[ASTOR] LOVE MEETING

LM ASTOR

LOVE MEETING

AUTHOR FATMINHO

Length : Oneshot AStor
Cast : Kyuhyun – Sooyoung
Genre : Romance, Married Life, a little hurt, NC17+

Disclaimer : THIS PLOT IS MINE!

HAPPY READING^^

Untuk kedua kalinya, di tengah acara keluarga yang menyenangkan ini istriku tiba-tiba menjauh dari kami. Aku mengamatinya dan lantas mengikutinya. Dia berlari sambil menangis dan aku tetap mengejarnya. Hingga kedua mataku melihat pintu kamar kami hendak tertutup, sesigap mungkin kutahan. Aku tahu, dia tak sadar akan hal yang aku lakukan, mengikutinya secara perlahan. Maka, dia tersentak dan langsung menghadapku. Hanya sekilas. Ya, hanya sedetik mengetahuiku, kemudian kembali masuk meninggalkanku. Aku tahu apa yang membuatnya seperti itu.

“Chagie~” kusapa dirinya yang kini sedang duduk di atas meja besar yang biasanya menampung beberapa hiasan guci yang entah kemana benda-benda itu.

Aku berjalan mendekatinya. Wajahnya berpaling ke samping, tak ingin menatapku. Kutangkup lengan kurusnya dan memijatya sekilas. Hingga kini wajahnya menunduk tepat di depan dadaku. Melihat kemeja tipisnya yang tersibak, menampakkan kulit putihnya yang biasa kujamah, membuat libidoku muncul. Kuturunkan kemeja yang tak terpaut kancing itu. Membuatnya sadar dan menatap kedua mataku yang sedari tadi menatapnya.

Seolah mengerti yang aku inginkan, wajah basahnya perlahan mendekati wajahku, dan kedua bibir kami pun menyatu. Bergetar hangat, menyampaikan perasaannya yang sudah kumengerti sejak kami berhubungan kembali, tujuh bulan yang lalu.

Kemejanya sudah terlepas, menyisakan tank top putih berbentuk V, membuat sisi payudaranya sedikit menguar. Bibir kami terlepas, jemariku pun mulai mengitari kulit lembutnya. Kupandang payudara sedang yang sangat kusukai itu. Ingin kusentuh, tapi kembali wajah sedihnya membayangiku, membuatku seketika mendongak sedikit menatapnya. Dia menangis lagi. Aku pun meraup bibir merahnya yang bergetar itu.

Sambil tetap menjamah bibirnya, kesepuluh jemariku mulai mengelus kulit punggungnya. Menyeluk disela tank top nya. Hingga kurasakan jemarinya ikut meraba dadaku lembut. Kembali kuhentikan ciuman kami yang mulai panas ini, jemariku tetap menikmati sisi lembut kulitnya sampai akhirnya kulepas pengait bra disana. Kutatap kembali wajahnya, kemudian kudekatkan wajahku kearah leher jenjangnya. Kujilat dan kuhisap bagian itu hingga meninggalkan bercak kepemilikan. Kulanjutkan sampai kedepan dadanya. Kutarik resletting tank top nya dan langsung membuang sembarang beserta branya.

Aku mendongak menatapnya yang tampak sedikit berkabut nafsu. Dia menitikkan air mata kembali, kemudian mengecup dahiku, dan meraih tengkukku agar wajahku semakin tenggelam di dadanya. Kuhisap dan kujilati bagian itu, membuatnya mendesah di tengah isakannya. Suaranya membuatku gencar menjamahnya. Kedua tanganku diam-diam melepas training yang dia gunakan. Menyeluk kearah celana dalamnya.

“Asshh… euuhhmm… ehhhgg…” desahannya semakin menjadi ketika lima jemari tangan kananku meggoda lekukan nikmat di dalam vaginanya.

Tak kuteruskan kegiatanku. Kulepas penggoda liangnya, membuatnya menatapku sendu penuh harap. Aku kecup bibirnya dan dengan cepat melepaskan pakaian yang masih melekat di tubuhku, hingga menyisakan celana dalam hitamku. Kemudian, kutatap kedua manic matanya kembali. Telapak tanganku sudah menangkup wajahnya. Benar saja, dia menangis lagi.

