[SERIES] Suddenly to be His Maid – 7

sddnly to be 5a

 Suddenly to be his Maid  [TUJUH]

Author: Fatminho

Length : series

Rated : PG 16

Genre : Comedy Romance

Main cast : Cho Kyuhyun,Choi Sooyoung

 

Disclaimer :

This Plot is Main.

Note:

 Hallo… akhirnya aku bisa mempercepat pembuatan part yang ini. Kurasa, ini adalah part yang awkward. kenapa? karena secara mendadak aku banting stir untuk memutar alur ke jalur yang snagat berlawanan. ckckck…

yah… kalian akan tahu maksudku setelah membacanya.

Geurae, Yukkk simak kisah KyuYoung selanjutnya di Suddenly to be his maid 7 ini…

Happy reading…😀

 

Sebelumnya…

 

Sooyoung masih merintih menahan sakitnya. Dia mendengar suara pintu terbuka dan suara Kyuhyun yang menanyakan keadaannya. Dia bisa apa? Hanya menahan sakit dan berusaha menoleh kearah Sooyoung. “Anni… nan gwenchana…” jawabnya setelah melihat sosok Kyuhyun sekilas, dan kembali menunduk, membenamkan wajahnya, menahan sakit sekaligus menghilangkan pandnagannya dari Kyuhyun.

 

“Ya! jangan bohong! Jelas-jelas kau kesakitan begitu! Apanya yang sakit, Soo?” kini dia bersimpuh disebelah Sooyoung yang sedang meringkuk kesakitan. Dia meraih kedua lengan Sooyoung yang masih melingkar di perut datar itu.

 

“Lepas! Aku tak apa-apa!” suara Sooyoung semakin meninggi. Dia ingin menumpahkan kesalnya.

 

“YA! bisa tidak kau merendahkan suaramu itu?! Aku tak mau tahu, sekarang, ayo ke rumah sakit!” paksanya.

 

“Ndweseo!! Tak perlu!”

 

“Ya! tapi kau-“ suara Kyuhyun terhenti kala dia melihat bercak merah di lantai berubin putih itu . seketika dia membelalakkan matanya dan bangkit seketika. “Ya~ kau sakit karena menstruasi??” cetus Kyuhyun yang langsung berhadiah deadGlare dari Sooyoung.

 

Sekuat tenaga Sooyoung berdiri untuk membalas Kyuhyun, tapi rasa skait di berut bawahnya membuat tubuhnya kembali limbung. Saat itu juga Kyuhyun menangkapnya. Sehingga posisi mereka saat ini adalah Sooyoung berada di tadahan lengan Kyuhyun.

 

Untuk beberapa detik, mereka terdiam dan saling pandang. Tenggelam pada pandangan satu sama lainnya untuk pikiran mereka masing-masing.

 

“LEPASKAN AKU!!!” Kyuhyun menatap nanar kala Sooyoung membentaknya keras.

 

***_***

 

 

Karena mendapat bentakan tersebut, Kyuhyun menjadi kesal dengan yeoja yang dia tolong itu. Tanpa berpikir apapun, kedua tangannya langsung tertarik kembali dan membiarkan tubuh kurus itu jatuh bertubrukan dengan ubin lantai.

 

“Ya! appo! Aahhh…” keluh Sooyoung sambil mengusap pantat di tengah ringisannya.

 

Bukannya membantu atau pergi, Kyuhyun malah berdiam diri dengan kedua mata yang sudah membulat. Saat ini dia melihat cairan merah kental itu telah merembes ke celana pendek yang di pakai Sooyoung. Terlebih lagi, celana pendek itu berwarna putih.

 

Menyadari arah tatapan Kyuhyun, Sooyoung pun ikut membulatkan matanya dan berusaha bangkit dari duduknya. Dia melupakan rasa nyeri yang dia rasakan karena sudah tertutup oleh rasa malunya saat ini. “Kyyyaaaaaaaaa!!! Keluar dari kamarku sekarang!!!” teriaknya sambil mendorong tubuh Kyuhyun kearah pintu.

