masalah hatiku yang belum menentu.

 

Mengingat hal tersebut, aku semakin ingin merenggut dirinya. Choi, tunggulah, aku akan datang dan membawamu masuk kedalam hidupku untuk selamanya.

 

“Hahhh… Hahhh….” nafas kami beradu, menerpa wajah kami masing-masing kala pautan bibir kami terlepas.

 

Dia tersenyum diatasku. Kini giliranku menjamah wajahnya. Kubawa rambutnya yang sedikit berantakan itu kebelakang lipatan daun telinganya.

 

Chup*

 

Tiba-tiba aku mendapatkan kecupan kilat darinya. Sedetik kemudian dia tertawa senang melihat ekspresi Maluku, mungkin. Ya Tuhan, Sooyoung-ah…. kau benar-benar menggemaskan!!!

 

Segera kubalikkan posisi kami. Membawanya berada dibawah kungkunganku. Aku berkuasa kali ini.

 

“May I…?” tanyaku sambil menatapnya penuh keseriusan.

 

Dia tak menjawab, hanya menyengir lucu – memamerkan deretan gigi putihnya. Tak perlu lagi kutunggu jawabanya, langsung saja kutenggelamkan bibirku ketengah lehernya. Dia menjenjangkan lehernya seketika, membuatku semakin bernafsu. Kedua tanganku kini aktif membuka kancing piyamanya. Setelah tiga kancing teratas terbuka, langsung saja kutenggelamkan wajahku tepat ditengah-tengah belahan dadanya yang menurutku sangat sexy walau tidak terlalu besar untuk ukuran yeoja seusianya.

 

“Ahhhhrrg…. ouupphaaa…..” erangnya kala kuhisap kuat dada atasnya hingga menyisakan bercak kemerahan di kulit putihnya tersebut.

 

Oh Tuhan, beri tahu aku, bagaimana cara terbaik untuk menghentikan nafsuku kali ini?

 

Aku juga tak berpikir untuk menghentikannya.

 

Ini terlalu nikmat… terlebih jantungku berdegub kencang, namun sangat membuatku nyaman.

 

“Arrghhh… Soo… kau naaahhkaaahh…llll…. aakkhh…”

 

Aku mengerang kala dia menyentuh kuat sesuatu yang membengkak dibawah sana. Demi apapun, tak ada lagi yang kuinginkan selain Sooyoung. Hanya Choi Sooyoung yang bisa membuatku seperti ini.

 

“Arrghhhh…. haaahhh…. Chagie… kauuuhh… hhhhaa aakkkhhh………………………”

 

 

Saranghae…

 

 

_This Sequel is End_

 

Next Sequel is NC21.

 

I’ll be Protect that ff with ‘Special Keyword’

 

Hanya yang berkomentar dan menyukai postingan ini yang akan saya beri PW.

 

_Gomawoo^^_

 

 :D

492 thoughts on “[NEW SEQUEL NC] LOVE MEETING – “Our Story Begin, here”

  1. Ceritanya keren thor😀 cuma gatau kenapa pas bagian awalnya rada kurang greget, kesan kyu ke soo-nya juga kaya kurang…..gimana gitu/?._.v tapi keseluruhan keren ko, daebak ^^ keep writting author~

  2. Aku suka ff ini! Aku selalu suka sama pemilihan kata/kalimat yang fatminho pilih. Karna dari kata2/kalimat2 tsb ngebuat ff ini tuh jadi bernilai. Buat sequel ini sih gak terkesan buru2, tp ceritanya agak kurang mendetail aja jadi feelnya kurang ngena. ini pendapatku pribadi yaa. But suka bgt sm ff ini serius😁😁😁

  3. Hahaha….
    Senang saya terdampar diblog ini..
    Baru terdampar AKu Dah disuguhi nih ff

    Aku suka Ni ff
    Walau aku langsung baca dsini bukan part 1😀

    Kak fatmiho
    Aku mau berselancar dulu diblogmu ya

  4. ff nya keren, kak. tapi aku agak bingung sama alurnya. terlalu banyak desahan dan tanda baca, kak. coba deh ganti desahan dgn ungkapan skenario atau apapun lah namanya itu.
    kek : ‘aku sangat sulit untuk tidak bisa bersuara/mendesah ketika…’ kan feel nya masih kerasa kalau si kyu lg mendesah.
    just saran, kak. soalnya aku ini orgnya agakk… hehe.
    minta pw untuk sequelnya dong, kak. aku udah inbox di fb pribadi kk:D nm fb nya Riskiyah, hehe.

  5. selalu suka sama ff kak fat🙂 bahasanya bagus, alurnya ngga berbelit belit, feelnya dpt bgt hehe.. bagus kak. aku minta pw next chapnya doong kak, di inbox fb aja yaa

  6. Eonn aku baca ulang ff mu lagi 😃 sebenernya aku udah pernah baca dan ngoment ff ini dgn username yang sama, aku kangen banget sama ff kamu eon. Kamu engga comeback udah dari 1 tahun yang lalu sepi disini eon. Please comeback dan bikin ff baru lagi. I miss you badly

  7. Eonn aku baca ulang ff mu lagi 😃 sebenernya aku udah pernah baca dan ngoment ff ini dgn username yang sama, aku kangen banget sama ff kamu eon. I miss you badly

  8. eon, aku baca lagi ff mu padahal aku udh pernah baca ff nya dan ngoment dengan username yg sama, aku kangen sama ff mu eon. katanya mau comeback tapi kenapa ga muncul2 juga? padahal aku udh nungguin karya2mu

  9. Eonn aku baca ulang ff mu lagi 😃 sebenernya aku udah pernah baca dan ngoment ff ini dgn username yang tadinya Dian jadi xolovemilia, aku kangen banget sama ff kamu eon. Kamu engga comeback udah dari 1 tahun yang lalu sepi disini eon. Please comeback dan bikin ff baru lagi. I miss you badly

  10. wow… entah kenapa feelnya belum terasa… mungkin kalo baca lanjutannya jd dpt feel.nya

    bgs bngt,, aku suka sama bahasanya.. nggk monoton.. trus nggk bikin jenuh..

    goog job

  11. “Aku takut saat kau menyentuhku, hatimu belum menyentuh hatiku. Kau tahu oppa,” dia menoleh menatapku sekilas, “segala sesuatu bisa terjadi melalui sentuhan? Maka dari itu, aku takut jika kau menyentuhku ternyata perasaan dan pikiranmu bukan kepadaku. Intinya, aku tak perlu apa-apa darimu. Cukup memiliki status hubungan denganmu dan berdo’a agar suatu saat nanti ”

    suka bgt sama kata” di atas.
    soo cuma ingin cinta yg tulus bukan cinta karna sebuah embel”🙂

    greget sama ny.cho hahaha

Gomawo^^ You are the best Visitor, So Give Comments After You Read It.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s