Kepalaku merunduk sedikit, meraih bibirnya. Kujamah lembut bibir itu sambil mengelus semua bagian di tubuhnya. Kuangkat tubuhnya, membuat dia dengan sigap melingkarkan kedua kakinya di pinggangku. Aku tetap menjamah bibir, leher, dan dadanya, sambil menggiring badan kami keatas ranjang.

“Oppa~, melakukan keintiman ini benar-benar membuatku tak bermuka. Berapa kali pun melakukannya, tetap benihmu tak akan ada yang tumbuh, oppa~. Aku benar-benar tak berguna… hiks…”

Mendengarnya berkata sambil nangis itu, membuat air mataku ikut merundung terjun. Aku menggelengkan kepala, tak setuju dengan kalimatnya. “Dengarkan aku baik-baik, Chagie~… Tak ada yang tak mungkin. Ketika Tuhan berkehendak, sesuatu yang mustahil pun tetap berubah menjadi nyata. Aku yakin, suatu hari, kita akan memiliki anak yang Tuhan titipkan. Jangan khawatir Soo-ah… aku sangat mencintaimu. Sungguh, hanya kau seorang. Jongmal saranghae…” lirihku di akhir kalimat. Kemudian kembali bibir kami tertaut. Dia memelukku erat, seolah takut kehilanganku. Membuat permainan kali ini lebih panas dari sebelumnya.

Kini, wanita yang baru tiga bulan sah menjadi istriku ini masih terlelap nyenyak di dekapanku. Wajahnya tampak sendu. Aku pun mengitari setiap incinya. Dia lelah, gundah, dan kentara sekali gelisahnya. Aku yakin ini masalah keturunan. Dia kecewa karena tak bisa memberikanku keturunan yang seharusnya.

Apakah aku kecewa?

Jujur, perasaan itu ada. Namun, tujuh bulan lalu, ketika kami melakukannya, dan disaat dia menceritakan keluhannya, aku sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Bahkan eomma merasa Sooyoung harus dilindungi, baik perasaan mau pun jiwanya. Sungguh, kami tak membesarkan masalah kekurangannya sedikit pun.

Chup*

Kukecup sekilas bibirnya, gemas akan wajah rapuhnya. Kemudian kubangkit dan berjalan menuju lemari pakaian tidur. Kupilih kaos putih tipis untuk kugunakan, lengkap dengan boxer hitamku. Setelah itu aku masuk ke kamar mandi. Membilas wajah lembabku dan kemudian meraih ember kecil untuk ku isi dengan air hangat. Kutetesi sedikit aromatherapy antiseptic agar lebih menjamin kesegaran dan aroma wanginya.

Sebelum kembali ke kamar, kuraih handuk kecil untuk menyeka tubuh istriku.

Dari kaki jenjangnya, menuju paha dan selangkangannya, kuseka secara pelan agar tak membangunkannya. Tepat di perut bawahnya, kupandangi bekas jahitan disana. Rahim istriku berbeda dari yeoja lainnya. Tak terasa tubuhku bergetar dan terdorong untuk mengecup bagian itu. Tak bisa kuelakkan lagi, aku menangis dalam diam. Kasihan sekali yeoja yang kucintai ini, harus menerima takdir yang menyatakan bahwa dia tak bisa mengandung benihku.

Kulanjutkan menyeka tubuhnya. Sampai kini giliran wajahnya. Aku tak memakai handuk itu, melainkan memakai telapak tanganku sendiri. Kukecup berkali-kali semua sisi wajahnya. Setelah itu kuraih handuk kering yang ada di sandaran sofa. Kugunakan untuk mengeringkan wajahnya.

Aku mengembalikan pralatan seka ke kamar mandi. Kemudian aku memilih baju tidur untuknya. Kupilih piyama berbetuk kemeja berwarna putih yang panjangnya hanya mencapai pertengahan paha. Setelah mengikat tali pinggang piyamanya, kurasakan dia sedikit menggeliat. Kutatap heran wajah kalutnya. Dia menangis.