 

BLLLAMMM!

 

Pintu kamarnya sudah tertutup. Dia menarik nafas dalam-dalam dan menghelanya dengan tenang. Kedua matanya kini menyipit melihat beberapa bercak darah yang terlihat di ranjangnya, lantai putih kamarnya, juga celana yang dia kenakan. Sooyoung menggeram sesaat sebelum akhirnya membersihkan semua bercak merah kental tersebut.

 

Kyuhyun sudah masuk ke kamarnya. Setelah menutup pintu, tiba-tiba saja dia terdiam. Bayangannya terbang ke kejadian beberapa menit yang lalu. “Kaum yeoja memang sangat hebat. Mereka bisa bertahan hidup, padahal setiap bulan selalu mengeluarkan darah sebanyak itu. Belum lagi rasa nyeri yang mereka rasakan.” Gumamnya.

 

 

“Tuan muda… ada yang ingin saya bicarakan” ujar seorang ahjumma yang sudah bertahun-tahun melayani keluarga Cho.

 

Mendengar hal itu, Kyuhyun yang sednag memainkan PSP-nya di sofa ruang tamu itu pun terpaksa mem-pause game yang dimainkannya dan melihat sosok ahjumma. “Ya, apa yang ingin ahjumma bicarakan?” tanyanya.

 

“Begini, anak saya sedang jatuh sakit. Lumayan parah dan memerlukan saya untuknya. Jika dia sudah merasakan sakit yang teramat susah ditahan, orang yang dia inginkan merawatnya adalah saya, ibu yang melahirkannya. Jadi, saya mohon ijin dengan anda Tuan muda. Ijinkan saya pulang kampung selama kondisi anak saya belum membaik.”

 

Kyuhyun terdiam sejenak. Ada rasa kasihan, iba, kaget, juga sedikit rasa khawatir. Benar kata ahjumma, ketika sakit, seorang anak itu menginginkan ibunya berada di dekatnya.

 

Kyuhyun tersneyum dan mengangguk. “Baiklah. Aku ijinkan ahjumma pulang kampung. Tapi ini sudah pukul 11 malam, apa kau akan pergi sekarang? Hah… jangan bercanda!” ucap Kyuhyun.

 

“Tidak. Saya mungkin akan pulang ketika subuh nanti. Menggunakan kereta pertama.”

 

Kyuhyun mengangguk. “Nde. Salam pada anakmu, semoga cepat sembuh.”

 

Sang ahjumma pun tersneyum senang. “Ghamshamida Tuan Muda… Ghamshamida…” serunya mabil membungkuk beberapa kali.

 

“Ne, cheonmanayoo~… eoh, satu lagi… sepertinya ada stock sembako yang cukup berlebih di lemari. Ahjumma bisa membawa secukupnya. Jika ada apa-apa, ahjumma kabari orang rumah ini. arraseo?”

 

“Ne, Ghamsayo Tuan…”

 

 

Kyuhyun’s POV

 

Setelah mengijinkan ahjumma pergi, aku pun beranjak naik ke kamarku. Kamarku ada di sebelah kamar Sooyoung. Jadi, sebelum menuju ke kamarku, secara otomatis aku melalui kamar Sooyoung. Entah apa yang membawaku menghentikan langkah di depan pintu kamarnya. Ada rasa penasaran dan juga rasa khawatir yang cukup besar di dalam diriku. Apakah Sooyoung sudah baik-baik saja? Mengingat dia merintih kesakitan beberapa jam yang lalu.

 

Dengan perlahan, kubuka pintunya yang tak pernah dikuncinya. Setelah masuk kamarnya, bisa kulihat dia menutup seluruh tubuh dengan selimutnya. Dari bentuk lekukan selimut itu, bisa kupastikan dia sedang meringkuk di bawah sana.

 

hhss…iiksss…..hhhhssskk…’

 

Aku mengerut kening kala mendengar suara isakan kecil. Apa dia sedang menangis dibawah sana?