“Eomma… aku juga ingin disapa seperti itu. ‘Eom-ma’… hiks…”

Siapapun akan menangis jika ada di posisiku saat ini. Menjadi suami yang melihat istrinya mengigau seperti itu. Oh Tuhan… Cho Sooyoung, kau benar-benar membuatku khawatir. Kuraih tubuhnya dan kudekap erat. Aku pun terisak membayangkan perasaan kacau yeoja didekapanku ini.

“Gwenchana yeobo-ah… gwenchanaeyo~”

“I’m Home…” seruku yang baru saja memasuki rumah mertuaku. Yah, ini keputusan Sooyoung yang tak setuju jika aku membeli rumah pribadi untuk kami. Dia lebih memilih tinggal di rumahnya dengan alasan rumah ini jarang di huni. Sesekali abeoji pulang setelah menyelesaikan proyeknya di luar kota mau pun diluar negeri. Namun kali ini, beliau sedang berada di Amsterdam.

“Oppa Waesso?” dia, istri tercintaku, datang menyambutku dengan senyuman anggunnya. Aku pun membalas senyumannya dan saat dia berada tepat didepanku, kukecup cepat bibirnya. Seperti biasa, dia akan meraih segala sesuatu yang aku bawa dan meletakkannya di tempat yang seharusnya. Kemudian dia kembali lagi dan melepaskan dasi yang masih bertengger rapi di perputaran leherku. “Oppa sudah makan malam?” tanyanya dan aku mengangguk.

“Tadi ada meeting bersama client Asing di resto, jadi sekalian kami makan malam disana.” Jelasku dan dia mengangguk.

“Aku akan menyiapkan air hangat untuk kau mandi.” Ujarnya yang bersiap melenggang pergi. Dengan sigap kutarik tangannya dan kubawa ia kepangkuanku. Kudekap perutnya erat hingga punggungnya benar-benar melekat didadaku.

“Oppa… lebih baik kau mandi dulu. Jadi, lepaskan dekapanmu sekarang, ne…” pintanya dengan nada pelan.

Aku menggelengkan kepalaku sambil menghirup aroma tubuhnya dari punggung tegapnya. “Andwaeyo yeobo~ biarkan seperti ini sebentar saja.” Dan aku hanya mendengar desahan pasrahnya. Tanpa dia ketahui, aku kini tersenyum.

“Kau tadi libur, bukan?” tanyaku. Aku tahu dia mengangguk. “Lalu, apa yang kau kerjakan seharian ini?” kudengar nafas beratnya, “Tidak ada. Hanya merapikan apartmen ini sedikit.” Suaranya lemah, dia pun memutar sedikit, melingkarkan kedua tangannya dileherku, dan merebahkan kepalanya di bahuku. “Aku kesepian…” keluhnya.

Aku sedikit tertegun mendengar keluhannya. Aku tahu apa maksud kesedihannya itu. Bibirku mengecup beberapa kali dahinya. “Kenapa tidak menemaniku di kantor? Padahal aku sangat berharap kau datang membawakanku makan siang.”

Dia mengangkat kepalanya, menatapku, “Apa tak mengganggumu?” tanyanya yang membuatku tersenyum. Kukecup bibirnya pelan, tersenyum memandangnya, dan mengelus rambut panjangnya, “Apakah aku pernah merasa terganggu akan kehadiranmu?” dia menggeleng, “Apa kau tak percaya aku membutuhkanmu disaat aku lelah?” dia tak menjawab, hanya menunduk dan menggigit bibir bawahnya.

“Jadi, apa kau masih memerlukan anak sebagai pelengkap kehidupan ini?” tanyaku tiba-tiba. Dia menengadah menatapku penuh tanda tanya. “Bagaimana menurutmu?” tanyanya balik. Aku pun mengerling genit memandangnya. Aku sengaja menggodanya, “Aku akan usahakan jika kau menginginkannya…” suaraku berbisik tepat di bawah telinganya. Aku melanjutkan mengecupi leher jenjangnya.

Dan kami pun melanjutkan keinginanku untuk bersetubuh malam ini. Aku tahu, ini tak ada hasilnya, tapi setidaknya aku merasakan cinta kasih yang meluap dari istriku ketika dia melayaniku.

“Eomma~ ireona… Eomma~” aku tersenyum melihat keponakan kecilku sedang membangunkan istriku yang masih terlelap lelah di balik selimut tebalnya.

Ah-Rang, putra ketiga dari Ahra noona. Noona memiliki tiga orang anak. Chaery, Ma-Ron, dan Ah-rang. Berbeda dari dua lainnya, Ah-Rang selalu bermanja dan dekat dengan Sooyoung. Ketiganya menyapa kami layaknya menyapa orangtua. Namun hanya Ah-Rang yang berani bertingkah layaknya anak kami. Apa mungkin Tuhan menciptakannya untuk kami? Entahlah…

“Eomma…. Sooyoung Eomma….” Aku terkekeh di ambang pintu melihat keponakanku itu tengah mencubit-cubit pipi eomma keduanya.

“Euhmm…” sepertinya Sooyoung mulai sadar. Aku ingin melihat wajahnya ketika mengetahui keberadaan anak angkatnya itu.

“Sooyoung eomma… kenapa kau sangat sulit bangun, eoh?” anak enam tahun ini… jika saja dia tahu apa yang membuat eomma angkatnya itu susah terbangun. Kekeke…

“Eomma… kau membuatku lelah membangunkanmu…” anak itu mulai merengek.

Kulihat Sooyoung mulai bergeliat dan mengusap wajahnya. Kedua matanya mulai terbuka. Kuyakin, itu wajah Sooyoung yang sedang takjub melihat sesuatu didepan pandangnya.

“Ah-Rang-yaa… kau disini?” tanyanya dengan senyuman senang. Anak laki-laki imut itu hanya mengangguk polos. “Nde… Eomma senang?” sial! Sejak kapan anak ini bisa memancing kesenangan orang?

Sooyoung mengangguk semangat ditengah wajah bahagianya. “Neumu jhoa~” Sooyoung memeluknya. Mereka berdua… sangat pantas disebut anak dan ibunya.

Kubiarkan mereka bersenda gurau dalam dekapan satu dan lainnya. Lebih baik aku ke dapur dan membuatkan susu hangat untuknya.

“Jadi, kau tak ikut keluargamu ke Daegu?” kudengar Sooyoung bertanya kepada Ah-Rang. Mereka berdua sedang ada di ruang tengah. Dan baru saja aku keluar dari kamar setelah membersihkan tubuhku hingga segar kembali. Aku juga sudah siap dengan pakaian kerjaku. Aku mengalah, untuk hari ini saja, istriku cuti mengurusi seragam kerjaku. Biarlah, selagi dia bahagia.

“Annio… aku bilang kepada eomma jika aku ingin bermain bersama eomma Sooyoung.”

Aku berjalan mendekati keduanya dengan tas kerja ditangan kananku. “Eoh, jadi kau sengaja datang untuk merebut perhatian Sooyoung dariku?” aku sengaja cetus menyindir keponakan lucuku itu. Benar saja, dia cemberut langsung. Hahaha… lucu sekali. Beda dengan Sooyoung yang memberikanku delikan mata yang mengerikan. “Oppa!!” yah, aku pasrah dengan bentakannya.

“Hahaha… aku hanya bercanda Rang-ah… aku senang kau datang. Jadi, Eomma Soo ada temannya. Gomapta ne…” ujarku lembut sambil mengacak rambutnya.

“Aku kira kau libur, Cho…” aku melotot mendengar jawaban itu dari mulut anak usia enam tahun. Gila! Berani sekali dia! Kenapa gayanya meniru smirk milikku?

“Ya! Siapa yang mengajarimu bicara kepada orang tua seperti itu, eoh?”

“Otakku ini jenius Cho… jangan salahkan siapa yang melahirkanku. Arrachi?!”

Tercengang. Aku mau pun Sooyoung ternganga mendengar kalimat beraninya yang penuh keangkuhan itu.

“YA! ANAK NAKAL……..!!!” aku pun mengangkat tubuh kecilnya dan memutar-mutarnya mengelilingi sofa ruang tengah ini.

Hahahahaha…. Hahahahahaha….. ampuunn…

Ah-Rang tertawa terbahak-bahak dan aku menghentikan kegiatan konyolku ketika dia berteriak minta ampun.