 

Perlahan, kuberanikan diri mendatanginya. “Soo~” sapaku pelan, tapi tak ada tanggapan darinya. Dia memunggungiku. Sehingga aku memilih duduk tepat didekat bokongnya. Kugoyangkan lengannya pelan, “Sooyoung… Soo… gwenchanayeo?” tanyaku. Tetap taka da tanggapan darinya. Dia masih terisak pelan. Kulihat selimutnya bergerak dan berkerut-kerut. Akhirnya kuberanikan diri menyibak selimut yang menutupinya.

 

Aku terbelalak melihat keadaannya saat ini. dia meringkuk hingga bisa membenamkan wajah di lututnya. “Sooyoung-ah… perutmu sangat sakit? Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang!” ujarku.

 

Dia menggelengkan kepala pelan dan menangis lagi. “Apposeo Kyuhyun-ssi~” ujarnya. Mendengar nada suaranya menyebut namaku, aku ikut merasakan sakitnya saat ini.

 

“Ya~ ayo ke rumah sakit! Kau seperti orang yang habis tertembak!”

 

“Shireoyo~”

 

Aku menghela nafas mendnegar jawabannya. “Baiklah, kita tidak ke rumah sakit. Tapi apa yang harus aku lakukan? Kau membuatku khawatir, yeoja menyebalkan!”

 

“Perutku nyeri, Tuan Pemalas!” aku sedikit melotot mendengar balasannya. Oh Tuhan, yeoja ini benar-benar! Disaat sakit pun dia bisa mengataiku??

 

“Ne, aku tahu perutmu sakit. Lalu, apa yang bisa kulakukan untukmu? Apa kau butuh obat? Biar aku belikan sekarang juga!”

 

“Anni~ aku sudah minum obat tadi. tapi sakitnya hanya hilang sesaat.”

 

Lagi-lagi aku menghela nafas cukup berat. “Geureom, katakan apa yang bisa kulakukan?”

 

Dia menengok kebelakang sedikit untuk melihatku. Wajahnya merah. Apa dia demam?

 

“Dulu, Saat aku pernah seperti ini, eomma selalu menemaniku tidur sambil mengusap perutku.” Ucapnya. Benar, lagi-lagi fakta membuktikan bahwa kehadiran seorang ibu benar-benar berharga. “Ehmm… nnn… maukah kau menggantikan tugasnya saat ini?” ucapnya lagi. Aku tak mengerti.

 

“Maksudmu?”

 

“Maukah kau melakukan hal yang dilakukan eomma dulu? Hanya itu yang aku butuhkan. Aku sempat mencobanya sendiri, tapi tidak berpengaruh apa-apa. Aku sudah tak kuat… hiks…”

 

Apa aku tak salah dengar? Dia menyuruhku… mengusap perutnya?

 

Entah apa yang membuatku mengangguk tiba-tiba. Dengan penuh keraguan. Sungguh. Aku benar-benar panas saat ini. bayangkan, dia yeoja dan aku namja. Bahkan… aku akui kalau aku cukup tertarik dengannya akhir-akhir ini.

 

Kulihat Sooyoung tersenyum dan memunggungiku kembali. Dia menyibakkan piyama baby doll-nya ke atas hingga perbatasan dadanya. Oh God! Bahkan aku bisa melihat bra warna apa yang sedang dia kenakan saat ini.

 

“Lakukanlah. Aku benar-benar tak kuat menahan nyeri di perutku.” Ucapnya, menyadarkanku dari lamunan yang kuciptakan sendiri.

 

Tangan kiriku yang terjulur menyentuh kulit perutnya sengaja kubiarkan sesaat dan tidak menggerakkannya sedikit pun. Aku merasa tanganku itu bergetar. Memalukan sekali.

 

Kuatur nafas sejenak, kemudian mulai mengusap perut datarnya.

 

Oh Tuhan, kulit perutnya sangat lembut bagaikan kulit bayi yang baru lahir. Aku bisa merasakan satu kenyamanan saat aku menyentuhnya kini. Belum lagi batas bra yang bisa kulihat. Jika kutarik bajunya lebih keatas, maka dengan jelas bisa kulihat bentuk…. Aish….