“Ahjussi… jhoa~… jhoahae Appa Cho!” Ah-Rang melompat kegirangan. Kulihat dia sangat bahagia. Dia, istriku, Cho Sooyoung, sedang terkekeh geli di sofanya.

“Oppa… sudahlah, setengah jam lagi kau harus ada di kantor!”

“Ne, Yeobo~” aku menetralkan segala nafas memburuku. Berjalan kearahnya dan mengecup cepat bibirnya. “Aku berangkat dulu, ne… baik-baiklah bersama anak nakal ini. Cepat hubungi aku jika terjadi sesuatu. Arraseo?”dia mengangguk setelah mendengar semua pesanku.

“Ah-Rang, kupercayakan wanita cantik ini bersamamu. Kau bisa kuandalkan, bukan?” kutatap mata anak nakal itu penuh selidik. Tak lama kemudian anak itu tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi yang masih belum tumbuh dibeberapa bagiannya. Dia mengangguk cepat, “Ne, Siap Kapten Cho!!!” dan dia berkata layaknya prajurit istana sambil memberikan hormat kepadaku. Aku dan Sooyoung terkekeh melihatnya. Aku pun mengacak pelan puncak kepalanya.

“Baiklah. Kau cukup tekan angka satu di telepon meja itu jika terjadi sesuatu, arrassho?” titahku sembari menunjuk kearah telepon meja didekat sofa ruang tengah. “Ne, arrassho!” tegasnya, membuatku tambah percaya dengan anak kecil ini. Begitu bisa diandalkan. Mungkin suami Ahra-Noona sepintar dan setegas ini saat kecilnya.

Aku pulang setelah jam lima sore. Hari ini, semua pekerjaan kantor terasa lebih ringan dan tak memakan banyak tenaga. Buktinya, aku bisa pulang lebih awal. Tidak langsung pulang ke rumah, aku lebih memilih berbelanja di mini market yang tak jauh dari rumah.

Selagi memilih banyak cemilan dan bahan masakan untuk istri dan keponakanku, kedua mataku tak sengaja melihat pasangan muda yang tengah berbelanja juga dengan anak balita sekitar usia dua tahunan di letakkan di kereta belanja. Anak itu jingkrak-jingkrak sambil tertawa bahagia. Entah kenapa, aku jadi membayangkan, andai mereka adalah aku dan Sooyoung. Betapa bahagianya dunia ini.

Aku menggelengkan kepala beberapa kali tuk hilangkan niatan tersebut. Aku sudah berjanji untuk menerima Sooyoung apa adanya tanpa alas an dan permintaan apapun. Yah, kami berdua sudah cukup. Dan lagi… bukankah Ah-Rang bisa melampiaskan hasrat tersebut?

Aku langsung menuju kasir saat merasa cukup dengan belanjaanku. Tak sengaja kereta belanjaku menyenggol bokong pelanggan didepanku. Orang itu menoleh saat aku menyuakan, ‘Jeosonghamnida~’ kepadanya.

“Eoh, Kyuhyun-oppa?”

Mendengar hal itu, aku mendongak. Seulgi. Mantan kekasihku saat SMA dulu. Dia tersenyum sumringah, maka aku balas senyuman itu.

Kami mampir ke sebuah kafe dekat market untuk sekadar menyeruput kopi hangat di sore hari sambil mengobrol. Dia tetap yeoja ceria dan sedikit serampangan seperti dulu. Yang berubah hanya cara berpakaiannya yang kini lebih rapi dan feminine.

“Jadi, kau sudah menikah, oppa?” tanyanya, aku pun mengangguk. “Waaaahhh… siapa yeoja yang beruntung itu?”

Tanpa menjawab, kurogoh saku jasku dan kutunjukkan ponsel 5inch yang menampilkan photo seorang bidadari pribadiku.

“Ommo! Bukankah itu… Sooyoung-sunbae? Siswi yang sangat tenar di kalangan namja saat itu? Dia sangat ceria, terbuka, dan friendly. Kalau tidak salah, dia angkatanmu kan, oppa?” aku tersenyum sambil mengangguk.