 

Andwe! Buang jauh-jauh pikiran jorokmu Kyu!!!

 

Kyuhyun’s POV end

 

 

 

Malam telah meredup saat mentari mulai tersenyum. Kicauan burung di ranting pohon bisa terdengar oleh siapapun yang berada di sekitarnya. Udara dingin masih terasa menusuk permukaan kulit hingga ke bagian tulang terdalam. Membuat Sooyoung yang semalam merasakan nyeri datang bulan itu mulai bergerak sedikit. Dia tersneyum saat menyadari perutnya tak sesakit tadi malam saat dia menggerakkan kedua kaki jenjangnya. Namun, sedetik kemudian, senyumannya pudar. Bisa dia rasakan sesuatu yang hangat menyebul bagian leher belakangnya dan perutnya.

 

Dengan tak sabar, dia  pun menundukkan kepala kea rah perutnya. Dia sedikit terbelalak kaget saat melihat tangan seorang namja berkulit putih tengah melingkar di perutnya. Sesigap mungkin, dia menoleh ke belakang dan …

 

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!” jeritnya saat menyadari siapa yang ada di dekatnya saat ini.

 

Kyuhyun yang merasa terusik dengan jeritan itu pun tetap memejamkan mata dengan telunjuk kanan yang mengorek telinganya akibat jeritan tadi. tak lama kemudian, Kyuhyun membuka mata sedikit dan mengeluh dengan yeoja yang ada didepannya. “Kenapa berteriak seperti itu, eoh? Kau tahu, semalaman kau membuatku tak bisa tidur tenang? Jadi biarkan aku tidur sesaat lagi. Arra?!” cetusnya kesal. Dia membalikkan tubuh memunggungi Sooyoung dan melanjutkan mimpinya yang terputus tadi.

 

Sementara itu, Sooyoung hanya bisa bungkam seribu bahasa. Di satu sisi, dia kesal karena untuk kali pertamanya ada namja yang tidur disebelahnya dengan memegang perutnya dan mengenduskan nafas di tengkuknya. Namun, disisi lain, dia jadi malu dan merasa bersalah telah berteriak sekencang tadi. dia lupa jika yang membuat Kyuhyun terjaga di malam hari adalah dirinya. Pasti saat merintih, Kyuhyun tak bisa memilih tidur dan membiarkan perut Sooyoung sakit. Namja itu dipastikan terus mengusap permukaan perut Sooyoung semalaman hingga nyaris pagi, mungkin.

 

“Mianhae~ . . .” gumam Sooyoung, masih bisa didengar Kyuhyun. Bisa dilihat dari wajah Kyuhyun yang tersenyum ditengah mata yang terpejam. “Aku hanya kaget saja. Aku lupa kalau semalam kau menjagaku. Gomawo Kyuhyun-ssi…” lanjut Soo.

 

Mendengar hal itu, Kyuhyun pun membalikkan tubuhnya lagi menghadap Sooyoung dan menarik tubuh kurus Yeoja itu kedalam dekapannya. “Kalau kau benar merasa bersalah, maka kau harus membayarnya, Nona Menyebalkan!”

 

“Cih! Jangan sebut aku seperti itu! Kau juga sama menyebalkannya!” rutuk Sooyoung, “Berapa won yang harus kubayarkan?” tanyanya kemudian, membuat Kyuhyun membuka mata.

 

Mata Kyuhyun tepat beradu pandang dengan mata Soo. Namun tatapannya kini sedikit jengah. “Kau pikir aku sudah tak memiliki won lagi hingga memintanya darimu?” tanyanya sakartis, seakan menyalahkan perkiraan Sooyoung tentang bayaran yang dia inginkan itu.

 

“L…la-lu, aku harus bayar dengan apa? Bukankah kau menyuruhku membayar jasamu yang telah menjagaku?”

 

“Ya, benar. Kau harus membayarnya. Tetaplah seperti ini, berada didekapanku, menjadi bantal gulingku. Jujur, aku sedang sangat kedinginan…” jawab Kyuhyun sambil kembali membawa wajah Sooyoung tenggelam di perpotongan lehernya hingga dagunya bisa bersandar di puncak kepala Sooyoung.

 

Sooyoung tak memberontak. “Baiklah. aku akan mengikuti kemauanmu sampai jam menunjukkan waktu kita kembali ke kampus. Empat jam lagi. Jam setengah dua belas pelajaran dimulai.”

 

Kyuhyun memberi jarak wajahnya dan Sooyoung. Menatap wajah yeoja itu seksama. “Kau yakin hari ini kuliah? Apa perutmu sudah tak sakit lagi?” tanyanya dengan nada sedikit terasa khawatir.

 

Sooyoung tersenyum manis. “Annio… nan gwenchana… kau tak perlu khawatir.”

 

Kyuhyun pun tersenyum mendengarnya. “Good! Kalau begitu temani aku tidur dan kita akan berangkat bersama. arra?” ujar Kyuhyun yang sudah mengeratkan dekapannya pada tubuh kurus Sooyoung.

 

Yeoja yang dipeluknya itu terkekeh dan membalas dekapannya. “Nde, arrayeo!!”

 

Mereka pun kembali terlelap hangat.

 

 

Pukul setengah sebelas, Sooyoung terbangun. Dia merintih sedikit, merasakan perutnya yang mulai merasakan kedutan cukup dahsyat. Saat kesadarannya terkumpul, dia menoleh kesamping. Dia menatap dengan curiga. ‘aneh, kemana namja itu?

 

Akhirnya Sooyoung memutuskan untuk bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. Dia memakai kemeja pink bercorak garis-garis putih tipis dengan bentuk dress yang dilengkapi ikat pinggang coklat. Kaki jenjangnya terekspose sebatas lutut. Dengan memakai sandal slop warna coklat muda, dia melangkah keluar.

 

Kyuhyun merasa kaget saat hendak membuka pintu kamar Sooyoung. Mereka berdua nyaris tertabrak tubuh satu dengan lainnya.

 

“Ya! kau mengagetkanku!” keluh Sooyoung sambil merapikan posisi tas tangannya.

 

“Kau ini, tidak bisa menurunkan volume suara ya? cih!” oceh Kyuhyun.

 

“Ya~ ya~ kau mau memulai-“

 

“Ssstt…” sela Kyuhyun dengan meletakkan satu jari telunjuk dibibir Sooyoung. Bagus, sepertinya Sooyoung mengerti apa maksud Kyuhyun. Seketika yeoja itu terdiam. Kyuhyun pun tersenyum. “Aku baru akan membangunkanmu. Ternyata kau sudah siap,” ujar Kyu polos dengan senyuman tipisnya.

 

“Oh Tuhan. Ini sudah jam sebelas siang. Kau berniat membangunkanku di jam segini?” protes Sooyoung dengan Volume yang lagi-lagi tinggi.

 

Kyuhyun frustasi menahan kekesalannya kepada yeoja satu itu. Dia harus sepolos apa sih melayani yeoja cerewet ini? tidakkah yeoja itu sadar kalau sebenarnya yang jadi ‘maid’ itu siapa?

 

“Sooyoung-ssi, bisakah kau ramah sedikit saja padaku?” tanya Kyu datar.

 

“Mwo? Ramah katamu? Kau itu-“

 

Chu~

 

Kyuhyun mencium bibir Sooyoung. Dia menempelkan bibir tebalnya tepat di permukaan bibir Sooyoung. Hal itu membuat si empunya mendelik walau tetap tak bisa mengelak dari bibir yang menyentuh bibirnya.

 

Beberapa detik kemudian, Kyuhyun menarik wajahnya dan menatap serius wajah Sooyoung. Berbeda dengan Sooyoung yang saat ini sudah merasa panas dan marah atas kelancangan Kyuhyun terhadapnya.

 

“Choi Sooyoung, dengar ucapanku baik-baik. Mulai detik ini, aku tak mau menjadikanmu maid pribadiku. Kau tahu, kenapa aku melakukannya? Ini semua karena kau akan pergi dariku. Besok sore, Choi abeonim akan menjemputmu.” Ucapan Kyuhyun cukup membuat mata Sooyoung semakin membulat.