Tapi…

“Tadi kau bilang apa? Tenar di kalangan namja?” tanyaku, memastikan apa yang telah kudengar tadi. Dia mengangguk mantap. “Iya, aku sering mendengar bahwa dia tak pernah menerima pernyataan cinta para namja yang menginginkannya. Jawabannya selalu sama, ‘mianhae… aku sudah memiliki namja’ dan namja-namja itu berpikir, mungkin dia berbohong, karena secara gamblang Sooyoung-eonni tak pernah terlihat berdua dengan namja special atau pun menjalani kencan.” Jelasnya.

Astaga, kenapa aku tak tahu akan hal itu? Dan apa itu… dia menolak dnegan alas an sudah memiliki namja? Aku kah orang yang dia maksud? Oh ayolah, bahkan dia jadi yeoja keempat untukku. Sebegitu percayanya dia saat itu padaku?

“Kurasa, kau tak perlu bercerita itu lagi Seulgi-ah… kau akan paham apa yang aku rasakan ketika kau menceritakan tentang hal itu. Mana ada suami yang tenang mendengar bahwa dulu, istrinya adalah seorang idola dikalangan namja.”

Seulgie terkekeh. “Aigo… oppa… bagaimana tidak, kau bahkan tak tahu hal itu walau kalian satu kelas. Karena apa? Karena kau sibuk mengurusku, ngurus Victoria, dan Seo Joo itu… mana pernah kau memikirkannya yang selalu diributkan oleh namja-namja di sekolah. Iya kan?” kenapa aku jadi geram? Menyesalkah bahwa dulu aku menjadikannya yang keempat? Molla~

“Yang jelas, saat ini, aku lah pemenangnya. Dia sudah menjadi milikku. Tak dapat pindah ketangan namja mana pun lagi.” Bahkan dia tetap menungguku sekian lama hingga takdir mempertemukan kami. Oh, kenangan itu…

“Iya… iya, kau memang selalu menang!” aku terkekeh saja menanggapinya. “Ngomong-ngomong… apa kalian sudah dititipkan malaikat kecil oleh Tuhan?”

Aku terdiam. Kemudian menunduk. Mengatur nafas supaya lebih tenang dan mulai bercerita kembali. “Sooyoung tak bisa mengandung anakku…” ujarku lemas. Bisa kulihat wajah lawan bicaraku menekuk bingung. “Rahimnya diangkat beberapa tahun lalu karena kanker.” Seulgi mengangguk. “Makanya aku bingung, disatu sisi aku menerima keadaannya, disisi lain kesedihannya membuatku gencar akan takdir itu.”

“Kalian ingin memiliki anak, maksudmu?” aku mengangguk. “Kenapa kau tak pinjam rahim yeoja lain untuk mewujudkannya?” cetusnya yang membuatku sedikit tegang.

“Ya! Kau bodoh, eoh? Meminjam sama saja menyetubuhi yeoja itu. Kau pikir aku mau?”

“Yah… bagiku itu jalan satu-satunya agar kalian mendapatkan anak. Jika mengangkat anak, itu bukanlah anak kalian, tetapi jika seperti yang kukatakan tadi, itu menjadi anakmu yang secara tidak langsung menjadi anak Soo-eonni juga. Aku tak salah, bukan?”

“Lupakan! Kita hentikan pembicaraan ini. Lebih baik sekarang kau ceritakan keadaanmu. Apa kau sudah menikah? Pekerjaanmu? Suamimu?” tanyaku berbasa-basi agar lepas dari topic sebelumnya itu.

“Ckck! Tentu saja aku kerja. Aku ini seorang dokter kandungan oppa. Memiliki suami seorang marketing bank swasta dan anakku satu, berusia tiga tahun. Kau percaya dengan yang kuceritakan?”

“Funtastic! Anak kecil sepertimu bisa melahirkan anak juga?”

“Tentu! Karena aku sudah menikah! Dasar, pertanyaan macam apa itu! Menyinggung saja!” dan aku hanya bisa tertawa menanggapinya.

Pukul setengah tujuh aku tiba di rumah. “I’m Home…” ujarku seraya mengganti sepatu dengan sandal rumah sebelum masuk kedalam.