 

“M…maksudmu?”

 

Kyuhyun terkekeh dangkal. Dengan sigap dia menarik tangan Sooyoung dan menggandengnya erat menuruni setiap anak tangga yang ada. Ketika sudah sampai di bawah, Sooyoung pun menepis tangan Kyuhyun kasar.

 

“Tidak perlu menarik tanganku, bodoh! Dan itu, appa akan menjemputku… apa maksudmu, ah? Jangan bercanda Kyuhyun-ssi!”

 

“Hei, apa wajahku terlihat sedang bercanda, Sooyoung-ssi?”

 

Sooyoung terdiam.

 

 

Kyuhyun’s POV

 

 

Dia masih terdiam memandangku heran. Apa aku tampak seperti orang yang patut dicurigai kali ini? oh, ayolah Choi Sooyoung! Menerima telepon dari appamu saja aku sudah kaget, belum lagi berita yang disampaikannya, dan sekarang, kau bertampang seperti itu. Kenapa semua jadi sangat memberatkan, eoh? Yah, entah kenapa, hatiku berat menerima semuanya. Menerima rencana tentangmu yang baru saja kudengar secara langsung dari appamu.

 

Flashback.

 

Pukul Sembilan, aku terbangun karena dering telepon di ruang depan. Dengan mata terpejam, aku bersaha bangkit. Namun, sesuatu tengah menahanku. Karena merasa sedikit susah untuk bangkit, akhirnya mataku terbuka dengan penuh.

 

Choi Sooyoung~

 

Hah! Kenapa kau selalu menyebalkan??? Kenapa wajahmu sangat polos dan imut ketika terpejam? Memeluk tubuhku layaknya anak manja. Yang membuatmu semakin menyebalkan adalah kau sukses membuat jantungku berdebar! Ekh!

 

Kriinggg!!

 

Aku menoleh kekanan, kesebelah nakas. Disana ada telepon genggam yang memang diatur secara parallel untuk setiap kamar. Dengan membiarkan tangan yeoja menyebalkan itu melingkari pinggulku, kuangkat telepon genggam itu.

 

“Yeobsaeyo~”

 

Ne, Kyuhyun-ah. Ini aku, Sooyoung abeoji.”

 

Aku terdiam dan sedikit menegang mendengar siapa yang menelepon kali ini. untuk apa Choi abeonim menelepon? Tumben sekali.

 

“Oh, abeonim. Tidak biasanya kau menelepon ke Seoul. Kau mencari Sooyoung?” tawarku sambil melirik yeoja pemilik nama itu yang masih meringkuk memelukku.

 

Sebenarnya iya. Tapi, kurasa aku cukup memberi tahukannya padamu saja. Malam nanti, aku akan terbang ke Seoul. Besok, aku akan tiba disana. Jadi, katakan padanya, bersiaplah. Aku akan membawanya tinggal bersama disini. Kau bisa menyampaikannya Kyuhyun-ah?

 

Aku tak bisa berucap. Entah kenapa, mendnegar kabar itu, jiwaku melayang seketika. Susah untuk mencernanya. Jemput. Sooyoung akan dijemput. Abeoji menjemput Sooyoung untuk tinggal disana. Menjemput Sooyoung dan berdiam disana. Berarti-

 

Kyuhyun…?” tegurnya, menyadarkanku dari pikiran anehku.

 

“Oh, Ne abeonim. Aku akan menyampaikannya.”

 

Oh, kau memang sangat murah hati Kyuhyun-ah. Baiklah, aku percayakan padamu. Sekarang aku harus mengikuti pertemuan. Jadi, sampai disini dulu. Terimakasi Kyuhyun-ah~”

 

Plip!

 

Telepon sudah terputus. Namun, tanganku tak tergerak mengembalikan gagang telepon yang kugenggam.

 

Sooyoung akan dijemput?

 

Tinggal disana?