Aku meletakkan belanjaan di dapur. Kemudian berjalan mencari istriku. Aku terpaku ketika melangkahkan kaki di ruang tamu. Hei, ada apa ini? Kenapa semuanya berantakan? Aku berjalan lebih kedalam. Dan aku terdiam melihat Sooyoung-ku terlelap di bawah dengan Ah-Rang dipelukannya. Ck! Kenapa tidak tidur di kamar? Apa kalian ketiduran setelah bermain?

Wajah Sooyoung ini…

Aku tersenyum.

Kuangkat tubuh mungil Ah-Rang dan menidurkannya di kamar tamu. Aku kembali dan kuangkat tubuh Sooyoung. Apa dia benar-benar kelelahan hingga tak merasa tubuhnya melayang? Yah… mungkin.

Kubaringkan istriku di atas ranjang kamar kami. Kemudian kubereskan tubuhku hingga segar kembali. Setelah keluar dari kamar mandi, kulihat Sooyoung meringkuk diatas kasur dengan bahunya yang bergetar. Aku juga mendengar desisan suara tangisan.

“Chagi-ah… kau menangis?” tanyaku sambil menepuk bahunya yang bergetar.

Dia menoleh kearahku dan tangisannya semakin pecah. Dia bangkit dan memelukku seerat yang dia bisa. Tuhan, ada apa lagi ini? Kenapa istriku begitu tertekan dan sengsara?

“Oppa… jangan tinggalkan aku…” racaunya di tengah isakannya.

Apa yang dia akatakan? Aku meninggalkannya?

Aku menggeleng sambil menarik tubuhnya yang memelukku. Kutatap wajah basahnya yang tampak kalut. Aku yakin, dia mimpi buruk kali ini. “Bunuh aku jika aku melakukannya, chagie~ apapun alasannya, aku ikhlas kau bunuh jika aku meninggalkanmu atau menduakanmu. Kau tahu, itu tak akan pernah kulakukan.” Ucapanku tegas, membuatnya semakin terisak dan aku dengan cekatan menariknya kedalam lingkup dekapanku.

Apa ini yang dinamakan kontak batin?

Tadi aku membicarakan masalah peminjaman rahim bersama Seulgi yang secara tidak langsung membicarakan tentang menduakan istriku ini dan kini kutemukan istriku mimpi buruk yang mengacaukan pikiran jiwanya.

“Tenanglah sayang… apapun yang terjadi, aku akan tetap bersamamu. Aku tak akan meninggalkanmu. Kau harus percaya itu. Aku tak bisa mencintai yeoja lain chagie~. Hanya kau. Jangan khawatir…” kuungkapkan isi hatiku yang tak memiliki pikiran sedikit pun untuk menduakannya. Kupererat lagi dekapanku. Bisa kurasakan dia meremas kaos tipis yang kugunakan secara erat.

Lima belas menit berlalu, kini Sooyoung sudah tenang. Kulihat dia terdiam dengan matanya yang sedikit sembab. Aku tersenyum dan kutarik tubuhnya agar bisa kulihat setiap inchi wajahnya. “Kau sudah tenang?” pertanyaanku mengalihkan pandangannya. Dia menatapku dalam. Aku tetap tersenyum. Aku tak ingin membuatnya semakin khawatir. “Mulai sekarang, kau, ikutlah bersamaku kemana pun aku pergi. Jadilah pendampingku. Supaya kau tenang, aku tak akan pernah menjadikanmu yang kesekian lagi. Kau adalah yeoja satu-satunya. Kau harus percaya akan hal itu. Bagaimana?” tawarku.

“Apa boleh?” tanyanya dan aku semakin mengembangkan senyumanku.

“Tentu saja!!!”

“Oppa~” dia bersua, kujawab dengan gumaman. Kedua tanganku sudah ada di wajahnya. “Mianhae…Saranghae…” aku tersenyum dengan sedikit gelengan. Kutarik kembali dia kedalam dekapanku. Kuhusap-husap punggungnya dengan lembut. Wajahnya sudah bersandar di dadaku.

“Anni… jangan pernah meminta maaf padaku. Kau tak salah. Aku yang seharusnya berterimakasih karena kau sudah mencintaiku setulus hati sampai saat ini. Aku sangat tersanjung. Gomawo… Saranghae…”

Aku menunduk menengok wajahnya yang ternyata tengah mendongak menatapku. Tak kubuang kesempatan yang ada. Kutundukkan kepalaku sedikit dan bibir kami pun bertaut. Menyampaikan ribuan cinta satu sama lain.