 

Berarti dia akan pergi dari sini?

 

Flashback end

 

“Appa akan datang menjemputku?” aku mengangguk. Eh, apa aku tidak salah lihat? Kenapa ekspresinya sangat sedih? “Aku akan dibawa untuk tinggal disana?” aku mengangguk lagi. Kenapa dia jadi ingin menangis seperti ini? dan benar saja, kini dia menangis. Menitikkan air matanya.

 

“Soo, kau-“

 

“Hiks… aku tidak ingin pergi~” tangisannya pecah dan berhambur menjatuhkan kepalanya didadaku. Aku juga merasakan tangannya meremas sweeter rajut yang kupakai. Tidak ingin pergi. Kenapa aku senang mendnegar kata-katanya?

 

“Aku tak siap bertemu dengannya, Kyu~” aku terdiam mendnegar isakannya kali ini. “Aku takut bertemu lagi dengannya. aku takut aku akan jatuh lagi kepadanya. Aku~”

 

“Hsstt…” bisikku. Tangannya terbuka menerima kerapuhannya. Aku mengerti. Dia belum siap bertemu Siwon. Namja yang sempat dia-

 

Shit! Kenapa kau membuatku kesal Soo??

 

“Sooyoung-ssi… ayo kita habiskan satu hari ini diluar bersama? lupakanlah masalah kuliah untuk satu hari ini saja. Kau mau?” tawarku setelah suara isakannya senyap. Dia masih terkulai didadaku. Aku pun tak kieberatan dengan posisinya.

 

“Kau mengajakku bolos?” tanyanya yang kini sudah menatapku heran. Aku nyengir. “Ya, ayo kita bolos untuk mengukir kenangan special kita. Aku tak tahu kapan lagi bisa menghabiskan waktu bersama denganmu. Dan ciuman tadi… aku harap kau bisa mengertikannya sendiri.” jelasku. Kulihat dia terpaku memandnagku datar. “Soo, aku tidak ingin namja itu saja yang memiliki kenangan bersamamu. Kali ini, ijinkan aku membuatnya bersamamu. Apa kau keberatan? Kalau pun iya, aku akan tetap memaksa. Bukankah kau itu ‘maid’ pribadiku?” tambahku.

 

Sooyoung semakin menatapku dalam. Ada Kristal yang bisa kulihat menggumpal di pelupuk matanya. Tanganku pun terulur membersihkannya. Tak kusangka cairan itu malah terus mengalir. Membuat hatiku sedikit ngilu.

 

“Kyuhyun-ah…” gumamnya pilu.

 

“Ya?” tanggapku.

 

“Kau menyukaiku?” tanyanya ragu.

 

Untuk kali ini, aku tak mau lagi menjaga gengsi. Aku pun menggeleng sambil tersenyum. “Tidak. Mungkin aku telah jatuh cinta pada yeoja menyebalkanku satu ini. Apa sangat mustahil untukku mencintaimu, Soo?”

_TBC_

Reader yang mendukung dan berjiwa baik adalah Reader yang rela membubuhi sepatah-dua patah kata guna mengomentari apa yang telah kalian baca. Sungguh, aku sangat menghargai kalian yang berkomentar. Jongmal Gamshamida… ^^

120 thoughts on “[SERIES] Suddenly to be His Maid – 7

  1. Aduhhh tbc nya ngganggu nih ah
    Cepet publish next partnya ya thorrr Aduhh pnasaran banget >.<
    Klo bisa sooyoung pov nya banyakin biar tau feelnya syoo eon ke kyuppa

  2. kyu oppa ngaku k”soo onn klo dy cinta sma soo onn! wahh… daebak. tapi knpa soo onn’nya mlah mw dibwa pergi sih ?:'(

  3. Omona omona kyu miris banget percintaan mu di sini , gg di anggep dah cinta nya:/
    soo ihh gemes bangett deh , kasian kyu di kasarin mulu :3
    gimana ya kl jdi soo pindah , kasian kyu di tinggal

Gomawo^^ You are the best Visitor, So Give Comments After You Read It.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s