“Halmonie……”

Aku dan Sooyoung tersenyum melihat Ah-Rang berlari kearah eommaku. Sudah sebulan setelah acara keluarga tempo lalu kami tak bertemu dengan orang tuaku. Kesibukan dan pekerjaan yang menyita waktu kami membuat semuanya seperti ini.

“Aigo… cucuku ini betah dengan Sooyoung eomma, eoh? Aahh… kau sangat tampan Ah-Rang yaa…”

Ucapan eomma membuatku menoleh kesamping, kearah yeojaku. Dia tersenyum tipis, namun tetap terlihat manis. Aku tahu perasaannya saat ini cukup tenang.

“Halaojie…” dan kini Ah-Rang memeluk abeoji.

Anak ini… dibandingkan dengan kedua saudara lainnya, dia lebih ceria dan terbuka. Yang paling aku suka, dia sangat lengket dengan istriku. Saat kutanya noona, dia mengatakan bahwa dia dan suaminya terlalu sibuk hingga anak-anak mereka tidak terlalu manja. Chaery yang berusia 17 tahun sudah sibuk dengan sekolah seni musiknya. Ma-Ron yang sekarang berusia 13 tahun sedang sibuk dengan ekstrakurikuler tenisnya semenjak menjadi anak SMP. Dan jadilah, anak sekolah dasarnya, si Ah-Rang, ini harus di empu dengan baby sitter dan anak ini tak mau di empu dengan ahjumma berseragam itu, katanya. Jadi, dia sedang merayu eommanya agar diijinkan tinggal bersama Sooyoung eomma.

“Kalian weekend disini? Tumben sekali…” ucap eomma, menyindir kami yang memang tak pernah rutin mengunjungi mereka.

“Mianhae eommanim… lain kali, kami akan usahakan untuk sering berkunjung…” istriku menjawabnya. Aku hanya bisa tersenyum.

“Hmm… bagaimana keadaanmu sayang? Sepertinya kau agak tak enak badan. Kau tak apa-apa?” Tanya eomma yang sedikit cemas memandang Sooyoung. Eomma berpindah duduk disamping Sooyoung dan merangkulnya.

“Gwenchana eomma… aku sehat kok. Justru seharusnya aku yang bertanya padamu, apa eomma sehat-sehat saja? Kulihat eomma semakin cantik saja…”

“Aigoo… kau ini, selalu saja membuatku bersemu malu. Ah… aku sangat merindukanmu, sayang….”

Dan mereka berpelukan… membuatku bahagia setengah mati.

END

81 thoughts on “[ASTOR] LOVE MEETING

  1. Kyaa,, terharu bnaget sama sikapnya kyu, mau mnerima soo apa adanya .
    AS lagi dong eonni🙂
    smoga ada keajaiban buat uri KyuYoung😀

  2. Duhhh thor sebenernya masih ngegantung sihhh
    Kyuyoung jangan smpe deh minjem rahim yeoja lain.
    Berharapnya sih sooyoung dapet keajaiban gitu. Atau pake bayi tabung apa lah itu
    Semoga. ada ASnya lagi yaa
    ditunggu ASnya

  3. soo selalu nangis tiba2 itu yg bikin aku gk ngerti. pdahal sebelum nya msih ceria maen sama si ahrang..
    awalnya aku mikir soo tau kalo kyu ketemu mantan, mkanya dia nangis n takut di tinggal, dan ternyata enggak..
    tapi aku msih suka ama ceritanya. kyu pengertian banget disini ^^

  4. aku baru nemu ff ini,telat pakek banget ya hehe..
    nice ff,so sweet bgt,kasihan juga sama soo,kasil sequel dong..🙂
    walaupun baca nya telat tapi tetep berharap ada sequel.

  5. Annyeong… Aku reader baru di sini… Minta izin baca ff di sini ya…… Serius nih end kok cepet amat.. Butuh sequel nih thor… Semangat nulis nya author-nim dan Semangat juga admin

Gomawo^^ You are the best Visitor, So Give Comments After You Read It.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s